PASURUAN, Rabu (27/5/2026) - Dalam khutbahnya, Ustadz Muhammad Farihin, M.Pd.I., menekankan pentingnya manusia menggunakan akal sehat untuk mengenal Allah SWT. Beliau mengisahkan kembali perjalanan Nabi Ibrahim AS saat mencari eksistensi Tuhan melalui pengamatan terhadap alam semesta—mulai dari bintang, bulan, hingga matahari—seperti yang diabadikan dalam Al-Qur'an Surah Al-An'am ayat 76-79:
> Surah Al-An'am Ayat 76:
> فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ الَّيْلُ رَاٰ كَوْكَبًا ۚ قَالَ هٰذَا رَبِّيْ ۚ فَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ لَآ اُحِبُّ الْاٰفِلِيْنَ
> “Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, ‘Inilah Tuhanku.’ Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, ‘Aku tidak suka kepada yang terbenam.’”
> Surah Al-An'am Ayat 77-78:
> فَلَمَّا رَاٰ الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هٰذَا رَبِّيْ ۚ فَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَّمْ يَهْدِنِيْ رَبِّيْ لَاَكُوْنَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّاۤلِّيْنَ . فَلَمَّا رَاٰ الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هٰذَا رَبِّيْ هٰذَآ اَكْبَرُ ۚ فَلَمَّآ اَفَلَتْ قَالَ يٰقَوْمِ اِنِّيْ بَرِيْۤءٌ مِّمَّا تُشْرِكُوْنَ
> “Ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, ‘Inilah Tuhanku.’ Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, ‘Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.’ Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, ‘Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar.’ Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, ‘Wahai kaumku! Sungguh, aku bebas dari apa yang kamu persekutukan.’”
> Surah Al-An'am Ayat 79:
> اِنِّيْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ حَنِيْفًا وَّمَآ اَنَا۠ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
> “Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.”
Khotib mengingatkan bahwa manusia dibekali akal sehat agar mampu membedakan yang hak (benar) dan yang batil (salah). Jika manusia tetap melakukan kesalahan padahal tahu itu salah, maka pada saat itulah akal sehatnya telah hilang karena dikuasai oleh hawa nafsu dan bisikan setan.
Untuk menjaga akal tersebut, umat Islam diperintahkan untuk selalu mengingat Allah SWT (berzikir) dan merenungkan penciptaan alam semesta, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Ali 'Imran ayat 190-191:
> Surah Ali 'Imran Ayat 190-191:
> اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ . الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
> “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.’”
Nilai Sosial Qurban dan Keteladanan Keluarga
Selain aspek ketuhanan, Ustadz Muhammad Farihin juga menggarisbawahi bahwa ibadah qurban merupakan sarana meningkatkan kepedulian sosial (tolong-menolong antar-sesama makhluk sosial) sekaligus media paling efektif untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT.
Di akhir khotbahnya, jama'ah diajak untuk memetik hikmah dari potret keluarga ideal Nabi Ibrahim AS: sosok ayah sekaligus pemimpin yang mengutamakan kepentingan umat, kepatuhan dan keikhlasan Siti Hajar saat ditinggalkan di padang tandus Shafa dan Marwah, serta kesalehan luar biasa dari Nabi Ismail AS.
Khotib juga berpesan kepada para orang tua untuk senantiasa mendoakan anak-anak mereka dengan doa keselamatan dan kesalehan generasi:
> Surah As-Shoffat Ayat 100:
> رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ
> “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.”
Melalui momentum idul Adha ini, jama'ah diharapkan mampu meniru kemuliaan tutur kata serta keteguhan iman keluarga Nabi Ibrahim AS agar lahir "Ibrahim-Ibrahim" baru yang peduli masyarakat, "Siti Hajar" yang sholehah dan mendukung kebaikan suami, serta generasi "Ismail" yang sabar dan berbakti. (*)
No comments:
Post a Comment