Di tengah pertumbuhan ekonomi digital yang terus dibanggakan, suara para penjual di marketplace justru semakin dipenuhi keluhan. Bukan karena dagangan sepi, melainkan karena keuntungan yang mereka terima terus tergerus oleh berbagai potongan biaya platform.
Sebuah unggahan yang ramai dibicarakan di media sosial memperlihatkan rincian transaksi seorang seller dengan nilai penjualan Rp4.799.000. Namun setelah dipotong berbagai biaya, dana yang diterima penjual hanya Rp3.830.751.
Artinya, hampir Rp1 juta hilang untuk biaya platform.
“Memang brengsek sih ini marketplace. Barang Rp4.799.000 terima cuma Rp3.830.000. Mereka merampok toko,” tulis akun tersebut dalam unggahannya.
Rincian potongan itu memperlihatkan bagaimana seller harus menanggung beragam biaya sekaligus. Mulai dari komisi platform sekitar Rp463 ribu, dynamic commission lebih dari Rp311 ribu, biaya layanan cashback hampir Rp192 ribu, hingga biaya pemrosesan pesanan.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar: siapa sebenarnya yang paling diuntungkan dalam ekosistem marketplace hari ini?
Di satu sisi, marketplace menawarkan akses pasar luas, kemudahan transaksi, dan jutaan pengguna aktif. Namun di sisi lain, banyak seller mengaku dipaksa mengikuti berbagai program berbayar agar toko mereka tetap terlihat di algoritma platform.
Program gratis ongkir, cashback, promosi ekstra, hingga iklan internal perlahan berubah dari “opsional” menjadi sesuatu yang nyaris wajib jika ingin bersaing.
Akibatnya, margin keuntungan penjual semakin tipis.
Banyak seller akhirnya menaikkan harga barang untuk menutup biaya platform. Ironisnya, kondisi ini justru membuat harga di marketplace kadang tidak lagi lebih murah dibanding toko offline atau penjualan langsung lewat media sosial.
Keluhan seller sebenarnya bukan hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, para pelaku UMKM digital berkali-kali menyampaikan keberatan terhadap kenaikan komisi dan biaya layanan. Namun karena ketergantungan terhadap trafik marketplace sangat tinggi, sebagian besar penjual tidak punya banyak pilihan selain tetap bertahan.
Bagi seller kecil, situasinya bahkan lebih berat. Mereka harus bersaing dengan toko besar, brand resmi, hingga produk impor murah sambil tetap menanggung biaya platform yang terus bertambah.
Yang paling dikhawatirkan adalah ketika marketplace tidak lagi sekadar menjadi “tempat bertemu penjual dan pembeli”, tetapi berubah menjadi sistem yang membuat seller bekerja keras hanya untuk membayar biaya ekosistem itu sendiri.
Ekonomi digital yang sehat seharusnya menciptakan hubungan yang saling menguntungkan antara platform, pembeli, dan penjual. Namun jika potongan biaya terus membengkak tanpa transparansi yang jelas, maka kepercayaan seller bisa perlahan runtuh.
Sebab pada akhirnya, marketplace hidup bukan hanya dari aplikasi dan algoritma, tetapi dari jutaan penjual yang menjaga roda perdagangan tetap berputar setiap hari. (*)
No comments:
Post a Comment