Saturday, January 31, 2026

Gebyar Al Kautsar 2026: Sinergi Mewujudkan Generasi "Anak Indonesia Hebat" di Kota Pasuruan

PASURUAN – Kemeriahan menyelimuti Kompleks Sekolah dan Masjid Al Kautsar Kota Pasuruan pada Sabtu (31/01/2026). Acara bertajuk Gebyar Al Kautsar 2026 ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan ajang pembuktian kualitas pendidikan lokal yang kian kompetitif.

Dalam wawancara dengan awak media, Istri Walikota Pasuruan Suryani Firdausi Adi Wibowo, S.Sos.I., M.Ikom., menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan etalase bagi salah satu institusi pendidikan terbaik di Kota Pasuruan. Menurutnya, inisiatif yang dilakukan SD Al Kautsar telah sejalan dengan visi-misi pembangunan sumber daya manusia di Kota Pasuruan.

Pendidikan yang Sejalan dengan Visi Kota

Suryani menekankan bahwa peningkatan kualitas pendidikan adalah tanggung jawab kolektif. Ia memuji konsistensi sekolah-sekolah di Pasuruan dalam mengejar standar terbaik.
"Alhamdulillah, acara ini sangat sejalan dengan visi-misi Kota Pasuruan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Saya yakin seluruh sekolah di sini sudah memberikan kualitas terbaik sesuai harapan pemerintah daerah. Kita ingin pendidikan di Pasuruan tambah 'Beda', tambah luar biasa, demi mencetak calon pemimpin masa depan," ujarnya optimis.
7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat

Menanggapi arah kebijakan pendidikan nasional, Ibu Suryani kembali menggaungkan pesan dari Kementerian Pendidikan terkait profil pelajar ideal. Ia menekankan pentingnya implementasi "7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat" sebagai fondasi karakter.
Namun, ia menggarisbawahi bahwa keberhasilan program ini tidak hanya bertumpu pada siswa.
"Harapannya, visi ini dimiliki secara kolektif; tidak cuma anaknya, tapi juga orang tua dan gurunya. Jika ketiganya selaras, nilai-nilai ini akan menjadi habit (kebiasaan) yang memudahkan langkah anak-anak kita ke depan," tambahnya.

Tantangan Pendidik di Era "Out of the Box"

Suryani memberikan apresiasi sekaligus pesan mendalam bagi para tenaga pendidik. Di tengah perkembangan zaman yang pesat dan kemampuan anak didik yang semakin kritis, guru dituntut untuk terus bertransformasi.
Ia berharap para guru diberikan kesabaran ekstra dan semangat untuk terus meningkatkan kompetensi.

 "Kemampuan anak-anak sekarang luar biasa. Pendidik dituntut untuk lebih hebat, lebih mumpuni, dan berani berpikir out of the box guna menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman," pungkasnya.(*)

Firnas Muttaqin

Wednesday, January 28, 2026

HUT ke-340 Kota Pasuruan: Dinsos Bekali Pemuda Teknologi AI Untuk Meningkatkan Bisnis


PASURUAN, 27 Januari 2026 – Memperingati hari jadi Kota Pasuruan yang ke-340, Dinas Sosial (Dinsos) Kota Pasuruan melakukan terobosan inovatif dengan mengoptimalkan program *MTK Space (Muda Tumbuh Kreatif Space)*. Sebagai langkah peningkatan aktivasi ruang kreatif tersebut, Dinsos menggelar workshop bertajuk *"Meningkatkan Bisnismu dengan Konten yang Dibuat Online AI (AI Power Marketing)"*, Selasa (27/1).

Acara yang berlangsung di ruang MTK Space Kantor Dinsos ini dihadiri oleh para pelaku usaha muda, pegiat kreatif, dan organisasi Karang Taruna. Workshop ini bertujuan membekali generasi muda Pasuruan dengan kemampuan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan produktivitas dan strategi pemasaran digital.

*"Create the Next": Wadah Baru Inovasi Pemuda*

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Sosial Kota Pasuruan, *Koko Ari Hidayat, S.E., S.Sos., M.M.*, memperkenalkan tagline MTK Space, yakni *"Create the Next"*. Tagline ini mencerminkan visi agar pemuda Pasuruan mampu menciptakan inovasi-inovasi selanjutnya di bidang teknologi, seni, dan bisnis kreatif.

"MTK Space adalah persembahan kami untuk masyarakat, khususnya pemuda. Kami ingin ruang ini menjadi pusat kolaborasi lintas bidang, mulai dari teknologi hingga inovasi sosial," ujar Koko. Ia menekankan bahwa meskipun ruangan saat ini masih terbatas, semangat untuk menjadikan Pasuruan sebagai "Kota Layak Pemuda" terus dipacu melalui penyediaan fasilitas dan pelatihan berkelanjutan.

*AI sebagai Keniscayaan, Sosial sebagai Identitas*

Mengenai tema workshop, Koko menyatakan bahwa teknologi AI adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Menurutnya, AI sangat efektif untuk memangkas birokrasi administrasi dan mempercepat proses kreatif marketing, seperti pembuatan konten visual dan teks.

Namun, Koko memberikan catatan penting terkait batasan teknologi. "Peran manusia yang tidak bisa digantikan oleh AI adalah sisi sosial dan empati. AI mungkin bisa mencarikan solusi teknis, tapi masalah sosial membutuhkan sentuhan manusia," tegasnya. Ia juga mendorong staf Dinsos dan masyarakat untuk menggunakan AI guna meningkatkan produktivitas tanpa harus kehilangan jati diri sebagai makhluk sosial.

*Transformasi Bansos Menuju Pemberdayaan*

Koko Ari Hidayat juga memaparkan visi besar Dinsos Pasuruan tahun 2026 sebagai *"Tahun Pemberdayaan"*. Salah satu fokus utamanya adalah mengubah pola pikir bantuan sosial (bansos) bagi usia produktif.

"Anak muda yang produktif semestinya tidak menerima bantuan sosial reguler. Kami ingin mengalihkan dukungan tersebut dalam bentuk bantuan pemberdayaan usaha agar mereka bisa mandiri," jelasnya.

Selain itu, Dinsos juga membagikan progres pembangunan signifikan lainnya:

* *Sekolah Rakyat Pulau Rangkoro:* Pembangunan lahan seluas 7,3 hektare yang diproyeksikan mampu menampung 1.080 siswa dari keluarga prasejahtera.
* *Ruang Harapan Anak Hebat:* Fasilitas terapi khusus bagi anak-anak penyandang disabilitas berat (Cerebral Palsy, Down Syndrome, dll).
* *Rumah Hebat Disabilitas:* Wadah produksi bagi penyandang disabilitas (seperti produksi keset oleh tuna netra) yang kini mulai kebanjiran pesanan.

Workshop AI ini diharapkan menjadi pemantik bagi lahirnya produk-produk kreatif dari MTK Space yang nantinya akan dipamerkan pada akhir tahun dalam ajang pameran produk pemuda. Dengan semangat kemandirian, Dinsos Pasuruan optimis angka pengangguran terbuka dapat ditekan melalui kreativitas dan pemanfaatan teknologi yang tepat guna. (*)

Firnas Muttaqin 

---

Monday, January 26, 2026

Mewujudkan Lansia Bermartabat: Sekolah Lansia Tangguh (Selantang) S1 Kota Pasuruan Resmi Dibuka


PASURUAN, 26 Januari 2026 – Semangat belajar tidak mengenal batas usia. Hal ini terpermin jelas dalam acara pembukaan Sekolah Lansia Tangguh (Selantang) Level Standar 1 (S1) Kota Pasuruan Tahun 2026 yang digelar meriah pada Senin pagi di Kota Pasuruan. Acara ini menandai dimulainya perjalanan ratusan lansia di Kota Pasuruan untuk menjadi pribadi yang lebih sehat, mandiri, aktif, dan produktif.

Dihadiri langsung oleh Wali Kota Pasuruan, H. Adi Wibowo, S.TP., M.Si., bersama Ketua Tim Penggerak PKK Kota Pasuruan, Suryani Firdaus Adi Wibowo, acara ini juga mendapat dukungan penuh dari Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur yang dihadiri oleh Plh. Kepala Perwakilan, Sukamto, S.E., M.Si.

---

Testimoni Keajaiban "Hormon Kebahagiaan"

Salah satu momen paling menyentuh adalah testimoni dari *Ayu Setio Purwanti*, siswi S2 kelas Purutkembang yang baru saja menyelesaikan jenjang S1. Ayu mengakui bahwa awalnya ia sempat skeptis dan menolak bergabung karena merasa sudah cukup dengan pendidikan formal di masa mudanya.

"Dulu saya pikir di sini cuma nyanyi-nyanyi dan joget saja. Tapi setelah mengikuti, saya sadar di sinilah tempat yang tepat untuk berproses menuju tua," ungkap Ayu. Ia menjelaskan bahwa kurikulum Selantang yang mencakup tujuh dimensi lansia tangguh mampu memicu hormon endorphin dan dopamine yang membuat para lansia merasa bahagia dan berdaya.

Ayu juga menceritakan betapa antusiasnya para siswa, termasuk seorang rekan sekelasnya yang telah berusia 80 tahun namun tidak pernah absen meski dalam kondisi fisik yang kurang fit. "Bagi kami, wisuda mengenakan toga bukan sekadar seremonial, tapi bukti bahwa usia bukan batasan untuk mencari ilmu," tambahnya.

---
Skala Besar: 805 Lansia Kembali ke Bangku Sekolah

Direktur Indonesia Ramah Lansia (IRL) Kota Pasuruan, Ir. Siti Zunia, M.M., dalam laporan pendidikannya memaparkan lonjakan minat masyarakat terhadap program ini. Berdasarkan data rekrutmen periode September hingga Desember 2025, jumlah siswa baru level S1 mencapai 390 orang yang terbagi dalam 9 kelas baru.

> "Dengan tambahan siswa S1 tahun ini, total seluruh siswa Selantang Kota Pasuruan di tahun 2026 mencapai 805 orang, yang tersebar di 24 kelas (S1, S2, dan S3)," lapor Siti Zunia.

Profil siswa tahun ini pun sangat beragam dan inspiratif:

* *Siswa Tertua:* Ibu Sanikyah dari Kelurahan Sebani yang berusia *90 tahun*. Beliau adalah mantan istri kepala desa yang hingga kini masih aktif bekerja sebagai tenaga pijat.
* *Latar Belakang Siswa:* Terdiri dari 56% ibu rumah tangga, 26% wirausaha, dan 18% pensiunan.
* *Motivator Unik:* Menariknya, salah satu siswa S1 tahun ini adalah *Edy Prianto*, mantan Camat Tosari (Kabupaten Pasuruan), yang memilih bergabung untuk memberikan motivasi bagi lansia lainnya.

---

Sinergi untuk Lansia Berkualitas

Keberhasilan program Selantang di Kota Pasuruan tidak lepas dari kolaborasi lintas sektor. Siti Zunia memberikan apresiasi tinggi kepada berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) seperti Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, hingga dukungan perbankan seperti Bank Jatim. Sebelum pembukaan dimulai, para calon siswa bahkan difasilitasi dengan pemeriksaan kesehatan gratis oleh tim medis.

Sekolah ini menawarkan konsep pendidikan yang unik: gratis, tanpa tugas yang memberatkan, dan fokus pada kebahagiaan serta kemandirian. Melalui Selantang, Pemerintah Kota Pasuruan berharap dapat mengubah paradigma masa tua dari masa yang pasif menjadi masa yang "Bermartabat"—Bersama Masyarakat Tetap Giat dan Hebat.

---

Data Utama Selantang Kota Pasuruan 2026:

* *Total Siswa:* 805 orang (24 Kelas).
* *Siswa Baru S1:* 390 orang (9 Kelas).
* *Jenjang Pendidikan:* S1 (Standar 1), S2 (Standar 2), S3 (Standar 3).
* *Fokus Kurikulum:* Kesehatan, Teknologi, Sosial, dan Psikologi Lansia.

---
Bonus Demografi Kedua: Peluang di Balik Struktur Penduduk Tua

Plh. Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Timur, Sukamto, S.E., M.Si., memaparkan data krusial mengenai pergeseran demografi. Saat ini, jumlah lansia di Indonesia telah mencapai hampir 12% atau sekitar 33,94 juta jiwa. Pada tahun 2045, diprediksi satu dari lima penduduk Indonesia adalah lansia.

"Struktur penduduk dikatakan tua jika populasi lansia di atas 7%. Jawa Timur sendiri sudah mencapai 15,38%," ujar Sukamto. Namun, ia menekankan bahwa angka ini adalah indikator keberhasilan. Usia harapan hidup di Kota Pasuruan bahkan mencapai *74 tahun*, melampaui rata-rata provinsi yang berada di angka 72 tahun.

Menurutnya, Selantang adalah solusi non-formal untuk menjaga kualitas hidup lansia agar tetap mandiri dan tidak menjadi beban, melainkan menjadi "bonus demografi kedua".

---

*Visi "Lansia EMAS" dan Program Makan Bergizi Gratis*

Wali Kota Pasuruan, *H. Adi Wibowo, S.TP., M.Si.*, dalam sambutannya memberikan apresiasi tinggi atas antusiasme para peserta. Ia menceritakan momen haru sekaligus jenaka saat mengetahui beberapa lansia sudah hadir di lokasi sejak pukul 05.00 WIB, padahal acara baru dimulai pukul 08.00 WIB.

"Ini bukti semangat mereka luar biasa. Kita yang muda bisa kalah telak," canda Mas Adi, sapaan akrabnya.

Selain memperkenalkan istilah *Lansia EMAS*, Wali Kota juga membawa kabar baik mengenai rencana penguatan gizi bagi lansia. "Tahun 2026 ini, kami berharap program *Makan Siang Bergizi Gratis (MBG)* juga bisa menyasar para lansia, selain ibu hamil dan anak-anak. Anggarannya sedang disinergikan," ungkapnya.

Beliau menegaskan bahwa membangun *infrastruktur sosial* (SDM) jauh lebih menantang daripada membangun infrastruktur fisik. "Membangun gedung ada duitnya langsung jadi. Tapi membangun semangat dan kemandirian lansia melalui Selantang, itulah investasi masa depan yang sesungguhnya."

---

Kemandirian dan Produk Kreatif Selantang

Selantang Kota Pasuruan kini tidak hanya fokus pada materi di kelas. Sekolah ini mulai bertransformasi menjadi komunitas yang berdaya secara ekonomi. Dalam acara tersebut, produk kalender karya siswa Selantang mulai dipasarkan secara mandiri.

"Selantang hari ini menjadi *role model* di Jawa Timur. Mereka tidak hanya belajar, tapi juga berdaya dengan produk-produk kreatif untuk menunjang kemandirian organisasi," tambah Mas Adi.

Momen Haru: Simbolis bagi Akung dan Uti Tertua

Puncak acara ditandai dengan penyematan tanda peserta secara simbolis kepada:

* *Akung Rikat Mono (72 tahun):* Perwakilan dari Kelurahan Bugul Lor.
* *Uti Sanikyah (90 tahun):* Siswa tertua dari Kelurahan Sebani yang tetap enerjik meski hampir memasuki usia satu abad.

Momen ini menjadi pengingat bahwa usia hanyalah angka, dan belajar adalah tugas sepanjang hayat. Dengan dibukanya kelas S1 bagi 375 siswa baru dan kelanjutan kelas S3 bagi 154 siswa, Kota Pasuruan optimis menyongsong tahun 2026 dengan lansia yang lebih bermartabat.

---

Catatan Menarik: Meski dalam konteks "Sekolah", istilah *S1, S2, dan S3* di sini merujuk pada jenjang *Standar* kurikulum Selantang, bukan gelar akademis formal, guna memudahkan penjenjangan kompetensi para lansia.

Penulis : Firnas Muttaqin

Friday, January 23, 2026

Puspaga Aisyiyah Jadi Garda Terdepan Cegah Kekerasan pada Anak dan Keluarga


Pasuruan, MON– Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) Aisyiyah berperan sebagai lini pertama dalam pencegahan kekerasan dengan memberikan Dukungan Kesehatan Mental dan Psikososial (DKMP). Hal ini ditegaskan oleh Ifa Nur Rosidah, staf bidang perlindungan anak, Jumat (23/1/2026).

Menurut Rosi, panggilan akrab ifa Nur Rosidah, Puspaga merupakan bagian vital dari upaya pencegahan. "Penanganan di Puspaga difokuskan pada klien sebelum terjadi kekerasan. Ini adalah bentuk upaya pencegahannya," jelasnya. Ia menegaskan, jika kekerasan sudah terjadi, maka penanganannya menjadi ranah Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA).

Pelatihan yang digelar ini bertujuan melatih tim Puspaga Aisyiyah sendiri agar terampil memberikan dukungan psikologis awal. "Penanganan awal ini tidak harus dilakukan oleh psikolog atau profesional. Siapapun yang sudah dilatih bisa melakukannya," ujar Ifa. Puspaga berfungsi sebagai "pintu pertama" bagi masyarakat, terutama keluarga, yang mengalami masalah seperti stres, konflik rumah tangga, atau perundungan (bullying).

Mekanisme kerjanya dimulai dengan menerima laporan atau kedatangan klien. "Kita lihat dulu, amati, dan pahami. Kita harus menjadi pendengar aktif, mencerna masalah untuk menemukan apa yang dibutuhkan klien," papar Rosi. Puspaga akan berusaha menyelesaikan masalah di tingkat tersebut. Jika diperlukan, Puspaga dapat merujuk klien ke pihak lain, misalnya dinas sosial untuk masalah ekonomi atau ke rumah sakit dan psikiater jika kasus membutuhkan penanganan medis.

"Namun, jika ada klien yang melapor telah mengalami kekerasan, seperti KDRT atau pelecehan seksual, maka Puspaga akan mendampingi langsung ke UPTD PPA untuk penanganan lebih lanjut, termasuk pendampingan pelaporan kepolisian dan visum," tambahnya.

Rosi mengungkapkan, Puspaga Aisyiyah di Pasuruan berdiri sejak 2025 dan telah mengikuti standarisasi hingga meraih penghargaan dari Kementerian. Keberadaan Puspaga juga ada di bawah Pemerintah Kota (Pemkot) dan organisasi masyarakat lainnya. "Tugas kami adalah menularkan ilmu dan menyosialisasikan pentingnya lembaga serupa di masyarakat," imbuhnya.

Intinya, Puspaga hadir sebagai upaya konkret mencegah eskalasi masalah menjadi kekerasan. "Ini upaya pencegahan. Jangan sampai terjadi kekerasan yang ranah penanganannya sudah berbeda, seperti ke kepolisian," pungkas Rosi.(*)

 

Aisyiyah dan DP3AKB Kota Pasuruan Gelar Pelatihan Konselor Dukungan Kesehatan Mental

Pasuruan, MON  – Guna meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dalam penanganan isu kesehatan mental di tingkat komunitas, Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Pasuruan bekerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB)  menyelenggarakan Pelatihan Dukungan Kesehatan Mental dan Psikososial (DKMP). Pelatihan berlangsung selama dua hari, Kamis dan Jumat (22-23 Januari 2026), di Ruang Rapat DP3AKB Kota Pasuruan.

Kegiatan ini secara khusus diikuti oleh seluruh SDM Puspaga (Pusat Pembelajaran Keluarga) Puspita Melati Aisyiyah. Pelatihan bertujuan untuk melatih para peserta menjadi konselor yang mampu menjadi jembatan bagi masyarakat yang menghadapi permasalahan, baik dalam keluarga maupun lingkungan sosial.

“Tujuannya adalah melatih SDM Puspaga untuk menjadi konselor, menjadi jembatan bagi masyarakat dalam memahami situasi, kondisi, dan menemukan solusi,” jelas Emilis Setyawati, Ketua Puspita Melati Aisyiyah Kota Pasuruan, yang juga menjadi penanggung jawab kegiatan.

Lebih lanjut, Emilis menyatakan bahwa peran konselor tidak hanya sekadar mendengarkan, tetapi juga mampu mengarahkan masyarakat ke lembaga rujukan yang tepat sesuai kebutuhan klien. Hal ini diharapkan dapat berkontribusi pada tercapainya kesehatan yang maksimal bagi setiap individu, keluarga, dan masyarakat.

Materi inti pelatihan berfokus pada pengenalan Dukungan Psikologis Awal (DPA). DPA didefinisikan sebagai serangkaian keterampilan sederhana yang dilakukan secara terencana untuk mengurangi dampak negatif dari suatu masalah dan membantu pemulihan psikologis seseorang.

Dalam konteks ini, peran Puspaga Puspita Melati ditekankan pada pemberian dukungan psikososial yang berbasis keluarga dan kelompok masyarakat. Pendekatan ini dianggap krusial mengingat keluarga dan komunitas merupakan lingkungan terdekat yang dapat memberikan pengaruh signifikan terhadap pemulihan individu.

Pelatihan ini menandai komitmen bersama antara organisasi masyarakat dan pemerintah daerah dalam menguatkan infrastruktur pendukung kesehatan mental di Kota Pasuruan. Keberadaan konselor-konselor terlatih di tingkat akar rumput diharapkan dapat menjadi garda terdepan dalam deteksi dini dan pendampingan sederhana terhadap masalah psikologis warga, sebelum dirujuk ke tingkat layanan yang lebih tinggi jika diperlukan. (*)

https://mediaonlinenasional.com/aisyiyah-dan-dp3akb-kota-pasuruan-gelar-pelatihan-konselor-dukungan-kesehatan-mental/
____

Pentingnya Takwa dan Muhasabah Diri


PASURUAN – Pada Jumat, 23 Januari 2026, Ustadz Suharsono menyampaikan khutbah yang penuh hikmah di Masjid At Taqwa, Jagalan, Kota Pasuruan. Khutbah tersebut berpusat pada pesan tentang kesadaran spiritual dan persiapan menghadapi kehidupan akhirat.

Dalam pengantarnya, khatib mengajak jamaah untuk senantiasa bersyukur kepada Allah SWT atas segala nikmat, terutama kesempatan untuk melaksanakan shalat Jumat di rumah-Nya. Shalawat dan salam juga ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW beserta para pengikut setianya.

Inti khutbah mengutip Surat Al-Hasyr ayat 18, yang artinya: *"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan."*

Ustadz Suharsono kemudian menjabarkan dua pesan utama dari ayat tersebut:

1.  Perintah Bertakwa: Ayat ini merupakan seruan bagi orang beriman untuk menjaga diri dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Ketakwaan menjadi landasan utama dalam kehidupan.

2.  Perintah Muhasabah (Introspeksi Diri): Setiap individu diperintahkan untuk mengevaluasi amal perbuatan yang telah dilakukan sebagai bekal untuk "hari esok". Dalam penafsiran ini, "hari esok" dimaknai sebagai hari akhirat (kiamat). Ini adalah peringatan agar manusia senantiasa memperbaiki diri, menambah amal shaleh, dan meninggalkan maksiat.

Khatib menekankan bahwa muhasabah atau introspeksi diri harus menjadi kebiasaan harian, sebagaimana diajarkan dalam hadis, untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari.

Khutbah juga menggarisbawahi bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, baik yang terang-terangan maupun yang tersembunyi. Tidak ada satu pun perbuatan manusia yang luput dari pengetahuan dan perhitungan-Nya. Pesan ini mengajak untuk hidup dengan penuh kejujuran dan kesadaran akan pengawasan Ilahi.

Secara lebih luas, Ustadz Suharsono menyoroti bahwa nilai-nilai dalam ayat ini—seperti perencanaan, evaluasi, dan adaptasi—sangat relevan dalam membangun pendidikan Islam yang unggul dan membentuk pribadi yang bertanggung jawab.

Pada akhir khutbah, disimpulkan bahwa Surat Al-Hasyr ayat 18 adalah seruan universal untuk hidup secara sadar, bertanggung jawab, dan selalu mempersiapkan diri menghadapi kehidupan akhirat melalui ketakwaan dan muhasabah yang berkelanjutan.

Khutbah Jumat ini ditutup dengan doa, mengingatkan jamaah akan pentingnya refleksi diri dan memperkuat komitmen untuk senantiasa berada di jalan yang diridhai Allah SWT. (*)

Thursday, January 22, 2026

Rahasia Biologis dan Psikologis di Balik Kewajiban Puasa

PASURUAN – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, Ustadz Anang Abdul Malik kembali memberikan pencerahan dalam pengajian rutin Kamis malam (22/1/2026) di Masjid At-Taqwa, Jagalan. Dalam tausiyahnya, beliau menekankan bahwa perintah Allah, terutama ibadah puasa, bukanlah beban, melainkan sebuah desain sempurna untuk kebahagiaan dan kesehatan manusia.

1. Puasa dan Mekanisme Autophagy: Pembersihan Sel Tubuh

Ustadz Anang menjelaskan bahwa perintah puasa memiliki dimensi medis yang sangat canggih. Beliau mengangkat fenomena *Autophagy*, sebuah penemuan ilmiah yang kini banyak dipraktikkan bahkan oleh masyarakat non-Muslim di dunia medis.

> "Autophagy adalah kondisi di mana sel-sel tubuh yang sehat 'memakan' atau membersihkan sel-sel yang sudah mati dan sampah metabolisme dalam tubuh kita. Mekanisme ini berjalan paling efisien saat seseorang sedang berpuasa," jelas Ustadz Anang.

Beliau menyayangkan jika ada umat Islam yang justru malas berpuasa, padahal secara sains, puasa adalah proses "detoksifikasi" alami yang menjaga fisik tetap bugar. "Allah mengatur manusia dengan sangat detail. Durasi satu bulan adalah waktu yang presisi untuk membersihkan residu penyakit dalam tubuh."

2. Mengubah Mindset: Mengapa Harus Satu Bulan?

Selain kesehatan fisik, puasa berperan besar dalam transformasi mental atau psikis. Ustadz Anang mengutip prinsip-prinsip motivator dunia tentang perubahan karakter yang membutuhkan waktu konsisten antara 25 hingga 30 hari—durasi yang sama dengan bulan Ramadan.

Beliau mengilustrasikan hal ini dengan sebuah kisah inspiratif tentang seorang menantu dan mertua:

* Konflik: Seorang menantu yang membenci mertuanya berniat meracuni sang mertua.
* Syarat Perubahan: Seorang ahli psikologi (penjual obat) memberinya "obat" yang harus diberikan selama 30 hari, namun dengan syarat si menantu harus bersikap sangat baik dan lembut selama masa tersebut agar tidak dicurigai sebagai pembunuh.
* Hasilnya: Di hari ke-30, kebencian sang menantu berubah menjadi cinta yang tulus karena ia terbiasa berbuat baik selama sebulan. Mertua pun berubah menjadi sangat sayang.
* Pelajaran: Puasa Ramadan adalah "obat" dari Allah untuk mencuci karakter buruk manusia melalui pembiasaan selama 30 hari.

3. Al-Qur'an dan Eksaknya Ilmu Pengetahuan

Dalam penutupnya, Ustadz Anang mengajak jamaah untuk tidak memisahkan agama dengan ilmu pengetahuan (sains). Beliau mencontohkan bagaimana Al-Qur'an sudah menjelaskan tentang peredaran matahari dan bulan yang sangat presisi (eksak).

"Allah menciptakan matahari bersinar dan bulan bercahaya dengan garis edar yang pasti agar manusia bisa menghitung tahun dan waktu. Dari sinilah lahir ilmu astronomi dan fisika," ungkap beliau. Beliau menegaskan bahwa Islam adalah agama yang sangat mendukung disiplin ilmu, baik kedokteran, psikologi, maupun sains, karena semuanya bersumber dari ayat-ayat Allah yang tercipta di alam semesta.

---

Sunday, January 18, 2026

"Saring Sebelum Sharing": LBH Muhammadiyah Ajak Warga Pasuruan Bijak Bermedia Sosial


Pasuruan, 18 Januari 2026 – Suasana hikmat mengiringi Pengajian Ahad Pagi di Masjid Darul Arqom, Kota Pasuruan. Pada kesempatan ini, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Muhammadiyah hadir bukan untuk membahas pasal-pasal kompleks, melainkan memberikan pemahaman praktis tentang bahaya dan etika di ruang digital kepada jamaah.

Acara yang dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat ini dibuka dengan pengantar Misranto, Ketua LBH Muhammadiyah kota Pasuruan. Disampaikan bahwa lembaga yang awalnya berfokus di lingkungan Muhammadiyah ini telah berkembang dan siap melayani seluruh masyarakat, dengan didukung 15 pengurus yang tersebar.

Literasi Digital: Dari Hoaks hingga Bodyshaming

Materi inti kajian, yang disampaikan oleh Anggi Anggorowati dari LBH Muhammadiyah, berjudul "Bijak di Ruang Digital". Pemaparan dimulai dengan peringatan tentang rendahnya pemahaman keamanan digital masyarakat. Anggi menekankan bahwa Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) memiliki "gigi" hukum yang nyata dan mencakup berbagai platform digital seperti media sosial, Instagram, dan email.

Beberapa jenis pelanggaran UU ITE yang dijelaskan secara gamblang meliputi:
1.  Penyebaran konten asusila.
2.  Penghinaan dan pemicuan kebencian (hate speech).
3.  Penyebaran berita hoaks atau palsu.
4.  Ancaman, pencemaran nama baik, dan fitnah.

Anggi secara khusus menyoroti bahaya komentar emosional yang sering dianggap sepele. "Oh kamu itu gemuk sekali," contohnya, bisa dikategorikan sebagai *bodyshaming* dan berpotensi diproses hukum, terutama jika korban merasa tidak terima. Hal ini menegaskan bahwa ruang digital bukanlah area bebas konsekuensi.

Lima Kiat Praktis Penggunaan Media Sosial

Sebagai solusi, LBH Muhammadiyah membagikan lima tips sederhana namun krusial bagi pengguna media sosial:
1.  *Pikirkan matang sebelum memposting.* Pastikan kebenaran dan dampak dari konten yang akan dibagikan.
2.  *Gunakan bahasa yang sopan.* Menghindari kata-kata kasar atau provokatif.
3.  *Kendalikan emosi.* Jangan terpancing untuk membalas atau membuat konten saat emosi memuncak.
4.  *Hormati privasi orang lain.* Tidak menyebarkan data atau informasi pribadi milik orang lain tanpa izin.
5.  *Saring sebelum sharing.* Prinsip ini diulang-ulang sebagai kunci utama. "Disaring dulu, sebelum disharing," pesan Anggi.

Peran Aktif Masyarakat Diperlukan

Kajian ini tidak hanya berhenti pada pemahaman individu. LBH Muhammadiyah menyerukan peran aktif masyarakat untuk bersama-sama menciptakan ekosistem digital yang sehat. Peran tersebut meliputi:
*   Menjadi pengguna digital yang cerdas dan kritis.
*   Tidak mudah terpancing oleh provokasi atau konten negatif.
*   Berani melaporkan konten yang bermasalah secara hukum melalui saluran yang tepat.
*   Mengedukasi lingkungan sekitar, mulai dari keluarga hingga tetangga.

Acara diakhiri dengan harapan agar pemahaman ini dapat dimaksimalkan dalam kehidupan bermasyarakat. Melalui pendekatan yang santun namun tegas, LBH Muhammadiyah membuktikan bahwa dakwah dan pendampingan hukum dapat berjalan beriringan, mengingatkan bahwa di era digital, kehati-hatian dalam setiap unggahan dan komentar adalah bentuk ibadah dan tanggung jawab sosial yang nyata. (*)

Wednesday, January 14, 2026

Apa itu Tirakat? Tirakati Anakmu Nanti Kamu Akan Lihat Perubahannya

Tirakat dalam konteks budaya dan spiritual Jawa adalah sebuah laku atau praktik untuk mendisiplinkan diri, biasanya dengan cara mengurangi kesenangan duniawi, menahan hawa nafsu, atau melakukan ritual tertentu dengan niat dan keyakinan yang kuat. Tujuannya adalah untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, membersihkan hati, menguatkan tekad, dan memohon petunjuk atau pertolongan.

Bentuk tirakat beragam, misalnya:
*   Puasa (tidak hanya puasa Ramadan, tetapi juga puasa Senin-Kamis, puasa mutih, dll.)
*   Mengurangi tidur untuk beribadah atau merenung.
*   Mengheningkan cipta atau meditasi.
*   Menjauhi hal-hal yang sia-sia seperti gossip, hiburan berlebihan.
*   Melakukan sesuatu dengan konsisten dan penuh kesabaran.

Makna Nasihat: "Tirakati anakmu, nanti kamu akan lihat perubahannya."

Nasihat ini mengandung kebijaksanaan yang sangat dalam, terutama dalam hal pendidikan karakter. Ini bukan tentang menyiksa atau memaksa anak, melainkan tentang:

1.  Mendidik Kedisiplinan dan Tanggung Jawab: Dengan membiasakan anak melakukan tirakat sederhana (seperti puasa sunah, bangun lebih awal untuk salat tahajud, atau mengurangi waktu main game), anak belajar mengendalikan keinginan dan emosinya.
2.  Membangun Mental Kuat: Tirakat melatih kesabaran dan ketahanan mental. Anak yang terbiasa menahan diri akan lebih siap menghadapi kesulitan hidup di masa depan.
3.  Mempertajam Hati dan Pikiran: Praktik tirakat yang dilakukan dengan benar (misalnya dengan banyak berdoa dan introspeksi) dapat membuat anak lebih peka, lebih tenang, dan lebih mudah menerima nasihat kebaikan.
4.  Membentuk Karakter Ikhlas: Anak belajar bahwa tidak semua hal harus dilakukan untuk kesenangan instan. Ada nilai yang lebih tinggi dari sekadar memenuhi keinginan.
5.  Mendapatkan Hikmah yang Tidak Terduga: Keyakinan spiritual menyebutkan bahwa laku tirakat yang tulus akan membuka pintu hidayah dan kemudahan dari Tuhan. Perubahan pada anak bisa datang dalam bentuk kedewasaan berpikir, kemandirian, atau hal positif lain yang seringkali di luar perkiraan.

Penerapan yang Bijak dalam Pengasuhan:

*   Sesuaikan dengan Usia dan Kemampuan: Tirakat untuk anak harus proporsional. Misalnya, puasa setengah hari, mengurangi jajan, atau membantu pekerjaan rumah dengan rutin.
*   Dampingi dan Jelaskan Maknanya: Jangan sekadar menyuruh. Jelaskan dengan kasih sayang tujuan dari laku tersebut—untuk melatih diri dan mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa.
*   Contoh dari Orang Tua: Cara paling efektif adalah orang tua memberi contoh. Lakukan tirakat bersama-sama sebagai bentuk kebersamaan dan keteladanan.
*   Fokus pada Pembinaan, Bukan Paksaan: Tujuannya adalah internalisasi nilai, bukan sekadar menyelesaikan "beban" ritual. Hargai proses anak.

Kesimpulan:

Nasihat "tirakati anakmu" adalah seruan untuk mendidik jiwa dan karakter anak melalui laku disiplin spiritual yang penuh cinta dan keteladanan. Perubahan yang dijanjikan bukanlah perubahan instan seperti sulap, tetapi perubahan bertahap yang mendalam—menjadikan anak tidak hanya pintar secara akademis, tetapi juga kuat, berakhlak mulia, dan memiliki ketahanan mental yang baik.

Intinya, tirakat untuk anak adalah salah satu metode pengasuhan berbasis nilai dan spiritualitas yang diwariskan leluhur untuk membentuk pribadi yang utuh. (*)

Tuesday, January 13, 2026

Kenapa Nabi Muhammad saat Isro' Mi'roj mesti mampr dulu ke Masjid Al Aqsho, tidak langsung ke langit?

Pertanyaan ini sangat menarik dan telah menjadi diskusi penting dalam kajian tafsir dan sirah. Peristiwa Isra' Mi'raj, menurut keyakinan Islam, memiliki beberapa hikmah dan pelajaran mendalam mengapa Nabi Muhammad ï·º "singgah" terlebih dahulu ke Masjid Al-Aqsha sebelum naik ke langit.

Berikut adalah beberapa hikmah dan alasan utama yang dijelaskan oleh para ulama:

1. Konfirmasi Kenabian dan Keterkaitan Para Nabi (Silsilah Kenabian):
- Dengan menjadi imam shalat berjamaah di Al-Aqsha bersama para nabi dan rasul sebelumnya (seperti Nabi Ibrahim, Musa, dan Isa), ini adalah **penegasan simbolis** bahwa Nabi Muhammad ï·º adalah penerus dan penyempurna risalah langit. Beliau adalah "khatam an-nabiyyin" (penutup para nabi).
- Peristiwa ini menghubungkan secara langsung tiga agama samawi (Ibrahimiah) dan menunjukkan bahwa Islam adalah kelanjutan sekaligus penyempurna dari ajaran yang dibawa nabi-nabi sebelumnya.

2. Penegasan Status Masjid Al-Aqsha dalam Islam (Kiblat Pertama):
- Perjalanan ini terjadi sekitar 16-17 bulan sebelum hijrah, di mana **Masjid Al-Aqsha adalah kiblat pertama umat Islam**. Peristiwa Isra' Mi'raj memperkuat ikatan spiritual umat Islam dengan masjid suci di Yerusalem ini.
- Ini menegaskan bahwa **Al-Aqsha adalah bagian dari keyakinan Islam**, bukan hanya milik umat Yahudi atau Nasrani. Dalam Islam, Al-Aqsha adalah salah satu dari tiga masjid suci (Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Al-Aqsha).

3. Ujian Keimanan dan Pembeda antara Mu'min dan Munafiq:
- Perjalanan yang sulit diterima akal ini menjadi ujian keimanan yang sangat besar bagi penduduk Mekkah. Mereka yang beriman sejati (seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq) langsung membenarkan, sementara orang-orang munafik dan kafir menjadikannya bahan cemoohan.
- Peristiwa singgah di Al-Aqsha memberikan detail geografis yang nyata (tentang kafilah yang hilang untanya, dll.) yang bisa diverifikasi oleh penduduk Mekkah, meskipun mereka sulit mempercayai perjalanan spiritual ke langit.

4. Persiapan Spiritual Menuju Hadirat Ilahi:
- Dalam perjalanan spiritual, Al-Aqsha berperan sebagai "stasiun" (mi'raj) sebelum mi'raj sejati (naik ke langit). Ini menggambarkan tahapan: dari bumi (Mekkah) ke bumi suci lain (Yerusalem), lalu naik ke dimensi langit.
- Secara simbolis, ini menggambarkan bahwa untuk mencapai puncak spiritual (Sidratul Muntaha, dekat Arsy Allah), perlu melalui tahapan-tahapan yang disucikan.

5. Menghubungkan Dua Pusat Risalah (Mekkah dan Yerusalem):
- Isra' (perjalanan malam) dari Masjidil Haram ke Masjid Al-Aqsha menghubungkan dua pusat kenabian utama: Mekkah (pusat risalah Nabi Ibrahim dan Ismail) dan Yerusalem (pusat risalah Nabi Dawud, Sulaiman, dan Isa).
- Ini menciptakan kesatuan geografi spiritual dalam peta kenabian.

6. Isyarat Perpindahan Kepemimpinan Spiritual:
- Beberapa mufassir melihat ini sebagai **isyarat akan perpindahan "kepemimpinan spiritual"** dari Bani Israel (yang berpusat di Yerusalem) kepada umat Nabi Muhammad ï·º yang akan menjadi umat terakhir pembawa risalah.

Kesimpulan:
Singgahnya Nabi Muhammad ï·º di Masjid Al-Aqsha bukanlah sekadar "persinggahan teknis," melainkan langkah yang sangat sarat makna teologis, politik, dan spiritual. Ia berfungsi sebagai:
- Pernyataan legitimasi atas kelanjutan risalah langit.
- Penguatan identitas umat Islam dengan warisan nabi-nabi sebelumnya.
- Landasan bagi perubahan kiblat (dari Al-Aqsha ke Ka'bah) yang akan terjadi kemudian, yang juga memiliki hikmahnya sendiri.

Dengan demikian, peristiwa ini menunjukkan bahwa Islam bukanlah agama yang terpisah sama sekali, melainkan agama final yang mengkonfirmasi, meluruskan, dan menyempurnakan ajaran-ajaran nabi sebelumnya, sekaligus menempatkan Nabi Muhammad ï·º sebagai pemimpin spiritual seluruh umat manusia. (*)

Monday, January 12, 2026

Hukum Khotib Tidak Sekaligus Menjadi Imam Sholat Jumat


Menurut penjelasan Ustadz Abdul Somad (UAS), terdapat tiga pendapat dalam mazhab fikih terkait apakah khotib harus sekaligus menjadi imam sholat Jumat:

1. Pendapat Mayoritas (Hanafi, Syafi'i, Hanbali):
-  Hukumnya sunnah/mustahab (disukai, sebaiknya) bahwa khatib juga menjadi imam, karena khotbah dan sholat Jumat adalah satu kesatuan ibadah.
- Bukan wajib. Jika khotib tidak menjadi imam, sholat Jumat tetap sah.

2. Pendapat Mazhab Maliki:
- Hukumnya wajib. Khotib harus menjadi imam. Jika berbeda orang, salat Jumatnya tidak sah.
- Namun, ada dispensasi: jika khatib berhalangan (misal: uzur syar'i seperti sakit), boleh digantikan orang lain.

3. Pendapat Kelonggaran (rukhsah) untuk Kondisi Tertentu:
- Boleh khatib dan imam berbeda orang, asalkan imam hadir dan menyimak khotbah (sebagian atau seluruhnya).
- Ini pendapat yang dipilih UAS untuk konteks Indonesia, dengan pertimbangan:
    - Tidak semua khatib memiliki kemampuan bacaan Al-Qur'an atau fikih salat yang memadai untuk memimpin jamaah.
    - Di Indonesia, seringkali khatib adalah penceramah khusus (bukan imam tetap masjid), sementara masjid sudah memiliki imam resmi yang lebih ahli memimpin salat.
    - Situasi ini berbeda dengan Arab Saudi atau Mesir, di mana imam besar masjid (seperti Masjidilharam) biasanya juga bertindak sebagai khatib berdasarkan penugasan resmi.

Kesimpulan UAS:
- Boleh dan sah jika khatib tidak sekaligus menjadi imam salat Jumat, asalkan imam telah hadir dan mendengarkan khotbah.
- Keputusan ini didasarkan pada realitas dan kemaslahatan umum di Indonesia, di mana memisahkan peran khatib (sebagai penceramah) dan imam (sebagai pemimpin salat) justru dapat menjaga kualitas kedua aspek ibadah tersebut.

Catatan: Perbedaan ini adalah ikhtilaf furu'iyyah (perbedaan cabang) yang luas di kalangan ulama. Masing-masing jamaah dapat mengikuti ketentuan yang dianut oleh pengurus masjid setempat, selama berdasar pada salah satu pendapat yang sah dalam mazhab fikih. (*)

Sumber:

Sunday, January 11, 2026

Menjaga Jantung, Menjaga Ibadah


Suasana Masjid Darul Arqom, Kota Pasuruan, pada Ahad pagi (11/1/2026) tampak berbeda. Di tengah rutinitas ibadah, para jamaah mendapatkan siraman rohani sekaligus edukasi kesehatan yang krusial. Dalam kegiatan Pengajian Ahad Pagi tersebut, seorang praktisi kesehatan Dokter Fahmi yang juga pengurus MUI Kota Pasuruan hadir memberikan perspektif mendalam mengenai pentingnya menjaga kesehatan jantung sebagai modal utama dalam beribadah.

Jantung: Organ yang Tak Pernah Berhenti Berkhidmat

Dalam paparannya, sang dokter mengingatkan bahwa jantung adalah organ yang luar biasa "setia". Bekerja tanpa henti, jantung berdenyut rata-rata *60 hingga 100 kali per menit* untuk memompa darah ke seluruh tubuh.

"Bayangkan jika jantung kita lemah. Shalat menjadi berat, puasa terasa melelahkan, bahkan aktivitas sederhana pun sulit dilakukan. Bagaimana kita bisa khusyuk jika jantung kita sedang tidak baik-baik saja?" ujarnya di hadapan jemaah yang antusias.

Ia menekankan bahwa menjaga kesehatan jantung bukan sekadar urusan medis, melainkan bentuk syukur atas amanah fisik yang diberikan oleh Allah SWT.

---

Waspada 'Silent Killer' dan Gagal Jantung

Edukasi ini juga menyoroti bahaya tekanan darah tinggi (hipertensi) yang sering dijuluki sebagai *silent killer*. Banyak pasien yang merasa sehat-sehat saja meski tensinya mencapai angka 200, namun tiba-tiba ambruk karena komplikasi.

Selain hipertensi, dr. Fahmi menjelaskan kondisi *Gagal Jantung*. Kondisi ini terjadi ketika jantung tidak lagi mampu memompa darah secara maksimal. Efeknya berantai: paru-paru terasa sesak, tubuh cepat lelah, hingga pembengkakan pada bagian tubuh tertentu.

"Seringkali pasien salah mengira sesak napas sebagai asma, padahal itu teriakan dari jantung yang sudah tidak kuat memompa. Itulah pentingnya kontrol rutin meski tidak ada gejala," tambahnya.

---

Gaya Hidup: Antara 'Olah Raga' dan 'Siksa Raga'

Terdapat empat faktor risiko utama yang ditekankan dalam pengajian tersebut:

1. Rokok: Baik perokok aktif maupun pasif memiliki risiko kerusakan pembuluh darah yang sama.
2. Pola Makan: Tingginya konsumsi garam dan minyak yang menjadi pemicu utama kolesterol serta darah tinggi.
3. Aktivitas Fisik: Untuk lansia (usia 45-50 tahun ke atas), olahraga tidak perlu berat. Jalan kaki di bawah sinar matahari pagi adalah pilihan terbaik. "Prinsipnya adalah *olah raga*, bukan *siksa raga*. Jangan memaksakan diri jogging berlebihan jika usia sudah tidak memungkinkan," pesannya.
4. Manajemen Stres: Stres yang tidak terkelola akan mengeluarkan hormon negatif yang merusak pembuluh darah.

---

Komunikasi dan Rasa Syukur sebagai Obat

Menariknya, narasumber juga menyelipkan pesan sosial-psikologis. Ia menyebut bahwa banyak penyakit fisik berawal dari beban pikiran yang tidak tersalurkan. Komunikasi yang baik antara suami, istri, dan anak menjadi kunci kesehatan mental.

"Kehidupan kita ini memang melelahkan, tapi obatnya adalah syukur dan sabar. Saat dapat rezeki bersyukur, saat dapat musibah bersabar. Jangan lupa juga untuk mencukupi kebutuhan Vitamin D dengan berjemur, karena itu murah dan tersedia gratis dari Allah," kata dokter Fahmi.

---

Sinergi Fisik dan Ruhani: Rahasia Jantung Sehat dan Umur Panjang

Dokter Fahmi menekankan bahwa kunci utama keselamatan pasien jantung adalah kecepatan penanganan dan ketepatan diagnosa, sembari tetap menjaga keseimbangan batin.

*Mengenali Sinyal Bahaya: Bukan Sekadar Sesak Biasa*

Banyak masyarakat yang sering salah mengartikan gejala penyakit. Keluhan seperti sesak napas sering kali dianggap asma biasa, padahal bisa jadi itu adalah alarm dari jantung, paru-paru, atau ginjal.

"Jangan sembarangan mengurut atau memijat dada jika terasa nyeri. Penanganan yang salah justru menghambat waktu krusial (*golden period*) yang seharusnya bisa menyelamatkan nyawa," tegas sang dokter.

Ia juga menyoroti fenomena "mudah lelah" sebagai indikator gagal jantung. Jika aktivitas ringan seperti berjalan 10 meter atau naik tangga sudah membuat seseorang terengah-engah (ngos-ngosan), maka itu adalah tanda jantung tidak lagi prima. Kualitas hidup, baik di pagi maupun malam hari, akan menurun drastis jika kondisi ini dibiarkan tanpa kontrol medis.

---

*Pesan Tegas: Berobatlah pada Ahlinya*

Di era informasi digital, narasumber memberikan peringatan keras agar jemaah tidak mudah tergiur oleh saran pengobatan dari media sosial atau pengalaman tetangga.

> "Jangan mengikuti saran 'katanya' di Facebook atau grup WhatsApp. Penyakit setiap orang itu unik. Obat yang cocok untuk tetangga belum tentu cocok untuk Anda. Serahkan pada ahlinya, karena dokter mendiagnosa berdasarkan data fisik, rekaman jantung, dan tensi yang terukur."

Beliau juga membagikan tips melakukan tensi mandiri di rumah agar akurat:

* Posisi harus duduk tenang (tidak sedang menahan kencing atau berbicara).
* Lakukan pengecekan secara berkala untuk merekam pola tekanan darah.

---

Manifestasi Ibadah dalam Kesehatan Fisik

Salah satu poin paling menarik dalam pengajian ini adalah bagaimana aktivitas ibadah ternyata memiliki manfaat medis yang nyata:

1. Shalat sebagai Olahraga: Gerakan shalat yang benar membantu kelenturan sendi dan otot. Posisi Sujud yang dilakukan dengan tuma'ninah (tenang/lama) membantu aliran oksigen ke otak menjadi lebih lancar.
2. Puasa sebagai Detoksifikasi: Puasa memberikan waktu bagi organ tubuh untuk beristirahat, membuang racun (detoks), dan melakukan regenerasi sel secara alami.
3. Tidur Berkualitas: Waktu tidur terbaik adalah malam hari (sekitar pukul 21.00 hingga sebelum Subuh). Inilah saat di mana organ liver bekerja maksimal membuang racun.

---

Tips Praktis: Dari Cara Minum hingga Adab di Kamar Mandi

Selain masalah medis berat, narasumber membagikan kebiasaan sederhana yang berdampak besar bagi ginjal dan jantung:

* Waktu Minum Optimal: Disarankan untuk mencukupi kebutuhan air antara jam 3 sore hingga Maghrib. Setelah makan besar, sebaiknya tidak langsung minum banyak; tunggu sekitar satu jam agar proses pencernaan maksimal.
* Adab Buang Air: Untuk menjaga kesehatan ginjal dan prostat, dianjurkan buang air kecil dengan posisi jongkok. Di akhir, lakukan gerakan berdehem tiga kali untuk memastikan sisa air seni keluar sempurna, guna menghindari infeksi atau batu ginjal.
* Kontrol Nutrisi: Kurangi asupan garam (asin), gula (manis), serta kopi dan teh yang berlebihan, terutama bagi mereka yang sudah memasuki usia di atas 40 tahun.

Penutup: Syukur dan Sabar adalah Obat Utama

Menutup sesi tersebut, sang dokter menekankan bahwa kesehatan jantung fisik sangat bergantung pada "kesehatan" hati secara spiritual. Hati yang dipenuhi rasa syukur dan kesabaran akan menjauhkan stres yang merusak pembuluh darah.

"Jika hati (spiritual) baik, maka seluruh tubuh akan baik. Mari seimbangkan ikhtiar medis dengan ikhtiar batin melalui istighfar dan shalawat. Sehat itu bukan hanya soal angka tensi, tapi soal ketenangan jiwa," pungkasnya. (*)

---

Friday, January 09, 2026

Kedudukan Nabi Isa AS dalam Islam Menurut Ustadz Abdul Somad

1. Kewajiban Mengimani Nabi Isa AS
   - Seorang Muslim wajib mengimani Nabi Isa AS.
   - Barangsiapa tidak percaya kepada Nabi Isa AS, berarti dia tidak percaya kepada Al-Qur'an dan tidak percaya kepada Nabi Muhammad SAW.

2. Bukti Pentingnya Nabi Isa AS dalam Al-Qur'an
   - Ada dua surah khusus yang secara signifikan membahas tentang Nabi Isa AS:
     1. Surah Ali 'Imran: Turun sebagai jawaban atas pertanyaan delegasi Kristen dari Najran kepada Nabi Muhammad SAW tentang status Yesus (Isa) dalam Islam.
     2. Surah Maryam: Mengisahkan tentang ibunda Nabi Isa AS, Maryam. Jika Al-Qur'an adalah buatan manusia (Nabi Muhammad), tentu akan ada surah tentang Aminah (ibu Nabi Muhammad). Namun, Al-Qur'an justru mengabadikan nama Maryam, menunjukkan kebenaran wahyu Allah.

3. Keyakinan Islam tentang Nabi Isa AS
   - Keyakinan Islam tentang Nabi Isa AS tertuang dalam ayat: "Masih putra Maryam itu hanyalah seorang Rasul." (QS. Al-Ma'idah: 75).
   - Beliau adalah seorang Rasul utusan Allah, sama seperti Nabi Adam, Idris, Nuh, Shaleh, Ilyas, dan para nabi yang diutus kepada Bani Israil untuk menyelamatkan manusia.

4. Membela Kesucian Maryam dan Nabi Isa AS
   - Islam datang untuk membersihkan tuduhan keji orang Yahudi yang menuduh Maryam sebagai pezina dan Nabi Isa AS sebagai anak hasil perzinahan.
   - Surah Maryam menggambarkan dengan detail saat Maryam melahirkan. Ketika dituduh oleh pendeta Yahudi, "Ayahmu bukan orang jahat, ibumu juga bukan wanita tuna susila, lalu bagaimana kamu bisa hamil tanpa suami?", Maryam hanya menunjuk kepada bayinya.
   - Terjadilah mukjizat: Bayi (Nabi Isa AS) itu bersabda:
     > "Sesungguhnya aku adalah hamba Allah. Dia memberiku Kitab (Injil) dan menjadikan aku seorang Nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada." (QS. Maryam: 30-31)

5. Posisi Nabi Isa AS dalam Ajaran Islam
   - Islam menempatkan Nabi Isa AS sebagai Rasul Allah, bukan sebagai anak zina.
   - Islam membela dan membersihkan beliau serta ibundanya dari segala fitnah.
   - Sangat tidak mungkin seorang Muslim melecehkan Maryam dan Isa AS, karena dalam Al-Qur'an, Maryam disebut sebagai "Ummuhu Siddiqah" (ibunya adalah seorang wanita yang sangat benar/jujur) yang melahirkan seorang Rasul Allah.

---

Intisari:
Ustadz Abdul Somad menegaskan bahwa mengimani Nabi Isa AS adalah bagian integral dari keimanan seorang Muslim. Al-Qur'an secara khusus membela kesucian kelahiran beliau dan mengangkat martabat ibunda Maryam, sekaligus menolak segala tuduhan yang dilemparkan oleh orang Yahudi. Nabi Isa AS dalam Islam diimani sebagai Rasul Allah yang mulia, bukan sebagai Tuhan atau anak Tuhan, dan bukan pula sebagai anak haram. (*)

Sumber:

Thursday, January 08, 2026

Pandangan Ade Armando, Mikhana dan Ustadz Adi Hidayat tentang kewajiban Sholat 5 Waktu.

Pandangan yang Dipertanyakan (Ade Armando & Mikhana Indira):
Mereka menyatakan bahwa tidak ada perintah sholat lima waktu (Subuh, Zuhur, Asar, Maghrib, Isya) secara eksplisit dalam Al-Qur'an. Mereka berargumen bahwa:
- Ayat-ayat Al-Qur'an yang menyebut waktu-waktu sholat (seperti QS. 24:58, 30:17-18, 17:78) hanya menyebut nama waktu, bukan perintah sholat lima waktu secara tegas.
- Mereka menantang dalil yang menyebutkan rincian sholat lima waktu beserta tata caranya dalam Al-Qur'an.

Tanggapan Ustadz Adi Hidayat:
Ustadz Adi Hidayat menegaskan bahwa sholat lima waktu memang tidak dirinci satu per satu dalam Al-Qur'an, namun kewajibannya berasal dari wahyu yang diterima Nabi Muhammad SAW melalui hadits dan Sunnah.  
Beberapa poin penjelasannya:
1. Al-Qur'an sebagai pedoman utama, tetapi tafsir dan rincian ibadah (termasuk sholat) dijelaskan oleh Nabi SAW.
   - Contoh: Perintah sholat dalam QS. Al-Baqarah: 43, namun tata caranya diajarkan Nabi.
2. Ayat-ayat tentang waktu sholat (seperti QS. Hud: 114, QS. Al-Isra': 78) menunjukkan adanya pembagian waktu ibadah, tetapi rincian jumlah rakaat dan pelaksanaannya ada dalam hadits.
3. Fungsi Hadits sebagai penjelas Al-Qur'an:  
   - Nabi SAW bersabda: "Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat" (HR. Bukhari).  
   - Hadits ini menjadi dasar praktik sholat lima waktu beserta tata caranya.

Kesimpulan:
- Al-Qur'an memang tidak menyebutkan "lima waktu" secara eksplisit, tetapi menyebut waktu-waktu ibadah (Subuh, Zuhur, Asar, Maghrib, Isya) dalam beberapa ayat.
- Penetapan sholat lima waktu berasal dari Sunnah Nabi SAW (hadits) yang merupakan sumber hukum kedua umat Islam.
- Mayoritas ulama sepakat bahwa sholat lima waktu adalah kewajiban yang tidak diragukan, berdasarkan gabungan dalil Al-Qur'an, Hadits, dan Ijma' (konsensus ulama).

Ayat-ayat yang Disebutkan:
1. Subuh : QS. An-Nur (24): 58, QS. Ar-Rum (30): 17  
2. Dzuhur & Ashar : QS. Al-Isra' (17): 78, QS. Ar-Rum (30): 18  
3. Ashar : QS. Qaf (50): 39  
4. Maghrib & Isya : QS. Hud (11): 114, QS. An-Nur (24): 58  

Namun, penting dicatat: Ayat-ayat tersebut hanya menyebut "waktu", bukan perintah sholat lima waktu secara rinci. Rincian kewajibannya didapat dari penjelasan Nabi SAW.

Peringatan:
Pernyataan yang menyangkal kewajiban sholat lima waktu dianggap bertentangan dengan ijma' ulama dan dasar Islam. Umat Islam diimbau untuk merujuk pada sumber yang otentik (Al-Qur'an, Hadits, dan penjelasan ulama yang diakui).

Kadisnaker Jatim Ungkap Tantangan Penerapan K3 di 385 Ribu Usaha Mikro: Butuh Kolaborasi, Bukan Hanya Regulasi


SURABAYA - Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Jawa Timur masih menghadapi tantangan besar pada sektor usaha mikro. Hal ini mengemuka dalam dialog interaktif di Radio Suara Surabaya, Kamis (8/1/2026), yang menghadirkan Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dispnakertrans) Provinsi Jawa Timur, Sigit Priyanto.

Berdasarkan data wajib lapor ketenagakerjaan tahun 2026, Sigit mengungkapkan dari total 401.963 perusahaan di Jatim, sebanyak 385.000 di antaranya merupakan usaha mikro. Sektor inilah yang menjadi pekerjaan rumah (PR) utama dalam penerapan budaya K3.

"PR kita ke depan yang mikro ini. Harus kolaborasi. Kalau enggak, ini enggak bisa kita pakai standar apa kira-kira untuk K3-nya. Untuk operasional saja berat," ujar Sigit.

Ia membandingkan dengan perusahaan penanaman modal asing (PMA) yang standar K3-nya sudah sangat baik karena menjadi prasyarat ekspor. Sementara di usaha mikro, seperti pabrik tahu tradisional, sering kali terjadi *unsafe action* (perilaku tidak aman) dan *unsafe condition* (kondisi tidak aman).

"Yang penting dipakai terus, nggak ngerti durasi pemakaiannya, tahu-tahu ada kejadian (kecelakaan)," tambahnya.

Budaya, Bukan Hanya Formalitas

Dialog yang juga menghadirkan akademisi dan praktisi industri ini membahas fenomena K3 yang kerap hanya dianggap formalitas. Beberapa pendengar menyatakan hal serupa melalui polling di program tersebut.

Dr. Ir. Aditya Sudiarno, Kaprodi Rekayasa Keselamatan Proses ITS sekaligus anggota Dewan K3 Provinsi Jatim, membenarkan bahwa secara umum penerapan K3 di Jatim baik. Namun, celahnya masih ada pada industri skala lokal atau kecil.

"Industri yang masih belum *aware* terkait K3 itu kebanyakan industri di skala lokal," kata Aditya.

Dewan K3 Provinsi, yang dibentuk berdasarkan Permenaker No. 18/2016, memiliki tugas memberikan rekomendasi kebijakan dan melakukan kampanye budaya K3 kepada seluruh pemangku kepentingan.

Sosialisasi Proaktif Lebih Diutamakan

Menanggapi pertanyaan tentang sanksi bagi industri kecil yang abai, Sigit menekankan pendekatan edukasi dan kolaborasi sebelum penegakan aturan.

"Kita ketuk kesadarannya, berikan sosialisasi informasi, potensi berbahayanya seperti ini. Disampaikan berulang-ulang," jelasnya.

Ia menambahkan, menunggu regulasi yang sempurna membutuhkan waktu lama. Karena itu, pihaknya aktif mendatangi dan menyosialisasikan langsung dengan melibatkan pimpinan daerah.

"Kelamaan kalau kita nunggu regulasi. Yang bagus harus dibiasakan, sesuai SOP, biar selamat dan sehat," tegas Sigit.

*Perusahaan Besar Jadi Role Model*

Sebagai contoh penerapan K3 yang matang, Vice President K3 PT Petro Kimia Gresik, Ruli Eko Ardianto, membagikan pengalaman perusahaannya. Sejak berdiri tahun 1972, perusahaan yang bergerak di industri berisiko tinggi ini telah menerapkan Sistem Manajemen K3 (SMK3) wajib berdasarkan PP No. 50 Tahun 2012, serta standar internasional seperti ISO 45001.

"Di kami, safety *start with me*. Safety dimulai dari diri sendiri. Kami terus meng-*engagement* bahwa dengan penerapan safety kita jadi lebih *powerful*," ujar Ruli.

Tantangan terbesar, menurutnya, adalah menanamkan budaya K3 yang sama kepada kontraktor dan subkontraktor yang bekerja di lingkungan perusahaannya. Budaya K3 yang telah mengakar ternyata membawa manfaat nyata.

"Dengan penerapan safety akan jadi jaya. Ini konteksnya tidak hanya internal tapi juga eksternal," imbuhnya.

Sigit pun berharap perusahaan besar seperti Petro Kimia Gresik dapat menjadi pusat pembelajaran dan contoh bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Menurutnya, K3 yang baik adalah faktor penting menjaga daya saing industri, khususnya untuk perusahaan ekspor, karena kecelakaan kerja dapat mempengaruhi kepercayaan pasar internasional.

Dialog ini menegaskan bahwa membangun ekosistem K3 nasional yang inklusif dan berkelanjutan memerlukan kolaborasi semua pihak, dari pemerintah, akademisi, industri besar, hingga pelaku usaha mikro. (*)

Firnas Muttaqin

Dari Hanggar ke Horizon Kosmik: Jejak Fenomenal Sabrina Pasterski Menerangi Batas-Batas Fisika


Di sebuah kantor yang sederhana di Pusat Fisika Teoretis MIT, di balik tumpukan kertas yang dipenuhi persamaan tensor dan diagram ruang-waktu lengkung, Sabrina Gonzalez Pasterski (30) sedang menggambar di papan tulis. Garis-garis kapurnya bukan sekadar rumus; ia sedang memetakan medan perang kosmik antara gravitasi dan mekanika kuantum, berusaha mendamaikan dua pilar fisika yang telah berseteru selama seabad.

Namun, jika Anda menelusuri jejaknya mundur dua dekade, Anda akan menemukannya bukan di depan papan tulis, tetapi di sebuah garasi di Chicago, dengan tangan penuh oli, merakit sayap pesawat bermesin tunggal. Kisahnya adalah narasi modern yang langka: dari penerbang termuda yang menerbangkan karya tangannya sendiri, hingga salah satu pemikir termuda dan paling menjanjikan di dunia yang berusaha memecahkan misteri terdalam alam semesta.

---

Awal yang Membumbung Tinggi: Sang “Gadis Roket”

Ketenaran Pasterski pertama kali mengudara—secara harfiah—pada usia 14 tahun. Video amatir yang menunjukkan dirinya, masih remaja, lepas landas dan mendaratkan pesawat yang dibangunnya sendiri di atas Danau Michigan, menjadi viral di komunitas penerbangan. Keterampilan tekniknya yang luar biasa dan ketenangannya di kokpit menarik perhatian seorang pengusaha yang kemudian mengubah wajah dunia teknologi: Jeff Bezos, pendiri Blue Origin.

“Dia adalah pencipta sejati. Setiap orang yang bertemu dengannya akan terpukau oleh kecerdasan dan tekadnya,” kata Bezos dalam sebuah wawancara beberapa tahun lalu, menambahkan prediksi yang berani, “Dia akan merevolusi fisika.” Kata-kata itu, dari seorang visioner eksplorasi antariksa, menjadi prolog yang sulit dipercaya untuk kisah hidupnya berikutnya.

Lonjakan Akademik yang Tak Terbendung

Dengan rekomendasi dari profesor MIT yang terkesima pada proyek pesawatnya, Pasterski diterima di kampus bergengsi itu pada usia 16. Di sana, ia tidak hanya sekadar bertahan; ia mendominasi. Ia meraih gelar sarjana fisika *summa cum laude* dengan IPK sempurna 5.0 dalam waktu hanya tiga tahun, sebuah prestasi yang membuat para profesor berdecak kagum.

“Sabrina adalah kekuatan alam. Dia memiliki intuisi fisikawan murni yang dibarengi dengan ketekunan seorang insinyur. Kombinasi itu sangat langka,” ungkap Prof. Allen Weinstein, salah satu mentornya di MIT.

Dari MIT, ia meluncur ke Harvard untuk meraih gelar doktor di bawah bimbingan Andrew Strominger, salah satu fisikawan teori terkemuka di dunia. Fokus penelitiannya? Pertanyaan-pertanyaan besar: Apa sifat dasar ruang dan waktu? Bagaimana informasi dapat diselamatkan dari kehancuran abadi di dalam lubang hitam? Karyanya tentang “memori gravitasi”—jejak permanen yang ditinggalkan gelombang gravitasi pada struktur ruang-waktu—telah dikutip secara luas dan dipandang sebagai kontribusi penting bagi bidang kosmologi dan gravitasi kuantum.

Keheningan yang Menggelegar: Strategi Anti-Sorotan di Era Digital

Di era di mana setiap pencapaian sering diukur melalui jumlah *like* dan *share*, Pasterski memilih jalan yang berlawanan. Dia adalah hantu di dunia digital. Tidak ada Facebook, Instagram, Twitter, atau LinkedIn. Satu-satunya jejak online-nya adalah situs web pribadinya, “PhysicsGirl.com,” yang terlihat seperti berasal dari era 1990-an: latar belakang putih polos, font hitam sederhana, dan daftar panjang publikasi, penghargaan, serta tautan ke makalahnya.

Di bagian atas situs itu, terpampang mottonya: “Stay hungry. Be a nuisance. Stay curious.” (Tetaplah lapar. Jadilah gangguan. Tetaplah ingin tahu.) Sebuah pernyataan sikap yang tegas dan fokus.

“Saya ingin dikenal atas kerja saya, bukan karena hal lain,” ujarnya dalam salah satu dari sedikit wawancara yang diberikan, kepada majalah *Forbes* saat ia masuk dalam daftar “30 Under 30”. Sikapnya ini bahkan membuatnya menolak tawaran kerja menggiurkan dari raksasa dirgantara seperti SpaceX dan Blue Origin —perusahaan yang didirikan oleh pengagum pertamanya, Jeff Bezos.

“Dia tidak tertarik pada aplikasi praktis yang cepat atau sensasi. Dia ingin memahami fondasi kenyataan itu sendiri. Itu membutuhkan kedalaman dan ketenangan yang ekstrem,” jelas Dr. Clara Benson, seorang kolega di MIT.

Signifikansi dan Warisan yang Sedang Dibangun

Dalam dunia fisika teoretis yang sering kali didominasi oleh wajah-wajah lama, Pasterski adalah sebuah perubahan. Sebagai wanita muda keturunan Latin dan Eropa Timur, kehadirannya menantang stereotip dan menjadi inspirasi bagi generasi ilmuwan muda yang lebih beragam.

“Melihat seseorang seperti Sabrina bukan hanya tentang kecerdasannya yang luar biasa. Ini tentang melihat bahwa ada ruang di papan tulis itu untuk orang-orang yang mungkin tidak pernah membayangkan diri mereka di sana,” kata Maria Rodriguez, mahasiswi S1 fisika di Universitas Stanford.

Saat ini, sebagai peneliti pascadoktoral di MIT, Pasterski terus mengeksplorasi teka-teki holografi, lubang hitam, dan sifat ruangwaktu. Komunitas ilmiah mengamati dengan penuh antusiasme, menunggu momen “Eureka” yang mungkin berasal dari ruang kerjanya yang sederhana.

Epilog: Sebuah Penerbangan yang Masih Berlanjut

Kisah Sabrina Pasterski masih dalam tahap pendakian. Dia telah bertransisi dari penerbangan solo di langit Midwest menjadi penerbangan solo di tepian pengetahuan manusia, menerjang badai matematika yang kompleks untuk menemukan prinsip-prinsip baru yang mungkin suatu hari nanti mengubah pemahaman kita tentang kosmos.

Dari garasi di Chicago ke batas-batas ruangwaktu, perjalanannya mengingatkan kita bahwa rasa ingin tahu, ketika dipadu dengan disiplin baja dan ketidaktertarikan pada pujian, tetap menjadi mesin paling kuat untuk penemuan. Dunia mungkin menantikan revolusi fisika yang diramalkan Bezos, tetapi bagi Pasterski, satu hal yang jelas: penerbangannya masih jauh dari selesai. Langit—atau lebih tepatnya, kain kosmos itu sendiri—adalah satu-satunya batas.

---

Tuesday, January 06, 2026

Dedi Mulyadi Soroti Transparansi dan Kesejahteraan Desa: Bedah Anggaran Rp1,6 Miliar


JAWA BARAT – Dalam sebuah dialog interaktif yang berlangsung hangat namun kritis, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, melakukan "bedah dapur" anggaran desa bersama sejumlah kepala desa dan perangkat desa. Fokus utama dalam pertemuan tersebut adalah membedah alokasi pendapatan desa tahun 2025 serta menyoroti sejauh mana kepala desa memahami struktur keuangan daerahnya sendiri.

Anatomi Anggaran: Ketergantungan pada Pusat dan Daerah

Dari hasil dialog tersebut, terungkap bahwa total anggaran yang dikelola oleh desa pada tahun 2025 mencapai angka Rp1,675 miliar. Namun, angka ini mencerminkan tingginya ketergantungan desa terhadap dana transfer, mengingat Pendapatan Asli Desa (PADes) dilaporkan masih nihil.

Berikut adalah rincian sumber pendapatan desa yang teridentifikasi:

  • Dana Desa (APBN): Rp1,111 miliar

  • Alokasi Dana Desa (ADD Kab): Rp534 juta

  • Bantuan Keuangan Provinsi: Rp130 juta

Dedi Mulyadi menekankan bahwa dengan total anggaran hampir Rp1,7 miliar tersebut, desa seharusnya memiliki ruang gerak yang cukup untuk pembangunan jika dikelola dengan manajerial yang tepat.

Gaji Kepala Desa: Antara Realita dan Ekspektasi

Salah satu poin menarik dalam dialog tersebut adalah ketika membahas belanja pegawai. Untuk pos pemerintahan desa, dialokasikan anggaran sebesar Rp246 juta per tahun.

Secara spesifik, terungkap bahwa gaji pokok seorang kepala desa berada di angka Rp3.300.000. Setelah ditambah dengan tunjangan, total pendapatan yang dibawa pulang (take home pay) menjadi sekitar Rp3.700.000 per bulan, atau total sekitar Rp42 juta per tahun.

"Kadang-kadang kepala desa itu tidak tahu pengeluaran desanya sendiri secara detail. Saya benar-benar yakin akan hal itu," ujar Dedi saat mencoba menguji pemahaman perangkat desa mengenai angka-angka anggaran tersebut.

Catatan Transparansi

Dedi Mulyadi menyoroti pentingnya penguasaan data oleh para pemimpin desa. Menurutnya, pemahaman yang mendalam mengenai arus kas—mulai dari sumber pendapatan hingga pos belanja pegawai—adalah kunci utama untuk mencegah terjadinya penyimpangan dan memastikan pembangunan desa tepat sasaran.

Dialog ini menjadi pengingat bagi seluruh perangkat desa di Jawa Barat bahwa transparansi bukan sekadar laporan di atas kertas, melainkan pemahaman fundamental atas hak dan kewajiban anggaran yang mereka kelola untuk kepentingan masyarakat.


Analisis Singkat Anggaran Desa (Berdasarkan Dialog):

Sumber DanaJumlah
Dana Desa (Pusat)Rp1.111.000.000
ADD (Kabupaten)Rp534.000.000
ProvinsiRp130.000.000
Total PendapatanRp1.675.000.000

Total Gaji Kades: ± Rp3,7 Juta/bulan.



Monday, January 05, 2026

Wajah Baru Pendidikan Kota Pasuruan: SD Muhammadiyah 1 Resmi Bertransformasi Menjadi SD MuCES

PASURUAN – Senin, 4 Januari 2026, menjadi tonggak sejarah baru bagi dunia pendidikan di Kota Pasuruan. SD Muhammadiyah 1, sekolah dasar Islam bersejarah yang telah berdiri sejak era kolonial, secara resmi mengumumkan relokasi gedung serta perubahan nama (*rebranding*) menjadi *SD MuCES (Muhammadiyah Creative and Entrepreneurship School)*.

Peresmian yang berlangsung khidmat ini menandai kepindahan sekolah dari lokasi lama di kawasan Poncol ke fasilitas baru yang lebih luas, modern, dan representatif guna menjawab tantangan zaman.

Hijrah Menuju Kualitas yang Lebih Luas

Kepala SD MuCES, Suyatno, dalam sambutannya mengungkapkan rasa syukur atas kelancaran proses transisi ini. Ia mengibaratkan kepindahan ini sebagai sebuah "takdir baik" untuk memberikan ruang gerak yang lebih luas bagi kreativitas siswa.

"Selama ini kita mengenal sekolah di kawasan Poncol dengan ruang yang terbatas. Di tempat baru ini, anak-anak mendapatkan cakrawala yang lebih luas. Bahkan, fasilitas kami dirancang sangat khusus; setiap kelas dilengkapi dengan dua kamar mandi di dalam—mungkin satu-satunya di Indonesia—serta perangkat digital berbasis Android untuk mendukung pembelajaran modern," ujar Suyatno.

Sejarah Panjang dan Tuntutan Regulasi

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Pasuruan, Dr. Abu Nasir, MPD, memberikan ulasan historis yang mendalam. Beliau memaparkan bahwa embrio sekolah ini sudah ada sejak kedatangan KH Ahmad Dahlan ke Pasuruan pada tahun 1922, dan secara resmi berdiri pada tahun 1928.

Keputusan relokasi ini diambil bukan tanpa alasan. Selama bertahun-tahun, SD Muhammadiyah 1 berbagi lokasi dengan MI Muhammadiyah di lahan yang semakin menyempit.

"Ini adalah tuntutan regulasi dan tuntutan zaman. Kami harus memiliki sekolah yang unggul, bukan sekadar baik. Dengan *rebranding* menjadi *Creative and Entrepreneurship School*, kami ingin memicu semangat inovasi. Di Indonesia, baru sekitar 10% sekolah yang benar-benar menanamkan karakter kewirausahaan sejak dini, dan SD MuCES kini menjadi bagian dari pionir tersebut," tegas Abu Nasir.

Fasilitas Modern dan Dukungan Pemerintah

Transformasi ini juga didukung dengan pembaruan sarana prasarana yang masif. Dilaporkan bahwa anggaran lebih dari Rp200 juta telah dialokasikan untuk membenahi fasilitas, ditambah bantuan tunai senilai Rp25 juta dari Direktorat Pendidikan Dasar untuk pengadaan bangku dan meja baru bagi kelas 1, 2, dan 5.

Selain aspek fisik, lingkungan baru ini juga mengedepankan sinergi antar-lembaga Muhammadiyah lainnya, seperti Sekolah Pesantren Entrepreneur Muhammadiyah (SPIN) atau Seping, yang diharapkan dapat menularkan budaya kompetisi dan prestasi kepada para siswa SD MuCES.

Kebanggaan Alumni: Memupuk Daya Juang

Turut hadir dalam acara tersebut, Syaifuddin Ahmad, perwakilan Presidium Alumni Muhammadiyah Kota Pasuruan. Sebagai alumni yang mengenyam pendidikan di lingkungan Muhammadiyah sejak TK hingga SMP, ia berbagi success story tentang bagaimana sekolah ini membentuk karakter "daya juang" yang tinggi.

"Lulusan Muhammadiyah sudah tersebar hingga ke luar negeri. Dulu, meski fasilitas terbatas, kami tidak gentar bersaing dengan sekolah manapun. Sekarang, dengan gedung baru dan sistem MuCES, saya yakin anak-anak kita akan memiliki daya saing akademik dan akidah yang jauh lebih kuat," ungkapnya optimis.

Beliau menceritakan bagaimana didikan Muhammadiyah membantunya menjadi lulusan teladan hingga meraih berbagai beasiswa bergengsi, mulai dari APDN, ITB Bandung, hingga Universitas Brawijaya.

> "Kami adalah bukti nyata bahwa lulusan Muhammadiyah mampu bersaing dengan sekolah negeri maupun swasta terbaik. Keberhasilan ini adalah berkah dari doa orang tua dan pendidikan karakter yang kuat. Saya mengajak para wali murid untuk tidak ragu mempromosikan SD MuCES kepada kolega dan keluarga muda di sekitar sini," ujar Haji Saifuddin penuh semangat.

Visi "Sekolah Prime": Fokus Karakter dan Inovasi

Pengawas Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pasuruan, *Bashori, MPD*, memberikan arahan strategis mengenai status baru SD MuCES. Beliau menekankan bahwa "hijrah" ini harus dibarengi dengan perubahan administratif dan kualitas pelayanan.

Dalam sambutannya, beliau memperkenalkan konsep Sekolah Prime, sebuah standar keunggulan yang akan diimplementasikan di SD MuCES dengan dua pilar utama:

1. Karakter Santri:
* Prestatif: Memacu siswa untuk terus meraih prestasi.
* Religius: Menanamkan nilai-nilai keagamaan yang kuat di lingkungan pesantren SPIM.
* Mentalitas: Membangun mental pejuang yang tangguh.
* Jati Diri: Menumbuhkan rasa percaya diri pada akar budaya dan iman.

2. Manajemen Pengelolaan: Mewujudkan sekolah yang Peduli, Unggul, melek Sains dan Teknologi, serta menguasai Bahasa.

Aura Positif dan Harapan Wali Murid

Nada haru menyelimuti sambutan Dr. Nani Pujiyati, MPD, pengawas sekolah yang telah lama mendampingi perjalanan SD Muhammadiyah 1. Ia mengaku bangga melihat impian Kepala Sekolah, Suyatno, untuk memiliki gedung yang layak akhirnya terwujud.

"Aura di sini sangat luar biasa, sangat cerah. Saya yakin dengan manajemen yang hebat, sekolah ini akan berkembang lebih dari 100%. Pak Yatno adalah sosok kreatif, maka nama Creative and Entrepreneurship sangatlah pas," ungkapnya.

Senada dengan hal tersebut, perwakilan wali murid menyatakan bahwa alasan utama mereka mempercayakan anak-anak ke SD MuCES adalah keseimbangan antara Intelijensi dan Akhlak. "Bagi kami, kecerdasan adalah bonus, namun akhlak adalah penentu masa depan," tegasnya.

Kepemimpinan Berprestasi: Nakhoda Menuju Indonesia Emas

Sebagai penutup, Kepala SD MuCES, Suyatno, menegaskan komitmennya dalam memberikan pelayanan pendidikan terbaik. Rekam jejak prestasinya sebagai Kepala Sekolah Teladan tingkat Kota hingga penghargaan dari Kwartir Nasional Gerakan Pramuka menjadi jaminan profesionalitas kepemimpinannya.

"Berbanggalah Bapak dan Ibu menyekolahkan putra-putrinya di Muhammadiyah. Kami tidak kalah saing. Kami siap mencetak generasi emas yang kreatif, mandiri, dan siap menyongsong dunia," pungkasnya yang ditutup dengan pantun penuh semangat.

---

Menatap Masa Depan

Acara peresmian ditutup dengan harapan besar dari para wali murid dan tokoh masyarakat agar SD MuCES tidak hanya menjadi tempat belajar secara kognitif, tetapi juga menjadi inkubator karakter bagi generasi emas yang sopan, santun, kreatif, dan mandiri.

Dengan semangat Growth Mindset, SD MuCES siap memulai babak baru sebagai pusat keunggulan pendidikan dasar di Kota Pasuruan.

---

SD MuCES Resmi Menempati Lokasi Baru, Tingkatkan Kualitas Pendidikan Berbasis Karakter dan Kewirausahaan


Pasuruan, 5 Januari 2026 – SD Muhammadiyah 1 Kota Pasuruan, yang kini melakukan rebranding menjadi SD Muhammadiyah Creative & Entrepreneurship (MuCES), secara resmi memulai kegiatan pembelajarannya di lokasi baru, Senin (4/1/2026). Prosesi apel perdana ini menandai babak baru lembaga pendidikan yang mengusung konsep integrasi kreativitas, kewirausahaan, dan karakter Islami.

Acara apel diikuti seluruh siswa kelas 1-6, dewan guru, orang tua/wali murid, serta dihadiri oleh sejumlah pejabat dan perwakilan organisasi, termasuk Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Pasuruan, Dr. H. Abu Nasir, M.Pd., yang bertindak sebagai pembina apel.

Dalam sambutannya, Abu Nasir menyampaikan rasa syukur dan harapan besar terhadap relokasi sekolah ini. "Kita bersyukur, apa yang kita inginkan, kita harapkan, kita cita-citakan bersama, akhirnya SD Muhammadiyah 1 Pasuruan memiliki tempat sendiri. Dengan ruang belajar yang lebih baik, eksplorasi dan eksplosivitas anak-anak insya Allah akan bisa terlaksanakan dengan optimal," ujarnya di hadapan peserta apel.
Beliau menekankan bahwa relokasi ini bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan momentum untuk membangun spirit dan cita-cita baru yang lebih baik. Fasilitas yang lebih lengkap, seperti lapangan yang luas, disebutkannya sebagai lingkungan baru yang mendukung pengembangan potensi siswa.

Tiga Pilar Pendidikan dan Peran Baru

Abu Nasir juga mengingatkan tentang konsep pendidikan dalam Islam yang dibangun oleh tiga pilar sinergis: *rumah tangga (orang tua), sekolah, dan masyarakat*. Meski telah menyerahkan anak ke sekolah, peran orang tua sebagai pendidik utama dan pertama tidak boleh berkurang.

"Orang tua tetap merupakan pendidik dan lingkungan utama dalam sistem pendidikan Islam," tegasnya.

Keberadaan sekolah di lingkungan baru yang juga terdapat pondok pesantren diharapkan dapat membentuk ekosistem pendidikan yang lebih kondusif. "Bapak ibu wali murid akan lebih tenang dan merasa aman, karena anak-anak berada di lingkungan ustadz-ustadz dan santri yang telah terbiasa dengan sikap sopan santun dan karakter yang baik," tambahnya.
Fokus pada Pembentukan Karakter dan Jiwa Entrepreneurship

Dengan branding baru sebagai SD MuCES, sekolah ini memikul tugas untuk tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membentuk karakter kewirausahaan siswa. Abu Nasir menyebutkan beberapa karakter inti yang ingin dikembangkan, seperti kemandirian, tanggung jawab, keberanian mengambil risiko, dan percaya diri.

"Tugas ini tidak mudah, tapi insya Allah dengan dukungan penuh dari semua pihak, kita akan bisa mentransformasi sikap dan perilaku anak-anak kita menjadi generasi masa depan yang berkarakter," paparnya.

Sambutan Positif dari Siswa dan Orang Tua

Suasana keceriaan dan semangat baru terlihat jelas di wajah para siswa. Beberapa siswa yang diwawancarai usai apel menyampaikan kegembiraannya atas fasilitas baru yang lebih luas.

"Seru! Bisa main sepak bola," ujar Viras, salah satu siswa, saat ditanya pendapatnya tentang lokasi sekolah yang baru.

Seorang orang tua/wali murid juga mengungkapkan harapannya. "Harapannya tentu lebih baik. Fasilitasnya lebih lengkap, ada lapangannya. Yang dulu lingkungannya kecil, tidak ada lapangan untuk anak-anak bermain," ujarnya.

Dengan dukungan penuh dari seluruh stakeholders, relokasi SD MuCES diharapkan dapat menjadi lompatan signifikan dalam menyediakan pendidikan berkualitas yang holistik, mengintegrasikan ilmu pengetahuan, karakter akhlakul karimah, serta jiwa kreatif dan entrepreneurship bagi generasi muda Pasuruan. (*)

Firnas Muttaqin

Sunday, January 04, 2026

Mengetuk Pintu Langit: Refleksi tentang Kekuatan Doa dalam Menghadapi Ujian Hidup


Oleh: Moh. Saladin, M.Pd.I
Kajian Ahad Pagi, 4 Januari 2026
Di Masjid Darul Arqom Kota Pasuruan

Dalam kehidupan, manusia tidak pernah lepas dari berbagai masalah dan ujian. Hal ini merupakan sunatullah, bagian dari desain penciptaan yang Allah tegaskan dalam firman-Nya, yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji siapa di antara kita yang terbaik amalannya. Inti persoalannya bukanlah pada ada atau tidaknya masalah, melainkan pada bagaimana kita menyikapi dan melewatinya.

Seringkali, ketika melihat seseorang mampu bertahan dan tegar di tengah badai kehidupan, kita mengira kekuatannya berasal dari faktor fisik, materi, atau keduniawian. Padahal, sumber kekuatan sejati seringkali terletak pada hubungan spiritual yang dia jalin dengan Sang Pencipta. Di situlah doa berperan sebagai senjata pamungkas yang tidak terlihat, namun kekuatannya mampu mengubah keadaan dan memberikan keberanian.

Makna Doa: Memanggil, Mengundang, Memohon

Secara bahasa, "doa" mengandung makna memanggil, mengundang, dan memohon. Layaknya seorang anak kecil yang tersesat di keramaian akan segera memanggil ibunya, bukan sekadar untuk memberitahu lokasi, tetapi untuk mendapatkan rasa aman, perlindungan, dan keberanian. Panggilan "Ibu!" itu adalah bentuk penyerahan diri dan pengakuan akan ketidakberdayaan.

Demikianlah hakikat doa kita kepada Allah. Seruan "Ya Rabbi!" adalah panggilan tulus hamba yang menyadari keterbatasannya, yang mengundang kehadiran dan keberkahan Tuhan ke dalam setiap aspek kehidupannya—baik saat makan, belajar, bekerja, maupun dalam kebingungan. Doa adalah pengakuan bahwa kita tidak berdaya, dan di saat yang sama, percaya bahwa ada Dzat Yang Maha Kuasa yang siap menolong.

Allah berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 186:
 "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku."

Kata-kata "sesungguhnya Aku dekat" menegaskan bahwa komunikasi dengan Allah bukanlah prosedur administratif yang berjarak, melainkan hubungan spiritual yang langsung dan intim. Allah mendengar bisikan hati, keluh kesah, dan permintaan yang paling tersembunyi sekalipun. Penyebutan "hamba-hamba-Ku" dalam ayat ini juga menunjukkan hubungan kasih sayang dan kepemilikan yang istimewa, di mana kita adalah milik-Nya dan Dia adalah Pelindung kita.

Etika dan Hakikat Doa yang Dikabulkan

Doa bukanlah transaksi, melainkan bentuk ibadah yang membangun ketekunan dan kedekatan (taqarrub) dengan Allah. Rasulullah SAW mengingatkan untuk tidak mengeraskan suara dalam berdoa, karena kita tidak memanggil Dzat yang tuli atau jauh. Allah Maha Mendengar bisikan jiwa.

Yang terpenting dari berdoa adalah membangun dan menjaga hubungan itu sendiri. Hasil doa harus diserahkan sepenuhnya kepada kebijaksanaan Allah. Terkadang, permintaan kita dikabulkan secara langsung. Terkadang, ditunda atau diganti dengan sesuatu yang lebih baik di sisi-Nya. Misalnya, saat kita memohon kesembuhan tetapi belum juga diberikan, boleh jadi Allah justru menghapus dosa-dosa kita dan meningkatkan kedudukan kita di sisi-Nya melalui ujian tersebut.

Kekuatan doa terletak pada seberapa sering dan seberapa tulus kita mengetuk pintu langit. Doa adalah pengakuan ketidakberdayaan sekaligus manifestasi keimanan. Ia adalah kekuatan yang mengubah kelemahan manusia menjadi peluang untuk dekat dengan Sumber Kekuatan hakiki.

Oleh karena itu, marilah kita jadikan doa sebagai napas dalam kehidupan. Hadirkan Allah dalam setiap langkah dengan memanggil-Nya, mengundang keberkahan-Nya, dan memohon pertolongan-Nya. Sebab, saat kita berdoa dengan penuh pengharapan dan penyerahan, sesungguhnya kita sedang membuka diri untuk menerima cahaya, kekuatan, dan ketenangan yang hanya datang dari Dia Yang Maha Dekat lagi Maha Mengabulkan. (*)

Firnas M