TUBAN – Ustadz Saiun Ngalim mengajak jamaah untuk mengambil pelajaran dari kisah-kisah yang terdapat dalam Surah Al-Maidah dalam pengajian Sabtu malam di Masjid Al Fajri Tuban, Sabtu (29/8/2026).
Dalam kajian tersebut, Ustadz Saiun membahas sejumlah peristiwa penting yang mengandung pelajaran tentang ketaatan kepada Allah SWT, akibat pembangkangan terhadap perintah-Nya, pentingnya ketakwaan, hingga larangan melakukan kekerasan dan pembunuhan.
Salah satu kisah yang dikaji adalah perjalanan Nabi Musa AS bersama kaumnya. Ustadz Saiun menjelaskan tentang sikap Nabi Musa yang memohon pertolongan kepada Allah SWT ketika menghadapi kaumnya yang membangkang dan enggan melaksanakan perintah-Nya.
Hal tersebut sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Maidah ayat 25, ketika Nabi Musa AS berdoa kepada Allah SWT:
«“Qāla rabbī innī lā amliku illā nafsī wa akhī fafruq bainanā wa bainal-qaumil-fāsiqīn.”»
Artinya: “Dia (Musa) berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Karena itu, pisahkanlah antara kami dan kaum yang fasik itu.’”
Ustadz Saiun menjelaskan, doa tersebut menunjukkan bahwa Nabi Musa AS telah menghadapi penolakan dan pembangkangan dari kaumnya. Ketika berbagai upaya telah dilakukan, Nabi Musa menyerahkan persoalan tersebut kepada Allah SWT.
“Dengan kalimat ini mengandung pengertian Nabi Musa itu sudah tidak mampu lagi menghadapi kaumnya yang membangkang. Nabi Musa kemudian menyerahkan persoalan itu kepada Allah,” ujar Ustadz Saiun dalam kajiannya.
Sikap pembangkangan tersebut, lanjutnya, membawa konsekuensi berat bagi kaum Bani Israil. Mereka yang diperintahkan untuk memasuki negeri yang telah ditentukan bagi mereka justru menunjukkan ketakutan dan penolakan.
Akibat pembangkangan itu, Allah SWT memberikan hukuman sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Maidah ayat 26:
«“Qāla fa innahā muharramatun ‘alaihim arba‘īna sanatan yatīhūna fil-ardhi falā ta’sa ‘alal-qaumil-fāsiqīn.”»
Artinya: “Allah berfirman, ‘Sesungguhnya negeri itu terlarang bagi mereka selama empat puluh tahun. Mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi itu. Maka janganlah engkau bersedih hati terhadap kaum yang fasik itu.’”
“Selama 40 tahun mereka berada dalam keadaan kebingungan. Ini sebagai balasan atas sikap mereka yang tidak mau menjalankan perintah Allah,” jelasnya.
Menurut Ustadz Saiun, kisah tersebut menjadi pelajaran penting bahwa perintah Allah harus disikapi dengan keimanan, ketaatan, dan keberanian. Seorang mukmin tidak semestinya membangkang ketika telah mengetahui suatu perintah yang datang dari Allah SWT.
Selain mengulas kisah Nabi Musa AS, Ustadz Saiun Ngalim juga membahas kisah dua putra Nabi Adam AS, yang dalam khazanah Islam dikenal sebagai Qabil dan Habil. Kisah tersebut dijelaskan dalam Surah Al-Maidah ayat 27.
Dalam ayat tersebut, Allah SWT menceritakan tentang dua putra Adam yang sama-sama mempersembahkan kurban, namun hanya kurban salah seorang di antara keduanya yang diterima.
Allah SWT berfirman:
«“Watlu ‘alaihim naba’a ibnai Ādama bil-haqqi idz qarrabā qurbānan fatuqubbila min ahadihimā wa lam yutaqabbal minal-ākhar. Qāla la aqtulannak. Qāla innamā yataqabbalullāhu minal-muttaqīn.”»
Artinya: “Bacakanlah kepada mereka berita tentang dua putra Adam dengan sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, lalu diterima dari salah seorang di antara keduanya dan tidak diterima dari yang lain. Dia berkata, ‘Sungguh, aku pasti akan membunuhmu.’ Dia menjawab, ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.’”
Ustadz Saiun menjelaskan bahwa ayat tersebut mengajarkan pentingnya ketakwaan sebagai dasar diterimanya amal seseorang di sisi Allah SWT.
“Allah hanya menerima kurban dari orang-orang yang bertakwa,” terang Ustadz Saiun, mengutip kandungan Surah Al-Maidah ayat 27.
Menurutnya, diterima atau tidaknya suatu amal bukan semata-mata ditentukan oleh bentuk lahiriahnya. Ketakwaan dan keikhlasan dalam menjalankan perintah Allah menjadi bagian penting dalam setiap amal yang dilakukan seorang hamba.
Penolakan kurban itu kemudian memunculkan rasa iri dan dengki dalam diri Qabil. Ia bahkan mengancam akan membunuh saudaranya. Namun, Habil memberikan jawaban yang menunjukkan keteguhan iman dan rasa takut kepada Allah SWT.
Sikap tersebut dijelaskan dalam Surah Al-Maidah ayat 28:
«“La’in basathta ilayya yadaka litaqtulanī mā ana bibāsithin yadiya ilaika li-aqtulaka innī akhāfullāha rabbal-‘ālamīn.”»
Artinya: “Sungguh, jika engkau mengulurkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan mengulurkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam.”
Ustadz Saiun menjelaskan, meskipun Qabil mengancam akan mengulurkan tangan untuk membunuh, Habil tidak membalas ancaman tersebut dengan ancaman yang sama.
“Kalau kamu mengulurkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, maka aku tidak akan mengulurkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam,” tuturnya saat menjelaskan sikap Habil.
Menurutnya, jawaban Habil tersebut mengandung pelajaran besar tentang pengendalian diri. Kejahatan tidak seharusnya dibalas dengan kejahatan, terlebih sampai menghilangkan nyawa seseorang.
“Ini menunjukkan bagaimana seseorang yang benar-benar takut kepada Allah mampu menguasai dirinya. Walaupun diancam, dia tidak kemudian membalas dengan melakukan kejahatan yang sama,” ungkap Ustadz Saiun.
Ia juga mengingatkan jamaah tentang bahaya iri hati, dengki, dan kemarahan yang tidak dikendalikan. Perasaan tersebut, apabila dibiarkan menguasai diri seseorang, dapat mendorong lahirnya tindakan-tindakan yang bertentangan dengan ajaran agama.
Kisah Qabil dan Habil, menurutnya, menjadi peringatan bahwa persoalan dapat bermula dari hati yang tidak mampu menerima ketentuan Allah. Ketika rasa dengki dibiarkan tumbuh, seseorang dapat kehilangan kemampuan untuk membedakan antara kebenaran dan kesalahan.
Kisah tersebut berlanjut dalam Surah Al-Maidah hingga ayat-ayat berikutnya, yang menggambarkan bagaimana hawa nafsu akhirnya mendorong salah seorang dari keduanya melakukan pembunuhan terhadap saudaranya. Dari peristiwa itu, Al-Qur’an memberikan peringatan besar tentang akibat buruk iri hati, kedengkian, dan ketidakmampuan mengendalikan hawa nafsu.
Ustadz Saiun juga menyinggung bahaya pertikaian dan kekerasan di antara sesama Muslim. Ia mengingatkan agar umat Islam tidak mudah dikuasai amarah hingga saling menyerang dan menyakiti.
“Kalau ada dua orang Muslim bertemu kemudian saling membunuh, persoalan ini sangat berat di hadapan Allah. Karena itu, jangan sampai kemarahan dan hawa nafsu menguasai diri kita,” pesannya.
Ia menambahkan, seseorang harus mampu mengendalikan hawa nafsunya ketika menghadapi persoalan. Jangan sampai kemarahan sesaat justru mendorong seseorang melakukan tindakan yang akan disesali sepanjang hidup.
“Yang harus kita kuasai adalah diri kita sendiri. Jangan sampai perasaan, kemarahan dan hawa nafsu menguasai kita,” tegasnya.
Melalui pengajian Surah Al-Maidah tersebut, Ustadz Saiun mengajak jamaah menjadikan kisah-kisah dalam Al-Qur’an bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan sebagai pelajaran yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kisah Nabi Musa AS dalam Surah Al-Maidah ayat 25–26 mengajarkan tentang akibat pembangkangan terhadap perintah Allah. Sementara kisah dua putra Nabi Adam AS yang dikenal sebagai Qabil dan Habil dalam Surah Al-Maidah ayat 27–28, serta kelanjutan kisahnya pada ayat-ayat berikutnya, mengingatkan tentang pentingnya ketakwaan, bahaya iri dan dengki, serta kewajiban mengendalikan hawa nafsu.
Ketaatan kepada Allah, ketakwaan dalam beramal, kemampuan mengendalikan hawa nafsu, serta menjauhi iri, dengki, dan kekerasan menjadi pesan utama yang disampaikan dalam pengajian Sabtu malam di Masjid Al Fajri Tuban itu.
“Al-Qur'an ini bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk diambil pelajarannya. Kisah-kisah yang disampaikan Allah kepada kita harus menjadi peringatan agar kita tidak mengulangi kesalahan umat terdahulu,” pungkas Ustadz Saiun.
Pengajian tersebut diharapkan dapat menambah pemahaman keagamaan jamaah sekaligus memperkuat kesadaran untuk menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Penulis: FIRNAS MUTTAQIN
No comments:
Post a Comment