Friday, December 19, 2025

Meneguhkan Nasionalisme Dalam Menghadapi Tantangan Digital*


PONOROGO, Jumat (19/12/2025) – Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor menghadirkan Ustadz Bachtiar Nashir sebagai pembicara utama di Seminar Santri Nasional. Dalam acara yang berlangsung pada Jumat pagi (19/12/2025), Ustadz Bachtiar menyampaikan materi yang sarat dengan semangat nasionalisme, refleksi spiritual, serta respons kritis terhadap perkembangan teknologi dan informasi di era digital.

Seminar ini dihadiri oleh ratusan santri, mahasiswa, dan para pengabdi dari berbagai kampus Gontor. Turut hadir pula sejumlah ustadz dan panelis yang mengisi sesi tanya jawab.

Panggilan Nasionalisme dan Pengorbanan

Di awal paparannya, Ustadz Bachtiar menekankan pentingnya memupuk kecintaan pada bangsa dan negara yang dilandasi nilai-nilai keislaman. Dengan gaya bicara yang tegas dan penuh semangat, ia menegaskan komitmen para santri dan alumni Gontor untuk Indonesia.

“Kami alumni Gontor siap menyerahkan semuanya untuk negara kesatuan republik ini, leher pun kami serahkan,” ujarnya disambut tepuk tangan hadirin.

Ia juga membagikan pengalaman pribadinya yang kerap berinteraksi dengan aparat negara karena aktivitas dan pernyataannya. Bachtiar menceritakan bagaimana ia pernah dipanggil pihak berwenang pasca suatu peristiwa yang ia sebut sebagai “pembantaian KM 50”. Meski demikian, ia menyatakan bahwa hal itu tidak menggentarkan komitmennya.

“Anak istri saya udah biasa dengan panggilan itu… Saya biasa aja karena sering dipanggil.  tuturnya dengan nada santai, namun penuh makna.

Kekuatan Spiritual di Tengah Hegemoni Algoritma

Ustadz Bachtiar kemudian mengajak para peserta untuk tidak terjebak dalam kekuatan algoritma digital yang mendominasi kehidupan modern. Ia menawarkan kekuatan spiritual, seperti senantiasa berdzikir dan bertasbih kepada Allah, sebagai “kekuatan” yang melebihi semua algoritma.

“Kalian sebagai ilmuwan, ilmu kalian tak terbatas… ketika kalian berselancar dengan tasbih, kekuatan ini melebihi semua kekuatan algoritma digital,” pesannya.

Ia mengingatkan agar para santri menjadi “bridge builder” (pembangun jembatan), bukan “buzzer” yang memecah belah. Ia juga mengkritik fenomena buzzer dan viralitas yang seringkali tidak substansial, dengan menyebut contoh isu “bapak bawa beras 5 kilo” yang sempat ramai.

Inspirasi dari Penemu QR Code dan Semangat Berdikari

Dalam sesi tanya jawab, seorang peserta bernama Umar Arsyad dari Kampus 2 menanyakan tentang langkah sederhana menghadapi era algoritma yang mendorong konten kurang mendidik.

Menanggapi hal tersebut, Ustadz Bachtiar menekankan pentingnya membangun pertahanan diri dengan ilmu dan karakter. Secara spontan, ia kemudian memberikan contoh inspiratif dari penemu Quick Response (QR) Code, Masahiro Hara dari Jepang.

“Dia scan dengan cepat selama bertahun-tahun kerja keras dan penelitian… Dia terinspirasi oleh game Go dan menciptakan kode yang kita sekarang menggunakan berbilion kali sehari,” ceritanya tentang perjalanan Hara menciptakan QR Code.

Bachtiar mengajak para santri untuk meneladani semangat keikhlasan, kesederhanaan, dan keberbakatan Masahiro Hara, yang menciptakan teknologi yang digunakan secara global, termasuk sistem QRIS di Indonesia, tanpa motif mengeruk keuntungan pribadi yang besar.

“Hidup itu bukan soal uang kan? Jiwa keikhlasan, jiwa kesederhanaan, jiwa berdikari… Harusnya kamu lebih berpahala daripada Masahiro Hara,” tegasnya.

Dakwah dengan Pendekatan Universal

Pertanyaan lain datang dari Muhammad Adam, mahasiswa Hubungan Internasional, yang menanyakan strategi dakwah kepada orang yang sama sekali awam tentang agama, tanpa menggunakan dalil-dalil Islam terlebih dahulu.

Ustadz Bachtiar menjawab dengan menekankan pentingnya menerjemahkan pesan-pesan universal Al-Qur’an bukan hanya dalam bahasa, tetapi juga dalam logika yang dapat diterima semua pihak.

Sebagai contoh konkret, ia menjabarkan argumentasi tentang konflik Palestina-Israel tanpa menggunakan dalil agama.

“Itu orang-orang Israel yang sekarang ada di Palestina itu, sebelumnya warga negara mana? Paspornya… Kalau orang Rusia kembali ke Rusia, orang Belgia kembali ke Belgia… Sesuai paspor awalnya,” jelasnya, menunjukkan bahwa pendekatan berbasis kewarganegaraan dan sejarah dapat menjadi alat dialog yang efektif.

“Kita bisa keluar dari Al-Quran, tetapi tinggal bagaimana memodel… Tergantung gaya kamu lah,” tambahnya, menekankan pentingnya kreativitas dan kecerdasan dalam berdakwah.

Seminar ditutup dengan doa dan penghargaan kepada Ustadz Bachtiar Nashir atas pencerahan yang diberikan. Acara ini memperlihatkan upaya pesantren untuk membekali santri tidak hanya dengan ilmu agama, tetapi juga wawasan kebangsaan, literasi digital, serta ketrampilan berargumentasi di ruang publik yang kompleks. (*)

Firnas Muttaqin

No comments: