Saturday, August 22, 2026

Kajian Surah Al-Mā’idah Ayat 20–24: Keteguhan Iman dan Keberanian Menghadapi Ujian

Tuban, 22 Agustus 2026 — Kajian tafsir Al-Qur’an di Masjid Al-Fajri, Tuban, Sabtu malam (22/8/2026), bersama Ustadz Saiun Ngalim, mengangkat pembahasan Surah Al-Mā’idah ayat 20–24. Kajian tersebut mengulas kisah Nabi Musa a.s. dan Bani Israil ketika diperintahkan memasuki tanah suci, sekaligus menggali pelajaran tentang keberanian, ketaatan, dan keteguhan dalam menjalankan perintah Allah.

Dalam kajiannya, Ustadz Saiun Ngalim terlebih dahulu mengaitkan pembahasan dengan kisah yang menjadi latar belakang nama Surah Al-Mā’idah, yakni permohonan kaum Hawariyyun kepada Nabi Isa a.s. agar Allah menurunkan hidangan dari langit. Peristiwa tersebut menjadi salah satu gambaran tentang besarnya nikmat dan tanda kekuasaan Allah kepada manusia.

Pembahasan kemudian berlanjut pada kisah Nabi Musa a.s. dan Bani Israil. Setelah diselamatkan Allah dari kejaran Firaun dan diberikan berbagai nikmat, termasuk manna dan salwa, Bani Israil justru menunjukkan sikap kurang bersyukur dengan meminta berbagai jenis makanan yang biasa mereka dapatkan di bumi.

Perintah Memasuki Tanah Suci

Memasuki inti kajian, Ustadz Saiun Ngalim menjelaskan Surah Al-Mā’idah ayat 21, ketika Nabi Musa a.s. memerintahkan kaumnya untuk memasuki tanah suci yang telah ditetapkan Allah bagi mereka.

Menurut penjelasan dalam kajian, tanah suci tersebut berkaitan dengan kawasan Baitul Maqdis dan wilayah Syam. Namun, ketika diperintahkan untuk masuk, Bani Israil justru diliputi ketakutan karena melihat adanya kaum yang dianggap kuat dan gagah perkasa.

Sikap tersebut digambarkan dalam Surah Al-Mā’idah ayat 22, ketika mereka mengatakan bahwa mereka tidak akan memasuki wilayah tersebut sebelum kaum yang mereka takuti itu keluar dari sana.

Ustadz Saiun Ngalim menekankan bahwa rasa takut yang berlebihan dapat membuat seseorang kehilangan keberanian untuk menjalankan kebenaran. Menurutnya, ukuran kekuatan manusia tidak semata-mata terletak pada fisik, jumlah, maupun perlengkapan, tetapi juga pada keberanian dan keteguhan hati yang bersandar kepada Allah.

Dua Orang yang Mengajak Berani

Di tengah ketakutan Bani Israil, terdapat dua orang yang menunjukkan sikap berbeda. Keduanya mengajak kaumnya untuk memasuki wilayah tersebut melalui pintu gerbang dan bersandar kepada pertolongan Allah.

Pesan utama yang ditekankan adalah pentingnya tawakal yang disertai keberanian dan ikhtiar. Keimanan tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan dalam keberanian menjalankan perintah Allah.

Namun, ajakan tersebut tidak mampu mengubah sikap mayoritas Bani Israil. Dalam Surah Al-Mā’idah ayat 24, mereka bahkan mengatakan kepada Nabi Musa a.s. agar pergi bersama Tuhannya untuk berperang, sementara mereka memilih tetap tinggal.

Sikap pembangkangan tersebut menjadi pelajaran penting tentang akibat ketika manusia lebih memilih rasa takut daripada ketaatan.

Perbandingan dengan Perjuangan Para Sahabat

Dalam kajian tersebut, Ustadz Saiun Ngalim juga mengaitkan kisah Bani Israil dengan sikap para sahabat Nabi Muhammad ﷺ, khususnya dalam menghadapi Perang Badar.

Kaum Muslimin ketika itu menghadapi kekuatan Quraisy dengan jumlah yang jauh lebih besar. Namun, para sahabat menunjukkan sikap berbeda dari Bani Israil. Mereka tidak memilih duduk dan menyerahkan perjuangan kepada orang lain, tetapi menyatakan kesiapan untuk mengikuti perintah Rasulullah ﷺ.

Dari perbandingan tersebut, jamaah diajak memahami bahwa kemenangan bukan hanya ditentukan oleh jumlah dan kekuatan fisik. Keimanan, ketaatan, keberanian, ikhtiar, dan tawakal kepada Allah menjadi modal penting dalam menghadapi berbagai ujian.

Relevansi bagi Kehidupan Bangsa Indonesia

Kajian kemudian dikaitkan dengan perjalanan bangsa Indonesia dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Semangat perjuangan para pahlawan dan pendiri bangsa menunjukkan bahwa kemerdekaan tidak diperoleh dengan sikap pasif, tetapi melalui keberanian, pengorbanan, persatuan, dan doa kepada Allah SWT.

Hal tersebut tercermin dalam Pembukaan UUD 1945 melalui kalimat, “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa...”

Menurut pesan yang disampaikan dalam kajian, kalimat tersebut mengingatkan bahwa perjuangan manusia harus berjalan bersama ikhtiar dan tawakal. Pertolongan Allah diharapkan oleh mereka yang bersungguh-sungguh berjuang, bukan mereka yang memilih menyerah sebelum menghadapi tantangan.

Kajian Surah Al-Mā’idah ayat 20–24 tersebut akhirnya mengajak jamaah untuk tidak mudah takut menghadapi persoalan, tidak menyerah sebelum berusaha, serta senantiasa menjadikan Allah sebagai tempat bersandar.

Penulis: Firnas Muttaqin

No comments: