Sunday, August 30, 2026

Ustadz Saiun Ngalim Kupas Proses Penciptaan Manusia hingga Kehidupan Akhirat dalam Kajian Tafsir Jalalain


TUBAN – Ustadz Saiun Ngalim mengajak jamaah untuk merenungkan asal-usul penciptaan manusia, tujuan hidup di dunia, hingga kepastian kematian dan kebangkitan pada hari kiamat dalam pengajian rutin di Masjid Ad Dakwah, Perunggahan Kulon, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Ahad (30/8/2026).
Dalam kajian tersebut, Ustadz Saiun Ngalim membahas Tafsir Jalalain Surah Al-Mu'minun ayat 12 hingga 18 dengan tema Proses Kejadian Manusia dan Akhir Kehidupannya. Rangkaian ayat itu menjelaskan kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam menciptakan manusia, mengatur kehidupan, serta membangkitkan kembali seluruh manusia untuk menjalani hisab dan menerima balasan atas amal perbuatannya.

Kajian diawali dengan penjelasan firman Allah dalam Surah Al-Mu'minun ayat 12 mengenai penciptaan manusia pertama, Nabi Adam, dari saripati tanah.

"Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah," demikian makna firman Allah dalam ayat tersebut.

Ustadz Saiun menjelaskan bahwa setelah penciptaan Nabi Adam, keturunannya berkembang melalui proses yang telah ditetapkan Allah. Sebagaimana dijelaskan dalam ayat berikutnya, manusia berasal dari nutfah atau air mani yang ditempatkan dalam tempat yang kokoh, yakni rahim.

Selanjutnya, Surah Al-Mu'minun ayat 14 menjelaskan tahapan penciptaan manusia, mulai dari nutfah, kemudian menjadi alaqah, berkembang menjadi mudghah, lalu terbentuk tulang-belulang yang dibungkus dengan daging hingga akhirnya menjadi makhluk dalam bentuk yang sempurna.

Menurut Ustadz Saiun, rangkaian proses tersebut seharusnya menjadi bahan renungan bagi manusia tentang betapa besar kekuasaan Allah dalam menciptakan kehidupan.

"Jadi, itu proses kejadian kita sebagai manusia. Dari tidak ada kemudian menjadi ada, berada di alam rahim ibu kita masing-masing, kemudian lahir dan hidup di dunia," ujarnya di hadapan jamaah.

Ia juga menjelaskan bahwa dalam penafsiran ayat tersebut terdapat pembahasan mengenai perbedaan bacaan atau qiraat pada beberapa lafaz Al-Qur'an. Hal itu, menurutnya, menunjukkan kekayaan khazanah keilmuan Islam sekaligus pentingnya memahami Al-Qur'an melalui penjelasan para ulama.

Setelah menjelaskan proses penciptaan manusia, Ustadz Saiun mengajak jamaah untuk memperhatikan kelanjutan firman Allah dalam ayat ke-15.

"Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati."

Menurutnya, kematian merupakan kepastian yang tidak dapat dihindari oleh siapa pun. Setiap manusia yang telah hidup di dunia pada akhirnya akan kembali menghadapi kematian, tanpa memandang kedudukan, usia maupun keadaan.

"Setiap yang bernyawa pasti akan mati. Kita semua sebelum lahir tidak ada, kemudian Allah menghidupkan kita di alam rahim, lahir ke dunia, dan setelah itu pasti mati," tuturnya.

Namun, menurut Ustadz Saiun, kematian bukanlah akhir dari seluruh perjalanan manusia. Berdasarkan Surah Al-Mu'minun ayat 16, setelah kematian manusia akan dibangkitkan kembali pada hari kiamat.

"Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan pada hari kiamat," demikian kandungan ayat tersebut.

Ia menjelaskan, kebangkitan itu menjadi awal kehidupan berikutnya, ketika seluruh manusia menjalani perhitungan atau hisab atas semua perbuatan yang telah dilakukan selama hidup di dunia.

"Setelah mati, kita akan hidup lagi. Tetapi bukan untuk beribadah seperti sekarang. Kita dibangkitkan untuk menjalani hisab dan menerima balasan dari setiap perbuatan yang telah kita kerjakan," jelasnya.

Dalam penjelasannya, Ustadz Saiun menghubungkan pembahasan tersebut dengan perjalanan hidup manusia, mulai dari tidak ada, kemudian hidup di alam rahim, menjalani kehidupan dunia, mengalami kematian, lalu dibangkitkan kembali pada hari kiamat.

Dari perjalanan tersebut, ia mengajak jamaah memiliki kesadaran tentang posisi manusia selama menjalani kehidupan di dunia. Menurutnya, manusia perlu memahami dari mana dirinya berasal, untuk apa diciptakan, apa yang harus dilakukan selama hidup, serta ke mana tujuan akhir setelah kehidupan dunia.

Ia kemudian menyampaikan pentingnya memiliki beberapa kesadaran dalam menjalani kehidupan. Pertama adalah sadar diri, yakni menyadari tujuan penciptaan manusia oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Ustadz Saiun menerangkan bahwa manusia dan jin diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Ibadah, menurutnya, tidak hanya terbatas pada ibadah mahdhah seperti salat, puasa dan ibadah yang tata caranya telah ditentukan secara khusus oleh agama.

Lebih luas, berbagai aktivitas kehidupan yang dilakukan dengan niat dan cara yang benar juga dapat menjadi bagian dari pengabdian kepada Allah.

"Bekerja, mencari nafkah, menolong dan bersilaturahmi, semuanya bisa menjadi bagian dari ibadah apabila dilakukan sesuai dengan ketentuan Allah," katanya.

Kesadaran berikutnya adalah memahami kedudukan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Manusia, menurutnya, memiliki tanggung jawab untuk mengelola dan memakmurkan kehidupan, bukan justru membuat kerusakan.

"Kita diciptakan Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi. Artinya, kita harus mengurus dan memakmurkan, tidak boleh membuat kerusakan," tegasnya.

Ustadz Saiun juga menekankan pentingnya kesadaran bahwa kehidupan dunia hanya bersifat sementara. Manusia saat ini berada dalam fase kehidupan dunia yang suatu saat akan berakhir dengan kematian.

"Posisi kita sekarang berada di dunia. Setelah ini kita akan mati, kemudian dibangkitkan lagi, dan setelah itu kita akan menerima balasan dari apa yang telah kita lakukan," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, ia mengingatkan jamaah agar tidak menjalani hidup tanpa memikirkan akibat dari setiap perbuatan. Setiap amal, baik maupun buruk, akan memperoleh balasan.

Ia mengutip pesan Rasulullah SAW yang pada intinya mengingatkan manusia untuk menjalani kehidupan sesuai kehendaknya, tetapi tetap menyadari bahwa kematian pasti datang dan setiap perbuatan akan mendapatkan balasan.

Menurutnya, manusia bebas menentukan jalan hidup, apakah memilih melakukan kebaikan atau keburukan. Namun, kebebasan tersebut tetap diikuti dengan tanggung jawab karena seluruh perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

"Kerjakanlah apa yang kamu sukai, tetapi kamu pasti akan mendapatkan balasan dari semua perbuatan itu. Karena itu, setiap akan melakukan sesuatu harus dipikirkan akibatnya," pesannya.

Ustadz Saiun menegaskan bahwa kesadaran terhadap kematian bukan berarti membuat manusia takut menjalani kehidupan. Justru, kepastian kematian seharusnya mendorong setiap orang untuk menggunakan kesempatan hidup dengan sebaik-baiknya.

"Hidup hanya sekali. Hiduplah dengan benar, berani hidup dan tidak takut mati. Karena orang hidup pasti akan mati. Yang terpenting adalah apa yang kita lakukan sebelum kematian itu datang," ungkapnya.

Di akhir kajian, ia mengajak jamaah untuk menjalani kehidupan dengan penuh keikhlasan, memperbanyak amal saleh dan selalu menyerahkan hasil dari setiap usaha kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Ia juga mengingatkan bahwa seluruh ibadah, kehidupan dan kematian manusia pada hakikatnya hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam.

Dengan memahami proses penciptaan manusia dan perjalanan kehidupannya, Ustadz Saiun berharap jamaah semakin menyadari tujuan keberadaan manusia di dunia. Kesadaran tersebut diharapkan dapat mendorong setiap muslim untuk memperbaiki amal, menjaga kehidupan dengan baik, menjalankan tugas sebagai hamba Allah dan khalifah di bumi, serta mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah kematian.

Penulis: FIRNAS MUTTAQIN

No comments: