Surabaya – Menghasilkan uang sambil duduk-duduk menyeruput kopi dengan bermodalkan smartphone kini bukan lagi hal yang mengada-ada. Fenomena *affiliate marketing* atau pemasaran afiliasi sedang menjamur, beriringan dengan maraknya *live commerce* di TikTok Shop dan platform e-commerce lain. Namun, di balik janji pendapatan mudah dan beresiko rendah, benarkah strategi ini semudah membagikan link?
Michael Sugiharto, seorang pakar pendidikan afiliasi dan *Content Marketing*, dalam dialog di Radio Suara Surabaya, Sabtu (20/12/2025) menyebutkan bahwa bisnis ini sebenarnya bukan hal baru, namun momentumnya meledak belakangan ini. "Dulu, konsep ini sudah ada bahkan sejak tahun 90-an. Yang berbeda sekarang, platform seperti TikTok dan Shopee telah menyatukan konten, promosi, dan transaksi dalam satu tempat, membuat semuanya jadi sangat mudah bagi pembeli," jelasnya dalam sebuah diskusi online.
Secara sederhana, *affiliate marketing* adalah strategi di mana seseorang (afiliator) mempromosikan produk atau jasa milik pihak lain (merchant) untuk mendapatkan komisi. Afiliator bertindak layaknya tenaga penjual digital yang tidak perlu memikirkan stok barang, pengemasan, atau pengiriman—tugasnya fokus pada pemasaran.
*Rendah Risiko, Tinggi Potensi: Janji yang Menggiurkan*
Dayatarik utama *affiliate marketing* terletak pada rendahnya hambatan masuk (*low barrier to entry*). Modal yang dibutuhkan relatif kecil, seringkali hanya berupa smartphone dan akses internet, berbeda jauh dengan risiko membuka usaha konvensional seperti franchise yang bisa menghabiskan puluhan bahkan ratusan juta rupiah.
"Kalau di sini, jauh lebih mudah. Kalau misalnya jalan, hasilnya bisa menyamai punya restoran. Tapi kalau nggak jalan, ya dia nggak rugi apa-apa. At least dia udah coba," ujar Michael, menggambarkan daya tarik model bisnis ini.
Data pasar global mendukung potensi ini. Nilai pasar *affiliate marketing* diprediksi mencapai $15.7 miliar pada 2024 dan berkontribusi sekitar 16% dari total penjualan *e-commerce* global. Di Asia Tenggara, pertumbuhannya juga pesat, dengan Shopee memimpin pangsa pasar dan TikTok Shop menunjukkan lonjakan yang signifikan.
*Tantangan di Balik Kesederhanaan: Tidak Semuanya Bisa Sukses*
Meski konsepnya terlihat mudah, para ahli memperingatkan bahwa eksekusinya tidak sesederhana itu. Persaingan yang ketat dan kebutuhan untuk menciptakan konten yang menarik serta strategis menjadi tantangan utama.
Michael menggarisbawahi kesalahan umum pemula, yaitu hanya fokus pada fitur produk. "Orang beli itu bukan karena fitur. Yang dijual itu perasaannya, emosinya," tegasnya. Ia memberi contoh promosi parfum yang sukses di TikTok, di mana penjualan justru tinggi meski pembeli tidak bisa mencium aromanya secara langsung. Kunci suksesnya adalah membangun narasi, seperti perasaan menjadi "eksekutif muda" atau "old money", yang menyentuh keinginan audiens.
Analogi yang diberikan Michael cukup gamblang: "Setiap orang bisa jadi murid... Tapi kan gak semua orang bisa jadi juara satu. Bahkan ada yang gak naik kelas." Kesuksesan sangat bergantung pada kemampuan individu dalam menyerap ilmu, berkreasi, dan konsisten.
*Strategi untuk Melangkah: Dari Pemula ke Profesional*
Bagi yang tertarik mencoba, berikut adalah langkah-langkah dan strategi berdasarkan panduan para ahli:
1. *Pilih *Niche* dan Program Afiliasi yang Tepat*: Mulailah dengan topik yang Anda minati dan pahami. Pilih program afiliasi dari platform besar seperti Shopee, Tokopedia, atau TikTok yang sesuai dengan audiens target Anda. Perhatikan juga besaran komisi yang ditawarkan, yang biasanya berkisar antara 3%-20% tergantung platform dan produk.
2. *Buat Konten Berkualitas dan Autentik*: Konten adalah ujung tombak. Baik itu video pendek, ulasan blog, atau postingan media sosial, pastikan konten memberikan nilai, edukasi, atau hiburan bagi audiens. Keaslian (*authenticity*) lebih dihargai daripada produksi yang mewah.
3. *Kuasi Strategi Promosi*: Manfaatkan kekuatan setiap platform. Di TikTok, fokus pada video pendek yang menarik dan ikuti tren. Untuk website atau blog, optimalkan dengan teknik *Search Engine Optimization* (SEO) agar mudah ditemukan di mesin pencari. Email marketing dan iklan berbayar juga bisa menjadi opsi untuk meningkatkan konversi.
4. *Analisis dan Belajar Terus-menerus*: Pantau kinerja link afiliasi Anda. Tools seperti Google Analytics dapat membantu memahami apa yang bekerja dan apa yang tidak. Belajar dari mentor atau komunitas juga sangat disarankan untuk menghindari kesalahan umum.
*TikTok vs Shopee: Mana yang Lebih "Cuan"?*
Pertanyaan ini sering muncul di kalangan pemula. Keduanya memiliki keunggulan berbeda:
- **TikTok Affiliate**: Cocok bagi yang kreatif dan mahir membuat konten video. Potensi viral-nya tinggi dan efektif menjangkau generasi Gen-Z. Namun, membutuhkan usaha ekstra untuk produksi konten dan ada persyaratan minimal pengikut (biasanya 1.000).
- **Shopee Affiliate**: Lebih stabil, cocok untuk berbagai jenis konten (blog, media sosial) dan tidak mensyaratkan jumlah pengikut minimum. Komisi cenderung lebih stabil meski persaingannya juga ketat.
Pada akhirnya, pilihan bergantung pada kekuatan dan preferensi masing-masing individu.
*Kesimpulan*
*Affiliate marketing* telah membuka pintu lebar bagi siapa saja untuk memulai usaha dengan modal minim. Ia menawarkan alternatif yang menarik di tengah ketidakpastian ekonomi. Namun, jalan menuju kesuksesan di dalamnya tidak dilapisi dengan emas, melainkan membutuhkan komitmen, kreativitas, dan pembelajaran berkelanjutan. Seperti kata pepatah, tidak ada makanan yang gratis—termasuk "cuan" dari *affiliate marketing*. (*)
No comments:
Post a Comment