Kota Pasuruan, 19 Desember 2025 – Acara rutin pembagian rapor diubah menjadi momentum membangun sinergi di SMA Muhammadiyah 1 Kota Pasuruan, Jumat (19/12/2025). Sekolah tidak hanya membagikan lembar nilai, tetapi juga meluncurkan program GEMAR (Gerakan Ayah Mengambil Raport) dan mendorong kolaborasi aktif orang tua dalam proses belajar.
Acara yang dihadiri sekitar 75% wali murid ini diawali dengan sosialisasi program di aula sekolah, termasuk peluncuran Sanggar Musik 'Gita Suradira'.
*Gerakan Libatkan Ayah dan Kolaborasi Keluarga*
Dalam sambutannya, Ketua Majelis Dikdasmen, M. Fathoni, secara khusus menekankan pentingnya peran ayah. "Tanggung jawab mendidik bukan hanya di pundak ibu. Selama ini, dalam urusan sekolah seperti pengambilan rapor, ibu yang lebih sering hadir. GEMAR mendorong kehadiran ayah, dengan tentu mempertimbangkan situasi," ujarnya.
Fathoni menjelaskan bahwa kehadiran orang tua memiliki dampak psikologis yang kuat bagi siswa. "Anak merasa sangat dihargai dan diperhatikan ketika orang tuanya datang. Sebaliknya, ketidakhadiran bisa menimbulkan perasaan sedih atau minder. Ini penting untuk menjaga kelekatan emosional yang dibutuhkan dalam tumbuh kembang mereka," tegasnya.
Kolaborasi yang ditawarkan melampaui kehadiran fisik. Sekolah membuka peluang bagi orang tua dengan keahlian khusus, seperti ahli ternak, untuk berbagi ilmu di kelas. "Kami ingin memanfaatkan potensi yang ada di keluarga murid. Waktunya bisa disesuaikan," papar Fathoni. Saluran komunikasi juga dibuka lebar, baik langsung ke kepala sekolah maupun melalui Majelis Dikdasmen.
*Rapor Sebagai Cermin, Pendidikan Sebagai Tempaan*
Sementara itu, Kepala Sekolah, Govanda Adibeladika, dalam sambutannya mengingatkan bahwa rapor adalah lebih dari sekadar angka. "Rapor ini bukan sekadar lembar kertas. Ia adalah cermin ketercapaian, disiplin, prestasi, dan perilaku siswa selama satu semester; sebuah bahan evaluasi bersama," jelasnya.
Govanda juga memberikan motivasi. "Bagi yang hasilnya bagus, tetaplah rendah hati dan pertahankan. Bagi yang merasa kurang, jangan patah semangat. Perbaiki diri untuk semester depan."
Mengenai peran guru dalam pembentukan karakter, Fathoni menggunakan analogi yang gamblang. "Memberi teladan dan membenahi karakter ibarat menempa besi bengkok agar lurus. Tidak cukup hanya dibelai, tetapi perlu proses 'panas' dan 'pukulan' yang tepat dalam artian pendidikan dan disiplin," katanya. Dia menyoroti bahwa proses pendidikan kadang menuai tantangan, sehingga diperlukan komunikasi dan pemahaman yang kuat antara sekolah dan orang tua.
*Visi Menuju Keunggulan Holistik*
Memaparkan profil sekolah, Fathoni menyebut keunggulan dalam tiga pilar: moral-spiritual, intelektual, dan sosial. Visinya adalah menjadikan SMA Muhammadiyah 1 Kota Pasuruan sebagai lembaga pendidikan unggul. "Kami bercita-cita seperti Singapura: kecil, tetapi maju dalam pendidikan, teknologi, dan peradaban," tuturnya.
Acara pembagian rapor hari ini berhasil menjadi platform strategis untuk memperkuat *link and match* antara pendidikan di sekolah dan di rumah, menekankan bahwa masa depan siswa dibangun dari kolaborasi konkret semua pihak. (*)
Firnas Muttaqin
https://www.facebook.com/share/p/1J4BN2ks8L/
No comments:
Post a Comment