SURABAYA – Peran istri dalam rumah tangga menjadi sangat krusial selama bulan Ramadhan, terutama dalam menjaga spiritualitas keluarga dan mengelola manajemen domestik. Meski memiliki kesibukan luar biasa, istri diharapkan mampu menyeimbangkan peran sebagai hamba Allah sekaligus kepala rumah tangga.
Hal tersebut disampaikan oleh Dra. Rukmini Amar, M.AP., dalam Dialog Sahur di Radio Suara Surabaya, Ahad (8/3/2026). Ia menekankan bahwa keikhlasan dalam menyiapkan kebutuhan sahur dan berbuka memiliki nilai ibadah yang sangat tinggi di mata Allah.
Manajemen Waktu: Tidur Belakangan, Bangun Duluan
Rukmini menjelaskan bahwa tantangan utama perempuan di bulan Ramadhan adalah manajemen waktu. Sebagai sosok yang seringkali "tidur paling akhir dan bangun paling awal," istri harus cerdas mengatur jadwal agar ibadah pribadi seperti tadarus Al-Qur'an tidak terabaikan oleh urusan dapur.
"Perempuan harus bisa membagi waktu. Strateginya, selesaikan kegiatan-kegiatan besar sebelum masuk Ramadhan agar saat bulan puasa bisa lebih fokus. Selain itu, di zaman teknologi ini, manajemen penggunaan HP juga penting agar masakan tidak 'gosong' karena terlalu asyik di grup WhatsApp," ujar Rukmini.
Pahala bagi Perempuan yang Sedang Haid
Menjawab pertanyaan pendengar mengenai amalan saat berhalangan (haid), Rukmini menegaskan bahwa pintu pahala tetap terbuka lebar. Meski tidak melakukan ibadah ritual seperti salat dan puasa, perempuan tetap bisa meraih pahala melalui jalur sosial dan pelayanan.
Berdasarkan hadits Bukhari, seorang istri yang mengelola makanan di rumahnya untuk orang yang berpuasa akan mendapatkan pahala sedekah yang sama tanpa mengurangi pahala suaminya. "Bagi yang sedang haid, bisa mengambil peran menyiapkan iftar (buka puasa), menggerakkan kegiatan sosial, atau mengelola dapur umum. Tenaga dan pikiran yang dikeluarkan untuk melayani orang berpuasa adalah tabungan pahala yang luar biasa," imbuhnya.
Ibu Karier vs Ibu Rumah Tangga
Terkait perdebatan nilai pahala antara ibu karier dan ibu rumah tangga, Rukmini yang menjabat sebagai Ketua Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Jawa Timur ini, berpendapat bahwa Allah tidak membedakan posisi formal mereka, melainkan pada keikhlasan dan kualitas perannya. Ibu karier tetap bisa meraih kemuliaan asalkan tetap menjaga koneksi hati dengan keluarga dan tidak mengabaikan tugas utamanya.
"Masuk surga itu jangan hanya menumpang pada suami. Perempuan harus mandiri secara spiritual dan produktif, namun tetap hadir secara utuh untuk anak-anak, meskipun hanya melalui komunikasi telepon atau memastikan kebutuhan mereka terpenuhi," jelasnya.
Ibadah Sederhana Berpahala Besar
Sebagai penutup, Rukmini mengingatkan adanya ibadah "sepele" yang seringkali sulit dilakukan namun bernilai tinggi, yaitu membangunkan anggota keluarga untuk sahur. Proses membujuk anak-anak dengan kesabaran dan komunikasi yang baik merupakan ujian sekaligus ladang pahala bagi seorang ibu yang tidak bisa digantikan oleh peran laki-laki.
Ia berpesan agar para istri tetap menjaga kesehatan fisik selama Ramadan. Dengan kondisi tubuh yang bugar, istri dapat menjalankan peran produktifnya dalam menciptakan suasana keluarga yang religius dan penuh keberkahan. (*)
---
No comments:
Post a Comment