Tuban — Sabtu malam, 15 Agustus 2026. Masjid Al Fajri Tuban kembali menggelar pengajian rutin tafsir Al-Qur’an. Pada kesempatan tersebut, Ustadz Saiun Ngalim mengajak jamaah mendalami kandungan Surah Al-Maidah, khususnya pesan ayat tentang datangnya Rasulullah ﷺ sebagai pembawa kebenaran, fungsi Al-Qur’an sebagai petunjuk, serta penegasan kemurnian tauhid.
Dalam kajiannya, Ustadz Saiun Ngalim menekankan bahwa Al-Qur’an tidak hanya untuk dibaca, tetapi harus dipahami dan dijadikan pedoman dalam kehidupan.
«“Kalau kita benar-benar mengikuti petunjuk Allah, maka Allah akan menunjukkan jalan keselamatan. Jangan sampai kita hanya mengaku beriman, tetapi dalam kehidupan justru jauh dari petunjuk Al-Qur’an.”»
Al-Qur’an Membawa dari Kegelapan Menuju Cahaya
Salah satu ayat yang menjadi pembahasan adalah Surah Al-Maidah ayat 15–16. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
«يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِّمَّا كُنتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ ۚ قَدْ جَاءَكُم مِّنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُّبِينٌ»
«“Wahai Ahli Kitab! Sungguh, telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak hal yang kamu sembunyikan dari isi Kitab, dan banyak pula yang dibiarkannya. Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan Kitab yang jelas.”
(QS. Al-Maidah: 15)»
Dilanjutkan pada ayat 16:
«يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ»
«“Dengan Kitab itu Allah memberi petunjuk kepada orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan-jalan keselamatan, dan dengan Kitab itu pula Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya dengan izin-Nya, dan menunjukkan mereka ke jalan yang lurus.”
(QS. Al-Maidah: 16)»
Menurut Ustadz Saiun Ngalim, ayat tersebut memberikan gambaran bahwa petunjuk Allah membawa manusia keluar dari az-zulumat, yakni berbagai bentuk kegelapan berupa kekafiran, kesesatan, dan penyimpangan, menuju an-nur, yaitu keimanan, kebenaran, dan petunjuk Allah.
«“Cahaya itu adalah petunjuk Allah. Orang yang mengikuti keridaan Allah akan dibimbing menuju jalan keselamatan. Karena itu, Al-Qur’an harus menjadi pedoman, bukan hanya sekadar bacaan,” jelasnya dalam kajian.»
Meneguhkan Kemurnian Tauhid
Pembahasan kemudian berlanjut pada penegasan Al-Qur’an mengenai kedudukan Nabi Isa Alaihissalam. Dalam Surah Al-Maidah, Allah memberikan peringatan terhadap keyakinan yang menempatkan Al-Masih pada kedudukan sebagai Tuhan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
«لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۖ قُلْ فَمَن يَمْلِكُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ أَن يُهْلِكَ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ وَمَن فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ۗ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ»
«“Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putra Maryam.’ Katakanlah, ‘Siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia hendak membinasakan Al-Masih putra Maryam beserta ibunya dan seluruh manusia yang berada di bumi?’ Dan milik Allah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”
(QS. Al-Maidah: 17)»
Ayat tersebut menjadi dasar pembahasan mengenai kekuasaan mutlak Allah. Seluruh makhluk berada di bawah kehendak dan kekuasaan-Nya, termasuk Nabi Isa Alaihissalam yang merupakan hamba dan utusan Allah.
Ustadz Saiun Ngalim mengingatkan jamaah agar senantiasa menjaga akidah dan tidak mencampurkan keyakinan tauhid dengan pemahaman yang bertentangan dengan Al-Qur’an.
«“Yang berkuasa atas kehidupan dan kematian adalah Allah. Semua makhluk adalah hamba Allah. Karena itu, jangan sampai kita salah menempatkan siapa yang harus kita sembah dan siapa yang harus kita ikuti,” tuturnya.»
Kemuliaan Bukan Karena Klaim, tetapi Ketakwaan
Kajian juga menyinggung klaim sebagian Ahli Kitab yang merasa memiliki kedudukan khusus di sisi Allah. Al-Qur’an mengingatkan bahwa manusia tidak dapat menentukan sendiri kedudukan mereka di hadapan Allah hanya berdasarkan klaim atau keturunan.
Pesan tersebut menjadi pelajaran penting bagi umat Islam agar tidak merasa lebih tinggi dari orang lain hanya karena identitas, kelompok, atau status sosial.
Pada akhirnya, kajian Surah Al-Maidah di Masjid Al Fajri Tuban tersebut mengajak jamaah untuk kembali kepada tiga hal utama: memegang teguh tauhid, menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk, dan menjalankan kehidupan sesuai dengan keridaan Allah.
Kajian ditutup dengan penguatan bahwa iman harus diwujudkan dalam kehidupan nyata. Al-Qur’an bukan sekadar dibaca, tetapi dipahami, diamalkan, dan dijadikan pedoman untuk menapaki jalan keselamatan.
Penulis: Firnas Muttaqin
No comments:
Post a Comment