Tuesday, May 26, 2026

Jembatani Budaya Jawa dan Mentawai, Unmer Pasuruan Gelar Acara Anjangsana dan Pengenalan Budaya


Universitas Merdeka (Unmer) Pasuruan menjadi saksi pertemuan budaya yang sakral dan sarat akan nilai historis. Kampus ini sukses menyelenggarakan kegiatan bertajuk "Anjangsana & Pengenalan Budaya Jawa dan Mentawai" yang berlangsung di Aula Unmer Pasuruan pada Selasa (26/5/2026) mulai pukul 09.00 WIB.

Acara ini mempertemukan para tokoh adat, praktisi budaya, akademisi, hingga perwakilan lintas agama dari Pulau Jawa dan Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Kehadiran rektor Unmer Pasuruan, DR. Ronny Winarno, SH, M.Hum. bersama Anjelo Kalil Siswanto, S.Pd, M.Si., semakin menegaskan pentingnya agenda kolaborasi kebudayaan ini. Antusiasme peserta tampak dari hangatnya ruang aula yang dipenuhi oleh komunitas budaya lokal serta tokoh-tokoh penting daerah.

Gaungkan Salam Persaudaraan Dua Pulau

Suasana inklusif dan akrab langsung terasa sejak awal acara. Sang Master of Ceremony (MC), Angwyn Schneider, membuka kegiatan dengan memadukan salam khas dari kedua wilayah. Ruangan bergemuruh saat seluruh hadirin diajak berdiri dan melafalkan salam keselamatan dari Mentawai, "Anaileuk ita", serta salam sarat makna spiritual dari Pasuruan, "Hong Ulun Basuki langgeng".

"Apapun keadaan kita, apapun kondisi kita, Tuhan selalu bersama kita. Melalui budaya, kita kembali diingatkan bahwa kita semua adalah saudara," ujar Angwyn Schneider di sela-sela memandu acara.

Pertemuan ini dihadiri oleh sejumlah figur lintas disiplin yang memberi warna tersendiri pada jalannya anjangsana. Di antaranya adalah pelukis realistis nasional Patrick, budayawan sekaligus pegiat sejarah Kota Pasuruan Tengku Ali Iskandar Syah, filolog, serta perwakilan tokoh keagamaan seperti Suster Presid yang datang langsung dari Yogyakarta.

Komitmen Kampus Merawat Kebinekaan

Rektor Unmer Pasuruan, DR. Ronny Winarno, SH, M.Hum., yang diwakili oleh jajaran rektorat (Wiwin Ariesta) menyampaikan rasa bangga yang mendalam atas dipilihnya Unmer Pasuruan sebagai episentrum pertukaran budaya sedahsyat ini. Dalam sambutannya, pihak rektorat menggarisbawahi pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga warisan leluhur.
 "Kami dari pihak kampus berharap kegiatan kebudayaan seperti ini tidak hanya melibatkan para tetua atau tokoh-tokoh senior saja. Perlu ada anak-anak muda yang lebih segar, yang peduli, sehingga nilai-nilai luhur ini dapat menular dan dipertahankan oleh generasi penerus kita," tegas Wiwin Ariesta sebelum secara resmi membuka acara.

Pihak kampus juga menyoroti keunikan sikap para peserta saat menyanyikan lagu kebangsaan "Indonesia Raya" di awal acara. Perbedaan ekspresi dan sikap penghormatan yang muncul dinilai bukan sebagai sekat, melainkan sebagai cerminan nyata dari esensi Unity in Diversity (Bhinneka Tunggal Ika).

Mengunci Nusantara Lewat Kidung Kebajikan dan Ragam Hiburan

Pembukaan anjangsana ditandai secara simbolis lewat lantunan lagu dolanan bocah khas Jawa yang dinyanyikan bersama secara komunal oleh seluruh hadirin, menciptakan atmosfer nostalgia yang menyatukan.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi pemaparan materi dari dua narasumber utama yang dihadirkan, yaitu Sutikno Setyo Nugroho, S.Pd. dan Hendrikus Erik. Keduanya mengupas tuntas titik temu spiritualitas serta kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat Jawa dan Mentawai.

Tidak hanya diisi dengan dialog budaya, acara ini juga dimeriahkan oleh suguhan "Hiburan Jawa" yang memukau para hadirin. Penampilan seni yang dibawakan meliputi Tari Tanjung Gumirahg, Tari Shelia Puspita, seni tutur Mocopatan yang dibawakan oleh Ki Winarno sabdo dari Tengger, atraksi Roro Pangkon oleh Silat Ciung Elang, serta penampilan bernilai historis tinggi, Ishari sejak Tahun 1870.

Pertemuan ini diharapkan mampu memperkuat jejaring kebudayaan antarpulau di Indonesia serta menegaskan kembali posisi Pasuruan sebagai kota yang adaptif, toleran, dan kaya akan ruang-ruang dialog publik berbasis kebudayaan. (*)

Penulis : Firnas Muttaqin

No comments: