Sunday, March 08, 2026

Ustadz Dadang: Membumikan Al-Qur’an


oleh Firnas Muttaqin 

PASURUAN – Dalam kultum ba'da Tarawih dan witir  di Masjid At-Taqwa, Jagalan, Kota Pasuruan pada Sabtu malam (7/3/2026)., Ustadz Dadang menekankan bahwa Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar, melainkan momentum merayakan turunnya Al-Qur'an (Syahrul Ramadhan alladhi unzila fihil Qur'an). Beliau menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan bukan tanpa alasan, melainkan sebagai petunjuk (huda) dan pembeda (furqan) antara yang hak dan yang batil.

Transformasi Wahyu ke Hati

Ustadz Dadang memaparkan fase turunnya Al-Qur’an yang tidak serta-merta hadir dalam bentuk tulisan (mushaf) seperti yang kita lihat hari ini. Wahyu tersebut turun dari *Lauhul Mahfudz* ke langit dunia, kemudian disampaikan Jibril kepada Nabi Muhammad SAW sesuai dengan konteks dan kebutuhan zaman.

 "Al-Qur’an itu diturunkan kepada Nabi Muhammad, lalu disampaikan melalui hafalan kepada para sahabat. Bukan sekadar teks, tapi transformasi pendengaran yang meresap ke jiwa," ujar beliau.

Ia juga mengingatkan sejarah kodifikasi Al-Qur'an yang dipicu oleh kekhawatiran para sahabat saat banyak penghafal Al-Qur'an gugur dalam peperangan. Berkat inisiatif itulah, hari ini umat Islam di era digital dapat menikmati kemudahan mengakses Al-Qur’an hanya melalui genggaman ponsel.

Filosofi "Melangitkan" Manusia

Salah satu poin paling menarik dalam ceramah tersebut adalah konsep "Membumikan Al-Qur’an untuk melangitkan manusia." Ustadz Dadang mengingatkan bahwa manusia sering kali terjebak dalam delusi dunia.

"Banyak orang lupa karena interaksi dengan dunianya. Padahal, dunia bukan tempat kita tinggal, tapi tempat kita meninggal," tegasnya. Beliau mengajak jemaah menyadari bahwa manusia adalah makhluk abadi (kholidina fiha) yang keberadaannya di bumi hanyalah persinggahan sementara menuju perjalanan yang lebih jauh.

Al-Qur’an Sebagai Penawar Jiwa

Mengutip ayat suci, beliau menjelaskan bahwa Al-Qur’an datang sebagai mauidzah (pelajaran) dan syifa (penawar) bagi penyakit-penyakit hati. Beliau mendorong jama'ah untuk menjadikan standar Al-Qur’an sebagai kompas moral, bukan sekadar mengikuti opini atau konsensus manusia semata.

"Jangan hanya merasa benar menurut pandangan kebanyakan manusia. Jika Al-Qur’an bilang benar, maka itu benar bagi kita. Jika Al-Qur’an bilang salah, maka itu salah bagi kita," tutupnya.

Melalui kultum ini, Masjid At-Taqwa Jagalan kembali menjadi oase spiritual yang mengingatkan warga Pasuruan bahwa di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota, Al-Qur’an tetaplah satu-satunya pegangan yang mampu membawa manusia "kembali ke langit" dengan selamat. (*)

---

No comments: