Monday, March 30, 2026

Islam Berkemajuan: Mewujudkan Rahmat bagi Alam Melalui Kelestarian Lingkungan


Oleh Firnas Muttaqin 

Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah kembali menyelenggarakan Pengajian Malam Selasa yang disiarkan secara daring melalui kanal Instagram dan YouTube resmi pada Senin (30/3/2026). Pengajian kali ini menghadirkan Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, *Ustadz Drs. Gita Danupranata, M.M.*, sebagai narasumber utama.

Dalam ceramahnya yang bertepatan dengan 11 Syawal 1447 Hijriyah, Ustadz Gita menekankan pentingnya memahami *Risalah Islam Berkemajuan (RIB)* secara utuh, khususnya dalam konteks mewujudkan rahmat bagi alam semesta. Beliau menggarisbawahi bahwa kesalehan seorang Muslim tidak boleh hanya berhenti di atas sajadah, tetapi harus bertransformasi menjadi aksi nyata dalam menjaga ekosistem.
*Lima Karakter Islam Berkemajuan*

Ustadz Gita mengawali pemaparannya dengan mengingatkan kembali lima ciri utama Islam Berkemajuan yang diusung oleh Muhammadiyah:
1. Berlandaskan pada *Tauhid*.
2. Bersumber pada *Al-Qur'an dan As-Sunnah*.
3. Menghidupkan *Ijtihad dan Tajdid*.
4. Mengembangkan *Wasathiyah* (moderasi).
5. Mewujudkan *Rahmat bagi Alam Semesta*.

"Berislam secara kaffah atau totalitas berarti menjalankan kelima ciri ini secara simultan. Kita tidak bisa hanya fokus pada tauhid dan ibadah mahdhah, namun mengabaikan tanggung jawab kita terhadap lingkungan," tegasnya.

*Tauhid Sosial dan Filantropi Lingkungan*

Mengutip Surah Al-Baqarah ayat 177, Ustadz Gita menjelaskan bahwa kebaikan sejati bukan sekadar menghadapkan wajah ke arah timur atau barat dalam ritual, melainkan bagaimana keimanan tersebut membuahkan amal saleh. Beliau merujuk pada konsep *"Tauhid Sosial"* yang dipopulerkan oleh Prof. Amien Rais, di mana pengakuan atas keesaan Allah harus diwujudkan melalui perbuatan baik kepada sesama manusia dan makhluk hidup lainnya.

Salah satu poin penting yang disoroti adalah mengenai pengelolaan lingkungan dan limbah. Beliau menyatakan bahwa membantu menyelesaikan persoalan sampah adalah bagian dari religiusitas. 
> "Menanam pohon yang kemudian hasilnya dimakan oleh burung atau bermanfaat bagi manusia adalah sedekah. Jangan dianggap menanam pohon itu bukan bagian dari cara kita berislam," tambahnya.
*Pesan Ekologi dalam Surah Ar-Rahman*

Lebih lanjut, Ustadz Gita membedah makna mendalam dari Surah Ar-Rahman ayat 7-9. Beliau menjelaskan bahwa Allah telah menciptakan alam semesta dalam kondisi seimbang (*mizan*). 
* *Ayat 8* mengandung larangan tegas agar manusia tidak merusak keseimbangan tersebut.
* *Ayat 9* merupakan perintah untuk menegakkan keseimbangan dengan adil.

"Merusak keseimbangan alam sama saja dengan melakukan kemaksiatan. Sebaliknya, menjaga kelestarian lingkungan adalah kewajiban yang setara nilainya dengan menjalankan perintah ibadah lainnya," jelas Ustadz Gita.

Sebagai penutup, beliau mengajak warga persyarikatan dan umat Islam secara luas untuk menjadikan isu ekologi sebagai misi aktif. Islam yang *Rahmatan lil 'Alamin* harus menjadi solusi atas krisis lingkungan global, bukan justru menjadi beban bagi bumi. (*)

---

No comments: