Friday, December 26, 2025

Refleksi Akhir Tahun Ustadz Muhammad Said di Khutbah Jumat Serukan Semangat Perbaikan Diri dan Peningkatan Ibadah Menyongsong Tahun Baru

Pada Shalat Jumat hari ini (26/12/2025) Ustadz Muhammad Said, Khatib di Masjid At Taqwa, Jagalan, Kota Pasuruan, menyampaikan khutbah tentang pentingnya terus-menerus memperbaiki diri dan tidak berpuas diri dalam kehidupan dunia. Dengan mengutip berbagai dalil Al-Qur'an dan Hadist, beliau menekankan bahwa Islam adalah agama yang mendorong umatnya untuk senantiasa berlomba dalam kebaikan, bukan pasrah menunggu ajal.

Dalam pembukaan khutbahnya, Ustadz Muhammad Said mengingatkan agar setiap Muslim menjauhi putus asa. "Islam mengajarkan kepada kita supaya jangan kita berputus asa. Supaya kita senantiasa berpikir: bagaimana aku hari ini lebih baik daripada aku yang kemarin," serunya di hadapan jamaah.

Beliau mengkritik fenomena di mana banyak orang, meski memiliki akses ilmu yang mudah seperti melalui ponsel, justru stagnan. "Berapa banyak orang pegang handphone, 24 jam, tapi ilmunya tidak meningkat... sembahyangnya seperti itu juga, rezekinya juga tidak meningkat," tegasnya.

Untuk memotivasi jamaah, Ustadz Muhammad Said mengisahkan teladan Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang selalu haus akan peningkatan, dari gubernur hingga khalifah, dan akhirnya bercita-cita mencapai surga tertinggi. "Jiwa aku menginginkan yang lebih tinggi dari khalifah, tidak ada yang lebih tinggi dari khalifah ilal jannah, melainkan surga," kutipnya.

*Dalil Al-Qur'an dan Hadist sebagai Penguat*

Khutbah ini diperkaya dengan sejumlah dalil yang menjadi landasan ajakan untuk aktif dan produktif. Ustadz Muhammad Said mengutip firman Allah dalam QS. Al-Jumu’ah ayat 10:
> *"Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung."*

Ayat ini, jelasnya, menegaskan bahwa setelah Shalat Jumat bukanlah waktu untuk bermalas-malasan, melainkan untuk bersemangat mencari rezeki dan beramal saleh dengan selalu mengingat Allah.

Beliau juga menyitir hadist Rasulullah SAW yang sangat populer tentang keutamaan memberi manfaat:
> *"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia."* (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni).

Selain itu, kisah Nabi Ayyub AS yang disebutkan dalam hadist juga diangkat. Meski telah disembuhkan dan dikaruniai kekayaan, Nabi Ayyub tetap bersemangat mengambil belalang emas yang menghampirinya sebagai bentuk usaha meraih karunia Allah. "Selagi ada peluang rezeki-Mu, ada keberkatan-Mu aku cari ya Allah," demikian penjelasan tentang sikap Nabi Ayyub.

*Ajakan Konkret Menyongsong Pergantian Tahun*

Memasuki penghujung tahun 2025, Ustadz Muhammad Said mendorong jamaah untuk membuat resolusi perbaikan di segala aspek. "Kita harus merencanakan untuk peningkatan dalam banyak hal: ilmu, iman, amal ibadah, akhlak, cara bergaul, hingga silaturahmi," pesannya.

Beliau mengajak untuk tidak menunggu momen tertentu, melainkan memulai perubahan secepatnya. "Tidak usah kita menunggu tahun baru. Setiap hari kita ada peluang," serunya. (*)

Untuk menutup khutbah, Ustadz Muhammad Said mengingatkan tujuan akhir perjuangan hidup seorang Muslim dengan mengutip QS. Ali Imran ayat 133:
> **"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa."**

"Berlomba-lombalah kita hadirin. Mudah-mudahan Allah menjadikan kita ahli surga," pungkasnya penuh harap sebelum menutup khutbah dengan doa dan shalawat.

Khutbah yang penuh semangat ini diharapkan dapat menggerakkan jamaah untuk menyongsong tahun baru dengan komitmen yang lebih kuat dalam beribadah, berusaha, dan berbuat kebaikan bagi sesama. (*)

Saturday, December 20, 2025

Affiliate Marketing: Revolusi Bisnis Modal Mini yang Sedang Viral, Benarkah Semudah Itu?


Surabaya – Menghasilkan uang sambil duduk-duduk menyeruput kopi dengan bermodalkan smartphone kini bukan lagi hal yang mengada-ada. Fenomena *affiliate marketing* atau pemasaran afiliasi sedang menjamur, beriringan dengan maraknya *live commerce* di TikTok Shop dan platform e-commerce lain. Namun, di balik janji pendapatan mudah dan beresiko rendah, benarkah strategi ini semudah membagikan link?

Michael Sugiharto, seorang pakar pendidikan afiliasi dan *Content Marketing*, dalam dialog di Radio Suara Surabaya, Sabtu (20/12/2025) menyebutkan bahwa bisnis ini sebenarnya bukan hal baru, namun momentumnya meledak belakangan ini. "Dulu, konsep ini sudah ada bahkan sejak tahun 90-an. Yang berbeda sekarang, platform seperti TikTok dan Shopee telah menyatukan konten, promosi, dan transaksi dalam satu tempat, membuat semuanya jadi sangat mudah bagi pembeli," jelasnya dalam sebuah diskusi online.

Secara sederhana, *affiliate marketing* adalah strategi di mana seseorang (afiliator) mempromosikan produk atau jasa milik pihak lain (merchant) untuk mendapatkan komisi. Afiliator bertindak layaknya tenaga penjual digital yang tidak perlu memikirkan stok barang, pengemasan, atau pengiriman—tugasnya fokus pada pemasaran.

*Rendah Risiko, Tinggi Potensi: Janji yang Menggiurkan*

Dayatarik utama *affiliate marketing* terletak pada rendahnya hambatan masuk (*low barrier to entry*). Modal yang dibutuhkan relatif kecil, seringkali hanya berupa smartphone dan akses internet, berbeda jauh dengan risiko membuka usaha konvensional seperti franchise yang bisa menghabiskan puluhan bahkan ratusan juta rupiah.

"Kalau di sini, jauh lebih mudah. Kalau misalnya jalan, hasilnya bisa menyamai punya restoran. Tapi kalau nggak jalan, ya dia nggak rugi apa-apa. At least dia udah coba," ujar Michael, menggambarkan daya tarik model bisnis ini.

Data pasar global mendukung potensi ini. Nilai pasar *affiliate marketing* diprediksi mencapai $15.7 miliar pada 2024 dan berkontribusi sekitar 16% dari total penjualan *e-commerce* global. Di Asia Tenggara, pertumbuhannya juga pesat, dengan Shopee memimpin pangsa pasar dan TikTok Shop menunjukkan lonjakan yang signifikan.

*Tantangan di Balik Kesederhanaan: Tidak Semuanya Bisa Sukses*

Meski konsepnya terlihat mudah, para ahli memperingatkan bahwa eksekusinya tidak sesederhana itu. Persaingan yang ketat dan kebutuhan untuk menciptakan konten yang menarik serta strategis menjadi tantangan utama.

Michael menggarisbawahi kesalahan umum pemula, yaitu hanya fokus pada fitur produk. "Orang beli itu bukan karena fitur. Yang dijual itu perasaannya, emosinya," tegasnya. Ia memberi contoh promosi parfum yang sukses di TikTok, di mana penjualan justru tinggi meski pembeli tidak bisa mencium aromanya secara langsung. Kunci suksesnya adalah membangun narasi, seperti perasaan menjadi "eksekutif muda" atau "old money", yang menyentuh keinginan audiens.

Analogi yang diberikan Michael cukup gamblang: "Setiap orang bisa jadi murid... Tapi kan gak semua orang bisa jadi juara satu. Bahkan ada yang gak naik kelas." Kesuksesan sangat bergantung pada kemampuan individu dalam menyerap ilmu, berkreasi, dan konsisten.

*Strategi untuk Melangkah: Dari Pemula ke Profesional*

Bagi yang tertarik mencoba, berikut adalah langkah-langkah dan strategi berdasarkan panduan para ahli:

1.  *Pilih *Niche* dan Program Afiliasi yang Tepat*: Mulailah dengan topik yang Anda minati dan pahami. Pilih program afiliasi dari platform besar seperti Shopee, Tokopedia, atau TikTok yang sesuai dengan audiens target Anda. Perhatikan juga besaran komisi yang ditawarkan, yang biasanya berkisar antara 3%-20% tergantung platform dan produk.
2.  *Buat Konten Berkualitas dan Autentik*: Konten adalah ujung tombak. Baik itu video pendek, ulasan blog, atau postingan media sosial, pastikan konten memberikan nilai, edukasi, atau hiburan bagi audiens. Keaslian (*authenticity*) lebih dihargai daripada produksi yang mewah.
3.  *Kuasi Strategi Promosi*: Manfaatkan kekuatan setiap platform. Di TikTok, fokus pada video pendek yang menarik dan ikuti tren. Untuk website atau blog, optimalkan dengan teknik *Search Engine Optimization* (SEO) agar mudah ditemukan di mesin pencari. Email marketing dan iklan berbayar juga bisa menjadi opsi untuk meningkatkan konversi.
4.  *Analisis dan Belajar Terus-menerus*: Pantau kinerja link afiliasi Anda. Tools seperti Google Analytics dapat membantu memahami apa yang bekerja dan apa yang tidak. Belajar dari mentor atau komunitas juga sangat disarankan untuk menghindari kesalahan umum.

*TikTok vs Shopee: Mana yang Lebih "Cuan"?*

Pertanyaan ini sering muncul di kalangan pemula. Keduanya memiliki keunggulan berbeda:
-   **TikTok Affiliate**: Cocok bagi yang kreatif dan mahir membuat konten video. Potensi viral-nya tinggi dan efektif menjangkau generasi Gen-Z. Namun, membutuhkan usaha ekstra untuk produksi konten dan ada persyaratan minimal pengikut (biasanya 1.000).
-   **Shopee Affiliate**: Lebih stabil, cocok untuk berbagai jenis konten (blog, media sosial) dan tidak mensyaratkan jumlah pengikut minimum. Komisi cenderung lebih stabil meski persaingannya juga ketat.

Pada akhirnya, pilihan bergantung pada kekuatan dan preferensi masing-masing individu.

*Kesimpulan*

*Affiliate marketing* telah membuka pintu lebar bagi siapa saja untuk memulai usaha dengan modal minim. Ia menawarkan alternatif yang menarik di tengah ketidakpastian ekonomi. Namun, jalan menuju kesuksesan di dalamnya tidak dilapisi dengan emas, melainkan membutuhkan komitmen, kreativitas, dan pembelajaran berkelanjutan. Seperti kata pepatah, tidak ada makanan yang gratis—termasuk "cuan" dari *affiliate marketing*. (*)

Friday, December 19, 2025

SMA Muhammadiyah Pasuruan Ajak Ayah Aktif dan Orang Tua Jadi "Guru"


Kota Pasuruan, 19 Desember 2025 – Acara rutin pembagian rapor diubah menjadi momentum membangun sinergi di SMA Muhammadiyah 1 Kota Pasuruan, Jumat (19/12/2025). Sekolah tidak hanya membagikan lembar nilai, tetapi juga meluncurkan program GEMAR (Gerakan Ayah Mengambil Raport) dan mendorong kolaborasi aktif orang tua dalam proses belajar.

Acara yang dihadiri sekitar 75% wali murid ini diawali dengan sosialisasi program di aula sekolah, termasuk peluncuran Sanggar Musik 'Gita Suradira'.

*Gerakan Libatkan Ayah dan Kolaborasi Keluarga*

Dalam sambutannya, Ketua Majelis Dikdasmen, M. Fathoni, secara khusus menekankan pentingnya peran ayah. "Tanggung jawab mendidik bukan hanya di pundak ibu. Selama ini, dalam urusan sekolah seperti pengambilan rapor, ibu yang lebih sering hadir. GEMAR mendorong kehadiran ayah, dengan tentu mempertimbangkan situasi," ujarnya.

Fathoni menjelaskan bahwa kehadiran orang tua memiliki dampak psikologis yang kuat bagi siswa. "Anak merasa sangat dihargai dan diperhatikan ketika orang tuanya datang. Sebaliknya, ketidakhadiran bisa menimbulkan perasaan sedih atau minder. Ini penting untuk menjaga kelekatan emosional yang dibutuhkan dalam tumbuh kembang mereka," tegasnya.
Kolaborasi yang ditawarkan melampaui kehadiran fisik. Sekolah membuka peluang bagi orang tua dengan keahlian khusus, seperti ahli ternak, untuk berbagi ilmu di kelas. "Kami ingin memanfaatkan potensi yang ada di keluarga murid. Waktunya bisa disesuaikan," papar Fathoni. Saluran komunikasi juga dibuka lebar, baik langsung ke kepala sekolah maupun melalui Majelis Dikdasmen.

*Rapor Sebagai Cermin, Pendidikan Sebagai Tempaan*

Sementara itu, Kepala Sekolah, Govanda Adibeladika, dalam sambutannya mengingatkan bahwa rapor adalah lebih dari sekadar angka. "Rapor ini bukan sekadar lembar kertas. Ia adalah cermin ketercapaian, disiplin, prestasi, dan perilaku siswa selama satu semester; sebuah bahan evaluasi bersama," jelasnya.

Govanda juga memberikan motivasi. "Bagi yang hasilnya bagus, tetaplah rendah hati dan pertahankan. Bagi yang merasa kurang, jangan patah semangat. Perbaiki diri untuk semester depan."

Mengenai peran guru dalam pembentukan karakter, Fathoni menggunakan analogi yang gamblang. "Memberi teladan dan membenahi karakter ibarat menempa besi bengkok agar lurus. Tidak cukup hanya dibelai, tetapi perlu proses 'panas' dan 'pukulan' yang tepat dalam artian pendidikan dan disiplin," katanya. Dia menyoroti bahwa proses pendidikan kadang menuai tantangan, sehingga diperlukan komunikasi dan pemahaman yang kuat antara sekolah dan orang tua.

*Visi Menuju Keunggulan Holistik*

Memaparkan profil sekolah, Fathoni menyebut keunggulan dalam tiga pilar: moral-spiritual, intelektual, dan sosial. Visinya adalah menjadikan SMA Muhammadiyah 1 Kota Pasuruan sebagai lembaga pendidikan unggul. "Kami bercita-cita seperti Singapura: kecil, tetapi maju dalam pendidikan, teknologi, dan peradaban," tuturnya.

Acara pembagian rapor hari ini berhasil menjadi platform strategis untuk memperkuat *link and match* antara pendidikan di sekolah dan di rumah, menekankan bahwa masa depan siswa dibangun dari kolaborasi konkret semua pihak. (*)

Firnas Muttaqin


https://www.facebook.com/share/p/1J4BN2ks8L/

Meneguhkan Nasionalisme Dalam Menghadapi Tantangan Digital*


PONOROGO, Jumat (19/12/2025) – Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor menghadirkan Ustadz Bachtiar Nashir sebagai pembicara utama di Seminar Santri Nasional. Dalam acara yang berlangsung pada Jumat pagi (19/12/2025), Ustadz Bachtiar menyampaikan materi yang sarat dengan semangat nasionalisme, refleksi spiritual, serta respons kritis terhadap perkembangan teknologi dan informasi di era digital.

Seminar ini dihadiri oleh ratusan santri, mahasiswa, dan para pengabdi dari berbagai kampus Gontor. Turut hadir pula sejumlah ustadz dan panelis yang mengisi sesi tanya jawab.

Panggilan Nasionalisme dan Pengorbanan

Di awal paparannya, Ustadz Bachtiar menekankan pentingnya memupuk kecintaan pada bangsa dan negara yang dilandasi nilai-nilai keislaman. Dengan gaya bicara yang tegas dan penuh semangat, ia menegaskan komitmen para santri dan alumni Gontor untuk Indonesia.

“Kami alumni Gontor siap menyerahkan semuanya untuk negara kesatuan republik ini, leher pun kami serahkan,” ujarnya disambut tepuk tangan hadirin.

Ia juga membagikan pengalaman pribadinya yang kerap berinteraksi dengan aparat negara karena aktivitas dan pernyataannya. Bachtiar menceritakan bagaimana ia pernah dipanggil pihak berwenang pasca suatu peristiwa yang ia sebut sebagai “pembantaian KM 50”. Meski demikian, ia menyatakan bahwa hal itu tidak menggentarkan komitmennya.

“Anak istri saya udah biasa dengan panggilan itu… Saya biasa aja karena sering dipanggil.  tuturnya dengan nada santai, namun penuh makna.

Kekuatan Spiritual di Tengah Hegemoni Algoritma

Ustadz Bachtiar kemudian mengajak para peserta untuk tidak terjebak dalam kekuatan algoritma digital yang mendominasi kehidupan modern. Ia menawarkan kekuatan spiritual, seperti senantiasa berdzikir dan bertasbih kepada Allah, sebagai “kekuatan” yang melebihi semua algoritma.

“Kalian sebagai ilmuwan, ilmu kalian tak terbatas… ketika kalian berselancar dengan tasbih, kekuatan ini melebihi semua kekuatan algoritma digital,” pesannya.

Ia mengingatkan agar para santri menjadi “bridge builder” (pembangun jembatan), bukan “buzzer” yang memecah belah. Ia juga mengkritik fenomena buzzer dan viralitas yang seringkali tidak substansial, dengan menyebut contoh isu “bapak bawa beras 5 kilo” yang sempat ramai.

Inspirasi dari Penemu QR Code dan Semangat Berdikari

Dalam sesi tanya jawab, seorang peserta bernama Umar Arsyad dari Kampus 2 menanyakan tentang langkah sederhana menghadapi era algoritma yang mendorong konten kurang mendidik.

Menanggapi hal tersebut, Ustadz Bachtiar menekankan pentingnya membangun pertahanan diri dengan ilmu dan karakter. Secara spontan, ia kemudian memberikan contoh inspiratif dari penemu Quick Response (QR) Code, Masahiro Hara dari Jepang.

“Dia scan dengan cepat selama bertahun-tahun kerja keras dan penelitian… Dia terinspirasi oleh game Go dan menciptakan kode yang kita sekarang menggunakan berbilion kali sehari,” ceritanya tentang perjalanan Hara menciptakan QR Code.

Bachtiar mengajak para santri untuk meneladani semangat keikhlasan, kesederhanaan, dan keberbakatan Masahiro Hara, yang menciptakan teknologi yang digunakan secara global, termasuk sistem QRIS di Indonesia, tanpa motif mengeruk keuntungan pribadi yang besar.

“Hidup itu bukan soal uang kan? Jiwa keikhlasan, jiwa kesederhanaan, jiwa berdikari… Harusnya kamu lebih berpahala daripada Masahiro Hara,” tegasnya.

Dakwah dengan Pendekatan Universal

Pertanyaan lain datang dari Muhammad Adam, mahasiswa Hubungan Internasional, yang menanyakan strategi dakwah kepada orang yang sama sekali awam tentang agama, tanpa menggunakan dalil-dalil Islam terlebih dahulu.

Ustadz Bachtiar menjawab dengan menekankan pentingnya menerjemahkan pesan-pesan universal Al-Qur’an bukan hanya dalam bahasa, tetapi juga dalam logika yang dapat diterima semua pihak.

Sebagai contoh konkret, ia menjabarkan argumentasi tentang konflik Palestina-Israel tanpa menggunakan dalil agama.

“Itu orang-orang Israel yang sekarang ada di Palestina itu, sebelumnya warga negara mana? Paspornya… Kalau orang Rusia kembali ke Rusia, orang Belgia kembali ke Belgia… Sesuai paspor awalnya,” jelasnya, menunjukkan bahwa pendekatan berbasis kewarganegaraan dan sejarah dapat menjadi alat dialog yang efektif.

“Kita bisa keluar dari Al-Quran, tetapi tinggal bagaimana memodel… Tergantung gaya kamu lah,” tambahnya, menekankan pentingnya kreativitas dan kecerdasan dalam berdakwah.

Seminar ditutup dengan doa dan penghargaan kepada Ustadz Bachtiar Nashir atas pencerahan yang diberikan. Acara ini memperlihatkan upaya pesantren untuk membekali santri tidak hanya dengan ilmu agama, tetapi juga wawasan kebangsaan, literasi digital, serta ketrampilan berargumentasi di ruang publik yang kompleks. (*)

Firnas Muttaqin

Wednesday, December 17, 2025

Tinjauan Hukum Islam Terhadap Memiliki Anak Tanpa Nikah Melalui Bayi Tabung dengan Sperma Bukan dari Suami



Dalam perspektif hukum Islam (fikih), masalah ini melibatkan beberapa prinsip fundamental yang telah disepakati ulama. Berikut analisisnya berdasarkan sumber-sumber hukum Islam:

### 1. **Status Pernikahan dalam Islam**
Pernikahan (nikah) dalam Islam adalah institusi suci yang menjadi satu-satunya jalan yang diperbolehkan untuk memiliki keturunan. Tujuan pernikahan antara lain:
- **Menjaga nasab (keturunan)**, yang merupakan hak asasi anak.
- **Melindungi kehormatan dan martabat manusia**.
- **Membentuk keluarga yang stabil dan bertanggung jawab**.

Oleh karena itu, memiliki anak **di luar ikatan pernikahan yang sah** dianggap melanggar prinsip dasar ini.

### 2. **Masalah Sperma dari Bukan Suami**
Menggunakan sperma dari donor (bukan suami) termasuk dalam kategori **zina**, meskipun dilakukan secara medis. Hal ini didasarkan pada:
- **Prinsip bahwa nasab hanya sah melalui pernikahan yang sah**. Sperma yang membuahi sel telur harus berasal dari suami yang sah.
- Hadits Nabi Muhammad SAW: **"Anak itu milik pemilik kasur (suami)..."** (HR. Bukhari & Muslim), yang menegaskan bahwa nasab hanya ditetapkan melalui hubungan pernikahan, bukan sekedar hubungan biologis.
- **Kesepakatan ulama (ijma')** bahwa donor sperma/ovum dari pihak ketiga dalam bayi tabung adalah **haram**, karena mencampur-adukkan nasab dan melanggar kemurnian garis keturunan.

### 3. **Bayi Tabung (IVF) dalam Islam**
Bayi tabung **diperbolehkan dalam Islam** dengan **syarat ketat**:
- Dilakukan **dalam ikatan pernikahan yang sah**.
- Sperma berasal dari **suami**, sel telur dari **istri**.
- Proses pembuahan terjadi **di luar rahim**, tetapi embrio hanya ditanamkan ke **rahim istri sendiri** (tidak ada rahim titipan/surrogacy).
- Dilakukan dengan menghindari pembuangan atau eksperimen tidak etis pada embrio.

Jika syarat ini dilanggar, bayi tabung menjadi **haram**.

### 4. **Anak yang Dilahirkan Tanpa Nikah**
Anak yang lahir di luar pernikahan sah (termasuk dari donor sperma) dalam hukum Islam:
- **Nasabnya hanya kepada ibu** (karena hubungan ibu-anak bersifat biologis jelas).
- **Tidak memiliki hubungan nasab dengan donor sperma**.
- **Tidak berhak mendapat warisan dari donor sperma**, kecuali melalui wasiat maksimal 1/3 harta (jika diizinkan).
- **Statusnya sebagai anak luar nikah** dapat menimbulkan stigma sosial dan psikologis, yang bertentangan dengan prinsip Islam untuk melindungi anak.

### 5. **Dampak Sosial dan Moral**
- **Pencampuran nasab**: Islam sangat menjaga kemurnian nasab, dan donor sperma akan mengacaukan garis keturunan.
- **Hak anak**: Anak berhak diketahui ayahnya dan diasuh dalam keluarga sah.
- **Pelanggaran kehormatan**: Dianggap mendekati zina, meski tanpa hubungan fisik.

### **Kesimpulan**
Berdasarkan tinjauan hukum Islam:
1. **Memiliki anak tanpa nikah adalah haram**, karena melanggar tujuan syariat dalam menjaga nasab dan keluarga.
2. **Bayi tabung dengan sperma donor (bukan suami) adalah haram** berdasarkan konsensus ulama kontemporer (seperti keputusan Majma' Fiqih Islam OKI, Dar al-Ifta Mesir, MUI Indonesia, dll).
3. **Alternatif yang diperbolehkan**: Pasangan suami-isteri yang sah boleh menggunakan bayi tabung **dengan sperma suami dan sel telur isteri sendiri**, selama tidak melibatkan pihak ketiga.

Islam memberikan solusi melalui pernikahan yang sah sebagai landasan membentuk keluarga. Jika ada kesulitan medis, diperbolehkan melakukan upaya pengobatan atau bayi tabung **dalam koridor pernikahan**, bukan dengan cara-cara yang melanggar prinsip syariah.

Semoga penjelasan ini memberikan kejelasan. Untuk keputusan yang lebih detail, disarankan berkonsultasi dengan ulama atau lembaga fatwa terpercaya. (*)




Tuesday, December 16, 2025

Fadhilah ke Masjid

Ustadz Adi Hidayat 

"Seseorang yang masuk masjid dengan niat ibadah—belum melakukan apa pun—hanya berniat untuk ibadah, ingin i‘tikaf, ingin mengikuti pengajian, ingin salat, atau ingin membaca Al-Qur'an, maka sejak ia masuk masjid, ia telah mendapatkan 25 kebaikan. Jarak antara satu kebaikan dengan kebaikan berikutnya adalah sejauh 500 tahun perjalanan.

Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah ﷺ:

> **مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ فَهُوَ فِي صَلَاةٍ مَا كَانَ يَنْتَظِرُ الصَّلَاةَ ، وَتَصَفُّحُ الْقُرْآنِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَقْرَأَ فِيهِ تَزْدَادُ بِهِ الْحَسَنَاتُ**
> "Barangsiapa bersuci di rumahnya kemudian mendatangi masjid, maka ia dalam keadaan salat selama ia menunggu salat (di masjid). **Dan membuka-buka (melihat) Al-Qur'an tanpa membacanya, akan ditambahkan kebaikan-kebaikan karenanya**." (Hadis riwayat Ath-Thabarani, dinilai hasan oleh Al-Haitsami).

Sebagai perbandingan, jika kita membaca Al-Qur'an, satu huruf saja mendapat 10 kebaikan, berdasarkan hadis:

> **مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ**
> "Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitab Allah (Al-Qur'an), maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kali. Aku tidak mengatakan 'Alif Lām Mīm' itu satu huruf, tetapi 'Alif' satu huruf, 'Lām' satu huruf, dan 'Mīm' satu huruf." (HR. At-Tirmidzi).

Maka ilustrasi jarak 500 tahun itu menggambarkan besaran kebaikan yang kita dapatkan hanya dengan niat dan kedudukan menunggu salat di masjid.

Ukuran kebaikan itu akan diperlihatkan kepada kita saat akan wafat, dan di akhirat barulah semuanya dikumpulkan. Itulah yang disebut dengan pahala.

Jika ada orang yang sehari saja tidak mengaji (mempelajari/membaca Al-Qur'an), ia telah merugi. Kerugian itu semakin besar jika banyak kesalahan yang dilakukan, apalagi jika sedikit amal baik tetapi banyak kesalahannya. Cita-citanya ingin masuk Surga Firdaus, yang di dalamnya bersama Nabi, tetapi tanpa bekal ilmu dan amal, bagaimana mungkin tercapai?"

---

Catatan Penting:
1.  **Hadis tentang 25 Kebaikan dan Jarak 500 Tahun:** Poin spesifik tentang **"25 kebaikan"** dan **"jarak 500 tahun"** yang disebutkan Ustadz Adi Hidayat merujuk pada **hadis yang berbeda**, yaitu tentang keutamaan berjalan menuju masjid. Setiap langkah kaki seseorang yang berwudu dari rumahnya ke masjid akan mengangkat derajatnya dan menghapus kesalahannya. Jarak antara dua langkahnya diukur sejauh **500 tahun perjalanan**. Berikut hadisnya:
    *   **Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu**, Rasulullah ﷺ bersabda:
        > **مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ، ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللهِ، كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً، وَالأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً**
        > 
        > "Barangsiapa bersuci di rumahnya, kemudian berjalan menuju salah satu rumah Allah untuk menunaikan kewajiban dari Allah, maka setiap langkahnya yang satu menghapus kesalahan dan langkah lainnya mengangkat derajat." (HR. Muslim).
    *   **Dalam riwayat lain** (seperti dari Abu Dawud, Ath-Thabarani, dan lainnya) disebutkan tambahan:
        > **وَإِنَّ بَيْنَ الْبَيْتِ وَبَيْنَ الْمَسْجِدِ لَمَسَافَةً وَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا خَرَجَ يَمْشِي إِلَى الصَّلَاةِ كَانَ بِكُلِّ خَطْوَةٍ سَبْعُمِائَةِ حَسَنَةٍ ، وَيُرْفَعُ لَهُ بِهَا سَبْعُمِائَةِ دَرَجَةٍ ، وَيُحَطُّ عَنْهُ سَبْعُمِائَةِ سَيِّئَةٍ ، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا كَانَ فِي الصَّلَاةِ كَانَتْ الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَيْهِ مَا دَامَ فِي مَجْلِسِهِ الَّذِي صَلَّى فِيهِ : اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ . وَيَقُولُونَ : اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ ، اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ . مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ ، مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ . وَأَيُّمَا رَجُلٍ أَعْمَرَ مَسْجِدًا لِلَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ . وَبَيْنَ الْمَنْزِلِ وَالْمَسْجِدِ خَمْسُمِائَةِ عَامٍ**
        > 
        > "...Sesungguhnya antara rumah dan masjid itu ada jaraknya. Dan sesungguhnya salah seorang dari kalian jika keluar berjalan untuk salat, maka setiap langkahnya dicatat **700 kebaikan**, diangkat **700 derajat**, dan dihapus **700 kesalahan**... **Dan antara rumah dan masjid itu (jaraknya) 500 tahun**." (HR. Ath-Thabarani, dinilai hasan oleh Al-Albani).

2.  **Sintesis Penjelasan:** Ustadz Adi Hidayat menggabungkan makna dari beberapa hadis tersebut. Inti yang beliau sampaikan adalah:
    *   **Niat dan kedatangan untuk ibadah di masjid itu sendiri sudah bernilai pahala yang sangat besar**, sebanding dengan perjalanan ratusan tahun.
    *   **Bahkan aktivitas persiapan ibadah** (seperti membuka Al-Qur'an) sudah mendatangkan kebaikan.
    *   Ini menjadi motivasi untuk rajin ke masjid dan meningkatkan kualitas ibadah, serta menjauhi kesia-siaan yang menyebabkan kerugian.  (*)

Sunday, December 14, 2025

Islam Itu Mudah: Menyikapi Perbedaan Mazhab dengan Bijak

Oleh: KH Ahmad Zahro

Dalam beragama, seringkali umat Islam dihadapkan pada pertanyaan praktis: "Kamu bermazhab apa?" Pertanyaan yang tampaknya sederhana ini justru bisa menjadi sumber kebingungan. Banyak yang langsung menjawab, "Saya mazhab Syafi'i," namun jika ditanya lebih lanjut tentang apa dan bagaimana mazhab Syafi'i itu, sering kali pengetahuannya belum tuntas.

Saya telah mengajar lebih dari 40 tahun, dan pengalaman itu menunjukkan bahwa memahami seluruh kedalaman satu mazhab pun belum tentu tuntas, apalagi empat mazhab sekaligus. Namun, satu hal yang ingin saya tekankan: *Islam itu agama yang mudah*. Allah SWT berfirman yang artinya, "Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu." (QS. Al-Baqarah: 185). Rasulullah SAW juga bersabda, "Permudahlah dan jangan dipersulit, gembirakanlah dan jangan kalian membuat mereka lari." (HR. Bukhari).

*Mencampur Mazhab (Talfiq): Boleh atau Tidak?*

Persoalan mencampur pendapat berbagai mazhab dalam satu peribadatan (talfiq) menjadi perdebatan menarik. Selama menulis disertasi, saya mendapat tugas membahas ini secara mendalam. Saat itu, hampir semua pesantren yang saya datangi menjawab, "Tidak boleh mencampur mazhab." Namun, ketika ditanya "Mengapa?", jarang yang bisa memberikan alasan yang jelas selain dari tradisi yang dipegang.

Setelah menelusuri lebih jauh, saya menemukan beragam pandangan ulama:
1.  *Pendapat yang Menyatakan "Tidak Baik"*: Sebagian ulama pengikut mazhab Syafi'i, seperti Syekh Zakaria al-Ansari dan Syekh al-Qafal, berpendapat bahwa mencampur mazhab itu *"tidak baik" (la yanbaghi)*, bukan "tidak boleh" (haram). Alasannya adalah untuk menjaga seorang Muslim agar tidak "mencla-mencle" atau labil dalam beragama, sehingga ia konsisten dan mantap. Ini lebih merupakan nasihat tasawuf (akhlak) daripada hukum fikih yang kaku.
2.  *Pendapat yang Menyatakan "Bahkan Bagus"*: Di sisi lain, ulama mazhab Hanafi seperti Syekh Ibnu Humam (Kamaluddin bin Hammam) justru berpendapat bahwa mencampur mazhab dalam satu kasus *boleh dan bahkan bagus*. Alasannya, orang seperti itu berarti mau belajar, membaca, dan melihat banyak kemungkinan hukum yang sah. Pendapat ini justru berdalil pada prinsip kemudahan dalam Islam.

*Fanatik Mazhab justru Memberatkan*

Sesungguhnya, fanatik pada satu mazhab secara kaku justru dapat memberatkan diri sendiri. Mazhab adalah hasil ijtihad para ulama saleh terdahulu yang sahih, namun semuanya bermuara pada dua sumber utama: Al-Qur'an dan Hadis Nabi SAW. Sebelum mazhab-mazhab ini lahir, para sahabat Nabi pun tidak "bermazhab" seperti pengertian kita sekarang. Mereka langsung merujuk pada ajaran Rasulullah SAW.

Dalam praktiknya, sangat sulit untuk konsisten 100% pada satu mazhab tanpa sadar telah menerapkan pendapat mazhab lain. Yang terpenting bukanlah label "mazhab apa", tetapi *pemahaman bahwa suatu amalan itu memiliki dasar (dalil) yang boleh diikuti, dan dilakukan dengan keyakinan (mantap) serta pengetahuan*.

*Jangan Jadikan Amaliah sebagai Tenger (Batas Pemisah)*

Sayangnya, perbedaan dalam amaliah praktis (seperti qunut, lafadz niat, dll) sering dijadikan "tenger" atau tanda pengenal untuk memisahkan: ini NU, ini Muhammadiyah, dan seterusnya. Ini pemahaman yang keliru. *NU itu bagus, Muhammadiyah juga bagus, organisasi Islam lainnya pun bagus.* Semuanya berusaha menghidupkan syariat Islam yang bersumber dari Rasulullah SAW melalui jalur keilmuan yang valid.

Qunut itu bagus karena ada dalilnya. Tidak qunut juga bagus karena ada dalilnya. Yang tidak bagus adalah yang meninggalkan salat Subuh sama sekali. Pilihan amaliyah hendaknya didasari pada ilmu dan keyakinan, bukan pada fanatisme kelompok.

*Kesimpulan: Jadilah Muslim yang Lapang Dada dan Mudah*

Saya mengajak seluruh umat Islam untuk:
1.  *Memperluas wawasan* tentang khazanah fikih dari berbagai mazhab.
2.  *Beragama dengan mudah dan mantap*, tidak mempersulit diri atau orang lain.
3.  *Merukunkan sesama Muslim*, tidak menjadikan perbedaan cabang (furu') sebagai sumber perpecahan.
4.  *Fokus pada esensi*: bahwa semua amaliyah yang memiliki dasar ditujukan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Mari kita jadikan Islam sebagai rahmat yang membuat hati lapang, pikiran adem, dan senyum mudah mengembang. Kewajiban kita adalah menyampaikan dengan baik, sedangkan hidayah dan tanggung jawab akhir setiap amal ada di tangan Allah SWT.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita kepada pemahaman agama yang lurus, lapang, dan penuh kasih. Aamiin ya Rabbal 'aalamiin. (*)

https://youtu.be/2g8Vt-99Q3Q

Dari Gang Sempit di Jakarta Timur ke Panggung Dunia: Kisah Dr. Taufik, Ketua RT Penggerak Lingkungan


Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, di sebuah RT di Kelurahan Malaka Jaya, Jakarta Timur, tersembunyi sebuah laboratorium hidup pencegahan krisis planet. Penggeraknya adalah Dr. Taufik Supriadi, seorang ketua RT yang dalam dua tahun menjabat telah mengubah wilayahnya menjadi percontohan inovasi lingkungan, meraih rekor MURI, nominasi Kalpataru, hingga diundang untuk berbagi praktik baik di China dan Amerika Serikat.

Awalnya, kondisi RT 08 RW 04 itu biasa saja: gersang dan menghadapi masalah sampah seperti banyak permukiman padat lainnya. Namun, visi Taufik melampaui urusan rutin RT. Ia melihat ancaman triple planetary crisis: hilangnya keanekaragaman hayati, perubahan iklim, dan polusi. Baginya, solusi harus dimulai dari bawah, dari lingkungan terkecil.

Dengan prinsip gotong royong, Taufik bersama warganya meluncurkan serangkaian program transformatif. Mereka mengubah saluran pembuangan (got) yang kumuh menjadi kolam budidaya ikan lele. Mereka menanam 817 tanaman produktif—hampir dua kali lipat dari kebutuhan teoritis 450 tanaman untuk 157 warganya—untuk menyejukkan udara, menghasilkan oksigen, dan menyediakan pangan. Inovasi lainnya berjejer: lampu tenaga surya, penampungan air hujan, pengelolaan sampah terpadu dengan lubang resapan biopori, komposter komunal, dan kandang maggot.

“Kami tidak menunggu instruksi dari atas (top-down). Kami bergerak dari bawah (bottom-up),” tegas Taufik, yang juga menciptakan aplikasi “Pusat Data Nasional Pencegah Krisis Planet” untuk mencatat progress secara digital.

Hasilnya nyata. Lingkungan yang tadinya gersang menjadi hijau dan sejuk. Sampah yang semula masalah kini bernilai ekonomi melalui bank sampah, mengubah warga dari sekadar membuang menjadi memiliki penghasilan tambahan. Bahkan, program kolam ikan berpotensi membuka lapangan kerja bagi enam warga yang sebelumnya menganggur. Taufik berhitung, jika model ini diterapkan di seluruh 30.511 RT di Jakarta, ratusan ribu pekerjaan bisa tercipta.
Prestasi ini tidak luput dari perhatian dunia. Baru-baru ini, Taufik diundang ke Beijing untuk diwawancara oleh CCTV China, membahas pemanfaatan saluran air untuk budidaya. Semua ini ia raih bukan sebagai birokrat atau ilmuwan di menara gading, melainkan sebagai ketua RT yang turun langsung kerja bakti bersama warga.

Motivasinya sederhana namun mendalam: prinsip *khairunnas anfa'uhum linnas* (sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain). Ia tergerak oleh kegelisahan melihat masalah sampah dan lingkungan di sekitarnya selama 20 tahun. Baginya, menjadi teladan dari tingkat terbukalah kunci perubahan.

Kisah Dr. Taufik Supriadi adalah bukti bahwa kepemimpinan yang visioner dan berorientasi aksi di tingkat akar rumput mampu menciptakan dampak luar biasa. Ia membalikkan logika bahwa solusi krisis lingkungan harus selalu rumit dan mahal. Dari gang sempit di Jakarta Timur, ia menunjukkan bahwa api kecil semangat gotong royong dan inovasi lokal bisa menjadi cahaya penuntun, tidak hanya bagi satu RT, tetapi juga bagi bangsa dan dunia. Inilah esensi sebenarnya dari pembangunan berkelanjutan: dimulai dari diri sendiri, dari lingkungan terkecil, dengan semangat memberi manfaat seluas-luasnya. (*)

https://youtu.be/Npj_IbUYy3U?si=MLchoDfmVQZQ7oTh

___

Saturday, December 13, 2025

MPID Jatim Konsolidasi, Dorong Lahirnya Jaringan Berita dan Pelestarian Sejarah Digital Muhammadiyah


SURABAYA – Majelis Pustaka dan Informasi (MPID) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur menggelar konsolidasi internal, Sabtu (13/12/2025), untuk memperkuat kontinuitas dan kualitas media persyarikatan. Dalam pertemuan yang dihadiri sejumlah pengelola media Muhammadiyah se-Jatim itu, sejumlah gagasan strategis digulirkan, termasuk percepatan realisasi jaringan berita terpadu dan pendalaman konten berbasis sejarah.

Ainur Rofiq Sophiaan, Wakil Ketua MPID PW Muhammadiyah Jatim, dalam paparannya menegaskan pentingnya sinergi dan diferensiasi di antara media-media muda Muhammadiyah. Ia mengingatkan gagasan awal untuk membangun titik temu yang difasilitasi oleh semacam "Muhammadiyah News Network" atau kantor berita Muhammadiyah Jawa Timur.

"Jadi semacam kantor berita Muhammadiyah Jawa Timur, di situ semua media afiliasi di Jawa Timur bisa nge-link ke sana. Manajemennya tentu di bawah pengelolaan MPID," jelas Ainur Rofiq, seperti tertuang dalam transkrip acara.

Gagasan yang sempat menjadi wacana itu diharapkan dapat segera direalisasikan dalam dua tahun ke depan. "Itu saya kira nanti akan menjadi satu lompatan yang luar biasa," tegasnya.

*Pelestarian Digital dan Pengayaan Konten Historis*

Selain proyek jaringan berita, Ainur Rofiq juga menyoroti pentingnya pelestarian arsip digital dan pengayaan konten berbasis sejarah. Ia mencontohkan hilangnya sejumlah data di situs PWMU.co karena error server, yang justru bisa diselamatkan berkat arsip fisik majalah Matan.

"Jujur saja, memang sebagian besar data-data sekunder, di luar yang primer hasil wawancara, itu banyak digali dari majalah Matan," ungkapnya.

Berdasarkan pembelajaran itu, ia mendorong para kontributor, khususnya di platform PWMU, untuk tidak hanya bergantung pada berita acara atau peristiwa (*straight news*). Konten perlu dikembangkan dengan menampilkan gagasan dan pemikiran tokoh-tokoh Muhammadiyah lokal, serta menuliskan rekam jejak dakwah di berbagai lapisan masyarakat.

"Misalnya, bagaimana dakwah kita di kalangan masyarakat *osing* di Banyuwangi. Nah, ini kalau ada sentuhan storytelling, itu akan jadi rekam sejarah," tambahnya.

Dorongan ini sejalan dengan upaya MPID Jatim yang telah membukukan profil para penulis Majalah Matan, di mana dua buku telah terbit dan satu buku lagi dalam proses.

Komitmen Menjaga Kontinuitas dan Kualitas

Ainur Rofiq mengapresiasi semangat bermedia yang luar biasa di tubuh Muhammadiyah Jatim. Menurutnya, yang terpenting sekarang adalah menjaga kualitas dan kontinuitas dari berbagai platform yang telah ada.

"Karena bikin satu, tiga, tapi yang penting terus berlanjutnya," ujarnya.

Meski menginginkan format konsolidasi yang lebih intim dan mendalam, pertemuan ini dinilai telah membahas platform besar ke depan. Acara yang juga membahas perkembangan radio dan TV Muhammadiyah ini diakhiri dengan harapan akan lahirnya media sosial dan konten bermuatan sejarah yang terbaik untuk kemajuan persyarikatan.

Konsolidasi ini menandai komitmen MPID Jatim untuk tidak hanya menjadi pengelola informasi, tetapi juga aktor pelestarian sejarah digital dan penggerak sinergi media yang lebih masif di tingkat regional. (*)

Membangun Ekosistem Media Muhammadiyah Menuju Integrasi Muhammadiyah News Network (MNN)

PW Muhammadiyah Jawa Timur Konsolidasikan Kekuatan Literasi dan Digital di Bawah MPID

Surabaya – Guna memperkuat peran strategis dalam membangun tradisi intelektual dan mengakselerasi transformasi digital, Majelis Pustaka Informasi dan Digital (MPID) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se-Jawa Timur menggelar konsolidasi di Ta'awun Tower, Kampus Universitas Muhammadiyah Surabaya. (Sabtu, 13/12/2025).

Acara yang merupakan elaborasi dari Forum Diskusi dan Diseminasi (FDD) ini difokuskan untuk mengkaji draf buku sekaligus menyusun strategi penguatan literasi dan platform informasi di tingkat wilayah.

Mendorong Literasi Tingkat Tinggi Melalui Penulisan Sejarah

Dalam sambutannya, Ainur Rofiq Sophiaan perwakilan bidang Pustaka MPID PWM Jatim menekankan urgensi meningkatkan budaya literasi, khususnya menulis, sebagai fondasi pembangunan tradisi baru organisasi.

"Data UNESCO menunjukkan tingkat literasi kita, terutama membaca, masih sangat rendah. Literasi tertinggi justru ada di ranah menulis, karena seorang penulis pasti adalah pembaca serius," ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya sinergi antar majelis dalam penerbitan dan minimnya tata kelola perpustakaan yang memadai di daerah sebagai tantangan yang perlu segera diatasi.

Konsolidasi ini sekaligus menjadi momentum untuk mempercepat penerbitan buku "Membangun Tradisi Baru (2000-2025)" yang merupakan kelanjutan dari buku "Menembus Benteng Tradisi". Rencananya, buku tersebut akan diluncurkan pada Kajian Ramadhan mendatang atau sekitar Februari - April 2026.

Transformasi Digital: Tiga Pilar Utama MPID

Pengurus MPID Jatim yang lain, Suli Da'im  memaparkan visi transformasi media dan informasi organisasi. Strategi ini akan bertumpu pada tiga pilar utama: Digital Media, Trend, dan Event.

"Tiga pilar ini dirancang untuk memperkuat ekosistem informasi dan komunikasi multimedia Muhammadiyah Jatim. Pilar Digital Media khususnya bertujuan membangun, mengolah, dan memperkuat seluruh ekosistem informasi berbasis digital," jelasnya.

Langkah konkret yang akan segera dilakukan adalah mengonsolidasi dan memperkuat platform digital yang dimiliki, seperti portal resmi PWM Jawa Timur, serta melakukan transformasi "Ruang Matan" menjadi "Media Center" yang terintegrasi.

Komitmen Membangun Tradisi Intelektual yang Berkelanjutan

Konsolidasi ini tidak hanya membahas strategi ke depan, tetapi juga merefleksikan komitmen panjang dalam membangun tradisi kepenulisan. Pembicara berbagi pengalaman inspiratif saat mendampingi proses penyuntingan dan pencetakan buku "Menembus Benteng Tradisi" yang didampingi langsung oleh mantan Ketua PWM, Prof. Syafiq Mughni, hingga larut malam.

"Komitmen seperti inilah yang ingin kami wariskan kepada kader-kader muda, terutama para sejarawan dan penulis muda Muhammadiyah," imbuhnya.

Ke depan, MPID PWM Jatim berencana mengadakan workshop penulisan sejarah dan mendorong terbentuknya komunitas sejarawan muda Muhammadiyah, dimulai dari Jawa Timur.

Dengan konsolidasi ini, MPID PDM se-Jawa Timur diharapkan dapat lebih solid dan strategis dalam menjalankan peran gandanya: sebagai *benteng pelestarian khazanah intelektual* melalui karya tulis dan pustaka, sekaligus menjadi *penggerak utama narasi dan branding* organisasi di era digital. (*)

Firnas Muttaqin

Menulis Sejarah dengan Hati Nurani: Muhammadiyah Jatim Gelar FGD Buku Sejarah Muhammadiyah 2000-2025


Dalam upaya mengukir narasi yang objektif dan bertanggung jawab, Majelis Pustaka, Informasi, dan Digitalisasi (MPID) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur secara resmi membuka Focus Group Discussion (FGD) penyusunan Buku Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur periode 2000-2025. Acara yang berlangsung di Gedung Utama Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya lantai 23 ini juga menjadi ajang konsolidasi MPID se-Jatim.

Acara yang dihadiri sejumlah pimpinan Muhammadiyah, termasuk Ketua PP Muhammadiyah Prof. Syafiq A. Mughni dan Ketua PWM Jatim Prof. Sukadiono, menegaskan komitmen untuk merawat ingatan kolektif organisasi dengan metode akademik yang ketat.

*Sejarah sebagai Fondasi dan Peringatan*

Dalam sambutan pembukaannya, Rektor UM Surabaya, Dr. Mundakir, menekankan bahwa menulis sejarah adalah aktivitas intelektual fundamental bagi kelangsungan hidup organisasi. "Sejarah itu identitas. Komunitas bisa hilang jika tidak memiliki catatan sejarahnya," tegas Mundakir.

Ia juga mengingatkan bahaya besar dari penulisan sejarah yang tidak bertanggung jawab. "Sejarah bisa dimanipulasi, bisa dijelaskan dengan narasi-narasi yang tidak benar jika tidak dilandasi moralitas," ujarnya. Karena itu, ia mendorong tim penulis untuk berani bersikap komprehensif, tidak hanya mencatat hal-hal positif, tetapi juga merekam dinamika secara utuh sebagai pemicu perubahan.

*Mengumpulkan Serpihan Sejarah yang Terserak*

Ketua Panitia Pelaksana, Teguh Imami, menjelaskan bahwa FGD ini merupakan langkah strategis untuk menghadirkan penulisan sejarah yang lebih lengkap, akurat, dan berperspektif regional. Banyak tokoh, peristiwa, dan gerakan penting di tingkat lokal, kata dia, belum terdokumentasikan dengan baik.

"FGD ini kami selenggarakan untuk memperkaya bahan. Buku ini nanti harus menjadi rujukan akademik sekaligus inspirasi bagi generasi muda," ujar Teguh Imami.

Ia menekankan bahwa kerja literasi ini bersifat kolektif. Data sejarah tersebar di berbagai cabang, ranting, dan daerah, sehingga dibutuhkan harmonisasi dan kolaborasi MPID se-Jatim agar penulisan tidak terfragmentasi. "Kerja-kerja literasi tidak bisa dikerjakan sendiri. Ini adalah upaya merawat jejak perjuangan para pendahulu," tambahnya.

*Arah dan Metodologi*

FGD yang melibatkan akademisi, sejarawan, dan pegiat literasi ini tidak hanya membahas struktur buku, tetapi juga pendekatan historiografi, pemanfaatan arsip digital, serta integrasinya ke dalam platform digital MPID. Penekanan pada objektivitas, terutama dalam membaca kepentingan politik yang mungkin memengaruhi narasi, menjadi salah satu prinsip utama.

Diharapkan, buku sejarah yang dihasilkan nantinya tidak sekadar menjadi monumen statis, melainkan cermin identitas, landasan kebijakan, dan sumber inspirasi yang hidup bagi kemajuan Persyarikatan di Jawa Timur. (*)

Thursday, December 11, 2025

AI Jadi Senjata Andalan UKM Surabaya Naik Kelas, Digital Creative Entrepreneur (DCE) Gelar Pelatihan Intensif


Surabaya, MON – Geliat transformasi digital di kalangan pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) Indonesia semakin nyata. Berbekal kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), UKM lokal kini tak gentar bersaing di kancah global. Inilah semangat yang diusung dalam acara sosialisasi dan workshop program *Digital Creative Entrepreneur (DCE)*, sebuah inisiatif Corporate Social Responsibility (CSR) dari Telkomsel melalui Digital Concierge, yang digelar di Surabaya, Kamis (11/12/2025).

Acara yang bertajuk "AI enable SMEs growth, how locals grow global" ini dihadiri ratusan pelaku UKM dari berbagai sektor, dengan fokus pada empat kategori: fashion, food and beverage, personal care, serta produk kerajinan. Program DCE tahun kelima ini secara khusus mengintegrasikan pendekatan berbasis AI untuk memperkuat kapabilitas, kreativitas, dan daya saing bisnis para peserta.

Dalam sambutannya, Andri Kurniawan, perwakilan Telkomsel, menekankan besarnya potensi sekaligus tantangan yang dihadapi UKM di era digital. “Jumlah pelaku UKM di Indonesia ada 26,5 juta. Yang telah mengakses dan mengadopsi program pelatihan teknologi seperti ini baru sekitar 9.000 dalam empat tahun. Artinya, peluang untuk berkembang masih sangat luas,” ujarnya di hadapan peserta.

Ia mengibaratkan AI sebagai pisau bermata dua. Di satu sisi, bisa dimanfaatkan untuk efisiensi, namun di sisi lain, justru bisa menjadi game changer untuk meningkatkan produktivitas secara signifikan. “AI tidak bisa menggantikan semuanya. Sentuhan manusia (human touch) tetap penting dalam pengambilan keputusan bisnis. AI hadir sebagai alat bantu,” tambah Andri.
Acara ini juga menghadirkan Andry P. Santoso selaku Kepala CSR & Digital Concierge Telkomsel, yang menjelaskan visi program DCE sebagai enabler. “Kami hadir untuk memberikan pemahaman dan pembelajaran. Di era digital, sebuah produk bagus saja tidak cukup. Foto yang menarik, spesifikasi yang jelas, dan strategi pemasaran digital yang tepat adalah kunci. Melalui DCE, kami membantu UKM menguasai hal-hal tersebut,” jelas Andry.

*Kisah Sukses: Dari Limbah Keramik hingga Batik Digital ke Pasar Global*

Acara semakin hidup dengan kehadiran para praktisi UKM sukses yang menjadi bukti nyata manfaat digitalisasi. Raymond Tjiadi, Co-Founder Lumos Living, membagikan pengalamannya membangun brand keramik ramah lingkungan ‘Reclay’.

Raymond bercerita, tantangan terberat adalah mengolah limbah keramik yang kualitasnya tidak konsisten. “Di sinilah AI kami gunakan. Kami berdiskusi dengan AI, memberikannya prompt spesifik untuk mempelajari jurnal teknik material. Dari sana, kami mendapatkan formula clay yang tepat dari material limbah. Hasilnya, produk kami lebih kuat dan konsisten,” paparnya. Inovasi berbasis AI ini menjadi fondasi bagi mereka untuk berekspansi ke pasar digital global.

Dari sisi fashion, Anne Surya dari Batik Anne Surya, alumni DCE angkatan ke-2, membagikan strateginya menembus pasar internasional. Kunci suksesnya adalah menjaga eksistensi di dunia digital sejak awal. “Kami mulai dari media sosial, lalu merambah ke marketplace, TikTok, live shopping, dan kini AI. Prinsipnya, ikuti setiap gelombang tren digital. Eksis di platform global, maka peluang pasar global akan datang,” ujar Anne. Bisnis batiknya kini telah go international berkat strategi digital yang konsisten.

Program DCE: Bekal Komprehensif dari Mentoring hingga Pendanaan

Hadir sebagai narasumber, Hari (nama lengkap Hadi Sucipto), perwakilan penyelenggara DCE, memaparkan alur program yang sepenuhnya gratis ini. Pendaftaran yang dibuka melalui QR code dan website akan diseleksi secara ketat. “Tahun lalu, dari 2.700 pendaftar, hanya 500 yang masuk tahap bootcamp. Setelah melalui pembinaan dan mentoring intensif, terpilih 12 finalis yang akan digembleng lebih lanjut sebelum puncak acara Awarding Night,” jelas Hari.

Selain mendapatkan pendampingan dari para ahli dan mentor berpengalaman, peserta juga berkesempatan mendapatkan pendanaan awal (seed funding). Selama empat tahun berjalan, DCE telah membantu lebih dari 680 UKM untuk ‘naik kelas’. “Tahun ini, kami fokus membekali peserta dengan *AI tools* untuk mempercepat pertumbuhan dan memperkuat brand yang berdampak sosial,” pungkasnya.

Acara yang dimoderatori dengan interaktif ini juga dihadiri oleh Rachmad Septiarno dari Telkomsel, serta Arief Marwadi sebagai Head Mentor. Sesi tanya jawab yang antusias menunjukkan besarnya minat UKM Surabaya dan Jawa Timur untuk bertransformasi, bertahan, dan bersaing secara global dengan memanfaatkan teknologi digital dan AI sebagai tulang punggung pertumbuhan. (*)

Firnas Muttaqin

Tuesday, December 09, 2025

AKSI CEPAT BPBD PADAMKAN KEBAKARAN AKIBAT KEBOCORAN GAS DI PASURUAN


Pasuruan,  MON - Tim Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pasuruan menunjukkan respons yang cepat dan efektif dalam menangani insiden kebakaran yang dipicu oleh kebocoran gas elpiji (LPG) pada Selasa (9/12/2025) siang. Kejadian yang berpotensi membahayakan tersebut berhasil dipadamkan dalam waktu kurang dari 20 menit tanpa menimbulkan korban jiwa maupun luka.

Kebakaran terjadi sekitar pukul 11.20 WIB di sebuah rumah di Jalan Trunojoyo, Kelurahan Tapaan, Kecamatan Bugulkidul. Menurut laporan resmi Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Kota Pasuruan, sumber api berasal dari kebocoran tabung LPG yang kemudian membakar peralatan masak milik Ibu Nikmatul Chikmiyah, warga setempat.

Ibu Nikmatul sendiri yang melaporkan kejadian tersebut ke pusat kendali BPBD. Hanya dalam waktu tiga menit setelah laporan diterima, personil Pemadam Kebakaran (PMK) dan Pusdalops telah berangkat menuju lokasi. Mereka tiba di Tempat Kejadian Kebakaran (TKK) pada pukul 11.27 WIB dan segera melakukan upaya pemadaman.

Berkat penanganan yang terkoordinasi, kobaran api berhasil dijinakkan pada pukul 11.40 WIB, atau hanya 13 menit setelah tim tiba di lokasi. Kebakaran dilaporkan hanya meluas sekitar 20 meter persegi dan hanya menghanguskan objek yang langsung terkait dengan sumber kebocoran.

Tidak hanya memadamkan api, tim BPBD juga melakukan upaya pasca-kejadian yang komprehensif. Personil PMK melakukan pengamanan area terdampak dan memberikan penyuluhan singkat kepada warga sekitar mengenai cara penanganan awal kebocoran gas serta langkah-langkah pencegahan kebakaran. Sementara itu, tim Pusdalops mendokumentasikan kejadian untuk kepentingan laporan dan assessment.

Operasi penanggulangan melibatkan 1 unit mobil pemadam berkapasitas 5000 liter serta personil dari PMK dan Pusdalops BPBD Kota Pasuruan, dengan dukungan dari Agen Bencana Provinsi Jawa Timur dan warga sekitar. Seluruh personil telah kembali ke markas BPBD pada pukul 11.55 WIB.

Insiden ini kembali mengingatkan pentingnya kewaspadaan dalam penggunaan tabung gas elpiji di rumah tangga. Respons cepat dari pemilik rumah dengan segera melaporkan dan kinerja efektif BPBD berhasil mencegah eskalasi bencana yang lebih besar. Keberhasilan penanganan ini menunjukkan peran kritis sistem pelaporan yang lancar dan kesiapsiagaan tim penanggulangan darurat dalam menjaga keselamatan masyarakat.

By FIRNAS MUTTAQIN

Monday, December 08, 2025

SOSOK BIDADARI Selama Ini SALAH DIPAHAMI? FAKTA MENGEJUTKAN dari TAFSIR MODERN


Pembahasan tentang bidadari sering kali diasosiasikan dengan gambaran wanita cantik yang menanti laki-laki mukmin di surga. Gambaran ini begitu melekat dalam budaya masyarakat hingga seolah menjadi satu-satunya pemahaman. 

Namun, jika kita kembali ke Al-Qur’an dan beberapa tafsir modern, maknanya ternyata jauh lebih dalam, lebih luas, dan jauh dari gambaran sensasional yang sering beredar.

Pendapat Ustadz Irfan Anshory dalam artikelnya “Benarkah di Surga Ada Bidadari?” dan penafsiran Dr KH Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah memberikan arah pemahaman yang sejalan: bahwa istilah “Hūr ‘Īn” yang selama ini dipahami sebagai “bidadari”, tidak harus dimaknai secara harfiah, dan tidak identik dengan “wanita-wanita cantik surgawi” seperti bayangan duniawi.

✅️ Makna “Hūr ‘Īn” menurut Al-Qur’an: Netral, Tidak Menentukan Jenis Kelamin

Irfan Anshory menegaskan bahwa istilah hūr ‘īn sebenarnya:

🌸 Berasal dari kata ḥawar, yang maknanya adalah kejernihan, kesucian, dan kontras keindahan mata.

🌸 Bersifat netral secara gender.

🌸 Lebih tepat dipahami sebagai “pasangan/teman yang suci”, bukan “wanita surgawi”.

Quraish Shihab dalam al-Misbah menegaskan makna yang serupa. Menurut beliau:

🌸 Kata hūr tidak selalu berarti “wanita”. Ia dapat menunjuk pria maupun wanita, tergantung siapa yang sedang digambarkan sebagai penerima kenikmatan.

🌸 Fokus utamanya bukan pada kecantikan fisik, melainkan pada kesucian moral, ketenangan jiwa, dan hubungan yang harmonis dan murni.

Dengan demikian, baik Irfan Anshory maupun Quraish Shihab sama-sama menggarisbawahi bahwa penerjemahan hūr sebagai “bidadari wanita cantik” adalah penyempitan makna.

✅️ Janji Surga dalam Bahasa Manusia: Metaforis, Bukan Sensual

Irfan Anshory menekankan bahwa seluruh gambaran surga—termasuk tentang pasangan—merupakan tamsil (perumpamaan). Tujuannya agar manusia yang terbatas dapat memahami kenikmatan yang tidak bisa digambarkan secara persis.

Quraish Shihab mengatakan hal yang mirip:

🌸 Ayat-ayat tentang surga menggunakan bahasa yang mendekatkan makna, bukan menggambarkan realitas yang sebenarnya.

🌸 Deskripsi seperti sungai susu, buah yang tak habis, atau pasangan suci adalah bentuk komunikasi ilahiah dengan bahasa manusia.

🌸 Hakikat surga jauh lebih agung daripada gambaran fisik yang dibaca secara literal.

Artinya, bidadari bukan gambaran sensual, tetapi simbol kedamaian total, keindahan batin, dan hubungan tanpa konflik, yang disiapkan Allah untuk penghuni surga—baik laki-laki maupun perempuan.

✅️ “Pasangan yang Suci” sebagai Puncak Relasi Spiritual

Irfan Anshory menyoroti istilah “azwaajun muthahharah” (pasangan-pasangan yang disucikan), yang menjadi penegasan bahwa:

🌸 Yang dijanjikan di surga adalah pendamping yang suci, bukan makhluk dengan karakter fisik tertentu.

🌸 Sifat “suci” menunjukkan kondisi tanpa iri, tanpa marah, tanpa dusta—relasi yang sempurna.

Quraish Shihab memperluas makna ini:

🌸 Kenikmatan tertinggi di surga bukanlah tubuh pasangan, tetapi keterikatan batin dan kebersamaan yang utuh dan damai.

🌸 Jika seseorang telah memiliki pasangan dunia, maka Allah akan “menyempurnakan” pasangan itu untuknya di surga—bukan memberinya “makhluk baru yang asing”.

Dengan demikian, gambaran “bidadari” menjadi relasi spiritual yang murni, bukan sekadar objek visual atau sensual.

✅️ Harmonisasi Dua Sumber: Menuju Pemahaman yang Lebih Lembut dan Rasional

Jika kedua pandangan digabungkan, maka makna bidadari menjadi lebih utuh:

1. Bukan makhluk sensual yang diciptakan hanya untuk laki-laki.

2. Tetapi gambaran tentang pasangan suci, yang dapat bermakna pria atau wanita.

3. Memahami bidadari secara literal berpotensi menyempitkan pesan Al-Qur’an.

4. Gambaran surga adalah simbol yang mengisyaratkan kebahagiaan ruhani, bukan deskripsi biologis.

5. Kenikmatan akhirat tidak boleh diseret ke dalam imajinasi duniawi yang penuh syahwat.

Dengan cara ini, penafsiran modern yang ditawarkan Irfan Anshory dan Quraish Shihab saling meneguhkan: keduanya berusaha mengembalikan pemahaman umat kepada makna yang lebih luhur, lebih dalam, dan tidak terjebak pada citra sensual yang tidak sejalan dengan tujuan spiritual Al-Qur’an.

✅️ Bidadari adalah Simbol Kebahagiaan, Bukan Objek Syahwat

Melalui kombinasi dua sumber tersebut, kita mendapatkan gambaran bahwa:

🌸 Bidadari bukanlah perempuan berwujud fisik sebagaimana populer dibayangkan.

🌸 Istilah Qur’ani menunjuk pada pasangan suci, yaitu pendamping yang menghadirkan kedamaian, ketentraman, dan keindahan batin.

🌸 Tafsir klasik yang memvisualisasikannya sebagai “wanita cantik” adalah satu bentuk pendekatan, namun bukan satu-satunya.

🌸 Penafsiran Irfan Anshory dan Quraish Shihab membantu memperluas horizon sehingga maknanya lebih selaras dengan luhurnya pesan Al-Qur’an. 

WaLlahu a’lamu bishshawab

#islam #alquran #muslim #muslimah #surga #tafsirquran #bidadari #wanitacantik #logika #makhluk #ibadah #quraishshihab

CATATAN PENAMBAHAN: 

💥 AKAR KATA H-W-R: DASAR LINGUISTIK yang MENGUATKAN MAKNA "HUR" sebagai KESUCIAN, BUKAN SOSOK FISIK

Dalam bahasa Arab, banyak istilah kunci Al-Qur’an bertumpu pada akar kata yang sarat makna simbolik. 

Salah satunya adalah akar kata H–W–R (ح و ر) yang melahirkan kata hūr, istilah yang selama ini populer diterjemahkan sebagai bidadari. Padahal, jika kembali ke akar katanya, makna “hūr” jauh lebih luas dan tidak semata menunjuk pada perempuan atau makhluk sensual.

🌻 Akar Kata H–W–R dalam Bahasa Arab

Akar H–W–R (ح و ر) secara umum berarti:

🌸 kejernihan,

🌸 kemurnian,

🌸 warna yang kontras jelas,

🌸 pembersihan dari noda.

Ibn Manzur (Lisan al-‘Arab) menjelaskan bahwa ḥawar adalah perubahan dari keruh menuju jernih, dari gelap menuju terang, dari kotor menuju bersih.

Makna ini bersifat moral dan simbolik, bukan fisik.

🌻 Kata “Hūr” dalam Al-Qur’an

Dari akar ini muncullah kata:

حُورٌ (ḥūr)

yang berarti:

🌸 kejernihan mata,

🌸 kemurnian jiwa,

🌸 sosok yang “bersih dan suci”.

Ini netral gender. Tidak berarti “perempuan”.

Quraish Shihab menegaskan:

Hūr tidak menunjuk wanita, tetapi menunjuk makhluk atau pasangan dengan kesucian total.

Jadi, makna “bidadari wanita” adalah penyempitan tafsir populer, bukan makna asli bahasa.

🌻 Dengan Akar yang Sama: “Al-Ḥawāriyyūn” (12 sahabat Nabi Isa)

Para murid inti Nabi Isa disebut:

الحواريّون — al-ḥawāriyyūn

Mengapa disebut demikian?

Karena mereka adalah:

🌸 orang-orang yang dimurnikan,

🌸 penolong setia yang bersih hati,

🌸 pendukung ajaran Isa yang jernih dari syirik.

Perhatikan bahwa:

🌸 kata hūr tidak berarti “wanita”,

🌸 kata ḥawāriyyūn tidak berarti “laki-laki putih”,

keduanya merujuk pada kesucian, kemurnian, kejernihan moral.

Ini bukti kuat bahwa akar H–W–R bukan akar yang menghasilkan makna “wanita cantik”, melainkan simbol kejernihan dan kemurnian.

🌻 Dalil Linguistik yang Menguatkan Penafsiran Modern

Dengan dasar ini, kita dapat menyimpulkan:

1. Akar kata H–W–R secara konsisten bermakna kesucian.

Baik dalam “ḥawariyyūn” maupun “hūr”.

2. Tidak ada unsur gender dalam akar kata tersebut.

Ini membantah pemaknaan populer yang membatasi hūr sebagai sosok wanita.

3. Makna moral-spiritual lebih dominan daripada makna fisik.

Sejalan dengan ayat-ayat yang menggambarkan kenikmatan surga sebagai gambaran metaforis.

4. Istilah “hūr ‘īn” secara linguistik lebih dekat dengan makna “pasangan suci”

bukan “wanita cantik bermata besar”.

🌻 Fondasi Linguistik

Akar kata H–W–R adalah fondasi linguistik yang kuat untuk memahami istilah hūr sebagai:

🌸 kesucian,

🌸 kejernihan,

🌸 pembersihan dari noda internal,

🌸 pasangan yang murni dan harmonis.

Dengan demikian, dasar bahasa Arab itu sendiri sudah menunjukkan bahwa “bidadari” dalam Al-Qur’an tidak harus dimaknai sebagai makhluk wanita sebagaimana bayangan populer, melainkan simbol kesucian dan keindahan spiritual yang dibagikan kepada seluruh penghuni surga, laki-laki maupun perempuan. 

💥 MAKNA KATA ZAWJ
by Ustadz Irfan Anshory 

Di dalam Al-Qur’an terdapat keterangan bahwa orang-orang beriman dan beramal kebajikan di surga kelak akan memperoleh "azwaajun muthahharah" (Al-Baqarah 25; Ali Imran 15; An-Nisa’ 57). 

Dalam bahasa Arab istilah "azwaaj" (plural dari "zawj") tidak selalu harus berarti “istri”, melainkan dapat juga berarti “suami” atau “pasangan” atau “kelompok”, tergantung dari konteks masalahnya. 

Ada 70 ayat Al-Qur’an yang menggunakan kata "zawj" atau "azwaaj" dengan segala derivasinya. 
* pada 41 ayat istilah itu berarti “pasangan”, 
* pada 22 ayat berarti “istri”, 
* pada 3 ayat berarti “suami”,
* dan pada 4 ayat berarti “kelompok”.

🌻 ZAWJ bermakna Pasangan

Kata "zawj" atau derivasinya harus kita terjemahkan “pasangan” dalam Al-Baqarah 25, 102; Ali Imran 15; An-Nisa’ 1, 57; Al-An`am 143; At-Taubah 24, Hud 40; Ar-Ra`d 3, 23; An-Nahl 72; Thaha 53; Al-Hajj 5; Al-Mu’minun 6, 27; An-Nur 6; Al-Furqan 74; Asy-Syu`ara’ 7; Ar-Rum 21; Luqman 10; Fathir 11; Yasin 36, 56; Ash-Shaffat 22; Az-Zumar 6; Al-Mu’min 8; Asy-Syura 11, 50; Az-Zukhruf 12, 70; Ad-Dukhan 54; Qaf 7; Adz-Dzariyat 49; Ath-Thur 20; An-Najm 45; Ar-Rahman 52; At-Taghabun 14; Al-Ma`arij 30; Al-Qiyamah 39; An-Naba’ 8, dan At-Takwir 7. 

Dalam ayat-ayat di atas, kata "zawj" atau derivasinya berarti pasangan suami-istri atau pasangan yang tidak ada hubungannya dengan manusia.

🌻 ZAWJ bermakna Istri

Kata "zawj" atau derivasinya kita terjemahkan “istri” hanya dalam Al-Baqarah 35, 234, 240; An-Nisa’ 12, 20; Al-An`am 139; Al-A`raf 19; Ar-Ra`d 38; Thaha 117; Al-Anbiya’ 90; Asy-Syu`ara’ 166; Al-Ahzab 4, 6, 28, 37, 50, 53, 59; Al-Mumtahanah 11, dan At-Tahrim 1, 3, 5. 

🌻 ZAWJ bermakna Suami

Ada tiga ayat di mana "zawj" atau derivasinya justru harus kita terjemahkan “suami”, yaitu Al-Baqarah 230, 232, dan Al-Mujadilah 1. 

🌻 ZAWJ bermakna Kelompok

Akhirnya, ada empat ayat yang menggunakan "zawj" atau derivasinya dalam arti “kelompok atau jenis” yang tidak ada hubungannya dengan gender, yaitu Al-Hijr 88, Thaha 131, Shad 58, dan Al-Waqi`ah 7.

Sumber:
https://www.facebook.com/share/p/1AK2LEWZ1b/

Sunday, December 07, 2025

Refleksi dan Tanggung Jawab Negara Atas Bencana Ekologis di Sumatera



Kediri, 5 Desember 2025 – Suara lantang seruan refleksi dan kritik terhadap kebijakan lingkungan bergema dari Masjid Husnul Khotimah Muhammadiyah, Ngadisimo, Kota Kediri, Jawa Timur, dalam Khutbah Jumat (5/12/2025). Ustadz Hermanto selaku Khatib tidak hanya mengajak jamaah untuk meningkatkan ketakwaan, tetapi juga secara khusus menyoroti bencana banjir bandang dan longsor yang melanda tiga provinsi di Sumatera sebagai momentum evaluasi kolektif.

Dalam pembukaannya, khatib mengajak jamaah untuk senantiasa bertakwa sebagai benteng keselamatan. Namun, inti khutbah kemudian berfokus pada musibah yang menimpa Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara, yang disebutkan telah merenggut lebih dari 700 jiwa dan masih ada sekitar 500 orang dalam pencarian.

"Musibah bukan sekadar peristiwa alam, ia adalah ujian, peringatan, dan cermin bagi manusia," seru khatib. Islam, lanjutnya, mengajarkan untuk menghadapi musibah dengan sabar, tawakkal, dan muhasabah (introspeksi). Ia mengutip Surat Ar-Rum ayat 41, yang menyatakan bahwa kerusakan di darat dan laut terjadi akibat ulah manusia.

*Deforestasi dan Kebijakan Kapitalis Disinggung*

Khatib secara tegas menolak pandangan yang menyebut bencana murni fenomena alam. Ia merujuk data dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) yang mencatat hilangnya 1,4 juta hektare hutan di ketiga provinsi tersebut dari tahun 2016 hingga 2025. Data lain menyebutkan 10,5 juta hektare hutan hilang di Indonesia pada periode 2002-2023.

"Bencana di Sumatera bukan hanya akibat fenomena alam, tetapi buah dari kebijakan kapitalis yang mengorbankan lingkungan dan mendholimi rakyatnya," tegasnya. Ia menyoroti kebijakan yang mengizinkan pembukaan hutan untuk pertambangan, perkebunan sawit, serta lemahnya pengawasan atas perambahan dan penebangan liar. Bahkan, temuan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) disebutkannya sebagai bukti adanya kelemahan hingga praktik ilegal yang rumit.

*Tegaskan Sumber Daya Alam adalah Milik Umum*

Dari perspektif syariat Islam, khatib menegaskan prinsip dasar bahwa sumber daya alam, termasuk tambang dan hutan, adalah **milik umum** (*milkiyah ‘ammah*) yang haram dikuasai oleh individu atau korporasi swasta. Ia mengutip kaidah bahwa kaum muslimin secara bersama berhak atas tiga hal: air, padang rumput, dan api (sumber energi).

"Negara berkewajiban mengelola tambang dan hutan untuk kemaslahatan rakyat," serunya. Pengelolaan yang membahayakan masyarakat, merusak lingkungan, atau hanya mengejar keuntungan kapitalis dinilainya sebagai pelanggaran terhadap amanah. Khatib mengingatkan sabda Rasulullah SAW, "Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain."

*Seruan Perubahan Kebijakan dan Akuntabilitas Pemimpin*

Khatib menekankan bahwa bencana harus menjadi momentum bagi penguasa untuk mengoreksi dan meninggalkan kebijakan eksploitatif. Ia mengutip hadis tentang tanggung jawab pemimpin sebagai pengurus rakyat yang akan dimintai pertanggungjawaban.

"Pemimpin sebuah bangsa tidak boleh jatuh dua kali pada lubang yang sama. Bencana adalah peringatan, bukan sekadar istilah alam. Ia menghendaki perubahan arah, bukan sekadar penyesalan," pesannya lugas.

Khutbah ditutup dengan doa Al-Fatihah untuk korban bencana dan harapan agar bangsa ini dapat belajar dan keluar dari siklus bencana yang berulang. Pesan khutbah ini menegaskan peran agama bukan hanya sebagai penuntun spiritual, tetapi juga sebagai pengingat etika sosial dan lingkungan yang kritis. (*)

ISWARA Kota Pasuruan Resmi Terbentuk, Helmi Terpilih sebagai Ketua Perdana


Pasuruan, 29 November 2025 – Guna menggalang potensi ekonomi perempuan di era modern, Pimpinan Daerah 'Aisyiyah Kota Pasuruan secara resmi melantik pengurus perdana Ikatan Saudagar dan Wirausaha 'Aisyiyah (ISWARA). Acara bertema "Optimalisasi Peran Iswara Kota Pasuruan Dalam Penguatan Perekonomian Perempuan Berkemajuan" ini digelar di Aula PD Muhammadiyah, Sabtu (29/11/2025), menandai babak baru pemberdayaan wirausaha perempuan.
Setelah melalui proses pemungutan suara yang diikuti enam calon, Helmi, S.I.Kom., terpilih secara demokratis untuk memimpin organisasi ini pada periode 2025-2030. Masa jabatan pengurus ditetapkan selama lima tahun dengan maksimal dua kali periode.

Dukungan Penuh dan Arahan Strategis

Acara pelantikan ini dihadiri dan dibuka secara resmi oleh Ketua Pimpinan Daerah 'Aisyiyah Kota Pasuruan, Hj. Drh. Emilis Setyawati. Dalam sambutannya, ia menekankan signifikansi peran perempuan dalam lanskap ekonomi.

"Perempuan itu kalau kuat ekonominya, dia akan mampu menghidupi keluarganya. Maka ketika perempuan-perempuan berkecimpung di bidang ekonomi, dapat dipastikan keluarganya akan sejahtera," tegas Emilis.

Lebih lanjut, ia mendorong agar Iswara tidak terjebak dalam metode pemasaran tradisional. "Gunakan teknologi digital dan AI (Kecerdasan Buatan) untuk pemasaran, karena itu sudah disediakan dan murah. Keluar dari zona nyaman untuk melihat dunia luar," pesannya, seraya mencontohkan kemudahan pembuatan website mandiri dengan biaya terjangkau sebagai alternatif dari marketplace besar.

Struktur Kepengurusan dan Pilar Program

Bersama dengan Helmi sebagai Ketua, susunan pengurus perdana Iswara Kota Pasuruan untuk periode 2025-2030 adalah sebagai berikut:
*   *Sekretaris:* Khoiriyah Binti Atim
*   *Bendahara:* Khoiriyah binti Suud
*   *Devisi Pendidikan dan Pelatihan:* Sulis Setyawati
*   *Devisi Sosial:* Rugaiyah
*   *Devisi Rekanan:* Agustina

Organisasi ini mengusung visi untuk menciptakan wirausaha perempuan yang mandiri, kuat, berdaya saing, serta menjadi wadah inspirasi dan aspirasi. Misi strategisnya dijabarkan dalam beberapa poin, antara lain peningkatan kualitas SDM melalui pelatihan, perluasan akses pasar, dan peningkatan peran dalam pembangunan masyarakat.
Rencana Aksi Konkret: Dari Peningkatan Produk Hingga Pasar Digital

Diskusi dalam acara tersebut menghasilkan sejumlah rencana aksi konkret yang akan segera diimplementasikan. Beberapa fokus utamanya adalah:

1.  *Peningkatan Kualitas dan Daya Saing Produk:* Fokus pada standardisasi rasa, bentuk, dan kemasan produk agar layak bersaing di pasar digital global, tidak hanya secara lokal.
2.  *Akselerasi Literasi Digital:* Menyelenggarakan pelatihan intensif untuk anggota dalam menguasai pembuatan website sederhana, pemasaran via Instagram dan TikTok, serta pemanfaatan AI untuk konten dan strategi pemasaran.
3.  *Kolaborasi Platform Lokal:* Mengoptimalkan platform digital existing di lingkungan Muhammadiyah, seperti "Pasung", yang terbukti telah menjangkau konsumen hingga lintas pulau, untuk dijadikan etalase produk anggota.

Dengan struktur yang solid dan rencana kerja yang terarah, Iswara Kota Pasuruan diharapkan tidak hanya menjadi wadah berkumpul, tetapi menjadi katalisator yang mendorong kemandirian ekonomi perempuan serta berkontribusi nyata terhadap geliat perekonomian daerah di tengah tantangan era digital. (*)

Firnas Muttaqin