Sunday, December 14, 2025

Dari Gang Sempit di Jakarta Timur ke Panggung Dunia: Kisah Dr. Taufik, Ketua RT Penggerak Lingkungan


Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, di sebuah RT di Kelurahan Malaka Jaya, Jakarta Timur, tersembunyi sebuah laboratorium hidup pencegahan krisis planet. Penggeraknya adalah Dr. Taufik Supriadi, seorang ketua RT yang dalam dua tahun menjabat telah mengubah wilayahnya menjadi percontohan inovasi lingkungan, meraih rekor MURI, nominasi Kalpataru, hingga diundang untuk berbagi praktik baik di China dan Amerika Serikat.

Awalnya, kondisi RT 08 RW 04 itu biasa saja: gersang dan menghadapi masalah sampah seperti banyak permukiman padat lainnya. Namun, visi Taufik melampaui urusan rutin RT. Ia melihat ancaman triple planetary crisis: hilangnya keanekaragaman hayati, perubahan iklim, dan polusi. Baginya, solusi harus dimulai dari bawah, dari lingkungan terkecil.

Dengan prinsip gotong royong, Taufik bersama warganya meluncurkan serangkaian program transformatif. Mereka mengubah saluran pembuangan (got) yang kumuh menjadi kolam budidaya ikan lele. Mereka menanam 817 tanaman produktif—hampir dua kali lipat dari kebutuhan teoritis 450 tanaman untuk 157 warganya—untuk menyejukkan udara, menghasilkan oksigen, dan menyediakan pangan. Inovasi lainnya berjejer: lampu tenaga surya, penampungan air hujan, pengelolaan sampah terpadu dengan lubang resapan biopori, komposter komunal, dan kandang maggot.

“Kami tidak menunggu instruksi dari atas (top-down). Kami bergerak dari bawah (bottom-up),” tegas Taufik, yang juga menciptakan aplikasi “Pusat Data Nasional Pencegah Krisis Planet” untuk mencatat progress secara digital.

Hasilnya nyata. Lingkungan yang tadinya gersang menjadi hijau dan sejuk. Sampah yang semula masalah kini bernilai ekonomi melalui bank sampah, mengubah warga dari sekadar membuang menjadi memiliki penghasilan tambahan. Bahkan, program kolam ikan berpotensi membuka lapangan kerja bagi enam warga yang sebelumnya menganggur. Taufik berhitung, jika model ini diterapkan di seluruh 30.511 RT di Jakarta, ratusan ribu pekerjaan bisa tercipta.
Prestasi ini tidak luput dari perhatian dunia. Baru-baru ini, Taufik diundang ke Beijing untuk diwawancara oleh CCTV China, membahas pemanfaatan saluran air untuk budidaya. Semua ini ia raih bukan sebagai birokrat atau ilmuwan di menara gading, melainkan sebagai ketua RT yang turun langsung kerja bakti bersama warga.

Motivasinya sederhana namun mendalam: prinsip *khairunnas anfa'uhum linnas* (sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain). Ia tergerak oleh kegelisahan melihat masalah sampah dan lingkungan di sekitarnya selama 20 tahun. Baginya, menjadi teladan dari tingkat terbukalah kunci perubahan.

Kisah Dr. Taufik Supriadi adalah bukti bahwa kepemimpinan yang visioner dan berorientasi aksi di tingkat akar rumput mampu menciptakan dampak luar biasa. Ia membalikkan logika bahwa solusi krisis lingkungan harus selalu rumit dan mahal. Dari gang sempit di Jakarta Timur, ia menunjukkan bahwa api kecil semangat gotong royong dan inovasi lokal bisa menjadi cahaya penuntun, tidak hanya bagi satu RT, tetapi juga bagi bangsa dan dunia. Inilah esensi sebenarnya dari pembangunan berkelanjutan: dimulai dari diri sendiri, dari lingkungan terkecil, dengan semangat memberi manfaat seluas-luasnya. (*)

https://youtu.be/Npj_IbUYy3U?si=MLchoDfmVQZQ7oTh

___

No comments: