Oleh: KH Ahmad Zahro
Dalam beragama, seringkali umat Islam dihadapkan pada pertanyaan praktis: "Kamu bermazhab apa?" Pertanyaan yang tampaknya sederhana ini justru bisa menjadi sumber kebingungan. Banyak yang langsung menjawab, "Saya mazhab Syafi'i," namun jika ditanya lebih lanjut tentang apa dan bagaimana mazhab Syafi'i itu, sering kali pengetahuannya belum tuntas.
Saya telah mengajar lebih dari 40 tahun, dan pengalaman itu menunjukkan bahwa memahami seluruh kedalaman satu mazhab pun belum tentu tuntas, apalagi empat mazhab sekaligus. Namun, satu hal yang ingin saya tekankan: *Islam itu agama yang mudah*. Allah SWT berfirman yang artinya, "Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu." (QS. Al-Baqarah: 185). Rasulullah SAW juga bersabda, "Permudahlah dan jangan dipersulit, gembirakanlah dan jangan kalian membuat mereka lari." (HR. Bukhari).
*Mencampur Mazhab (Talfiq): Boleh atau Tidak?*
Persoalan mencampur pendapat berbagai mazhab dalam satu peribadatan (talfiq) menjadi perdebatan menarik. Selama menulis disertasi, saya mendapat tugas membahas ini secara mendalam. Saat itu, hampir semua pesantren yang saya datangi menjawab, "Tidak boleh mencampur mazhab." Namun, ketika ditanya "Mengapa?", jarang yang bisa memberikan alasan yang jelas selain dari tradisi yang dipegang.
Setelah menelusuri lebih jauh, saya menemukan beragam pandangan ulama:
1. *Pendapat yang Menyatakan "Tidak Baik"*: Sebagian ulama pengikut mazhab Syafi'i, seperti Syekh Zakaria al-Ansari dan Syekh al-Qafal, berpendapat bahwa mencampur mazhab itu *"tidak baik" (la yanbaghi)*, bukan "tidak boleh" (haram). Alasannya adalah untuk menjaga seorang Muslim agar tidak "mencla-mencle" atau labil dalam beragama, sehingga ia konsisten dan mantap. Ini lebih merupakan nasihat tasawuf (akhlak) daripada hukum fikih yang kaku.
2. *Pendapat yang Menyatakan "Bahkan Bagus"*: Di sisi lain, ulama mazhab Hanafi seperti Syekh Ibnu Humam (Kamaluddin bin Hammam) justru berpendapat bahwa mencampur mazhab dalam satu kasus *boleh dan bahkan bagus*. Alasannya, orang seperti itu berarti mau belajar, membaca, dan melihat banyak kemungkinan hukum yang sah. Pendapat ini justru berdalil pada prinsip kemudahan dalam Islam.
*Fanatik Mazhab justru Memberatkan*
Sesungguhnya, fanatik pada satu mazhab secara kaku justru dapat memberatkan diri sendiri. Mazhab adalah hasil ijtihad para ulama saleh terdahulu yang sahih, namun semuanya bermuara pada dua sumber utama: Al-Qur'an dan Hadis Nabi SAW. Sebelum mazhab-mazhab ini lahir, para sahabat Nabi pun tidak "bermazhab" seperti pengertian kita sekarang. Mereka langsung merujuk pada ajaran Rasulullah SAW.
Dalam praktiknya, sangat sulit untuk konsisten 100% pada satu mazhab tanpa sadar telah menerapkan pendapat mazhab lain. Yang terpenting bukanlah label "mazhab apa", tetapi *pemahaman bahwa suatu amalan itu memiliki dasar (dalil) yang boleh diikuti, dan dilakukan dengan keyakinan (mantap) serta pengetahuan*.
*Jangan Jadikan Amaliah sebagai Tenger (Batas Pemisah)*
Sayangnya, perbedaan dalam amaliah praktis (seperti qunut, lafadz niat, dll) sering dijadikan "tenger" atau tanda pengenal untuk memisahkan: ini NU, ini Muhammadiyah, dan seterusnya. Ini pemahaman yang keliru. *NU itu bagus, Muhammadiyah juga bagus, organisasi Islam lainnya pun bagus.* Semuanya berusaha menghidupkan syariat Islam yang bersumber dari Rasulullah SAW melalui jalur keilmuan yang valid.
Qunut itu bagus karena ada dalilnya. Tidak qunut juga bagus karena ada dalilnya. Yang tidak bagus adalah yang meninggalkan salat Subuh sama sekali. Pilihan amaliyah hendaknya didasari pada ilmu dan keyakinan, bukan pada fanatisme kelompok.
*Kesimpulan: Jadilah Muslim yang Lapang Dada dan Mudah*
Saya mengajak seluruh umat Islam untuk:
1. *Memperluas wawasan* tentang khazanah fikih dari berbagai mazhab.
2. *Beragama dengan mudah dan mantap*, tidak mempersulit diri atau orang lain.
3. *Merukunkan sesama Muslim*, tidak menjadikan perbedaan cabang (furu') sebagai sumber perpecahan.
4. *Fokus pada esensi*: bahwa semua amaliyah yang memiliki dasar ditujukan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Mari kita jadikan Islam sebagai rahmat yang membuat hati lapang, pikiran adem, dan senyum mudah mengembang. Kewajiban kita adalah menyampaikan dengan baik, sedangkan hidayah dan tanggung jawab akhir setiap amal ada di tangan Allah SWT.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita kepada pemahaman agama yang lurus, lapang, dan penuh kasih. Aamiin ya Rabbal 'aalamiin. (*)
https://youtu.be/2g8Vt-99Q3Q
No comments:
Post a Comment