Tuesday, February 05, 2013

Cerita Musso, tokoh PKI yang ternyata anak kiai besar

Temuan baru muncul mengungkap siapa sebenarnya Musso atau Munawar Musso alias Paul Mussote (nama ini tertulis dalam novel fiksi Pacar Merah Indonesia karya Matu Mona), tokoh komunis Indonesia yang memimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) pada era 1920-an. Nama Musso terus berkibar hingga pemberontakan Madiun 1948.

Musso dilahirkan di Kediri, Jawa Timur 1897. Sering disebut-sebut, Musso adalah anak dari Mas Martoredjo, pegawai kantoran di Kediri. Penelusuran merdeka.com mengungkap cerita lain, bahwa Musso ternyata putra seorang kiai besar di daerah Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Kiai besar itu adalah KH Hasan Muhyi alias Rono Wijoyo, seorang pelarian pasukan Diponegoro.

Kabar bahwa Musso diragukan sebagai anak Mas Martoredjo muncul dari informasi awal Ning Neyla Muna (28), keluarga Ponpes Kapurejo, Pagu, Kediri yang menyebut Musso itu adalah keluarga mereka.

Sulit untuk dipercayai, jika Musso anak pegawai kantoran biasa di desa, bisa menjadi pengikut Stalin dan fasih berbahasa Rusia. Bahkan untuk berteman dengan Stalin dan bisa melakukan aktivitasnya yang menjelajah antarnegara hanya bisa dilakukan oleh orang-orang kaya di masa itu.

Kalau bukan anak orang berpengaruh, sulit pula baginya menjadi pengurus Sarekat Islam pimpinan H.O.S Tjokroaminoto. Selain di Sarekat Islam, Musso juga aktif di ISDV (Indische Sociaal-Democratishce Vereeniging atau Persatuan Sosial Demokrat Hindia Belanda).

Saat di Surabaya Musso pernah kos di Jl. Peneleh VII No. 29-31 rumah milik HOS Tjokroaminoto, guru sekaligus bapak kosnya. Selain Musso di rumah kos itu juga ada Soekarno, Alimin, Semaun, dan Kartosuwiryo.

Musso, Alimin, dan Semaun dikenal sebagai tokoh kiri Indonesia. Sedangkan nama yang terakhir, menjelma menjadi tokoh Darul Islam, ekstrem kanan. Mereka dicatat dalam sejarah perjalanan revolusi di Indonesia.

Saat kos itu, Musso menjadi salah seorang sumber ilmu Bung Karno dalam setiap percakapan. Seperti misalnya saat Musso menyoal penjajahan Belanda, "Penjajahan ini membuat kita menjadi bangsa kuli dan kuli di antara bangsa-bangsa."

Merdeka.com menemui KH Mohammad Hamdan Ibiq, pengasuh Ponpes Kapurejo, Pagu Kediri untuk bertanya tentang siapa Musso. "Saya hanya mengetahui Musso memang keluarga besar Ponpes Kapurejo, namun yang paham itu adalah KH Muqtafa, paman kami. Yang saya pahami Musso itu anak gawan (bawaan), jadi saat KH Hasan Muhyi menikahi Nyai Juru, Nyai Juru sudah memiliki putra salah satunya Musso. Makam keduanya berada di komplek Pondok Pesantren Kapurejo," kata Gus Ibiq paggilan akrab KH Hamdan Ibiq, akhir bulan lalu.

Penelusuran dilanjutkan ke rumah KH Muqtafa di Desa Mukuh, Kecamatan Kayen Kidul, Kabupaten Kediri. Tiba di rumah KH Muqtafa, si empunya rumah tampak sedang asyik mutholaah kitab kuning (membaca dan memahami kitab kuning) tepat di depan pintu rumahnya.

Setelah mengucapkan salam dan dijawab, kemudian Kyai Tafa mempersilakan masuk. Rumah lelaki pensiunan pegawai Departemen Agama ini tampak asri, tembok warna putih dan ada bagian gebyog kayu jati yang menandakan pemiliknya orang lama. Ditambah beberapa hiasan kaligrafi Arab yang ditulis dengan indah menempel di antara dinding rumahnya. Selanjutnya Kiai Tafa masuk ke rumah induk dan berganti pakaian yang semata-mata dia lakukan untuk menghormati tamunya.

Lima menit berlalu, Kiai Tafa keluar dan menanyakan maksud kedatangan. Sebelumnya lelaki yang sudah tampak uzur ini menyatakan meski keturunan keluarga pesantren, dia tak memiliki santri. Sebab dia harus menjadi pegawai negeri dan berpindah-pindah tempat.

"Mau bagaimana lagi memang harus seperti itu," kata Kiai Tafa membuka perbincangan.

Setelah mengutarakan maksud dan tujuan untuk mengetahui sejarah Ponpes Kapurejo, kemudian penuh semangat, Kiai Tafa menjelaskan secara gamblang dengan suara yang sangat berwibawa.

Belum membuka pembicaraan tentang Musso, merdeka.com hanya ingin mengetahui arah pembicaraannya seperti yang disampaikan Gus Ibiq, bahwa Kyai Tafa –lah yang menjadi kunci silsilah keluarga Pondok Pesantren, Kapurejo.

"KH Hasan Muhyi itu orang Mataram, sebenarnya namanya adalah Rono Wijoyo. Beliaulah pendiri Pondok Pesantren Kapurejo. Beliau menikah sebanyak tiga kali, istri pertamanya adalah Nyai Juru. Dari pernikahannya yang pertama itu KH Hasan Muhyi diberikan 12 putra. Dan maaf salah satunya mungkin orang mengenal dengan nama Musso," ujar Kiai Tafa yang sedikit canggung ketika menyebut nama Musso.

Meski canggung, Kiai Tafa kembali menegaskan itulah fakta sejarah. "Mau bagaimana lagi itulah fakta sejarah," tukasnya.

[tts]


Tuesday, January 15, 2013

Innalillahi, Prof Zakiah Daradjat Wafat


REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Pakar psikologi Islam, Prof Zakiah Daradjat tutup usia, Selasa (15/1) sekitar pukul 09.00.

Guru besar UIN Jakarta itu wafat saat dirawat di RS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada usia 83 tahun.

Kabar wafatnya tokoh Muslimah terkemuka di Tanah Air itu juga ramai di twiter. ''Telah berpulang ke Rahmatullah Prof. DR. Zakiah Daradjat hari ini, Selasa 15 Januari 2013 pukul. 09.00 di RS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,'' tulis Nurfi Laila Hs dalam akun twitternnya.

Prof Zakiah Daradjat sempat mengalami  kritis dan menjalani perawatan di RS Hermina, Jakarta Selatan, pertengahan Desember 2012.

Redaktur: Heri Ruslan
 

Selasa, 15 Januari 2013, 10:58 WIB

Mengenang Zakiah Daradjat: Ulama Wanita Pertama yang Menjadi Ketua MUI

REPUBLIKA.CO.ID, Banyak orang terkejut, termasuk dirinya sendiri ketika namanya disebut K.H. Hasan Basri menjadi salah seorang ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI). Beberapa menit sebelum pembacaan nama-nama pengurus pusat MUI, beberapa ibu yang aktif mengikuti jalannya Munas MUI memberi selamat kepada dirinya.
''Saya sampai terheran-heran, ada apa ya kok saya diberi selamat?'' kata Prof. Dr. Hj. Zakiah Daradjat mengenang suasana saat itu.

Zakiah sendiri mengaku tak tahu persis kenapa dirinya terpilih sebagai salah seorang pengurus inti MUI pusat. ''Mungkin karena persoalan wanita sudah demikian penting untuk ditangani, dan untuk itu perlu seorang wanita,'' kata psikolog lulusan Universitas Ain Syams Kairo ini kepada Muarif dari Republika, yang menemuinya di kediamannya, Kompleks Wisma Sejahtera, Jalan Fatmawati 6, Jakarta, Rabu (2/8) lalu.

Ketua Umum MUI K.H. Hasan Basri kepada Republika menjelaskan, usulan agar salah seorang ketua MUI dari kalangan wanita datang dari berbagai pihak. Pada mulanya diusulkan tiga nama: Dra. Hajah Tutty Alawiyah (pimpinan Perguruan Islam Asy-Syafiiyah, Jakarta), Dra. Hajah Siti Suryani Thahir (pimpinan Perguruan Islam Attahiriyah, Jakarta), dan Prof. Dr. Zakiah Daradjat sendiri. Namun setelah melalui berbagai musyawarah, terpilihlah Zakiah. Sedang kedua nama lainnya diposisikan sebagai anggota pengurus MUI.

Menurut Zakiah, jabatannya yang baru sebagai ketua MUI tidak akan mengganggu aktivitasnya di klinik konsultasinya, menjadi guru besar IAIN Jakarta, dan jabatannya sebagai Ketua Perhimpunan Wanita Alumni Timur Tengah. Berikut petikan wawancara dengannya tentang berbagai hal, termasuk pandangannya tentang peran wanita Islam sesudah 50 tahun Indonesia merdeka.

Bagaimana perasaan Anda ketika terpilih menjadi ketua MUI?
Saya bersyukur kepada masyarakat dan ulama yang dapat menerima salah seorang pimpinan MUI itu wanita. Ini penting karena tradisi ini bukan hanya pertama di Indonesia, namun juga pertama di dunia. Saya gembira juga terharu bahwa di Indonesia wanita sudah disejajarkan dengan pria dalam soal ini. Apalagi, usulan ketua wanita datangnya dari kalangan ulama pria. Saya tidak pernah mengusulkan diri, apalagi selama ini saya sudah duduk menjadi anggota.

Menurut Anda, apakah ada alasan tertentu kenapa baru sekarang ketua MUI dari kalangan wanita?

Wanita itu punya cukup peran penting dalam negara ini. Kerangka pembangunan agama sudah cukup baik, tapi kenapa tidak ada pengurus wanita. Barangkali begitu perkiraan saya.

Jadi, ketua MUI perempuan itu bukan usulan dari organisasi wanita Islam?

Tidak. Tidak ada yang menuntut. Oleh karena itu saya tidak punya persangkaan. Apalagi ketika itu saya ikut dalam salah satu sidang komisi. Ada empat komisi yang bersidang saat itu dan masing-masing bersidang di tempat yang berbeda. Yang saya tahu, ada sidang formatur yang diketuai oleh Pak Menteri Agama. Itu saja.

Atau karena sebelum ini, konsentrasi MUI masih kepada masalah laki-laki, sehingga belum merasa perlu memposisikan perempuan sebagai ketua MUI?

Ada yang sudah punya perhatian. Tapi, masih banyak ulama yang merasa bahwa wanita belum cukup mampu untuk menjadi ketua.

Lalu, menurut Anda, apakah sudah apa perubahan berpikir pada kalangan ulama pria itu?
Beberapa tahun belakangan ini wanita cukup gencar dalam pendidikan agama dan penyiaran agama. Utamanya bergerak dalam majelis taklim. Di Jakarta saja jumlahnya lebih dari 10 ribu, belum lagi di daerah-daerah. Jadi, kegiatan wanita di segala bidang itu semakin tampak. Ini barangkali yang membuat ulama pria itu semakin sadar.

Bagi Anda, apakah pemilihan Anda menjadi salah satu ketua MUI merupakan bentuk dari emansipasi?

Islam itu tidak mengenal emansipasi. Islam itu memberikan kepada wanita hak dan kewajibannya yang jelas. Dalam hal-hal yang bersifat umum itu haknya sama dengan pria. Jadi, itu bukan emansipasi, tapi hak kaum wanita yang belum terlaksana di banyak tempat.

Kira-kira apa program Anda sebagai ketua MUI dalam waktu dekat ini?

Saya kira program kerja belum bisa saya katakan. Kita kan belum rapat. Tapi, yang seringkali menjadi pemikiran saya bukan sebagai ulama adalah bagaimana meningkatkan kesadaran dan kemampuan kaum wanita untuk mendidik anaknya sehingga menjadi anak yang baik dan saleh, yang berakhlak. Lalu, bagaimana caranya agar anak-anak itu benar-benar mendapat bekal yang cukup bagi dirinya, baik bekal iman maupun keduniaannya.

Menurut saya, pendidikan anak itu harus dimulai dari rumah. Karena itu harus kita ciptakan keluarga yang sakinah. Ini memang bukan hanya tugas kaum wanita saja. Secara umum, perhatian saya adalah pendidikan. Mungkin ini pula yang akan jadi bahasan dalam rapat di MUI nanti.

Di kalangan ulama pria ada sebutan kyai, bagaimana dengan kalangan ulama wanita?

Karena tidak difungsikan seperti kaum lelaki, maka tidak ada sebutan untuk ulama wanita. Lagi pula, sebutan kyai itu kan istilah yang ada di Jawa. Di lain daerah, lain lagi sebutannya. Tuanku, di Sumatera Barat atau Tengku di Aceh, misalnya. Kalau wanita, kebanyakan ya sebutannya istri kyai atau Nyi.

Apakah selama ini pernah muncul ulama wanita yang peranannya sangat menonjol, terutama dalam masalah keagamaan?
Dulu ada, misalnya di Sumatera Barat ada Ibu Rahmah El Yunisiah. Beliau tokoh wanita Islam yang tidak hanya berjuang dalam perang kemerdekaan, namun juga menjadi pendiri sekolah yang sampai sekarang maju, bahkan hingga universitas. Juga ada Ibu Rangkayo Rasuna Said, Cut Nyak Dhien. Mereka semua merupakan tokoh wanita Islam, yang saya kira, tidak hanya memiliki pemahaman agama yang kuat tapi juga menjadi pejuang bangsa.

Tapi, apakah ada tokoh wanita yang spesialisnya soal-soal fikih misalnya?

Kalau yang begitu saya belum menemukannya. Mungkin Ibu Rahma El Yunisiah bisa dimasukkan dalam hal ini.

Dalam Alquran tertulis bila anak-anak dan wanita adalah perhiasan dunia. Ini sepertinya menempatkan wanita sebagai pelengkap. Bagaimana pendapat Anda tentang anggapan tersebut?
Sebenarnya dalam Alquran itu ada ayat-ayat yang secara eksplisit menyebut bahwa laki-laki dan wanita yang beriman dan beramal saleh itu akan memperoleh balasan yang sama. Itu petunjuk bahwa wanita itu harus bekerja. Di ayat lain ada dijelaskan bahwa laki-laki dan wanita itu satu sama lain menjadi pemimpin. Tidak dikatakan bahwa pria harus menjadi pemimpin dari kaum wanita.

Lalu, bagaimana dengan pendapat yang mengatakan bahwa wanita itu diciptakan dari tulang rusuk laki-laki, sehingga harus ikut kehendak kaum laki-laki?

Saya tidak menemukan petunjuk demikian. Tidak di Alquran, tidak pula di hadis. Dari mana asalnya legenda wanita diciptakan dari tulang rusuk kaum laki-laki, itu saya tidak tahu. Dalam penciptaan Ibu Hawa, saya tidak temukan penjelasan bila ia diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam. Mungkin pengkajian kita lebih banyak dari kisah-kisah yang belum jelas kebenarannya.

Ada pendapat yang menyatakan bahwa peluang kaum laki-laki untuk masuk surga lebih besar dari kaum wanita, karena laki-laki bebas dalam beribadah, sementara wanita punya keterbatasan, seperti kalau sedang haid misalnya. Menurut Anda?

Kalau hal itu dijadikan alasan, ada hal lain yang juga bisa dijadikan alasan kaum wanita. Pria itu tidak pernah mengalami beratnya hamil dan sakitnya melahirkan. Betapa besar pahalanya kaum wanita dalam hal ini. Jadi, ada imbangan atas kekurangan yang dimilikinya.

Sebenarnya bagaimana sih fungsi kaum wanita menurut Islam itu?

Menurut saya, kaum wanita sama saja fungsinya dengan laki-laki. Mungkin di masa lalu, mencari rezeki itu memerlukan kerja keras dan tenaga kuat, sehingga hanya kaum laki-laki yang bekerja. Tapi, baik laki-laki maupun wanita harus bekerjasama dalam hal ini. Kalau di keluarga, laki-laki yang harus dipatuhi, itu memang demikian. Tapi dalam kehidupan bermasyarakat tidak demikian. Mereka sama, yang membedakan hanya kemampuannya. Kalau dalam keluarga harus ada yang dipatuhi, itu benar. Tapi kepatuhannya seperti apa, itu kan menjadi masalah. Kepatuhan itu menjadi relatif, kalau masuk akal maka baru bisa diterima.

Kalau begitu, wanita bebas untuk bekerja apa saja?

Di zaman Rasulullah, Siti Aisyah pernah ikut dalam peperangan. Siti Khadijah adalah konglomerat kaum Quraisy. Anak buahnya banyak dan itu laki-laki semua. Tentu saja, kita tidak bisa melepaskan adanya kodrat dari kaum wanita yang menyebabkan ia punya keterbatasan. Tidak mungkin rasanya kalau kemudian ada wanita yang menjadi kuli pelabuhan.

Kalau begitu memang ada bidang-bidang tertentu yang wanita tidak bisa bekerja di situ?

Kalau mengandalkan kekuatan fisik, mungkin tidak bisa. Demikian pula dengan bekerja ketika malam hari. Bagaimanapun juga mereka harus menjaga diri dari kejahatan hawa nafsu. Oleh karena itu saya paling tidak setuju dengan adanya pekerja wanita yang bekerja hingga larut malam. Masyarakat harus ikut menjaga wanita dalam hal ini, jangan sampai karena tidak hati-hati masyarakat rusak karena wanita.

Menurut Anda, apakah fikih itu hanya menguntungkan kaum laki-laki?

Ya, ada juga. Fikih itu kan pendapat dari para ulama. Itu penafsiran. Kalau ditafsirkan di zaman wanita itu rusak, maka sudah pasti cara pandangnya tidak ada wanita yang baik. Tapi, kalau penafsirannya di zaman wanitanya baik-baik, berpikir maju, fikihnya pasti akan memberi tempat kepada kaum wanita. Ini tergantung dari fikihnya. Fikih itu kan pemahaman terhadap ajaran Islam.

Kalau begitu perlu ada perombakan terhadap fikih, terutama berkenaan dengan kaum wanita?

Penafsiran-penafsiran yang dilakukan itu perlu dilihat kembali, misalnya, kapan pemikiran itu datang. Bila hal itu ada kaitan dengan lingkungan, maka ulama yang kemudian perlu terus berijtihad. Tentunya dengan alasan-alasan yang kuat.

Apa kendalanya juga karena wanita tidak ada yang menjadi ahli fikih, hadis, atau tafsir, sehingga kepentingan kaum wanita terabaikan?

Mungkin dulu kesempatan belajar dari kaum wanita sangat terbatas, maka sudah pasti ahli-ahli fikih yang muncul adalah kaum pria. Puluhan tahun lalu, tidak ada hakim agama dari kalangan wanita. Baru beberapa tahun belakangan ini saja kita punya hakim-hakim agama wanita. Mungkin karena ada pendapat bahwa wanita tidak mampu menjadi hakim. Padahal kenyataannya sekarang ini, dengan adanya hakim wanita tidak ada masalah, semuanya berjalan baik.

Kalau begitu, berarti saat ini kita sangat membutuhkan tokoh-tokoh wanita yang menjadi ahli fikih, hadis atau tafsir?

Betul, kita sangat perlu akan tokoh-tokoh semacam itu. Sudah saatnya kita memberi kesempatan kaum wanita untuk menggeluti bidang-bidang seperti itu. Sekolah untuk itu sekarang ini sudah demikian banyak. Kalau kita berpegang teguh pada Alquran, maka wanita punya hak untuk menjadi ulama atau pemimpin. Tapi, belum banyak wanita yang muncul karena faktor budaya.

Jadi belum banyaknya muncul tokoh wanita karena faktor budaya?

Memang budayanya. Garis agama itu jelas. Budaya yang mempengaruhi keterbelakangan wanita. Situasi dan kondisi suatu daerah sangat mungkin menyebabkan tidak menghargai wanitanya. Ada budaya yang menganggap bahwa wanita tidak mampu untuk tampil ke depan, bahkan sampai kuatir bila wanitanya maju. Lalu agama menjadi justifikasi dalam hal ini, sehingga kaum wanitanya dilarang untuk tampil.

Berbicara tentang kedudukan kaum wanita ini, bagaimana dengan peran Ormas wanita Islam selama ini?

Kelihatannya mereka terlalu sibuk sehingga kurang waktu untuk menghadiri berbagai aktivitas organisasinya. Memang banyak program dan seksi yang menanganinya, tapi apakah berjalan dengan baik atau tidak, itu sulit mengetahuinya. Sebab mengumpulkan orang di kota besar macam Jakarta ini sulit sekali.

Tapi dalam pandangan Anda, apa kelemahan dari Ormas wanita Islam?
Kegiatan mereka sebenarnya cukup banyak. Dengan kemampuan mereka masing-masing, itu sudah cukup baik dan bagus. Kalau mereka bermusyawarah atau rapat sepertinya hasilnya bagus-bagus. Tapi, dalam menjalankan program kerja, mereka sepertinya punya kendala, di antaranya adalah mereka yang memiliki banyak gagasan, sangat sibuk. Sementara mereka yang punya waktu, ternyata tidak banyak yang bisa dipikirkan.

Apa karena tugasnya sebagai isteri atau ibu rumah tangga menjadi kendala juga?

Itu jelas. Mereka punya kegiatan yang harus diurus di rumah dalam posisinya sebagai isteri atau ibu dari putra-putrinya. Selain sibuk di rumah, banyak wanita yang sibuk bekerja di luar rumah. Jadi banyak wanita yang sibuk di rumah, di kantor dan juga di organisasi. Apalagi sekarang ini tidak semua orang mampu memelihara pembantu. Jadi, memang banyak kendala.

Lalu menurut Anda bagaimana cara mengoptimalkan peran Ormas wanita tersebut?
Apa yang selama ini mereka lakukan telah membawa hasil. Paling tidak memberikan sumbangan kepada peningkatan kesadaran wanita. Untuk lebih meningkatkan peran seperti itu memang perlu banyak tenaga, terutama tenaga-tenaga pemikir yang punya waktu. Dari mereka akan banyak lahir konsep dan aktivitas dengan lebih baik lagi. Tentunya harus ditunjang dengan mekanisme organisasi yang sehat. Kalau soal semangat, sebenarnya wanita Indonesia termasuk maju dibandingkan dengan wanita negara-negara lain.

Kalau kaum wanita Indonesia secara keseluruhan bagaimana kondisinya?
Masih banyak yang harus ditingkatkan, baik pengetahuannya maupun keterampilannya. Kemampuan dalam berbagai bidang juga harus ditingkatkan. Pada tingkat pimpinan hal itu sudah memadai, namun pada tingkat bawah masih banyak yang harus ditingkatkan. Tapi, kita sudah bersyukur karena kaum pria mau menerima kemajuan kaum wanitanya. Di banyak negara, hal ini masih belum bisa diterima.

Tentunya dengan kedudukan Anda sebagai Ketua MUI, hal seperti itu juga menjadi perhatian?
Doakan saja. Mudah-mudahan bisa ada manfaatnya meski kesibukan saya tidak berkurang malah bertambah.

Sekarang soal aktivitas Anda. Pilihan Anda menjadi ahli jiwa itu kenapa?
Sebenarnya dari dulu saya senang mengamati orang. Orang bicara saya dengar. Orang mengeluh saya perhatikan. Lalu pada waktu saya masuk perguruan tinggi, saya memilih jurusan pendidikan. Di situ ada pendidikan ilmu jiwa. Ketika saya ke Kairo, minat saya pada ilmu jiwa lebih berkembang lagi karena sepertinya dosen-dosen saya mendorong untuk menekuni bidang itu.

Selama menangani soal-soal kejiwaan ini, keluhan terbanyak biasanya berkisar soal apa saja?
Yang terbanyak adalah problem keluarga, problem anak-anak yang beranjak remaja, dan masalah kepribadian yang tidak hanya berkait dengan masalah keluarga, misalnya merasa dirinya tidak sukses, memandang dunia ini kelabu terus, dan penderitaan-penderitaan pribadi lainnya. Memang cukup bervariasi. Tapi, pernah suatu ketika saya buka catatan pasien yang datang ke klinik dalam satu tahun. Ternyata persoalan kaum remaja itu mencapai 45 % dari kasus yang masuk. Sementara yang lainnya hampir seimbang.

Kenapa justru kaum remaja?

Karena mereka kurang baik hubungannya dengan keluarganya sehingga muncul problem-problem di sekitar mereka. Cukup banyak kaum remaja ini mengeluhkan kondisi keluarganya, misalnya tentang ibunya yang sibuk, ayahnya yang jarang di rumah, dan sebagainya. Kalau sudah begitu, tidak hanya masalah pribadi yang disampaikan, masalah pendidikan pun banyak yang dikeluhkan. Bahkan seorang gadis remaja pernah datang ke klinik saya mengeluh karena sampai sekarang belum memperoleh pacar.

Para remaja selalu mengeluhkan kalau orangtua sulit diajak bicara, sementara orangtua selalu bilang anaknya bungkem tidak mau bicara. Kalau sudah begini yang salah siapa? Menurut saya, tidak ada yang salah. Situasi yang menjadikan mereka menjadi demikian.

Bagaimana cara Anda memberi solusi?

Sebenarnya saya tidak memberikan nasehat secara khusus. Saya mengembangkan kepribadian seseorang untuk dapat mengenali permasalahan yang dihadapi itu apa. Lalu bersama-sama dia, saya menelusuri asal-usul masalah. Dengan sendirinya, mereka akan menemukan jawabannya. Benarkah keinginan dirinya? Benarkah pula persangkaannya tentang penyebab masalah? Saya menggunakan teori non-directive, perawatan kejiwaan yang tidak diarahkan. Pasien dibantu dengan pengembangan dirinya untuk mengetahui persoalan yang dihadapi. Jalan keluar yang kemudian dipakai adalah perombakan kepribadian. Dalam hal inilah agama saya sisipkan ke dalamnya. Kalau sulit bicara pada orang lain, bicaralah kepada Allah lewat tahajud. Mengadulah, menangislah, berteriaklah kalau mau berteriak. Allah pasti dengar.

Pernah gagal dalam memberikan konsultasi?
Saya tidak tahu persis, karena memang ada yang cuma sekali datang ke rumah. Menurut pengalaman, pada umumnya mereka semua menuju sukses. Selama ini setiap mereka yang datang ke rumah selalu memperoleh informasi dari pasien terdahulu. Itu kan berarti mereka berhasil.

Redaktur: Heri Ruslan
Sumber: Harian Republika, edisi Jumat, 11 Agustus 1995

Mengenang Zakiah Darajat: Ahli Jiwa dengan Metode Agama

REPUBLIKA.CO.ID, Di kediaman Prof. Dr. Zakiah Daradjat, Kompleks Wisma Sejahtera Jl Fatmawati 6, Jakarta Selatan, setiap petang cukup ramai dengan kehadiran beberapa pasien untuk berkonsultasi.

''Ya, sehari bisa 4 hingga 10 orang. Setiap orang biasanya saya terima sekitar 45 menit untuk menyampaikan berbagai persoalan hidupnya,'' kata wanita kelahiran Bukittinggi, 6 November 1929 itu mengomentari kesibukan yang telah ia jalani selama 30 tahun itu.

Ketika menerima Republika, Rabu lalu ia tengah sibuk ''mengobati'' seorang pasien wanita. Menjelang berakhirnya wawancara, seorang wanita muda diantar seorang laki-laki telah menanti. ''Memang yang paling banyak konsultasi itu wanita. Sepertinya laki-laki itu sombong tidak merasa punya masalah,'' katanya sambil tertawa. Prof. Dr. Hj. Zakiah Darajat memang dikenal ahli jiwa yang sering menggunakan pendekatan agama sebagai solusi pemecahan persoalan yang dihadapi pasien.

Guru besar IAIN Jakarta ini mulai membuka konsultasi kejiwaan sejak ia pulang studi dari Mesir. Setelah menamatkan pendidikannya di Perguruan Tinggi Agama Islam, Yogyakarta 1955, ia memang memperoleh tawaran sekolah di Universitas Ein Syams, Kairo, Mesir. Ia memperoleh gelar doktor pendidikan dengan spesialis psikoterapi pada 1964 dari Universitas Ein Syams.

Sepulangnya di Tanah Air ia segera mengabdikan diri pada Departemen Agama. Menag ketika itu K.H. Saifuddin Zuhri menyarankan ia membuka klinik konsultasi di Depag. Sejak itu pekerjaan menasehati orang menjadi bagian hidupnya yang tak pernah lepas hingga kini. Terakhir, ia menjabat Direktur Pembinaan Agama Islam hingga pensiun pada 1984.

Setelah pensiun ia malah diangkat menjadi anggota DPA hingga 1988. Bersamaan dengan keanggotaannya di DPA, ia mendirikan Yayasan Pendidikan Ruhama, lembaga pendidikan sejak TK hingga SMA yang berlokasi di Legoso, Cirendeu, Ciputat.

Rajin menulis dan berdakwah, penggemar olahraga renang di masa mudanya ini, kini sudah menghasilkan puluhan buku mengenai psikologi dan agama. Di antara bukunya Kesehatan Mental (Gunung Agung, 1969), Ilmu Jiwa Agama (Bulan Bintang, 1970), dan Problem Remaja Indonesia (Bulan Bintang, 1974). Akhir-akhir ini, ia menerbitkan sendiri bukunya lewat yayasan yang didirikannya, Yayasan Kesehatan Mental YPI Ruhama.

Dalam soal dakwah, sepertinya ia tak pernah lelah. Pada tahun 60-an ia bisa berceramah lima sampai enam kali sehari. Sering pula ia tampil di RRI, TVRI, dan kini di beberapa stasiun televisi swasta. Pernah ia berceramah secara berantai di 10 tempat tanpa henti. Anehnya, dalam setiap ceramah ia menemui orang-orang yang sama. Ternyata, mereka --rata-rata kaum ibu-- adalah penggemar setianya.

Pendapatnya tentang wanita, ''Saya senang mereka bekerja, tapi jangan sampai lupa kepada kedudukannya sebagai ibu. Kasihan anak-anak mereka,'' katanya. Ia pun bercerita banyak mengenai peran kaum wanita masa kini, terutama dalam pendidikan dan keluarga. Mengenakan kebaya bermotif kembang dan berkerudung merah jambu, tokoh wanita yang masih terlihat energik ini melayani wawancara Republika di ruang kerjanya. Berikut petikan wawancara itu:

Sekarang ini banyak wanita yang bekerja di luar rumah. Lalu, anak-anak lebih banyak diasuh oleh pembantu daripada ibunya sendiri. Menurut Anda, apakah kondisi yang demikian ini yang menyebabkan anak-anak sekarang lebih nakal?

Kalau sikap keibuannya hilang ya membawa akibat, anak-anak menjadi terlantar, suasana rumah tangga pun terganggu. Ia terlalu sibuk sehingga melupakan peran keibuannya di rumah. Tapi, secara umum saya masih belum melihat itu meluas di Indonesia, lebih banyak hanya terjadi di kota-kota besar.

Bagaimana dengan kecenderungan wanita sekarang yang lebih mengutamakan sekolah atau karirnya sehingga menunda perkawinan atau enggan memiliki anak?

Ada memang yang demikian, tapi saya kira tidak banyak. Masih banyak yang ingin berkeluarga, ingin punya anak. Hanya saja, karena wanita-wanita itu masih sibuk belajar dan biasanya pilihan setelah sekolah nantinya bekerja, maka ia lebih mendahulukan bekerja. Tentunya, kalau ia akan berkeluarga, maka ia akan memilih-milih. Tidak seperti dulu yang hanya mengikuti perintah orangtuanya.
Tapi, saya sering menemukan di kalangan mahasiswi punya kecenderungan untuk segera menikah. Ini banyak. Tapi, bila ia sudah sarjana dan bekerja, memang akan punya pikiran lain. Kalau sudah bekerja, ia ingin menjadi wanita karir yang baik. Akibatnya, mereka lupa untuk berkeluarga. Nah, lupa inilah hal yang tidak baik. Dia boleh jadi pekerja yang baik, tapi kalau ia berkeluarga, maka ia harus menjadi isteri dan ibu yang baik.

Kira-kira, apa yang menjadikan mereka lupa?
Ya, mengejar prestasi. Misalnya, ketika dia masih sekolah pintar. Ketika bekerja, kalau tidak pintar rasanya tambah pusing. Sederhana saja, ia harus lebih berprestasi dari rekan-rekan kerjanya. Ia mengejar prestasi dan kalau bisa naik pangkat, dapat posisi baru. Ini manusiawi karena setiap orang punya keinginan seperti itu.

Bagaimana pendapat Anda tentang kaum wanita yang ingin berkarier?
Boleh saja, asal ia tidak meninggalkan kewanitaannya. Wanita itu dalam pandangan Islam harus pandai menjaga diri, tidak mudah tergoda, berpakaian sopan, tetap mencintai rumah tangganya, bertanggungjawab, hak dan kewajiban sebagai istri dan ibu itu harus ia tunjukkan. Jadi tidak terlarang dia berkarir. Tapi, kalau di rumah tangga, sebagai istri ia menganggap suaminya teman kantor, ya ceritanya jadi lain. Ah saya juga capek, ini nggak boleh. Sebagai istri, di rumah ia harus pandai menempatkan diri di hadapan suaminya.

Kenyataannya, banyak wanita karier yang menuntut dirinya sejajar dengan suaminya?
Bisa saja, tapi dengan kesepakatan. Artinya, ia mendapat gaji sama dengan suaminya atau bahkan lebih. Ia tidak boleh menyombongkan hal ini. Saya juga kerja, saya juga capek. Gaji saya lebih besar dari kamu. Itu tidak boleh disebut.

Kalau begitu, beban wanita lebih besar karena harus berperan ganda?

Bila dia sadar dan melaksanakan tugasnya sebagai wanita, dalam bekerja ia bisa membagi waktu. Ia akan mengatur, porsi untuk bekerja sekian, untuk anak sekian, dan untuk keluarga sekian. Jadi, ketika ia bekerja, ia ingat, saya ini ibu lho, saya ini seorang istri. Intinya, jangan lupa akan semua hal yang mengikat dirinya sebagai wanita dan ibu rumah tangga.

Tapi, godaan untuk memerankan kedua hal itu cukup besar. Di kantor ia dituntut untuk mampu mengaktualisasikan diri. Akibatnya, urusan rumah tangga dia serahkan kepada pembantu rumah tangga, urusan anak diserahkan kepada pembantu?

Ia boleh saja menyerahkan kepada pembantu rumahtangga hal-hal tertentu, seperti mencuci, menyetrika, dan memasak. Tapi, soal menu makanan tetap ia yang tentukan, bukan pembantu. Mengurus anak, baby sitter boleh saja, tapi sebaiknya yang mengurus anaknya dia sendiri. Cuci pakaian anak boleh saja pembantu, tapi yang memberi makan, menyusui anak harus dia. Anaknya yang merengek, dia harus tangani. Kalau semua ini dia jalankan secara ikhlas, seninya akan ia temukan dan tidak akan merusak rumah tangga.

Kalau dia jadi pegawai, dia nggak usah lembur, cukup laki-laki saja. Sekarang, dengan adanya kebijakan bekerja hingga pukul 4 sore, saya rasa akan lebih merepotkan kaum ibu. Saya lebih setuju, untuk kebaikan kaum ibu bila kerja kantor sampai pukul 2 saja.

Alasannya?

Bagi anak kecil, ia tidak akan sanggup membiarkan ibunya terlalu lama di luar rumah. Paling lama, dalam toleransi terbaik sekitar 5 jam. Kalau sudah pulang pukul 16.00, sampai rumah pukul 17.00, kepalanya pusing, anaknya merengek dan ia marah-marah, bisa rusak semua. Itu berat buat kaum ibu.

Secara psikologis, apa dampaknya?
Bagi anak kecil, usia 2-5 tahun pernah dilakukan penelitian di Inggris. Yang paling menyenangkan buat anak, ibunya bekerja di luar rumah antara 3-5 jam sehari. Itu yang ideal. Yang sangat penting, kualitas hubungan ibu dan anak itu bagus. Jadi, bukan kuantitasnya. Kalau ibu seharian di rumah dan si anak selalu dimarahi, ya tidak baik untuk anak. Sebenarnya, wanita itu paling baik bekerja untuk kepentingan anaknya. Kalau dia di rumah, anaknya justru direpotkan ibunya.
Ia bermain, si ibu melarangnya, jangan nanti jatuh. Dia mau melakukan sesuatu sang ibu banyak membatasi. Jadi, terlalu banyak larangan membuat sang anak tertekan. Wanita itu, juga ada kebosanan secara tersembunyi bila ia terus menerus di rumah. Tapi, kalau dikatakan bosan di rumah itu juga tidak mau, dianggap ibu yang tidak baik. Tapi, yang pasti ada kebosanan tersembunyi. Ia butuh udara lain, aktivitas lain. Saya rasa, kalau pekerjaannya tidak sampai larut sore tidak ada masalah.

Lalu, apa kiat untuk membuat anak tidak merasa kehilangan ibunya?
Buatlah sang anak itu rindu kepada ibunya, demikian pula sebaliknya. Kalau dirindukan anak itu menyenangkan. Kalau anak itu lebih dekat kepada pembantunya, maka ia akan sulit rindu kepada ibunya. Akibatnya, anak akan kehilangan figur orang yang paling dekat dengannya.

Ketika anak makin besar, interaksi dari ibu semakin dibutuhkan. Padahal, kegiatan ibu juga besar. Apakah hal ini juga menjadi sebab anak berperilaku menyimpang?
Harusnya perhatian semakin besar. Tapi, meski waktunya sedikit, sebaiknya ia dalam situasi terbaik ketika berhadapan dengan anaknya. Bisakah usai kerja di kantor, ia memberi perhatian yang menyenangkan buat anaknya sehingga anak merasa diikuti dan diperhatikan terus menerus. Libur kerja itu, paling baik diperuntuk bagi keluarga. Tidak mesti ke luar rumah atau pergi ke restoran mahal. Cukup masak makanan kesukaan bersama dan makan di rumah. Yang penting ada perhatian.

Bagaimana pun sibuknya orangtua, mereka harus terbuka hati untuk mendengarkan semua keluhan anaknya. Jadi fungsinya untuk menampung uneg-uneg anaknya. Anak yang memiliki orangtua demikian tidak akan melakukan hal yang buruk. Kenapa? Karena ia merasa orangtuanya begitu memperhatikannya, sehingga ia tidak tega orangtuanya bersedih. Maka, jadilah pendengar yang baik dalam semua persoalan yang dihadapi anak. Jangan jadi penceramah di hadapan anak, itu akan membosankan diri mereka.
Diskusikan semua persoalan, jangan tekan mereka dengan kemarahan kita. Berbeda dengan orangtua yang tidak memberi perhatian kepada anak-anaknya, mereka akan mencari tempat menyampaikan semua keluhan di luar rumah. Padahal, kawannya atau orang di luar rumah tidak berbeda dengan dirinya pula yang mendapat tekanan. Akibatnya, ia akan melampiaskan semua persoalan kepada hal-hal yang buruk, berkelahi atau yang lainnya.

Kalau begitu, kunci persoalan ada pada komunikasi?

Betul sekali. Kalau komunikasi lancar dengan kedua orangtua, sang anak tidak akan menumpuk persoalan dalam dirinya.

Bagaimana dengan faktor luar yang mempengaruhi?

Pengaruh faktor luar bisa saja, tapi kalau pada dasarnya di dalam sudah menumpuk, maka faktor luar hanya akan menambah beban berat saja. Tapi, kalau di dalam lancar, maka faktor luar tidak akan mempengaruhi. Kita sering menyebut banyak anak nakal, tapi sudahkah kita menciptakan lingkungan yang memberi perasaan tidak nakal kepada anak-anak.

Bagaimana dengan pengaruh berbagai tayangan di televisi?

Kalau orangtua tidak sempat mendidik, apa yang di TV pasti akan ditirunya. Itu berbahaya sekali. Untuk mengurangi bahaya itu, ia harus akrab dengan orangtuanya. Kalau orangtua kuat dalam menjalani ajaran agama, maka sang anak akan meniru, menyerap tanpa sepengetahuan orangtua. Kalau di rumah ibu dan bapak membiasakan salat berjamaah, maka anak akan ikut dan pengaruhnya besar sekali buat perkembangan jiwa anak. Itu pendidikan agama, demikian pula perilaku orangtua. Kalau mereka suka membentak pembantu, maka anak juga akan menirunya. Ini bahaya. Karena di televisi, tidak semua nilai yang diharapkan muncul selamanya, maka proses identifikasi dari anak lewat telivisi, terutama bila pemainnya orang Indonesia. Memang berat tugas orangtua sekarang dibanding orangtua di masa lalu.

Apa yang dilihat oleh anak-anak, jauh lebih berbahaya daripada apa yang didengar. Kalau yang dilihat baik, tidak persoalan. Tapi, kalau yang dilihat buruk, maka akan mudah ditiru. Di sini saya usulkan agar semua produk televisi itu tidak menampilkan hal-hal yang berbau kekerasan, perkelahian, pembunuhan. Kita kan tidak ingin anak-anak kita meniru hal-hal yang demikian. Kenapa kita cekoki anak-anak dengan berbagai adegan kekerasan. Film Indonesia lebih bahaya dibandingkan film asing, karena anak-anak lebih mudah mengidentifikasikan diri dengan orang sebangsa.

Tapi, bukankah hal itu tidak mungkin dihilangkan dalam kondisi sekarang?
Kita bisa mengurangi dan melakukan pilih-pilihan. Seleksi ketat harus dilakukan untuk film-film anak-anak dan remaja. Kita sering menyalahkan anak-anak, tapi contoh yang ia tonton demikian buruknya. Memang sebaiknya, orangtua mendampingi ketika sang anak menonton dan mengomentari, tapi apa ada waktu.

Sulitnya, nasehat orangtua sekarang sering tidak didengar anak-anaknya, sepertinya orangtua sekarang ini kurang berwibawa?

Wibawa itu dibangun karena kasih sayang, bukan karena ketakutan. Ia bisa saja patuh karena takut, namun hal itu akan ia ulang kembali dan bersikap masa bodoh. Tapi, kalau dasarnya kasih sayang, maka anak akan tidak tega menyakiti atau membuat sedih orang yang menyayanginya. Persoalannya, masih adakah kasih sayang sehingga anak akan hormat kepada orangtuanya.

Anda pernah menyatakan bahwa agama pegang peranan penting dalam solusi problem keluarga. Bisa dijelaskan lebih jauh?

Itu betul sekali. Kalau agama bisa terpegang penuh oleh sang anak, maka ia akan terlatih untuk dekat dan senang dengan agama. Jadi, bukan terpaksa. Dia rasakan Allah itu dekat, dia berdoa ketika ibu-bapaknya terlambat pulang. Ini penting dalam mengantisipasi ketika sang anak memasuki masa-masa berbahaya di usia remajanya, usia antara 13-15 tahun. Boleh dibilang negeri kita ini mundur dalam masalah moral. Dalam hal ini film Indonesia punya peran besar untuk melanggar semua nilai agama. Sejak kapan agama mentolerir laki-laki dan perempuan itu peluk-pelukan. Hal seperti ini akan mudah ditiru anak-anak remaja.

Punya pengalaman dalam menangani anak-anak bermasalah?

Pernah. Ketika saya berada di Mesir sekitar 1958. Sambil melakukan studi untuk S3, saya nyambi latihan di klinik jiwa. Kebetulan penelitian saya tertuju kepada anak umur 6-12 tahun dengan tema alat-alat permainan untuk menghilangkan emosi. Jadi, permainan sebagai pengobatan kejiwaan. Ini yang jadi disertasi saya. Banyak persoalan yang saya amati ternyata permainan bisa menangani masalah kejiwaan anak-anak. Mereka mengungkapkan emosinya lewat merusak alat-alat permainannya.

Apa itu juga dilakukan di Indonesia?

Tidak lagi, karena permainan yang banyak beredar di sini lebih banyak menggunakan listrik. Jadi, tidak mendidik dan tidak mampu menjadi alat pengungkapan emosi. Anak-anak sekarang perlu alat-alat permainan yang murah, namun bisa menjadi saluran pengungkap emosi.

Apa aktivitas Anda saat ini?

Kalau tidak mengajar di IAIN, ya menerima pasien. Hanya di hari Sabtu dan Ahad saya tidak mau terima pasien. Untuk istirahat saja. Selain itu saya juga menulis. Hampir semua contoh-contoh yang ada dalam buku saya tentang masalah remaja, psikologi, dan kesehatan mental berasal dari pengalaman saya memberi nasehat kepada pasien. Selain itu, saya juga menjadi Ketua Yayasan Pendidikan Ruhama yang membuka pendidikan sejak TK, SD, SMP, dan SMA. Kalau berdakwah, ya kadang di radio dan televisi.

Ada pengalaman menarik dalam mengobati pasien?

Pernah ada seorang anak kecil dibawa ibunya menghadap saya. Anak itu ternyata sudah seminggu tidak mau bicara dan makan. Kedua orangtuanya bingung menghadapi sikap anaknya itu. Saya berusaha membujuk anak itu. Tapi sia-sia. Anak berusia lima tahun itu tetap saja tidak mau bicara dan makan. Saya lalu memanggil ibunya. Saya tanyakan, apakah anak itu melihat suatu kejadian yang tidak mengenakkan di rumahnya. Dengan jujur sang ibu mengatakan bahwa ia dan suaminya seminggu lalu bertengkar di hadapan anak tersebut, bahkan menyebabkan sang anak menangis. Saya lalu mengerti, anak itu mengalami trauma akibat pertengkaran kedua orangtuanya.

Untuk penyembuhan sikap kelainan anak itu, saya memutuskan untuk meminta kedua orangtuanya berkonsultasi selama tujuh pertemuan. Satu tahun kemudian, saya bertemu dengan keluarga tersebut di jalan raya, mereka tampak bahagia. Saya katakan pada anak itu yang sudah bertumbuh besar, apa kamu masih tidak makan. Dengan tersipu-sipu anak itu menjawab, Nggak Bu. Sekarang saya sudah makan. Orangtuanya tertawa ketika itu.

Pasang tarif setiap kali praktek?

Tidak. Hanya saja, banyak yang tidak enak sendiri dan memberi uang. Saya katakan kalau merasa sungkan terserah saja, pokoknya saya tidak meminta uang atau memasang tarif. Uniknya, kadang mereka tidak memberi uang, tapi memberi oleh-oleh. Kalau musim buah, wah saya selalu dapat buah-buahan segar. Pernah orang bawa durian besar, dia bilang ini baru jatuh semalam di kebun, untuk Ibu. Saya sih senang saja. He..he..he.


Redaktur: Heri Ruslan
Sumber: harian republika, edisi Jumat, 23 Desember 1994

Pribadi Prof Zakiah Dikagumi Keluarga & Kerabat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wafatnya pakar psikologi Islam, Prof Zakiah Daradjat, Selasa (15/1) pagi WIB, menyisakan cerita. Dimata keluarga dan kerabat dekatnya, almarhumah Zakiyah adalah sosok guru teladan.

Sepupu Zakiah, Icu Zukafil mengatakan almarhumah adalah sosok yang dikagumi dan menjadi panutan bagi keluarga dan kerabatnya.

"Semasa hidup beliau sama sekali tidak pernah marah. Jika beliau menegur, beliau bicara dengan senyum. Jadi kadang kita tidak tahu kapan beliau marah," kata Icu di Jakarta.

Selain itu, kata Icu, Zakiah dikenal keluarga sangat gigih menuangkan wawasan keilmuannya lewat tulisan atau mengajar. Meski usianya sudah senja dan kesehatannya terus menurut, Zakiah tak pernah berhenti menulis untuk menuangkan pemikirannya untuk menambah khazanah ilmu pengetahuan Islam.

Menurut Icu, sebagai seorang cendekiawan Zakiyah terhindar dari kepikunan, meski usianya sudah tergolong sepuh. Guru besar UIN Jakarta itu tutup usia saat dirawat di RS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada usia 83 tahun.

Redaktur: Karta Raharja Ucu
Reporter: Hannan Putra

Mengenang Zakiah Daradjat: Berjuang tanpa Pamrih

REPUBLIKA.CO.ID,

Bila Prof Dr Zakiah Daradjat tahu benar tentang watak dan berbagai permasalahan yang dihadapi remaja sekarang ini, sebenarnya bukanlah hal yang aneh. Ini, karena selama 30 tahun, guru besar IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta ini hampir setiap hari menggeluti berbagai persoalan yang berkaitan dengan remaja.

Di ruang praktiknya di Jalan Fatmawati, Cilandak, Jakarta Selatan, psikolog kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat, 6 November 1928, setiap petang rata-rata menghabiskan waktu dua jam menerima pasiennya yang kebanyakan anak remaja, atau orangtua yang mempunyai masalah dengan anak-anaknya.

''Setiap hari, selama lima hari dalam sepekan, rata-rata saya menerima tiga hingga lima pasien,'' jelas doktor psikologi lulusan Universitas Ein Shams, Kairo, Mesir tahun 1964 kepada Republika. Masing-masing pasien, ia beri waktu sekitar 45 menit, untuk berkonsultasi mengenai pasalah psikologi.

Dalam praktek psikologinya itu, Zakiah mengaku tak memasang tarif. Ia dengan tekun mendengarkan keluhan para pasiennya itu, tanpa memandang apakah mereka dari golongan masyarakat mampu atau bukan. ''Seringkali saya tidak menerima bayaran apa-apa, karena memang tujuan saya untuk menolong sesama manusia,'' ucap guru besar bidang tarbiyah IAIN Jakarta ini.

''Bahkan kadang-kadang saya hanya menerima bayaran buah-buahan.'' Sarat dengan pengalaman praktik itu, yang menurutnya banyak yang tidak diperolehnya dalam teori selama 8 1/2 tahun mengikuti pendidikan di Kairo, Zakiah Daradjat sangat prihatin terhadap kenakalan remaja akhir-akhir ini. ''Tapi yang lebih memprihatinkan saya, adalah banyaknya orangtua yang kurang memperhatikan mereka. Bahkan secara tidak sadar banyak orang tua yang ikut memberikan andil dalam menjerumuskan anaknya itu,'' kata wanita yang memulai karirnya di Indonesia sebagai pegawai Biro Perguruan Tinggi Agama, Departemen Agama (1964-1967).

Menurutnya, kebanyakan anak nakal karena di rumah kurang mendapat kasih sayang orangtuanya. Karena itu, Zakiah yang juga pernah menjadi guru besar bidang pendidikan kesehatan Universitas Islam Jakarta itu, mengaku selalu mengelus dada bila mendengarkan orangtua yang selalu menyalahkan anak-anaknya yang nakal.

''Kita hanya tahunya mereka nakal. Tapi kita tidak mau tahu apa penyebabnya. Padahal para remaja yang kita anggap nakal dan tidak baik itu, mereka sebenarnya adalah orang-orang yang menderita,'' ujar Zakiah, yang selama di Mesir belajar ilmu pendidikan dengan spesialisasi psikoterapi, sampai meraih gelar doktor.

Zakiah, yang telah menulis 32 buku tentang remaja, pendidikan dan kesehatan mental itu, menilai bahwa terjadinya tawuran antarremaja, dan sejumlah kasus kejahatan yang mereka lakukan akhir-akhir ini, adalah akibat dari tidak mampunya mereka mengendalikan diri.

Dari segi psikologi, ini akibat pertumbuhan mereka yang cepat, sehingga ia terdorong mengikuti hal-hal yang dia lihat, sekalipun hal ini bertentangan dengan nilai-nilai agama dan moral. Dan kesalahan orangtua, karena mereka kurang memahami pertumbuhan dan proses kejiwaan para remaja. Bukan hanya itu, mereka bahkan kurang akrab. Padahal para remaja itu, sesungguhnya sangat membutuhkan orang yang mau dan mampu memahami keadaan dirinya.

Bagi Zakiah, kesibukan orangtua bukan menjadi alasan untuk tidak memperhatikan anak-anaknya. ''Boleh saja orang tua sibuk, tapi masa sampai tidak ada waktu sama sekali untuk memberikan perhatian kepada anak-anak. Kalau untuk pekerjaan kantor kita mempunyai waktu, masa untuk keluarga tidak ada,'' kata psikolog yang juga dikenal sebagai mubalighah itu. Ia menambahkan, dampak yang sangat fatal bagi para remaja yang kurang mendapatkan perhatian orang tuanya, mereka akan mudah terpancing pada perbuatan yang negatif, seperti melakukan hal-hal yang tercela, minum-minuman keras, bahkan sampai obat-obat terlarang.

Zakiah yang sampai kini aktif mengisi kuliah subuh di RRI, dan sejumlah radio swasta, menyayangkan sejumlah tayangan di TV maupun film, yang menurutnya telah ikut menjerumuskan para remaja. Apalagi iklan-iklan yang disodorkan TV swasta, yang bukan saja dari segi agama, tapi dari segi moral Pancasila pun bertentangan.

Sebelum membuka praktek di Indonesia, selama tiga setengah tahun Zakiah telah berpengalaman menangani para remana bermasalah di Mesir. Menurutnya, pengalamannya di Arab itu sangat berharga. ''Alhamdulillah, banyak anak yang semula bandel, setelah datang ke saya, kembali menjadi anak-anak yang baik. Dan demikian juga yang terjadi selama hampir 30 tahun saya membuka praktek di tanah air,'' kata Zakiah yang telah menterjemahkan 13 buku dari bahasa Arab.

Dengar Keluhan Anak

Orangtua, kata Zakiah yang juga sering ceramah di majelis-majelis taklim, hendaknya mau mendengarkan keluhan anaknya. Karena hal itulah yang sangat didambakan para remaja. Para orangtua sekarang ini, menurutnya, sangat jarang berdialog dengan anak-anaknya. ''Banyak orang tua belum apa-apa sudah menyemprot anaknya, tanpa mau mendengarkan keluhan mereka,'' jelas Zakiah.

Akibat dari banyaknya orangtua yang kurang perduli dengan anak-anaknya, anak-anak menjadi sumpek di rumah. Dan kesumpekan itu lalu merela lampiaskan dengan tawuran di jalan-jalan. ''Saya yakin bila para remaja itu mendapatkan 'saluran' di rumahnya, mereka tidak akan liar di jalan-jalan,'' jelasnya.

Menurut Zakiah, para remaja putra biasanya sangat mengidolakan ayahnya. ''Ia sangat mendambakan perhatian ayahnya. Tapi karena ayahnya sibuk, ia menjadi kecewa karena tidak mampu bercerita pada ayahnya,'' ujarnya. Kondisi yang lemah inilah yang mengakibatkan mereka mudah terpengaruh apa pun yang datang dari luar. Demikian pula para remaja puteri. Karena ibunya yang seharusnya menjadi idolanya sangat sibuk, maka perhatiannya beralih kepada orang lain, termasuk para pembantu rumah tangga.

Karena itu, ia menghimbau kepada para orangtua, agar minimal satu hari dalam seminggu ada waktu untuk santai bersama keluarga di rumah. ''Untuk menuju keluarga sakinah, di mana rumahku merupakan surgaku, hal ini harus ada dalam setiap keluarga,'' katanya.
Dia mencohkan Nabi Muhammad SAW, sekali pun mendapat tugas berat dari Allah SWT masih mempunyai waktu untuk bersantai-santai dengan keluarganya. ''Bahkan Nabi sering membelai-belai dan menggendong kedua cucunya, Hasan dan Husein,'' kata wanita yang ketika di SD, selalu mendapatkan nilai 9 untuk mata pelajaran berhitung.

Praktek psikologi yang dilakukan Zakiah memang lebih diutamakan pada pendekatan agama. ''Dengan memasukkan faktor agama, maka konsultasi tidak memakan banyak waktu. Sebab si pasien bisa melanjutkan sendiri,'' alasannya. Dan dia sendiri sangat menyesalkan bahwa sebagian besar remaja sekarang kurang mendapatkan pendidikan agama dan moral yang tepat.
''Padahal kalau ajaran agama bisa menyatu kepada pribadi para remaja, mereka condong mencari penyelesaian permasalahan yang mereka hadapi sesuai dengan ajaran agama,'' kata Zakiah.

Redaktur: Heri Ruslan
Reporter: Alwi Sahab
Sumber: harian republika, edisi Jumat, 22 April 1994

Zakiah Daradjat, Simbol Muslimah Asia Tenggara


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sosok Zakiah Daradjat terkenang baik di kalangan yang mengenalnya. Pribadinya yang sangat percaya diri membuat Zakiah dikagumi banyak pihak.

Bagi Wakil Menteri Agama, Nasaruddin Umar, Zakiah Daradjat adalah simbol muslimah di Asia Tenggara. Dia mampu menjadi perempuan pertama yang dapat mengangkat dirinya sebagai tokoh elite umat. Bukan hanya di Indonesia, namun juga di Asia Tenggara. "Beliau adalah simbol muslimah Asia Tenggara waktu itu," kata Nasaruddin, Selasa (15/1).

Menurutnya, Zakiah menjadi sosok sentral muslimah Asia Tenggara. Dalam ajang internasional, Zakiah sering didaulat untuk mewakili muslimah Asia Tenggara. Menurut Nasaruddin, hal itu karena percaya dirinya yang besar, kemampuannya yang mumpuni, ditambah penguasaan bahasa Arabnya yang fasih. Padahal, pada masa itu, belum ada sosok muslimah yang mampu menembus level itu.

Nasaruddin menambahkan, Zakiah juga menjadi sosok yang bisa diterima semua kalangan. Bukan hanya di lingkungan Muhammadiyah, di Nahdatul Ulama dan gerakan Islam lain juga menerima dengan baik. Zakiah juga menjadi perempuan pertama yang setelah menyelesaikan program Doktornya di Mesir, langsung menjabat sebagai Direktur Perguruan Tinggi di Kementerian Agama.

Selain sebagai penceramah ulung, kepiawaian Zakiah adalah menulis buku. Sampai saat ini, kata Nasaruddin, sudah banyak buku Zakiah yang diterbitkan. Prestasi itu sulit disamai oleh perempuan lain sampai saat ini. Bisa jadi, tambah Nasaruddin, Zakiah menjadi sosok muslimah yang sulit ditemui lagi. "Pikirannya moderat dan tidak membeda-bedakan orang," tegas Nasaruddin.

Bahkan, tambah mantan Dirjen Pendidikan Islam Kemenag itu, sosok Zakiah seperti sosok Hamka dalam versi muslimah. Meskipun orang Padang, Zakiah tidak pernah memandang etnik maupun golongan. Indonesia kehilangan muslimah yang mungkin tidak ada lagi yang menyamai, tegas Nasarruddin.

Redaktur: Dewi Mardiani
Reporter: Agus Raharjo

Hamidah Quthb, Informan Pemberani

 REPUBLIKA.CO.ID, Belia yang tengah tumbuh dan sangat sensitif sering terkejut dengan hantu yang misterius.

Demikian Cendekiawan Muslim Sayyid Quthb menyebut saudari bungsunya, Hamidah Quthb.

Memori itu diabadikan di sebuah buku bercorak sastrawi dan terbit pada 1945. Judulnya, Empat Spektrum (al-Athyaf al-Arba'ah), sebuah buku catatan hasil karya empat saudara, Sayyid, Muhammad, Aminah, dan Hamidah.

Keempat bersaudara terkenal kekompakannya. Mereka bersama-sama mengkaji ilmu dan berdakwah. Bahkan, tak gentar menghadapi ujian.

Hamidah terkenal sebagai sosok daiyah (sebutan untuk dai perempuan—Red) yang gigih memperjuangkan kebenaran. Tokoh kelahiran Kairo, 1937 ini, memulai karier dakwahnya sejak bergabung dengan Ikhwanul Muslimin (IM).

Ketertarikannya terhadap kelompok yang dibentuk oleh Syahid Hasan al-Banna itu berawal ketika sang kakak, Sayyid Quthb, bergabung dengan jamaah tersebut pascakembali dari Amerika Serikat.

Hamidah getol mensyiarkan Islam, memberdayakan masyarakat, dan melawan kezaliman. Bersama sejumlah daiyah, ia mengemban misi mulia itu. Salah satunya ialah Zainab al-Ghazali.

Pada 1954, rezim Gamal Abd El-Nasir menangkap sebagian besar anggota IM. Sang kakak, Sayyid Quthb, turut diciduk oleh penguasa zalim tersebut. Mereka divonis dengan sanksi yang beragam. Ada yang dihukum seumur hidup. Tak sedikit yang dijatuhi hukuman mati.

Hamidah tidak tinggal diam. Semangatnya tak luntur. Ia terpanggil untuk berbuat sesuatu. Bersama beberapa tokoh, seperti Aminah Ali, Naimah Khathab, Zainab al-Ghazali, dan Khalidah al-Hudhaibi, Hamidah mendampingi dan mengurus keluarga para anggota IM yang ditahan.

Hamidah memiliki andil yang besar dalam proses Gerakan (tandhim) IM 1965.   Embrio gerakan itu telah muncul pada 1957.

Sayyid Quthb terpilih sebagai penanggung jawab dan koordinator gerakan tersebut. Padahal, penulis “Tafsir Fi Dhilal Alquran” itu berada di balik jeruji besi.

Untuk kelancaran informasi dengan para anggota di luar sel, Hamidah ditunjuk sebagai informan. Usianya kali itu masih 21 tahun. Tak mudah berposisi sebagai utusan kala itu. Prosedur penjara sangat ketat, bahkan nyaris berubah setiap waktu.

Tak jarang, terpaksa menunggu selama lima jam di luar penjara. Tak ada tempat berteduh, di bawah sinar matahari yang menyengat. Hanya untuk satu tujuan, bertemu dengan sang kakak yang divonis 15 tahun penjara.

Kondisi itu berlangsung hingga 1965. Gerakan revolusi untuk menggulingkan tiran yang zalim gagal. Pada tahun yang sama, seluruh anggota keluarga Quthb ditangkap. Mereka mendapat siksaan pedih.

Pada tahun itu juga, Pengadilan Mesir yang dipimpin oleh Muhammad Fuad ad-Dajawi menjatuhkan vonis mati terhadap Sayyid Quthb. Keputusan dari tiran zalim. Sebuah catatan merah, sejarah kelam Mesir modern.

Demikian pula Hamidah. Ia mendekam di penjara selama enam tahun empat bulan. Ini ditambah dengan hukuman kerja rodi selama sepuluh tahun.

Saat itu, ia masih gadis dan berumur 29 tahun. Keimanannya tak luntur sedikit pun. Justru, keyakinannya bertambah. Ia mampu menghafal Alquran 30 juz selama di penjara.

Cobaan itu berakhir ketika ia dinyatakan keluar penjara pada 1972. Selang beberapa saat, ia menikah dengan seorang dokter spesialis jantung, Prof Hamdi Mas'ud.

Hamidah dan suaminya hijrah ke Paris, Prancis. Di “Negeri Menara Eiffel” ini Hamidah tetap berdakwah.

Ia mempersilakan Muslimah belajar di tempat tinggalnya. Ia tetap kuat memegang prinsip. Ia menolak melepaskan jilbab untuk mendapatkan perpanjangan visa.

Pemerintah setempat akhirnya berkompromi, dan memberikan keleluasaan baginya untuk tetap berhijab. Demikian pula Muslimah yang lain.

Di mata sang suami, yaitu  Prof Hamdi Mas'ud, ada dua peristiwa yang menunjukkan spiritualitas dan keimanan Hamidah yang tinggi. Deraan cobaan yang menimpa dirinya dan anggota keluarganya tak membuatnya mundur untuk melawan kezaliman.

Yang pertama, ia tabah saat saudara sepersusuannya, Rifat Bakar Syafi', meninggal akibat siksaan di penjara oleh rezim Gamal Abd El-Nasir. Mayoritas keluarganya mendapat intimidasi.

Tak sedikit yang menemui ajal mereka. Termasuk, kakaknya sendiri, Sayyid Quthb. Beberapa saat menjelang hukum gantung dilaksanakan atas saudaranya itu, ia menemui kakak tercintanya itu.

Detik-detik terakhir ia berbicara dan bertatap muka. “Betapa saya rasakan keteguhan imannya,” kata sang suami. Pada Selasa, 17 Juli 2012, daiyah yang terkenal sastrawan ini menghadap Sang Khalik. Kematiannya tersebut akibat penyakit usus buntu akut yang ia derita.




Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Nashih Nashrullah

Sunday, January 13, 2013

Jejak Langkah Fazlur Rahman

REPUBLIKA.CO.ID, Pandangan-pandangannya tentang Alquran, hadis, dan hukum-hukum tentang berbagai masalah kerap menimbulkan kontroversi.

Dunia Islam tak bisa melewatkan tokoh yang satu ini, Fazlur Rahman.

Dia adalah pemikir Islam di abad ke-19 yang pemikirannya kerap mengundang kontroversi, namun sebenarnya mengusung semangat perubahan yang positif dalam Islam.

Fazlur lahir di Pakistan pada 21 September 1919. Ia dilahirkan di tengah keluarga Muslim yang sangat taat dan menjalankan tradisi mazhab Hanafi.

Berkat latar belakang keluarga seperti itu pula, Fazlur tumbuh menjadi sosok Muslim yang juga sangat serius dalam beribadah.

Ayahnya adalah seorang alim yang terdidik dalam pola pemikiran Islam tradisional. Namun, sang ayah tidak menutup dirinya dengan modernitas.

Sang ayah mengajarkannya bahwa modernitas bukanlah racun, melainkan sebagai sebuah tantangan ataupun kesempatan yang baik untuk membangun keimanan dan moralitas. Ini pula yang diyakini Fazlur sejak kecil.

Setelah menamatkan pendidikan menengah, dia melanjutkan studi ke Universitas Punjab dan memperoleh gelar MA dalam sastra Arab pada 1942. Lalu, pada 1946, Fazlur melanjutkan pendidikannya ke Inggris. Keputusan untuk belajar ke Inggris dianggap sebagai hal yang aneh oleh orang-orang di sekitarnya.

Saat itu, tidak umum bila seorang Muslim pergi ke Barat untuk belajar Islam di sana. Bila ada yang berani mengambil langkah seperti ini, risikonya adalah ia tidak akan diterima kembali di negeri asalnya.

Namun, Fazlur tidak ambil pusing. Dia masuk sebagai mahasiswa program doktoral di Oxford University, Inggris. Pada 1951, dia berhasil meraih gelar doktor filsafat.

Setelah menamatkan pendidikan di Oxford, ia mengajar selama beberapa tahun di Durham University, Inggris. Selanjutnya, menjabat sebagai Associate Professor of Philosophy di Institute of Islamic Studies, Mc Gill University, Kanada.

Fazlur Rahman kembali ke Pakistan sekitar 1960 dan menjabat selama beberapa waktu sebagai salah seorang staf senior pada Lembaga Riset Islam.

Dua tahun kemudian, ia ditunjuk sebagai direktur lembaga tersebut. Dia juga diangkat sebagai anggota Dewan Penasihat Ideologi Islam oleh Pemerintah Pakistan.

Di dua lembaga itulah, Fazlur berusaha menyebarkan pemikirannya tentang Islam.  Dia menggagas adanya penafsiran kembali Islam untuk menjawab tantangan dan kebutuhan masa itu.

Kritik-kritiknya semakin tajam ketika mengemukakan pandangan tentang definisi “Islam” bagi Pakistan, terutama terhadap pandangan kaum tradisionalis dan fundamentalis.

Pandangan-pandangannya tentang alquran, hadis, dan hukum-hukum tentang berbagai masalah menimbulkan kontroversi yang berkepanjangan dan berskala nasional. Situasi semakin tidak terkendali dan Fazlur terus-menerus mendapatkan hujatan.

Tidak ada yang mau mendukung pemikirannya. Akhirnya, Fazlur pun mengajukan pengunduran diri dari jabatan Direktur Lembaga Riset Islam. Tak lama kemudian, ia melepas jabatan sebagai anggota Dewan Penasihat Ideologi Islam Pakistan.

Hijrah ke Chicago

Merasa tak nyaman di Pakistan, dia memutuskan hijrah ke Chicago, Amerika Serikat (AS). Sejak 1970, ia menjabat sebagai guru besar kajian Islam dalam berbagai aspeknya pada Department of Near Eastern Languages and Civilization, University of Chicago.

Menetap di AS, Fazlur Rahman merasa memperoleh kebebasan intelektualnya. Ia  menyusun pemikiran-pemikirannya tentang pembaruan dalam Islam dan kepadanyalah para mahasiswa dari berbagai negeri Muslim belajar Islam.

Selain memberi kuliah dan kajian keislaman, dia aktif dalam berbagai kegiatan intelektual, seperti memimpin proyek penelitian, mengikuti berbagai seminar internasional, serta memberikan ceramah di berbagai pusat studi terkemuka.

Ia pun aktif menulis buku-buku keislaman dan menyumbangkan artikel ke berbagai jurnal internasional. Karya-karyanya mencakup hampir seluruh studi Islam normatif maupun historis.

Dan, dia mulai mengidentifikasi diri sebagai neomodernis sehubungan dengan usaha pembaruan yang sedang dilancarkan. Fazlur meninggal dunia pada 26 Juli 1988 di Chicago.

Sejumlah pengamat menilai Fazlur adalah seorang tokoh Islam liberal.

Namun, pengamat politik dan dosen pascasarjana Universitas Indonesia, Bachtiar Effendi, menyatakan pemikiran Fazlur tak bisa serta-merta dikaitkan dengan gerakan Islam liberal.

Dia adalah pengusung neomodernisme yang tidak bisa serta-merta dikaitkan dengan liberalisme. Hal ini tampak dari sikap Fazlur yang tidak menentang adanya negara Islam, seperti Pakistan.

Ini bukanlah sikap seorang pendukung Islam liberal yang cenderung memisahkan agama dan nasionalitas.

“Dengan senang hati Fazlur menerima kenyataan bahwa Pakistan adalah negara Islam. Dengan senang hati pula Fazlur memberikan nasihat-nasihat dan masukan bagi Jenderal Ayyub Khan, pemimpin Pakistan kala itu,” ujarnya dalam peringatan mengenang 20 tahun wafatnya Fazlur Rahman, beberapa waktu lalu.

Meski demikian, penerimaan Fazlur terhadap gagasan negara Islam Pakistan bukannya tanpa sikap kritis. Ia berusaha memberi muatan dan isi yang berbeda kaitannya dengan negara Islam Pakistan.

Fazlur, menurut Bachtiar, adalah sosok pemikir yang kompleks, sehingga sebutan-sebutan, seperti tradisionalis, modernis, neotradisonalis, neomodernis, tidak cukup tepat untuk menjelaskan dirinya.

Yang pasti, Fazlur adalah tokoh Islam yang berusaha mengembalikan sifat Islam sebagai agama yang dinamis dan tidak kalah dengan modernitas yang bisa diterima kapan saja meskipun telah melintasi waktu ribuan tahun lamanya.

Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Fitria Andayani

Saturday, January 12, 2013

Belajar Lagi dari Nol

Belajar lagi dari nol di dunia baru dengan pengalaman NOL. Sulit, tapi harus dilakoni jika tak mau mati di tengah jalan. Bismillah...

Tuesday, March 20, 2012


Analisis seorang kawan soal salah hitung Pemerintah dalam hal bisnis BBM di Indonesia (CoPas dari sumber online) :

1. Pertamina memperoleh hasil penjualan BBM premium sebanyak 63 Milyar liter dengan harga Rp.4500,- yang hasilnya Rp. 283,5 Trilyun

2. Pertamina harus impor dari Pasar Internasional Rp. 149,887 Trilyun

3. Pertamina membeli dari Pemerintah Indonesia Rp. 224,546 Trilyun

4. Pertamina mengeluarkan uang untuk LRT 63 Milyar Liter @Rp.566,- = Rp. 35,658 Trilyun

5. Jumlah pengeluaran Pertamina Rp. 410,091 Trilyun

6. Pertamina kekurangan uang, maka Pemerintah yang membayar kekurangan ini yang di Indonesia pembayaran kekurangan ini disebut “SUBSIDI”

7. Kekurangan yang dibayar pemerintah (SUBSIDI) = Jumlah pengeluaran Pertamina dikurangi dengan hasil penjualan Pertamina BBM kebutuhan di Indonesia :
= Rp. 410,091 Trilyun – Rp. 283,5 Trilyun
= Rp. 126,591 Trilyun

8. Tapi ingat, Pemerintah juga memperoleh hasil penjualan juga kepada Pertamina (karena Pertamina juga membeli dari pemerintah) sebesar Rp. 224,546 Trilyun.

*Catatan Penting: hal inilah yang tidak pernah disampaikan oleh Pemerintah kepada masyarakat

9. Maka kesimpulannya adalah pemerintah malah kelebihan uang, yaitu sebesar perolehan hasil penjualan ke pertamina – kekurangan yang dibayar Pemerintah (subsidi)
= Rp. 224,546 Trilyun – Rp. 126,591 Trilyun
= Rp. 97,955 Trilyun

"Artinya, APBN tidak jebol justru saya jadi bertanya, dimana sisa uang keuntungan SBY menjual BBM sebesar Rp. 97,955 Trilyun".(analisa Kwik Kian Gie & Anggito Abimanyu)

Komentar saya:
UTANG INDONESIA = 1.800 Trilyun. Kalau memang hitungan Kwik Kian Gie & Anggito ini benar, maka bisa dipakai untuk bayar hutang. Rp 97,995 Trilyun - 1.800 Trilyun = Rp 96,195 Trilyun. (kalau tidak salah Kwik Kian Gie pernah ngomong ini di TVOne acara apa kabar indonesia bersama Anggito Abimanyu).
Hujan gerimis di Pagi Hari


Alhamdulillah, pagi ini hujan gerimis. Semoga memberi berkah bagi alam semesta, khususnya kota Tulungagung.

Hujan memang bikin kita kadang terhambat dalam beraktifitas. Mau berangkat sekolah atau bekerja jadi malas. Namun dibalik itu semua kita menikmati keberuntungan. Udara jadi sejuk. Hingar bingar kendaraan jadi berkurang.

Tetap semangat dalam beraktifitas !

Monday, October 20, 2008

BUDAYA MALU DIKIKIS HABIS
GERAKAN SYAHWAT MERDEKA


Pidato Kebudayaan Taufiq Ismail



Sederetan gelombang besar menggebu-gebu menyerbu pantai Indonesia,
naik ke daratan, masuk ke pedalaman. Gelombang demi gelombang ini
datang susun-bersusun dengan suatu keteraturan, mulai 1998 ketika
reformasi meruntuhkan represi 39 tahun gabungan zaman Demokrasi
Terpimpin dan Demokrasi Pembangunan, dan membuka lebar pintu dan
jendela Indonesia. Hawa ruangan yang sumpek dalam dua zaman itu
berganti dengan kesegaran baru. Tapi tidak terlalu lama, kini
digantikan angin yang semakin kencang dan arus menderu-deru.

Kebebasan berbicara, berpendapat, dan mengeritik, berdiri-menjamurnya
partai-partai politik baru, keleluasaan berdemonstrasi, ditiadakannya
SIUPP (izin penerbitan pers), dilepaskannya tahanan politik,
diselenggarakannya pemilihan umum bebas dan langsung, dan seterusnya,
dinikmati belum sampai sewindu, tapi sementara itu silih berganti
beruntun-runtun belum terpecahkan krisis yang tak habis-habis. Tagihan
rekening reformasi ternyata mahal sekali.

Bahana yang datang terlambat dari benua-benua lain itu menumbuh dan
menyuburkan kelompok permissif dan addiktif negeri kita, yang sejak
1998 naik daun. Arus besar yang menderu-deru menyerbu kepulauan kita
adalah gelombang sebuah gerakan syahwat merdeka. Gerakan tak bersosok
organisasi resmi ini tidak berdiri sendiri, tapi bekerjasama
bahu-membahu melalui jaringan mendunia, dengan kapital raksasa
mendanainya, ideologi gabungan yang melandasinya, dan banyak media
massa cetak dan elektronik jadi pengeras suaranya.

Siapakah komponen gerakan syahwat merdeka ini?

PERTAMA adalah praktisi sehari-hari kehidupan pribadi dan kelompok
dalam perilaku seks bebas hetero dan homo, terang-terangan dan
sembunyi-sembunyi. Sebagian berjelas-jelas anti kehidupan berkeluarga
normal, sebagian lebih besar, tak mau menampakkan diri.

KEDUA, penerbit majalah dan tabloid mesum, yang telah menikmati tiada
perlunya SIUPP. Mereka menjual wajah dan kulit perempuan muda, lalu
menawarkan jasa hubungan kelamin pada pembaca pria dan wanita lewat
nomor telepon genggam, serta mengiklankan berbagai alat kelamin tiruan
(kue pancong berkumis dan lemper berbaterai) dan boneka karet
perempuan yang bisa dibawa bobok bekerjasama.

KETIGA, produser, penulis skrip dan pengiklan acara televisi syahwat.
Seks siswa dengan guru, ayah dengan anak, siswa dengan siswa, siswa
dengan pria paruh baya, siswa dengan pekerja seks komersial ----
ditayangkan pada jam prime time, kalau pemainnya terkenal. Remaja
berseragam OSIS memang menjadi sasaran segmen pasar penting
tahun-tahun ini. Beberapa guru SMA menyampaikan keluhan pada saya.
"Citra kami guru-guru SMA di sinetron adalah citra guru tidak cerdas,
kurang pergaulan dan memalukan." Mari kita ingat ekstensifnya pengaruh
tayangan layar kaca ini. Setiap tayangan televisi, rata-rata
170.000.000 yang memirsa. Seratus tujuh puluh juta pemirsanya.

KEEMPAT, 4,200,000 (empat koma dua juta) situs porno dunia, 100,000
(seratus ribu) situs porno Indonesia di internet. Dengan empat kali
klik di komputer, anatomi tubuh perempuan dan laki-laki, sekaligus
fisiologinya, dapat diakses tanpa biaya, sama mudahnya dilakukan baik
dari San Francisco, Timbuktu, Rotterdam mau pun Klaten. Pornografi
gratis di internet luarbiasa besar jumlahnya. Seorang sosiolog Amerika
Serikat mengumpamakan serbuan kecabulan itu di negaranya bagaikan
"gelombang tsunami setinggi 30 meter, dan kami melawannya dengan dua
telapak tangan." Di Singapura, Malaysia, Korea Selatan situs porno
diblokir pemerintah untuk terutama melindungi anak-anak dan remaja.
Pemerintah kita tidak melakukan hal yang sama.

KELIMA, penulis, penerbit dan propagandis buku syahwat ¼ sastra dan ½
sastra. Di Malaysia, penulis yang mencabul-cabulkan karyanya penulis
pria. Di Indonesia, penulis yang asyik dengan wilayah selangkang dan
sekitarnya mayoritas penulis perempuan. Ada kritikus sastra Malaysia
berkata: "Wah, pak Taufiq, pengarang wanita Indonesia berani-berani.
Kok mereka tidak malu, ya?" Memang begitulah, RASA MALU ITU YANG SUDAH
TERKIKIS, bukan saja pada penulis-penulis perempuan aliran s.m.s.
(sastra mazhab selangkang) itu, bahkan lebih-lebih lagi pada banyak
bagian dari bangsa.

KEENAM, penerbit dan pengedar komik cabul. Komik yang kebanyakan
terbitan Jepang dengan teks dialog diterjemahkan ke bahasa kita itu
tampak dari kulit luar biasa-biasa saja, tapi di dalamnya banyak
gambar hubungan badannya, misalnya (bukan main) antara siswa dengan Bu
Guru. Harganya Rp 2.000. Sebagian komik-komik itu tidak semata lucah
saja, tapi ada pula kadar ideologinya. Ideologinya adalah anjuran
perlawanan pada otoritas orangtua dan guru, yang banyak aturan
ini-itu, termasuk terhadap seks bebas. Dalam salah satu komik itu saya
baca kecaman yang paling sengit adalah pada Menteri Pendidikan Jepang.
Tentu saja dalam teks terjemahan berubah, yang dikecam jadinya Menteri
Pendidikan Nasional kita.

KETUJUH, produsen, pengganda, pembajak, pengecer dan penonton VCD/DVD
biru. Indonesia kini jadi sorga besar pornografi paling murah di
dunia, diukur dari kwantitas dan harganya. Angka resmi produksi dan
bajakan tidak saya ketahui, tapi literatur menyebut antara 2 juta - 20
juta keping setahun. Harga yang dulu Rp30.000 sekeping, kini turun
menjadi Rp3.000, bahkan lebih murah lagi. Dengan biaya 3 batang rokok
kretek yang diisap 15 menit, orang bisa menonton sekeping VCD/DVD biru
dengan pelaku kulit putih dalam 6 posisi selama 60 menit. Luarbiasa
murah. Anak SD kita bisa membelinya tanpa risi tanpa larangan
peraturan pemerintah.

Seorang peneliti mengabarkan bahwa di Jakarta Pusat ada murid-murid
laki-laki yang kumpul jam dua sore seminggu di rumah salah seorang
dari mereka, lalu menayangkan VCD-DVD porno. Sesudah selesai mereka
onani bersama-sama. Siswa sekolah apa, dan kelas berapa? Siswa SD,
kelas lima. Tak diceritakan apa ekses selanjutnya.

KEDELAPAN, fabrikan dan konsumen alkohol. Minuman keras dari berbagai
merek dengan mudah bisa diperoleh di pasaran. Kemasan botol kecil
diproduksi, mudah masuk kantong celana, harga murah, dijual di kios
tukang rokok di depan sekolah, remaja dengan bebas bisa membelinya. Di
Amerika dan Eropa batas umur larangan di bawah 18 tahun. Negeri kita
pasar besar minuman keras, jualannya sampai ke desa-desa.

KESEMBILAN, produsen, pengedar dan pengguna narkoba. Tingkat
keterlibatan Indonesia bukan pada pengedar dan pengguna saja, bahkan
kini sampai pada derajat produsen dunia. Enam juta anak muda Indonesia
terperangkap sebagai pengguna, ratusan ribu menjadi korbannya.

KESEPULUH, fabrikan, pengiklan dan pengisap nikotin. Korban racun
nikotin 57.000 orang / tahun, maknanya setiap hari 156 orang mati,
atau setiap 9 menit seorang pecandu rokok meninggal dunia. Pemasukan
pajak Rp15 triliun (1996), tapi ongkos pengobatan berbagai penyakit
akibatnya Rp30 triliun rupiah. Mengapa alkohol, narkoba dan nikotin
termasuk dalam kategori kontributor arus syahwat merdeka ini? Karena
sifat addiktifnya, kecanduannya, yang sangat mirip, begitu pula proses
pembentukan ketiga addiksi tersebut dalam susunan syaraf pusat
manusia. Dalam masyarakat permissif, interaksi antara seks dengan
alkohol, narkoba dan nikotin, akrab sekali, sukar dipisahkan.
Interaksi ini kemudian dilengkapi dengan tindak kriminalitas
berikutnya, seperti pemerasan, perampokan sampai pembunuhan. Setiap
hari berita semacam ini dapat dibaca di koran-koran.

KESEBELAS, pengiklan perempuan dan laki-laki panggilan. Dalam
masyarakat permissif, iklan semacam ini menjadi jembatan komunikasi
yang diperlukan.

KEDUABELAS, germo dan pelanggan prostitusi. Apabila hubungan syahwat
suka-sama-suka yang gratis tidak tersedia, hubungan dalam bentuk
perjanjian bayaran merupakan jalan keluarnya. Dalam hal ini prostitusi
berfungsi.

KETIGABELAS, dokter dan dukun praktisi aborsi. Akibat tujuh unsur
pertama di atas, kasus perkosaan dan kehamilan di luar pernikahan
meningkat drastis. Setiap hari dapat kita baca kasus siswa SMP/SMA
memperkosa anak SD, satu-satu atau rame-rame, ketika papi-mami tak ada
di rumah dan pembantu pergi ke pasar berbelanja. Setiap ditanyakan apa
sebab dia/mereka memperkosa, selalu dijawab 'karena terangsang sesudah
menonton VCD/DVD biru dan ingin mencobakannya. ' Praktisi aborsi gelap
menjadi tempat pelarian, bila kehamilan terjadi.

Seorang peneliti dari sebuah universitas di Jakarta menyebutkan bahwa
angka aborsi di Indonesia 2,2 juta setahunnya. Maknanya setiap 15
detik seorang calon bayi di suatu tempat di negeri kita meninggal
akibat dari salah satu atau gabungan ketujuh faktor di atas. Inilah
produk akhirnya. Luar biasa destruksi sosial yang diakibatkannya.

Dalam gemuruh gelombang gerakan syahwat merdeka ini, pornografi dan
pornoaksi menjadi bintang panggungnya, melalui gemuruh kontroversi
pro-kontra RUU APP.

Karena satu-dua-atau beberapa kekurangan dalam RUU itu, yang total
kontra menolaknya, tanpa sadar terbawa dalam gelombang gerakan syahwat
merdeka ini. Tetapi bisa juga dengan sadar memang mau terbawa di
dalamnya.

Salah satu kekurangan RUU itu, yang perlu ditambah-sempurnaka n adalah
perlindungan bagi anak-cucu kita, jumlahnya 60 juta, terhadap
kekerasan pornografi. Dalam hiruk pikuk di sekitar RUU ini, terlupakan
betapa dalam usia sekecil itu 80% anak-anak 9-12 tahun terpapar
pornografi, situs porno di internet naik lebih sepuluh kali lipat,
lalu 40% anak-anak kita yang lebih dewasa sudah melakukan hubungan
seks pra-nikah. Sementara anak-anak di Amerika Serikat dilindungi oleh
6 Undang-undang, anak-anak kita belum, karena undang-undangnya belum
ada. KUHP yang ada tidak melindungi mereka karena kunonya. Gelombang
Syahwat Merdeka yang menolak total RUU ini berarti menolak melindungi
anak-cucu kita sendiri.

Gerakan tak bernama tak bersosok organisasi ini terkoordinasi
bahu-membahu menumpang gelombang masa reformasi mendestruksi moralitas
dan tatanan sosial. Ideologinya neo-liberalisme, pandangannya
materialistik, disokong kapitalisme jagat raya.

Menguji Rasa Malu Diri Sendiri

Seorang pengarang muda meminta pendapat saya tentang cerita pendeknya
yang dimuat di sebuah media. Dia berkata, "Kalau cerpen saya itu
dianggap pornografis, wah, sedihlah saya." Saya waktu itu belum sempat
membacanya. Tapi saya kirimkan padanya pendapat saya mengenai
pornografi. Begini.

Misalkan saya menulis sebuah cerpen. Saya akan mentes, menguji karya
saya itu lewat dua tahap. Pertama, bila tokoh-tokoh di dalam karya
saya itu saya ganti dengan ayah, ibu, mertua, isteri, anak, kakak atau
adik saya; lalu kedua, karya itu saya bacakan di depan ayah, ibu,
mertua, isteri, anak, kakak, adik, siswa di kelas sekolah, anggota
pengajian masjid, jamaah gereja; kemudian saya tidak merasa malu,
tiada dipermalukan, tak canggung, tak risi, tak muak dan tidak jijik
karenanya, maka karya saya itu bukan karya pornografi.

Tapi kalau ketika saya membacakannya di depan orang-orang itu saya
merasa malu, dipermalukan, tak patut, tak pantas, canggung, risi, muak
dan jijik, maka karya saya itu pornografis.

Hal ini berlaku pula bila karya itu bukan karya saya, ketika saya
menilai karya orang lain. Sebaliknya dipakai tolok ukur yang sama
juga, yaitu bila orang lain menilai karya saya. Setiap pembaca bisa
melakukan tes tersebut dengan cara yang serupa.

Pendekatan saya adalah pengujian rasa malu itu. Rasa malu itu yang
kini luntur dalam warna tekstil kehidupan bangsa kita, dalam terlalu
banyak hal.

Sebuah majalah mesum dunia dengan selaput artistik, Playboy, menumpang
taufan reformasi dan gelombang liberalisme akhirnya terbit juga di
Indonesia. Majalah ini diam-diam jadi tempat pelatihan awal onani
pembaca Amerika, dan kini, beberapa puluh tahun kemudian, dikalahkan
internet, sehingga jadilah publik pembaca Playboy dan publik langganan
situs porno internet Amerika masturbator terbesar di dunia. Majalah
pabrik pengeruk keuntungan dari kulit tubuh perempuan ini, mencoba
menjajakan bentuk eksploitasi kaum Hawa di negeri kita yang pangsa
pasarnya luarbiasa besar ini. Bila mereka berhasil, maka bakal
berderet antri masuk lagi majalah anti-tekstil di tubuh perempuan dan
fundamentalis- syahwat-merdeka seperti Penthouse, Hustler, Celebrity
Skin, Cheri, Swank, Velvet, Cherry Pop, XXX Teens dan seterusnya.

Untuk mengukur sendiri rasa malu penerbit dan redaktur Playboy
Indonesia, saya sarankan kepada mereka melakukan sebuah percobaan,
yaitu mengganti model 4/5 telanjang majalah itu dengan ibu kandung,
ibu mertua, kakak, adik, isteri dan anak perempuan mereka sendiri.
Saran ini belum berlaku sekarang, tapi kelak suatu hari ketika Playboy
Indonesia keluar perilaku aslinya dalam masalah ketelanjangan model
yang dipotret. Sekarang mereka masih malu-malu kucing. Sesudah dibuat
dalam edisi dummy, promosikan foto-foto itu itu di 10 saluran televisi
dan 25 suratkabar. Bagaimana? Berani? Malu atau tidak?

Pendekatan lain yang dapat dipakai juga adalah menduga-memperkirak
an-mengingat akibat yang mungkin terjadi sesudah orang membaca karya
pornografis itu. Sesudah seseorang membaca, katakan cerpen yang
memberi sugesti secara samar-samar terjadinya hubungan kelamin,
apalagi kalau dengan jelas mendeskripsikan adegannya, apakah dengan
kata-kata indah yang dianggap sastrawi atau kalimat-kalimat brutal,
maka pembaca akan terangsang. Sesudah terangsang yang paling penakut
akan onani dan yang paling nekat akan memperkosa. Memperkosa perempuan
dewasa tidak mudah, karena itu anak kecil jadi sasaran. Perkosaan
banyak terjadi terhadap anak-anak kecil masih bau susu bubuk belum
haid yang di rumah sendirian karena papi-mami pergi kerja, pembantu
pergi ke pasar, jam 9-10 pagi.

Anak-anak tanggung pemerkosa itu, ketika diinterogasi dan ditanya
kenapa, umumnya bilang karena sesudah menonton VCD porno mereka
terangsang ingin mencoba sendiri. Merayu orang dewasa takut, mendekati
perempuan-bayaran tidak ada uang. Kalau diteliti lebih jauh kasus yang
sangat banyak ini (peneliti yang rajin akan bisa mendapat S-3 lewat
tumpukan guntingan koran), mungkin saja anak itu juga pernah membaca
cerita pendek, puisi, novel atau komik cabul.

Akibat selanjutnya, merebak-meluaslah aborsi, prostitusi, penularan
penyakit kelamin gonorrhoea, syphilis, HIV-AIDS, yang meruyak di
kota-kota besar Indonesia berbarengan dengan akibat penggunaan alkohol
dan narkoba yang tak kalah destruktifnya.

Akibat Sosial Ini Tak Pernah Difikirkan Penulis

Semua rangkaian musibah sosial ini tidak pernah difikirkan oleh
penulis cerpen-puisi- novelis erotis yang umumnya asyik berdandan
dengan dirinya sendiri, mabuk posisi selebriti, ke sana disanjung ke
sini dipuji, tidak pernah bersedia merenungkan akibat yang mungkin
ditimbulkan oleh tulisannya. Sejumlah cerpen dan novel pasca reformasi
sudah dikatakan orang mendekati VCD/DVD porno tertulis. Maukah mereka
membayangkan, bahwa sesudah sebuah cerpen atau novel dengan rangsangan
syahwat terbit, maka beberapa ratus atau ribu pembaca yang terangsang
itu akan mencontoh melakukan apa yang disebutkan dalam alinea-alinea
di atas tadi, dengan segala rentetan kemungkinan yang bisa terjadi
selanjutnya?

Destruksi sosial yang dilakukan penulis cerpen-novel syahwat itu,
beradik-kakak dengan destruksi yang dilakukan produsen-pengedar-
pembajak- pengecer VCD/DVD porno, beredar (diperkirakan) sebanyak 20
juta keping, yang telah meruyak di masyarakat kita, masyarakat
konsumen pornografi terbesar dan termurah di dunia. Dulu harganya
Rp30.000 sekeping, kini Rp3.000, sama murahnya dengan 3 batang rokok
kretek. Mengisap rokok kretek 15 menit sama biayanya dengan memiliki
dan menonton sekeping VCD/DVD syahwat sepanjang 6o menit itu. Bersama
dengan produsen alkohol, narkoba dan nikotin, mereka tidak sadar telah
menjadi unsur penting pengukuhan masyarakat permissif-addiktif
serba-boleh- apa-saja-genjot, yang dengan bersemangat melabrak apa
yang mereka anggap tabu selama ini, berpartisipasi meluluh-lantakkan
moralitas anak bangsa.

Perzinaan yang Hakekatnya Pencurian adalah Ciri Sastra Selangkang

Akhirnya sesudah mendapatkan korannya, saya membaca cerpen karya
penulis yang disebut di atas. Dalam segi teknik penulisan, cerpen itu
lancar dibaca. Dalam segi isi sederhana saja, dan secara klise sering
ditulis pengarang Indonesia yang pertama kali pergi ke luar negeri,
yaitu pertemuan seorang laki-laki di negeri asing dengan perempuan
asing negeri itu. Kedua-duanya kesepian. Si laki-laki Indonesia lupa
isteri di kampung. Di akhir cerita mereka berpelukan dan berciuman.
Begitu saja.

Dalam interaksi yang kelihatan iseng itu, cerpenis tidak menyatakan
sikap yang jelas terhadap hubungan kedua orang itu. Akan ke mana
hubungan itu berlanjut, juga tak eksplisit. Apakah akan sampai pada
hubungan pernikahan atau perzinaan, kabur adanya. Perzinaan adalah
sebuah pencurian. Yang melakukan zina, mencuri hak orang lain, yaitu
hak penggunaan alat kelamin orang lain itu secara tidak sah. Pezina
melakukan intervensi terhadap ruang privat alat kelamin yang dizinai.
Dia tak punya hak untuk itu. Yang dizinai bersekongkol dengan yang
melakukan penetrasi, dia juga tak punya hak mengizinkannya. Pemerkosa
adalah perampok penggunaan alat kelamin orang yang diperkosa.
Penggunaan alat kelamin seseorang diatur dalam lembaga pernikahan yang
suci adanya.

Para pengarang yang terang-terangan tidak setuju pada lembaga
pernikahan, dan/atau melakukan hubungan kelamin semaunya, yang
tokoh-tokoh dalam karyanya diberi peran syahwat merdeka, adalah
rombongan pencuri bersuluh sinar rembulan dan matahari. Mereka maling
tersamar. Mereka celakanya, tidak merasa jadi maling, karena
(herannya) ada propagandis sastra menghadiahi mereka glorifikasi, dan
penerbit menyediakan gratifikasi. Propagandis dan penerbit sastra
semacam ini, dalam istilah kriminologi, berkomplot dengan maling.

Hal ini berlaku bukan saja untuk karya (yang dianggap) sastra, tapi
juga untuk bacaan turisme, rujukan tempat hiburan malam, dan direktori
semacam itu. Buku petunjuk yang begitu langsung tak langsung
menunjukkan cara berzina, lengkap dengan nama dan alamat tempat
berkumpulnya alat-alat kelamin yang dapat dicuri haknya dengan cara
membayar tunai atau dengan kartu kredit gesekan.

Sastra selangkang adalah sastra yang asyik dengan berbagai masalah
wilayah selangkang dan sekitarnya. Kalau di Malaysia
pengarang-pengarang yang mencabul-cabulkan karya kebanyakan pria, maka
di Indonesia pengarang sastra selangkang mayoritas perempuan. Beberapa
di antaranya mungkin memang nymphomania atau gila syahwat, hingga ada
kritikus sastra sampai hati menyebutnya "vagina yang haus sperma".
Mestinya ini sudah menjadi kasus psikiatri yang baik disigi, tentang
kemungkinannya jadi epidemi, dan harus dikasihani.

Bila dua abad yang lalu sejumlah perempuan Aceh, Jawa dan Sulawesi
Selatan naik takhta sebagai penguasa tertinggi kerajaan, Sultanah atau
Ratu dengan kenegarawanan dan reputasi terpuji, maka di abad 21 ini
sejumlah perempuan Indonesia mencari dan memburu tepuk tangan kelompok
permissif dan addiktif sebagai penulis sastra selangkang, yang
aromanya jauh dari wangi, menyiarkan bau amis-bacin kelamin
tersendiri, yang bagi mereka parfum sehari-hari.

Dengan Ringan Nama Tuhan Dipermainkan

Di tahun 1971-1972, ketika saya jadi penyair tamu di Iowa Writing
Program, Universitas Iowa, di benua itu sedang heboh-hebohnya
gelombang gerakan perempuan. Kini, 34-an tahun kemudian, arus riaknya
sampai ke Indonesia. Kaum feminis Amerika waktu itu sedang
gencar-gencarnya mengumumkan pembebasan kaum perempuan, terutama
liberasi kopulasi, kebebasan berkelamin, di koran, majalah, buku dan
televisi.

Menyaksikan penampilan para maling hak penggunaan alat kelamin orang
lain itu di layar kaca, yang cengengesan dan mringas-mringis seperti
Gloria Steinem dan semacamnya, banyak orang mual dan jijik karenanya.
Mereka tidak peduli terhadap epidemi penyakit kelamin HIV-AIDS yang
meruyak menyebar seantero Amerika Serikat waktu itu, menimpa baik
orang laki-laki maupun perempuan, hetero dan homoseksual, akibat
kebebasan yang bablas itu.

Di setasiun kereta api bawah tanah New York, seorang laki-laki korban
HIV-AIDS menadahkan topi mengemis. Belum pernah saya melihat kerangka
manusia berbalut kulit tanpa daging dan lemak sekurus dia itu. Sinar
matanya kosong, suaranya parau. Kematian banyak anggota kelompok ini,
terutama di kalangan seniman di tahun 1970-an, tulis seorang esais,
bagaikan kematian di medan perang Vietnam. Sebuah orkestra simfoni di
New York, anggota-anggotanya bergiliran mati saban minggu karena
kejangkitan HIV-AIDS dan narkoba, akibat kebebasan bablas itu. Para
pembebas kaum perempuan itu tak acuh pada bencana menimpa bangsa
karena asyik mendandani penampilan selebriti diri sendiri. Saya sangat
heran. Sungguh memuakkan.

Kalimat bersayap mereka adalah, "This is my body. I'll do whatever I
like with my body." "Ini tubuhku. Aku akan lakukan apa saja yang aku
suka dengan tubuhku ini." Congkaknya luar biasa, seolah-olah tubuh
mereka itu ciptaan mereka sendiri, padahal tubuh itu pinjaman kredit
mencicil dari Tuhan, Cuma satu tingkat di atas sepeda motor Jepang dan
Cina yang diobral di iklan koran-koran.

Mereka tak ada urusan dengan Maha Produser Tubuh itu. Penganjur
masyarakat permissif di mana pun juga, tidak suka Tuhan dilibatkan
dalam urusan. Percuma bicara tentang moral dengan mereka. Dengan
ringan nama Tuhan dipermainkan dalam karya. Situasi kita kini
merupakan riak-riak gelombang dari jauh itu, dari abad 20 ke awal abad
21 ini, advokatornya dengan semangat dan stamina mirip anak-anak
remaja bertopi beisbol yang selalu meniru membeo apa saja yang berasal
dari Amerika Utara itu.

Penutup

Ciri kolektif seluruh komponen Gerakan Syahwat Merdeka ini adalah
budaya malu yang telah kikis nyaris habis dari susunan syaraf pusat
dan rohani mereka, dan tak adanya lagi penghormatan terhadap hak
penggunaan kelamin orang lain yang disabet-dicopet- dikorupsi dengan
entengnya. Tanpa memiliki hak penggunaan kelamin orang lain, maka
sesungguhnya Gerakan Syahwat Merdeka adalah maling dan garong
genitalia, berserikat dengan alkohol, nikotin dan narkoba, menjadi
perantara kejahatan, mencecerkan HIV-AIDS, prostitusi dan aborsi,
bersuluh bulan dan matahari. (*)

Thursday, August 17, 2006


Menertawakan Hollocaust di Iran


Siapa bilang kisah pembantaian kaum Yahudi saat Perang Dunia II melulu bercerita soal air mata. Datanglah ke Teheran, Iran, bulan-bulan ini. Di Museum Seni Kontemporer Palestina di kota itu, boleh jadi gambaran hollocaust itu justru membuat kita tersenyum, bahkan terpingkal.

Sejak Selasa (15/8) kemarin, di gedung itu memang digelar pameran internasional kartun hollocaust. Direncanakan berlangsung sebulan penuh, setidaknya 204 karya kartun dari berbagai penjuru dunia dipamerkan di sana.

''Kami menggelar pameran ini untuk mengetahui sejauh mana batas kebebasan ala Barat itu mereka yakini,'' kata Masoud Shojai, ketua Asosiasi Kartunis Iran, sekaligus ketua penyelenggara pameran tersebut, kepada kantor berita AFP. 'Mereka' yang dimaksud Masoud tentu saja dunia Barat, yang selama ini selalu mengusung dalih kebebasan untuk melanggar apa pun. Tak kecuali perasaan religius umat beragama lain.
Mau contoh? Satu saja, kasus kartun Nabi Muhammad, yang marak awal tahun ini. Alih-alih mawas diri, dengan dalih kebebasan itu pula, sebagian kalangan di dunia Barat justru mempertanyakan reaksi umat Islam atas munculnya kartun tersebut.
Tak perlu menunggu respons Barat, sebenarnya, karena Masoud sendiri sudah beroleh jawaban. ''Mereka bisa seenaknya menulis apa pun tentang Nabi kita. Tetapi, saat ada seorang saja mempertanyakan soal pembantaian Yahudi, dia malah didenda, bahkan dipenjara,'' Kata Masoud, menyindir.

Ucapan itu merujuk perlakuan hipokrit Barat terhadap David Irving, sejarahwan Inggris yang tidak hanya kena denda atas sikapnya yang skeptis soal hollocaust, tetapi bahkan harus meringkuk di penjara.
Tentang pameran sekaligus kompetisi kartun itu, Masoud sendiri menyatakan tidak bermaksud membantah cerita pembantaian orang-orang Yahudi di PD II tersebut. ''Kami hanya mempertanyakan, mengapa justru rakyat Palestina yang harus membayarnya?'' kata dia.
Kompetisi kartun itu sendiri berlangsung di tengah hebohnya pemuatan kartun Nabi oleh harian Denmark, Jyland-Posten, awal tahun ini. Saat itu, Asosiasi Kartunis Iran menantang para kartunis dunia untuk menuangkan ide mereka seputar hollocaust. Hasilnya, tidak kurang dari 1.100 kartun dari 60 negara masuk ke dalam daftar panitia lomba. Dari jumlah itu, 204 kartun memenuhi syarat untuk ikut dipamerkan dan berpeluang memenangkan hadiah uang. Lumayan besar, yakni masing-masing 12 ribu, delapan ribu, dan lima dolar AS untuk juara satu, dua, dan tiga.

Satu di antara nominator kartun tersebut datang dari peserta asal Indonesia, Tony Thomdean. Dengan jenaka Tony menggambarkan Patung Liberty, Dewi Kemerdekaan, tengah menggenggam daftar korban hollocaust di tangan kiri, sementara tangan kanannya memberikan salut ala Hitler. ''Heil ...!''

''Kami datang kemari untuk belajar banyak tentang pembantaian yang menjadi dasar pendirian negara Israel itu,'' kata Zahra Amoli, seorang mahasiswi yang datang berombongan ke pameran tersebut. Hari pertama pameran tersebut, kemarin, dihadiri seratusan orang pengunjung. Dengan antusias mereka berkeliling, mengamati, dan tak jarang tersenyum simpul menyaksikan kartun-kartun tersebut.
Sikap yang ditunjukkan masyarakat Iran akan hollocaust itu, tidak lepas dari sikap presiden mereka, Mahmud Ahmadinejad. Desember 2005 lalu, saat berpidato di Provinsi Sistan Baluchestan, Ahmadinejad menyatakan, Barat telah memosisikan mitos hollocaust itu melebihi keyakinan akan ketuhanan dan kenabian. ''Mereka menindak keras siapa saja yang meragukan mitos tersebut, namun membiarkan orang-orang yang mengingkari ketuhanan dan agama,'' kata Ahmadinejad, sebagaimana dikutip BBC, saat itu.

Tidak hanya itu, dalam kesempatan tersebut Ahmadinejad juga menyatakan, jika memang Barat sebagai pelaku pembantaian tersebut peduli dengan nasib bangas Yahudi, mengapa bukan sebagian wilayah Eropa, AS, Kanada, atau Alaska, yang diberikan kepada Israel sebagai tebusannya.

''Mengapa justru rakyat palestina yang harus membayar?'' kata Ahmadinejad. Ucapan itulah yang kemudian dikutip Masoud, ketua panitia pameran itu. Dalam banyak hal, hollocaust memang telah menjadi barang dagangan Barat dan tentu saja, Israel. Klaim mereka bahwa selama PD II telah terjadi pembantaian atas sedikitnya enam juta Yahudi, membuat peristiwa itu selalu dihidup-hidupkan. Tidak hanya kamp-kamp penahanan Yahudi, khususnya Kamp Auschwitz, dijadikan museum. Lebih dari 250 museum didirikan di banyak negara untuk menyokong klaim tersebut. Untuk anak-anak sekolah, di AS dan Eropa sejak lama hollocaust menjadi salah satu bahan pelajaran. Untuk masyarakat awam, kurang apa dengan munculnya film-film yang terus memamah biak persoalan itu.

Sedemikian gencarnya propaganda rezim Zionis soal hollocaust, sehingga kalangan Yahudi sendiri tak kurang yang merasa rikuh. Sejarawan Yahudi, Alfred M Lilienthal, bahkan dalam situsnya, www.alfredlilienthal.com, menyebut propaganda itu dengan hollocaust mania. Yang paling mutakhir, Tel Aviv bahkan kembali melakukan upaya mereka sejak lama, untuk menekan Majelis Umum PBB menetapkan tanggal 27 Januari sebagai ''Hari Hollocaust''.

Tidak hanya itu, seorang anggota Komite Pendataan Hollocaust AS-Polandia, Rana I. Aloy, menyatakan, dalam PD II, tidak hanya orang-orang Yahudi yang mengalami penderitaan. ''Korban paling banyak pada PD II justru adalah orang Rusia,'' kata Aloy.

Klaim hollocaust juga tidak pernah menemukan dokumen pendukung. Bahkan, laporan Palang Merah Internasional dan perundingan sejumlah pejabat negara penentang Nazi, tak pernah disebutkan keterangan soal pembakaran orang-orang Yahudi oleh Nazi tersebut.

Karena itu, tidak heran bila sejarawan Australia, Frederick Toben, pernah mengatakan bahwa Israel sepenuhnya dibentuk atas dasar kisah hollocaust. ''Karena hollocaust adalah kisah bohong, berarti Israel dibangun di atas kebohongan besar,'' kata Toben. Untuk itu, sebagaimana kemudian dialami David Irving, Toben juga mengalami pemenjaraan akibat kata-katanya itu.

Itulah kebebasan ala Barat. Di Teheran, orang-orang Iran mencoba menertawakan hal itu. (dsy)
Sumber : REPUBLIKA, Rabu 16 Agustus 2006