Monday, January 13, 2025

KISAH NABI HUD DAN KAUM 'AD

Kisah Nabi Hud dan kaum 'Ad tercatat dalam Al-Quran dan hadits. Berikut ringkasannya dari Meta AI :

# Latar Belakang
1. Kaum 'Ad adalah suku bangsa Arab yang kuat dan makmur, tinggal di wilayah Hadramaut, Yaman.
2. Mereka menyembah berhala dan menolak keesaan Allah SWT.

# Dakwah Nabi Hud
1. Nabi Hud, keturunan Nabi Nuh, diutus untuk mengajak kaum 'Ad ke jalan Allah SWT.
2. Beliau menyampaikan pesan: "Sembahlah Allah SWT, tinggalkan penyembahan berhala, dan berbuat baik."
3. Nabi Hud menekankan pentingnya kesabaran, kejujuran, dan keadilan.

# Penolakan Kaum 'Ad
1. Kaum 'Ad menolak ajakan Nabi Hud, menganggapnya sebagai orang gila atau tukang sihir.
2. Mereka meminta mukjizat sebagai bukti kenabian.
3. Nabi Hud menjawab bahwa mukjizat hanya dari Allah SWT.

# Azab bagi Kaum 'Ad
1. Setelah penolakan berulang, Allah SWT mengirimkan azab berupa badai panas yang dahsyat.
2. Badai tersebut berlangsung selama 8 hari, menghancurkan kaum 'Ad.
3. Hanya Nabi Hud dan pengikutnya yang selamat.

# Pelajaran
1. Pentingnya iman dan taat kepada Allah SWT.
2. Bahaya penyembahan berhala dan kekufuran.
3. Kesabaran dan kejujuran dalam menghadapi tantangan.
4. Kekuasaan Allah SWT atas alam semesta.

# Sumber
1. Al-Quran (QS. Al-A'raf: 65-72, QS. Al-Hud: 1-60)
2. Hadits Shahih Bukhari dan Muslim
3. Tafsir Ibn Kathir dan Al-Jalalayn
4. Ensiklopedia Islam.

Kalau versi Gemini AI begini:

Tentu, mari kita simak kisah Nabi Hud dan kaum 'Ad.

Nabi Hud dan Kaum 'Ad

Nabi Hud AS adalah seorang utusan Allah yang diutus untuk menyampaikan risalah kepada kaum 'Ad. Kaum 'Ad merupakan suatu kaum yang sangat kuat dan memiliki bangunan-bangunan megah di zamannya. Mereka hidup di daerah yang sekarang dikenal sebagai Semenanjung Arab.

Keangkuhan Kaum 'Ad

Meskipun memiliki kekuatan dan kekayaan, kaum 'Ad sangat sombong dan ingkar kepada Allah. Mereka menyembah berhala dan menolak ajakan Nabi Hud untuk menyembah Allah SWT. Nabi Hud dengan sabar dan penuh kasih sayang terus menyeru mereka untuk bertaubat, namun mereka tetap keras kepala.

*Mukjizat Nabi Hud*
Allah SWT memberikan berbagai macam mukjizat kepada Nabi Hud untuk membuktikan kebenaran risalahnya. Namun, kaum 'Ad tetap tidak percaya dan malah mengejek Nabi Hud.

*Azab Allah*
Karena keingkaran dan kesombongan mereka, Allah SWT menurunkan azab yang sangat dahsyat kepada kaum 'Ad. *Mereka ditimpa angin topan yang sangat kencang selama tujuh malam delapan hari.* Angin topan itu menghancurkan semua bangunan megah mereka dan membinasakan seluruh kaum 'Ad.

Pelajaran dari Kisah Nabi Hud

Kisah Nabi Hud dan kaum 'Ad memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua, yaitu:
 * Jangan sombong dan angkuh. Kekuatan dan kekayaan tidak menjamin keselamatan kita di akhirat.
 * Percayalah kepada Allah SWT. Allah SWT Maha Kuasa dan Maha Bijaksana.
 * Taatilah perintah Allah SWT dan jauhi larangan-Nya.
Semoga kisah ini dapat menjadi inspirasi bagi kita untuk selalu berbuat baik dan taat kepada Allah SWT.



ORANG YANG BERBUAT KERUSAKAN DI BUMI MENURUT AL QUR'AN

Dalam Al-Quran, orang yang berbuat kerusakan di bumi disebut sebagai "Mufsidin" atau "Fasidin". Mereka digambarkan sebagai orang yang:

# Karakteristik
1. Merusak bumi dan isinya (QS. Al-Baqarah: 205).
2. Menyebarluaskan kejahatan dan kerusakan (QS. Al-A'raf: 56).
3. Menghancurkan tanaman dan hewan (QS. Al-Baqarah: 205).
4. Menentang kebenaran dan keadilan (QS. Al-Mu'minun: 78).

# Hukuman
1. Azab di dunia dan akhirat (QS. Al-Baqarah: 114).
2. Dikutuk oleh Allah SWT (QS. Al-A'raf: 44).
3. Dijauhkan dari rahmat Allah SWT (QS. Al-Mu'minun: 78).

# Contoh dalam Al-Quran
1. Nabi Nuh AS melawan kaumnya yang berbuat kerusakan (QS. Al-A'raf: 59-64).
2. Nabi Hud AS melawan kaum 'Ad yang berbuat kerusakan (QS. Al-A'raf: 65-72).
3. Nabi Salih AS melawan kaum Tsamud yang berbuat kerusakan (QS. Al-A'raf: 73-79).

# Ayat-ayat terkait
- QS. Al-Baqarah: 205
- QS. Al-A'raf: 56, 59-64, 65-72, 73-79
- QS. Al-Mu'minun: 78
- QS. Al-An'am: 142
- QS. Al-Hajj: 40

Sumber: Al-Quran dan Tafsirnya, seperti Tafsir Ibn Kathir dan Tafsir Al-Jalalayn.

Saturday, January 11, 2025

Benarkah Candi Boribudur peninggalan Nabi Sulaiman?

Berikut jawaban Meta AI

Meta AI: Tidak benar bahwa Candi Borobudur adalah peninggalan Nabi Sulaiman. Berikut beberapa alasan:

Alasan Historis dan Arkeologis
1. Candi Borobudur dibangun pada abad ke-9 Masehi (sekitar 825-925 M) oleh Raja Balitung dari Dinasti Sailendra, yang beragama Buddha.
2. Struktur dan arsitektur Borobudur mirip dengan candi-candi Buddha lainnya di Asia Tenggara.
3. Prasasti Kayumwungan (824 M) dan Prasasti Tri Tepusan (842 M) menyebutkan pembangunan Borobudur oleh Raja Balitung.

Alasan Agama dan Mitologi
1. Nabi Sulaiman hidup sekitar 1000 SM, jauh sebelum pembangunan Borobudur.
2. Tidak ada catatan sejarah atau kitab suci yang menyebutkan Nabi Sulaiman pernah mengunjungi atau membangun struktur di Jawa.
3. Mitologi Islam tidak mengaitkan Nabi Sulaiman dengan Candi Borobudur.

Sumber
1. UNESCO: Situs Warisan Dunia Candi Borobudur.
2. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia: Sejarah Candi Borobudur.
3. Ensiklopedia Britannica: Borobudur.
4. Kementerian Pendidikan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) RI.

Kesimpulan
Candi Borobudur adalah peninggalan sejarah dan budaya Buddha di Indonesia, bukan peninggalan Nabi Sulaiman.

Cerita tentang Nabi Muhammad SAW

Meta AI: 

Nabi Muhammad SAW (570-632 M) adalah utusan terakhir Allah SWT dan pendiri agama Islam. Berikut adalah ringkasan tentang beliau:

Kehidupan Awal
1. Lahir di Mekah, Arab Saudi, dari keluarga Bani Hasyim.
2. Ayahnya, Abdullah, meninggal sebelum kelahiran Muhammad.
3. Ibunya, Aminah, meninggal ketika Muhammad berusia 6 tahun.
4. Dipelihara oleh kakeknya, Abdul Muthalib, dan kemudian oleh pamannya, Abu Talib.

Kenabian
1. Menerima wahyu pertama dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril pada usia 40 tahun (610 M).
2. Menyebarkan ajaran Islam di Mekah, menghadapi penolakan dan penganiayaan.
3. Hijrah ke Madinah (622 M) dan membangun komunitas Muslim.
4. Menerima wahyu selama 23 tahun, yang kemudian dikumpulkan menjadi Al-Quran.

Ajaran dan Perjuangan
1. Mengajarkan keesaan Allah SWT (Tauhid).
2. Menekankan pentingnya keadilan, kesabaran, dan kasih sayang.
3. Menghapuskan praktik-praktik buruk seperti pembunuhan anak perempuan dan perbudakan.
4. Memperjuangkan hak-hak wanita dan orang miskin.

Mukjizat
1. Al-Quran: kitab suci yang diwahyukan kepada beliau.
2. Isra' Mi'raj: perjalanan malam dari Mekah ke Yerusalem.
3. Pembelahan bulan: mukjizat yang menunjukkan kekuasaan Allah SWT.

Wafat
1. Muhammad SAW wafat pada 8 Juni 632 M di Madinah.
2. Dimakamkan di Masjid Nabawi, Madinah.

Warisan
1. Agama Islam menyebar ke seluruh dunia.
2. Al-Quran menjadi kitab suci bagi umat Islam.
3. Hadits dan sunnah beliau menjadi pedoman hidup Muslim.
4. Menginspirasi peradaban Islam yang maju dan berkontribusi pada ilmu pengetahuan, seni, dan budaya.

Sumber:

1. Al-Quran dan Tafsirnya.
2. Hadits Shahih Bukhari dan Muslim.
3. Sirah Nabawiyah Ibn Hisham.
4. Ensiklopedia Islam.

[11/1 17:07] FIRNAS: Keluarga Nabi Muhammad

[11/1 17:07] Meta AI: Berikut adalah informasi tentang keluarga Nabi Muhammad SAW:

Orang Tua dan Keluarga Inti
1. Ayah: Abdullah bin Abdul Muthalib (meninggal sebelum kelahiran Nabi Muhammad)
2. Ibu: Aminah binti Wahab (meninggal ketika Nabi Muhammad berusia 6 tahun)
3. Kakek: Abdul Muthalib (memelihara Nabi Muhammad setelah ayahnya meninggal)
4. Paman: Abu Talib (memelihara Nabi Muhammad setelah kakeknya meninggal)

Istri
1. Khadijah binti Khuwailid (menikah 595 M, meninggal 619 M)
2. Saudah binti Zam'ah (menikah 619 M, meninggal 674 M)
3. Aisyah binti Abu Bakar (menikah 620 M, meninggal 678 M)
4. Hafshah binti Umar (menikah 624 M, meninggal 665 M)
5. Zainab binti Khuzaimah (menikah 624 M, meninggal 625 M)
6. Ummu Habibah binti Abu Sufyan (menikah 628 M, meninggal 666 M)
7. Zainab binti Jahsy (menikah 627 M, meninggal 641 M)
8. Juwairiyah binti Al-Harith (menikah 630 M, meninggal 676 M)
9. Ummu Salamah binti Abu Umayyah (menikah 630 M, meninggal 664 M)
10. Safiyyah binti Huyay (menikah 630 M, meninggal 672 M)
11. Maimunah binti Al-Harith (menikah 630 M, meninggal 681 M)

Anak
1. Abdullah bin Muhammad (meninggal ketika masih bayi)
2. Al-Qasim bin Muhammad (meninggal ketika masih bayi)
3. Muhammad bin Muhammad (meninggal ketika masih bayi)
4. Fatimah binti Muhammad (menikah dengan Ali bin Abu Thalib, meninggal 633 M)
5. Ruqayyah binti Muhammad (menikah dengan Utbah bin Abu Lahab, meninggal 624 M)
6. Ummu Kultsum binti Muhammad (menikah dengan Utbah bin Abu Lahab, meninggal 630 M)

Keturunan
1. Hasan bin Ali (cucu Nabi Muhammad)
2. Husain bin Ali (cucu Nabi Muhammad)
3. Ali bin Husain (cicit Nabi Muhammad)
4. Zainal Abidin (cicit Nabi Muhammad)

Sumber:

1. Al-Quran dan Tafsirnya.
2. Hadits Shahih Bukhari dan Muslim.
3. Sirah Nabawiyah Ibn Hisham.
4. Ensiklopedia Islam.

Apakah nabi Isa mengajarkan agama Kristen?

Meta AI: 

Nabi Isa AS (Yesus Kristus) tidak mengajarkan agama Kristen seperti yang dipahami saat ini. Ajaran Nabi Isa AS berfokus pada:

Ajaran Utama
1. Mengesakan Allah SWT (Taurat, Matius 22:37).
2. Menghormati Taurat dan para nabi (Matius 5:17-20).
3. Mengajarkan kasih sayang, pengampunan dan kebaikan (Matius 22:39-40, Lukas 6:27-36).
4. Menyerukan keadilan sosial dan perlawanan terhadap ketidakadilan (Lukas 4:18-21).

Perbedaan dengan Agama Kristen
1. Nabi Isa AS tidak mengajarkan konsep Trinitas (Tiga Tuhan dalam satu).
2. Tidak ada catatan tentang Nabi Isa AS mengajarkan doktrin dosa asal atau penebusan dosa.
3. Ajaran Nabi Isa AS lebih fokus pada hukum Taurat dan keadilan sosial.

Sumber
1. Al-Quran (Surat Al-Imran ayat 45, Surat Maryam ayat 30-33).
2. Alkitab (Perjanjian Baru, terutama Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes).
3. Tafsir Ibn Kathir.
4. Ensiklopedia Islam dan Kristen.

Catatan
Agama Kristen modern berkembang dari ajaran para murid Nabi Isa AS, terutama Paulus, dan dipengaruhi oleh tradisi Yahudi, Yunani, dan Romawi.

Jadi siapa sebenarnya yang membuat dan mengajarkan agama kristen?

Meta AI: Agama Kristen modern dikembangkan oleh beberapa tokoh penting setelah wafatnya Nabi Isa AS (Yesus Kristus). Berikut beberapa tokoh kunci:

Tokoh-Tokoh Utama
1. *Paulus (Saulus dari Tarsus)*: Seorang Yahudi yang awalnya menentang Kristen, kemudian menjadi murid Yesus dan mengembangkan teologi Kristen.
2. *Petrus (Simon Petrus)*: Salah satu murid Yesus yang dipercaya sebagai pemimpin gereja mula-mula.
3. *Yohanes*: Murid Yesus dan penulis Injil Yohanes.
4. *Murid-murid lainnya*: Andreas, Filipus, Tomas, dan lain-lain.

Perkembangan Doktrin
1. *Konsili Nicea (325 M)*: Menetapkan doktrin Trinitas (Tiga Tuhan dalam satu).
2. *Konsili Konstantinopel (381 M)*: Menegaskan doktrin Trinitas dan menolak ajaran Arianisme.
3. *Konsili Efesus (431 M)*: Menetapkan doktrin tentang Maria sebagai Bunda Allah.

Tokoh-Tokoh Pemikir
1. *Origenes*: Bapa gereja yang mengembangkan teologi Kristen.
2. *Agustinus*: Bapa gereja yang mempengaruhi teologi Kristen Barat.
3. *Thomas Aquinas*: Filosof dan teolog yang mempengaruhi teologi Kristen Katolik.

Perkembangan Aliran
1. *Katolik*: Dipimpin oleh Paus dan berpusat di Roma.
2. *Ortodoks*: Berpisah dari Katolik pada abad ke-11.
3. *Protestan*: Muncul pada abad ke-16 melalui Reformasi Protestan.

Sumber
1. Ensiklopedia Britannica.
2. Sejarah Gereja oleh Eusebius.
3. Tafsir Alkitab.
4. Ensiklopedia Kristen.

Tuesday, August 30, 2016

Inspiratif! Inilah Sosok Pahlawan Perempuan Dari Aceh, yang Terlupakan Sejarah

By Hino -


laksamana-keumalahayati_663_382
Tidak diketahui apa sebab nama tokoh wanita yang rela berkorban nyawa demi kemerdekaan Nusantara ini seolah seperti hilang tertelan bumi. Bisa dibilang meskipun nama besarnya boleh sejajar dengan Pahlawan Nasional macam Tjut Nyak Dhien, tetapi tidak banyak orang yang mengetahuinya.
Padahal dengan tinta emas, nama Laksamana Malahayati adalah perempuan pertama di dunia yang mampu memegang jabatan sebagai laksamana laut pertama di dunia. Ia sekaligus juga pemimpin Laskar Inong Balee, yaitu pasukan para janda prajurit/ pahlawan perang. Kurang lebih 2000 prajurit perempuan menjadi pasukannya. Meskipun berisi para janda, kegarangan Laskar Inong Balee sangat disegani oleh lawan dan kawan.
Salah satu kemenangan besar yang diraih Laksamana Malahayati bersama Laskar Inong Balee adalah saat mereka berhasil memukul mundur kapal perang Portugis yang hendak menguasai lautan. Padahal pada era tersebut para pelaut Portugis dikenal sebagai ‘raja lautan’, tapi mereka tidak berdaya menghadapi kehebatan Armada Laut Kesultan Aceh yang dipimpin Laksamana Malahayati.
Menurut catatan, Malahayati adalah putri dari Laksamana Mahmud Syah yang hidup pada masa kejayaan Kesultanan Aceh yang kala itu dipimpin oleh Sultan Alaiddin Ali Riayat Syah IV yakni pada rentang 1589 – 1604 M. Pada mulanya perempuan yang memiliki nama lengkap Keumala Hayati dipercaya sebagai pengawal dan protokol dalam dan luar istana berpasangan dengan Cut Limpah yang bertugas sebagai dinas rahasia dan intelejen negara.
Sebagaimana orang-orang Aceh pada umumnya, setelah menyelesaikan pendidikan keagamaan di Meunasah, ia langsung melanjutkan pendidikannya ke Akademi Militer Kerajaan ; Ma’had Baitul Maqdis, suatu akademi militer modern pada jamannya yang dibangun dengan dukungan penuh dari Sultan Selim II, dari Turki Utsmaniyah.
`
Sultan Alaiddin Ali Riayat Syah IV benar-benar mafhum, tanpa memiliki armada yang kuat, Kesultanan Aceh gak bakal aman dari gangguan para perompak yang acap kali mengganggu para saudagar dan pedagang hasil bumi di tengah lautan luas. Dengan kata lain, untuk menjamin keamanan dan kewibawaan kesultanan, maka Aceh harus memiliki armada yang benar-benar tangguh.
Dengan disiplin yang tinggi dan semangat belajar yang luar biasa serta dukungan lebih dari seratus orang tenaga pengajar andal yang didatangkan dari Turki, para pemuda dan pemudi Aceh pun menimba ilmu dengan tekun di akademi militer tsb. Bahkan, di akademi pula Keumala Malahayati akhirnya bertemu jodohnya seorang kadet yang pada akhirnya menjadi laksamana tetapi sayang, sampai kini, nama sang suami yang gugur dalam pertempuran di Teluk Haru tetap tak diketahui dengan pasti.
Tidak disangka, karier militernya menanjak dengan pesat ketik ia berhasil memporakporandakan armada yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman sosok yang amat terkenal kekejamannya. Gak sampai disitu, dalam duel seru satu lawan satu diatas geladak pada 11 September 1599 Malahayati berhasil menghujamkan rencongnya ke dada Cornelis de Houtman.
houtman
Menurut kisah yang berkembang di masyarakat, gagang pada rencong yang dipakai untuk senjata tusuk berubah bentuk setelah Laksamana Malahayati berhasil menewaskan Cornelis de Houtman dan kesulitan mencabut senjata tersebut karena bersimbah dengan darah musuhnya. Alhasil, detik itu juga sang jendral yang terkenal kekejamannya itu tewas di tangan wanita Aceh nan perkasa. Bahkan, sang adik, Frederich de Houtman berhasil di tawan dan dipenjarakan di Aceh selama satu tahun.
Keberhasilan serta kemampuannya membuat Malahayati berhak menyandang gelar laksamana suatu tugas yang luar biasa besar yang diemban oleh seorang wanita sebagai pendamping hidup lelaki semata.
Sejarah juga mencatat keberhasilah Malahayati menghalau Armada Portugis dan Belanda yang hendak masuk ke Aceh. Keberhasilan pimpinan Laskar Inong Balee ini ditulis dengan baik oleh seorang wanita berkebangsaan Belanda yaitu Marie Van Zuchtelen dalam bukunya yang berjudul Vrouwlijke Admiral Malahayati (Malahayati Sang Admiral Wanita).
Sebagai penjaga pintu gerbang utama untuk masuk ke Kesultanan Aceh, ternyata nama Malahayati membuat gentar siapan yang coba-coba masuk untuk mencaplok Bumi Pertiwi. Hal ini nampak dengan jelas betapa Inggris berhasil melewati wilayah tersebut dengan melalui jalan damai.
Kini, makam Laksamana Keumala Hayati yang akhirnya lebih dikenal sebagai Laksamana Malahayati terdapat di atas bukit dan berjarak sekitar tiga kilo meter dari Benteng Inong Balee. Sungguh sayang keperkasaan sang Laksamana seolah tak banyak diketahui oleh generasi penerus Bangsa Indonesia.
hasto-prihatin-makam-laksamana-malahayati-tak-terawat-DGC3ubPla5
Ada yang menyatakan  bahwa berbagai data tentang Laksamana Malahayati sengaja di hancurkan oleh penjajah Belanda karena mereka malu menerima kenyataan betapa Cornelis de Houtman tewas dalam duel yang jujur.
Tetapi banyak pula yang berpendapat Laksamana Malahayati berjuang tanpa pamrih untuk kejayaan kesultanan Aceh sebagai amanah suaminya tercinta. (*)
sumber:
https://www.suratkabar.id/18988/peristiwa/inspiratif-inilah-sosok-pahlawan-perempuan-dari-aceh-yang-terlupakan-sejarah

Tuesday, February 05, 2013

Cerita Musso, tokoh PKI yang ternyata anak kiai besar

Temuan baru muncul mengungkap siapa sebenarnya Musso atau Munawar Musso alias Paul Mussote (nama ini tertulis dalam novel fiksi Pacar Merah Indonesia karya Matu Mona), tokoh komunis Indonesia yang memimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) pada era 1920-an. Nama Musso terus berkibar hingga pemberontakan Madiun 1948.

Musso dilahirkan di Kediri, Jawa Timur 1897. Sering disebut-sebut, Musso adalah anak dari Mas Martoredjo, pegawai kantoran di Kediri. Penelusuran merdeka.com mengungkap cerita lain, bahwa Musso ternyata putra seorang kiai besar di daerah Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Kiai besar itu adalah KH Hasan Muhyi alias Rono Wijoyo, seorang pelarian pasukan Diponegoro.

Kabar bahwa Musso diragukan sebagai anak Mas Martoredjo muncul dari informasi awal Ning Neyla Muna (28), keluarga Ponpes Kapurejo, Pagu, Kediri yang menyebut Musso itu adalah keluarga mereka.

Sulit untuk dipercayai, jika Musso anak pegawai kantoran biasa di desa, bisa menjadi pengikut Stalin dan fasih berbahasa Rusia. Bahkan untuk berteman dengan Stalin dan bisa melakukan aktivitasnya yang menjelajah antarnegara hanya bisa dilakukan oleh orang-orang kaya di masa itu.

Kalau bukan anak orang berpengaruh, sulit pula baginya menjadi pengurus Sarekat Islam pimpinan H.O.S Tjokroaminoto. Selain di Sarekat Islam, Musso juga aktif di ISDV (Indische Sociaal-Democratishce Vereeniging atau Persatuan Sosial Demokrat Hindia Belanda).

Saat di Surabaya Musso pernah kos di Jl. Peneleh VII No. 29-31 rumah milik HOS Tjokroaminoto, guru sekaligus bapak kosnya. Selain Musso di rumah kos itu juga ada Soekarno, Alimin, Semaun, dan Kartosuwiryo.

Musso, Alimin, dan Semaun dikenal sebagai tokoh kiri Indonesia. Sedangkan nama yang terakhir, menjelma menjadi tokoh Darul Islam, ekstrem kanan. Mereka dicatat dalam sejarah perjalanan revolusi di Indonesia.

Saat kos itu, Musso menjadi salah seorang sumber ilmu Bung Karno dalam setiap percakapan. Seperti misalnya saat Musso menyoal penjajahan Belanda, "Penjajahan ini membuat kita menjadi bangsa kuli dan kuli di antara bangsa-bangsa."

Merdeka.com menemui KH Mohammad Hamdan Ibiq, pengasuh Ponpes Kapurejo, Pagu Kediri untuk bertanya tentang siapa Musso. "Saya hanya mengetahui Musso memang keluarga besar Ponpes Kapurejo, namun yang paham itu adalah KH Muqtafa, paman kami. Yang saya pahami Musso itu anak gawan (bawaan), jadi saat KH Hasan Muhyi menikahi Nyai Juru, Nyai Juru sudah memiliki putra salah satunya Musso. Makam keduanya berada di komplek Pondok Pesantren Kapurejo," kata Gus Ibiq paggilan akrab KH Hamdan Ibiq, akhir bulan lalu.

Penelusuran dilanjutkan ke rumah KH Muqtafa di Desa Mukuh, Kecamatan Kayen Kidul, Kabupaten Kediri. Tiba di rumah KH Muqtafa, si empunya rumah tampak sedang asyik mutholaah kitab kuning (membaca dan memahami kitab kuning) tepat di depan pintu rumahnya.

Setelah mengucapkan salam dan dijawab, kemudian Kyai Tafa mempersilakan masuk. Rumah lelaki pensiunan pegawai Departemen Agama ini tampak asri, tembok warna putih dan ada bagian gebyog kayu jati yang menandakan pemiliknya orang lama. Ditambah beberapa hiasan kaligrafi Arab yang ditulis dengan indah menempel di antara dinding rumahnya. Selanjutnya Kiai Tafa masuk ke rumah induk dan berganti pakaian yang semata-mata dia lakukan untuk menghormati tamunya.

Lima menit berlalu, Kiai Tafa keluar dan menanyakan maksud kedatangan. Sebelumnya lelaki yang sudah tampak uzur ini menyatakan meski keturunan keluarga pesantren, dia tak memiliki santri. Sebab dia harus menjadi pegawai negeri dan berpindah-pindah tempat.

"Mau bagaimana lagi memang harus seperti itu," kata Kiai Tafa membuka perbincangan.

Setelah mengutarakan maksud dan tujuan untuk mengetahui sejarah Ponpes Kapurejo, kemudian penuh semangat, Kiai Tafa menjelaskan secara gamblang dengan suara yang sangat berwibawa.

Belum membuka pembicaraan tentang Musso, merdeka.com hanya ingin mengetahui arah pembicaraannya seperti yang disampaikan Gus Ibiq, bahwa Kyai Tafa –lah yang menjadi kunci silsilah keluarga Pondok Pesantren, Kapurejo.

"KH Hasan Muhyi itu orang Mataram, sebenarnya namanya adalah Rono Wijoyo. Beliaulah pendiri Pondok Pesantren Kapurejo. Beliau menikah sebanyak tiga kali, istri pertamanya adalah Nyai Juru. Dari pernikahannya yang pertama itu KH Hasan Muhyi diberikan 12 putra. Dan maaf salah satunya mungkin orang mengenal dengan nama Musso," ujar Kiai Tafa yang sedikit canggung ketika menyebut nama Musso.

Meski canggung, Kiai Tafa kembali menegaskan itulah fakta sejarah. "Mau bagaimana lagi itulah fakta sejarah," tukasnya.

[tts]


Tuesday, January 15, 2013

Innalillahi, Prof Zakiah Daradjat Wafat


REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Pakar psikologi Islam, Prof Zakiah Daradjat tutup usia, Selasa (15/1) sekitar pukul 09.00.

Guru besar UIN Jakarta itu wafat saat dirawat di RS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada usia 83 tahun.

Kabar wafatnya tokoh Muslimah terkemuka di Tanah Air itu juga ramai di twiter. ''Telah berpulang ke Rahmatullah Prof. DR. Zakiah Daradjat hari ini, Selasa 15 Januari 2013 pukul. 09.00 di RS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,'' tulis Nurfi Laila Hs dalam akun twitternnya.

Prof Zakiah Daradjat sempat mengalami  kritis dan menjalani perawatan di RS Hermina, Jakarta Selatan, pertengahan Desember 2012.

Redaktur: Heri Ruslan
 

Selasa, 15 Januari 2013, 10:58 WIB

Mengenang Zakiah Daradjat: Ulama Wanita Pertama yang Menjadi Ketua MUI

REPUBLIKA.CO.ID, Banyak orang terkejut, termasuk dirinya sendiri ketika namanya disebut K.H. Hasan Basri menjadi salah seorang ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI). Beberapa menit sebelum pembacaan nama-nama pengurus pusat MUI, beberapa ibu yang aktif mengikuti jalannya Munas MUI memberi selamat kepada dirinya.
''Saya sampai terheran-heran, ada apa ya kok saya diberi selamat?'' kata Prof. Dr. Hj. Zakiah Daradjat mengenang suasana saat itu.

Zakiah sendiri mengaku tak tahu persis kenapa dirinya terpilih sebagai salah seorang pengurus inti MUI pusat. ''Mungkin karena persoalan wanita sudah demikian penting untuk ditangani, dan untuk itu perlu seorang wanita,'' kata psikolog lulusan Universitas Ain Syams Kairo ini kepada Muarif dari Republika, yang menemuinya di kediamannya, Kompleks Wisma Sejahtera, Jalan Fatmawati 6, Jakarta, Rabu (2/8) lalu.

Ketua Umum MUI K.H. Hasan Basri kepada Republika menjelaskan, usulan agar salah seorang ketua MUI dari kalangan wanita datang dari berbagai pihak. Pada mulanya diusulkan tiga nama: Dra. Hajah Tutty Alawiyah (pimpinan Perguruan Islam Asy-Syafiiyah, Jakarta), Dra. Hajah Siti Suryani Thahir (pimpinan Perguruan Islam Attahiriyah, Jakarta), dan Prof. Dr. Zakiah Daradjat sendiri. Namun setelah melalui berbagai musyawarah, terpilihlah Zakiah. Sedang kedua nama lainnya diposisikan sebagai anggota pengurus MUI.

Menurut Zakiah, jabatannya yang baru sebagai ketua MUI tidak akan mengganggu aktivitasnya di klinik konsultasinya, menjadi guru besar IAIN Jakarta, dan jabatannya sebagai Ketua Perhimpunan Wanita Alumni Timur Tengah. Berikut petikan wawancara dengannya tentang berbagai hal, termasuk pandangannya tentang peran wanita Islam sesudah 50 tahun Indonesia merdeka.

Bagaimana perasaan Anda ketika terpilih menjadi ketua MUI?
Saya bersyukur kepada masyarakat dan ulama yang dapat menerima salah seorang pimpinan MUI itu wanita. Ini penting karena tradisi ini bukan hanya pertama di Indonesia, namun juga pertama di dunia. Saya gembira juga terharu bahwa di Indonesia wanita sudah disejajarkan dengan pria dalam soal ini. Apalagi, usulan ketua wanita datangnya dari kalangan ulama pria. Saya tidak pernah mengusulkan diri, apalagi selama ini saya sudah duduk menjadi anggota.

Menurut Anda, apakah ada alasan tertentu kenapa baru sekarang ketua MUI dari kalangan wanita?

Wanita itu punya cukup peran penting dalam negara ini. Kerangka pembangunan agama sudah cukup baik, tapi kenapa tidak ada pengurus wanita. Barangkali begitu perkiraan saya.

Jadi, ketua MUI perempuan itu bukan usulan dari organisasi wanita Islam?

Tidak. Tidak ada yang menuntut. Oleh karena itu saya tidak punya persangkaan. Apalagi ketika itu saya ikut dalam salah satu sidang komisi. Ada empat komisi yang bersidang saat itu dan masing-masing bersidang di tempat yang berbeda. Yang saya tahu, ada sidang formatur yang diketuai oleh Pak Menteri Agama. Itu saja.

Atau karena sebelum ini, konsentrasi MUI masih kepada masalah laki-laki, sehingga belum merasa perlu memposisikan perempuan sebagai ketua MUI?

Ada yang sudah punya perhatian. Tapi, masih banyak ulama yang merasa bahwa wanita belum cukup mampu untuk menjadi ketua.

Lalu, menurut Anda, apakah sudah apa perubahan berpikir pada kalangan ulama pria itu?
Beberapa tahun belakangan ini wanita cukup gencar dalam pendidikan agama dan penyiaran agama. Utamanya bergerak dalam majelis taklim. Di Jakarta saja jumlahnya lebih dari 10 ribu, belum lagi di daerah-daerah. Jadi, kegiatan wanita di segala bidang itu semakin tampak. Ini barangkali yang membuat ulama pria itu semakin sadar.

Bagi Anda, apakah pemilihan Anda menjadi salah satu ketua MUI merupakan bentuk dari emansipasi?

Islam itu tidak mengenal emansipasi. Islam itu memberikan kepada wanita hak dan kewajibannya yang jelas. Dalam hal-hal yang bersifat umum itu haknya sama dengan pria. Jadi, itu bukan emansipasi, tapi hak kaum wanita yang belum terlaksana di banyak tempat.

Kira-kira apa program Anda sebagai ketua MUI dalam waktu dekat ini?

Saya kira program kerja belum bisa saya katakan. Kita kan belum rapat. Tapi, yang seringkali menjadi pemikiran saya bukan sebagai ulama adalah bagaimana meningkatkan kesadaran dan kemampuan kaum wanita untuk mendidik anaknya sehingga menjadi anak yang baik dan saleh, yang berakhlak. Lalu, bagaimana caranya agar anak-anak itu benar-benar mendapat bekal yang cukup bagi dirinya, baik bekal iman maupun keduniaannya.

Menurut saya, pendidikan anak itu harus dimulai dari rumah. Karena itu harus kita ciptakan keluarga yang sakinah. Ini memang bukan hanya tugas kaum wanita saja. Secara umum, perhatian saya adalah pendidikan. Mungkin ini pula yang akan jadi bahasan dalam rapat di MUI nanti.

Di kalangan ulama pria ada sebutan kyai, bagaimana dengan kalangan ulama wanita?

Karena tidak difungsikan seperti kaum lelaki, maka tidak ada sebutan untuk ulama wanita. Lagi pula, sebutan kyai itu kan istilah yang ada di Jawa. Di lain daerah, lain lagi sebutannya. Tuanku, di Sumatera Barat atau Tengku di Aceh, misalnya. Kalau wanita, kebanyakan ya sebutannya istri kyai atau Nyi.

Apakah selama ini pernah muncul ulama wanita yang peranannya sangat menonjol, terutama dalam masalah keagamaan?
Dulu ada, misalnya di Sumatera Barat ada Ibu Rahmah El Yunisiah. Beliau tokoh wanita Islam yang tidak hanya berjuang dalam perang kemerdekaan, namun juga menjadi pendiri sekolah yang sampai sekarang maju, bahkan hingga universitas. Juga ada Ibu Rangkayo Rasuna Said, Cut Nyak Dhien. Mereka semua merupakan tokoh wanita Islam, yang saya kira, tidak hanya memiliki pemahaman agama yang kuat tapi juga menjadi pejuang bangsa.

Tapi, apakah ada tokoh wanita yang spesialisnya soal-soal fikih misalnya?

Kalau yang begitu saya belum menemukannya. Mungkin Ibu Rahma El Yunisiah bisa dimasukkan dalam hal ini.

Dalam Alquran tertulis bila anak-anak dan wanita adalah perhiasan dunia. Ini sepertinya menempatkan wanita sebagai pelengkap. Bagaimana pendapat Anda tentang anggapan tersebut?
Sebenarnya dalam Alquran itu ada ayat-ayat yang secara eksplisit menyebut bahwa laki-laki dan wanita yang beriman dan beramal saleh itu akan memperoleh balasan yang sama. Itu petunjuk bahwa wanita itu harus bekerja. Di ayat lain ada dijelaskan bahwa laki-laki dan wanita itu satu sama lain menjadi pemimpin. Tidak dikatakan bahwa pria harus menjadi pemimpin dari kaum wanita.

Lalu, bagaimana dengan pendapat yang mengatakan bahwa wanita itu diciptakan dari tulang rusuk laki-laki, sehingga harus ikut kehendak kaum laki-laki?

Saya tidak menemukan petunjuk demikian. Tidak di Alquran, tidak pula di hadis. Dari mana asalnya legenda wanita diciptakan dari tulang rusuk kaum laki-laki, itu saya tidak tahu. Dalam penciptaan Ibu Hawa, saya tidak temukan penjelasan bila ia diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam. Mungkin pengkajian kita lebih banyak dari kisah-kisah yang belum jelas kebenarannya.

Ada pendapat yang menyatakan bahwa peluang kaum laki-laki untuk masuk surga lebih besar dari kaum wanita, karena laki-laki bebas dalam beribadah, sementara wanita punya keterbatasan, seperti kalau sedang haid misalnya. Menurut Anda?

Kalau hal itu dijadikan alasan, ada hal lain yang juga bisa dijadikan alasan kaum wanita. Pria itu tidak pernah mengalami beratnya hamil dan sakitnya melahirkan. Betapa besar pahalanya kaum wanita dalam hal ini. Jadi, ada imbangan atas kekurangan yang dimilikinya.

Sebenarnya bagaimana sih fungsi kaum wanita menurut Islam itu?

Menurut saya, kaum wanita sama saja fungsinya dengan laki-laki. Mungkin di masa lalu, mencari rezeki itu memerlukan kerja keras dan tenaga kuat, sehingga hanya kaum laki-laki yang bekerja. Tapi, baik laki-laki maupun wanita harus bekerjasama dalam hal ini. Kalau di keluarga, laki-laki yang harus dipatuhi, itu memang demikian. Tapi dalam kehidupan bermasyarakat tidak demikian. Mereka sama, yang membedakan hanya kemampuannya. Kalau dalam keluarga harus ada yang dipatuhi, itu benar. Tapi kepatuhannya seperti apa, itu kan menjadi masalah. Kepatuhan itu menjadi relatif, kalau masuk akal maka baru bisa diterima.

Kalau begitu, wanita bebas untuk bekerja apa saja?

Di zaman Rasulullah, Siti Aisyah pernah ikut dalam peperangan. Siti Khadijah adalah konglomerat kaum Quraisy. Anak buahnya banyak dan itu laki-laki semua. Tentu saja, kita tidak bisa melepaskan adanya kodrat dari kaum wanita yang menyebabkan ia punya keterbatasan. Tidak mungkin rasanya kalau kemudian ada wanita yang menjadi kuli pelabuhan.

Kalau begitu memang ada bidang-bidang tertentu yang wanita tidak bisa bekerja di situ?

Kalau mengandalkan kekuatan fisik, mungkin tidak bisa. Demikian pula dengan bekerja ketika malam hari. Bagaimanapun juga mereka harus menjaga diri dari kejahatan hawa nafsu. Oleh karena itu saya paling tidak setuju dengan adanya pekerja wanita yang bekerja hingga larut malam. Masyarakat harus ikut menjaga wanita dalam hal ini, jangan sampai karena tidak hati-hati masyarakat rusak karena wanita.

Menurut Anda, apakah fikih itu hanya menguntungkan kaum laki-laki?

Ya, ada juga. Fikih itu kan pendapat dari para ulama. Itu penafsiran. Kalau ditafsirkan di zaman wanita itu rusak, maka sudah pasti cara pandangnya tidak ada wanita yang baik. Tapi, kalau penafsirannya di zaman wanitanya baik-baik, berpikir maju, fikihnya pasti akan memberi tempat kepada kaum wanita. Ini tergantung dari fikihnya. Fikih itu kan pemahaman terhadap ajaran Islam.

Kalau begitu perlu ada perombakan terhadap fikih, terutama berkenaan dengan kaum wanita?

Penafsiran-penafsiran yang dilakukan itu perlu dilihat kembali, misalnya, kapan pemikiran itu datang. Bila hal itu ada kaitan dengan lingkungan, maka ulama yang kemudian perlu terus berijtihad. Tentunya dengan alasan-alasan yang kuat.

Apa kendalanya juga karena wanita tidak ada yang menjadi ahli fikih, hadis, atau tafsir, sehingga kepentingan kaum wanita terabaikan?

Mungkin dulu kesempatan belajar dari kaum wanita sangat terbatas, maka sudah pasti ahli-ahli fikih yang muncul adalah kaum pria. Puluhan tahun lalu, tidak ada hakim agama dari kalangan wanita. Baru beberapa tahun belakangan ini saja kita punya hakim-hakim agama wanita. Mungkin karena ada pendapat bahwa wanita tidak mampu menjadi hakim. Padahal kenyataannya sekarang ini, dengan adanya hakim wanita tidak ada masalah, semuanya berjalan baik.

Kalau begitu, berarti saat ini kita sangat membutuhkan tokoh-tokoh wanita yang menjadi ahli fikih, hadis atau tafsir?

Betul, kita sangat perlu akan tokoh-tokoh semacam itu. Sudah saatnya kita memberi kesempatan kaum wanita untuk menggeluti bidang-bidang seperti itu. Sekolah untuk itu sekarang ini sudah demikian banyak. Kalau kita berpegang teguh pada Alquran, maka wanita punya hak untuk menjadi ulama atau pemimpin. Tapi, belum banyak wanita yang muncul karena faktor budaya.

Jadi belum banyaknya muncul tokoh wanita karena faktor budaya?

Memang budayanya. Garis agama itu jelas. Budaya yang mempengaruhi keterbelakangan wanita. Situasi dan kondisi suatu daerah sangat mungkin menyebabkan tidak menghargai wanitanya. Ada budaya yang menganggap bahwa wanita tidak mampu untuk tampil ke depan, bahkan sampai kuatir bila wanitanya maju. Lalu agama menjadi justifikasi dalam hal ini, sehingga kaum wanitanya dilarang untuk tampil.

Berbicara tentang kedudukan kaum wanita ini, bagaimana dengan peran Ormas wanita Islam selama ini?

Kelihatannya mereka terlalu sibuk sehingga kurang waktu untuk menghadiri berbagai aktivitas organisasinya. Memang banyak program dan seksi yang menanganinya, tapi apakah berjalan dengan baik atau tidak, itu sulit mengetahuinya. Sebab mengumpulkan orang di kota besar macam Jakarta ini sulit sekali.

Tapi dalam pandangan Anda, apa kelemahan dari Ormas wanita Islam?
Kegiatan mereka sebenarnya cukup banyak. Dengan kemampuan mereka masing-masing, itu sudah cukup baik dan bagus. Kalau mereka bermusyawarah atau rapat sepertinya hasilnya bagus-bagus. Tapi, dalam menjalankan program kerja, mereka sepertinya punya kendala, di antaranya adalah mereka yang memiliki banyak gagasan, sangat sibuk. Sementara mereka yang punya waktu, ternyata tidak banyak yang bisa dipikirkan.

Apa karena tugasnya sebagai isteri atau ibu rumah tangga menjadi kendala juga?

Itu jelas. Mereka punya kegiatan yang harus diurus di rumah dalam posisinya sebagai isteri atau ibu dari putra-putrinya. Selain sibuk di rumah, banyak wanita yang sibuk bekerja di luar rumah. Jadi banyak wanita yang sibuk di rumah, di kantor dan juga di organisasi. Apalagi sekarang ini tidak semua orang mampu memelihara pembantu. Jadi, memang banyak kendala.

Lalu menurut Anda bagaimana cara mengoptimalkan peran Ormas wanita tersebut?
Apa yang selama ini mereka lakukan telah membawa hasil. Paling tidak memberikan sumbangan kepada peningkatan kesadaran wanita. Untuk lebih meningkatkan peran seperti itu memang perlu banyak tenaga, terutama tenaga-tenaga pemikir yang punya waktu. Dari mereka akan banyak lahir konsep dan aktivitas dengan lebih baik lagi. Tentunya harus ditunjang dengan mekanisme organisasi yang sehat. Kalau soal semangat, sebenarnya wanita Indonesia termasuk maju dibandingkan dengan wanita negara-negara lain.

Kalau kaum wanita Indonesia secara keseluruhan bagaimana kondisinya?
Masih banyak yang harus ditingkatkan, baik pengetahuannya maupun keterampilannya. Kemampuan dalam berbagai bidang juga harus ditingkatkan. Pada tingkat pimpinan hal itu sudah memadai, namun pada tingkat bawah masih banyak yang harus ditingkatkan. Tapi, kita sudah bersyukur karena kaum pria mau menerima kemajuan kaum wanitanya. Di banyak negara, hal ini masih belum bisa diterima.

Tentunya dengan kedudukan Anda sebagai Ketua MUI, hal seperti itu juga menjadi perhatian?
Doakan saja. Mudah-mudahan bisa ada manfaatnya meski kesibukan saya tidak berkurang malah bertambah.

Sekarang soal aktivitas Anda. Pilihan Anda menjadi ahli jiwa itu kenapa?
Sebenarnya dari dulu saya senang mengamati orang. Orang bicara saya dengar. Orang mengeluh saya perhatikan. Lalu pada waktu saya masuk perguruan tinggi, saya memilih jurusan pendidikan. Di situ ada pendidikan ilmu jiwa. Ketika saya ke Kairo, minat saya pada ilmu jiwa lebih berkembang lagi karena sepertinya dosen-dosen saya mendorong untuk menekuni bidang itu.

Selama menangani soal-soal kejiwaan ini, keluhan terbanyak biasanya berkisar soal apa saja?
Yang terbanyak adalah problem keluarga, problem anak-anak yang beranjak remaja, dan masalah kepribadian yang tidak hanya berkait dengan masalah keluarga, misalnya merasa dirinya tidak sukses, memandang dunia ini kelabu terus, dan penderitaan-penderitaan pribadi lainnya. Memang cukup bervariasi. Tapi, pernah suatu ketika saya buka catatan pasien yang datang ke klinik dalam satu tahun. Ternyata persoalan kaum remaja itu mencapai 45 % dari kasus yang masuk. Sementara yang lainnya hampir seimbang.

Kenapa justru kaum remaja?

Karena mereka kurang baik hubungannya dengan keluarganya sehingga muncul problem-problem di sekitar mereka. Cukup banyak kaum remaja ini mengeluhkan kondisi keluarganya, misalnya tentang ibunya yang sibuk, ayahnya yang jarang di rumah, dan sebagainya. Kalau sudah begitu, tidak hanya masalah pribadi yang disampaikan, masalah pendidikan pun banyak yang dikeluhkan. Bahkan seorang gadis remaja pernah datang ke klinik saya mengeluh karena sampai sekarang belum memperoleh pacar.

Para remaja selalu mengeluhkan kalau orangtua sulit diajak bicara, sementara orangtua selalu bilang anaknya bungkem tidak mau bicara. Kalau sudah begini yang salah siapa? Menurut saya, tidak ada yang salah. Situasi yang menjadikan mereka menjadi demikian.

Bagaimana cara Anda memberi solusi?

Sebenarnya saya tidak memberikan nasehat secara khusus. Saya mengembangkan kepribadian seseorang untuk dapat mengenali permasalahan yang dihadapi itu apa. Lalu bersama-sama dia, saya menelusuri asal-usul masalah. Dengan sendirinya, mereka akan menemukan jawabannya. Benarkah keinginan dirinya? Benarkah pula persangkaannya tentang penyebab masalah? Saya menggunakan teori non-directive, perawatan kejiwaan yang tidak diarahkan. Pasien dibantu dengan pengembangan dirinya untuk mengetahui persoalan yang dihadapi. Jalan keluar yang kemudian dipakai adalah perombakan kepribadian. Dalam hal inilah agama saya sisipkan ke dalamnya. Kalau sulit bicara pada orang lain, bicaralah kepada Allah lewat tahajud. Mengadulah, menangislah, berteriaklah kalau mau berteriak. Allah pasti dengar.

Pernah gagal dalam memberikan konsultasi?
Saya tidak tahu persis, karena memang ada yang cuma sekali datang ke rumah. Menurut pengalaman, pada umumnya mereka semua menuju sukses. Selama ini setiap mereka yang datang ke rumah selalu memperoleh informasi dari pasien terdahulu. Itu kan berarti mereka berhasil.

Redaktur: Heri Ruslan
Sumber: Harian Republika, edisi Jumat, 11 Agustus 1995

Mengenang Zakiah Darajat: Ahli Jiwa dengan Metode Agama

REPUBLIKA.CO.ID, Di kediaman Prof. Dr. Zakiah Daradjat, Kompleks Wisma Sejahtera Jl Fatmawati 6, Jakarta Selatan, setiap petang cukup ramai dengan kehadiran beberapa pasien untuk berkonsultasi.

''Ya, sehari bisa 4 hingga 10 orang. Setiap orang biasanya saya terima sekitar 45 menit untuk menyampaikan berbagai persoalan hidupnya,'' kata wanita kelahiran Bukittinggi, 6 November 1929 itu mengomentari kesibukan yang telah ia jalani selama 30 tahun itu.

Ketika menerima Republika, Rabu lalu ia tengah sibuk ''mengobati'' seorang pasien wanita. Menjelang berakhirnya wawancara, seorang wanita muda diantar seorang laki-laki telah menanti. ''Memang yang paling banyak konsultasi itu wanita. Sepertinya laki-laki itu sombong tidak merasa punya masalah,'' katanya sambil tertawa. Prof. Dr. Hj. Zakiah Darajat memang dikenal ahli jiwa yang sering menggunakan pendekatan agama sebagai solusi pemecahan persoalan yang dihadapi pasien.

Guru besar IAIN Jakarta ini mulai membuka konsultasi kejiwaan sejak ia pulang studi dari Mesir. Setelah menamatkan pendidikannya di Perguruan Tinggi Agama Islam, Yogyakarta 1955, ia memang memperoleh tawaran sekolah di Universitas Ein Syams, Kairo, Mesir. Ia memperoleh gelar doktor pendidikan dengan spesialis psikoterapi pada 1964 dari Universitas Ein Syams.

Sepulangnya di Tanah Air ia segera mengabdikan diri pada Departemen Agama. Menag ketika itu K.H. Saifuddin Zuhri menyarankan ia membuka klinik konsultasi di Depag. Sejak itu pekerjaan menasehati orang menjadi bagian hidupnya yang tak pernah lepas hingga kini. Terakhir, ia menjabat Direktur Pembinaan Agama Islam hingga pensiun pada 1984.

Setelah pensiun ia malah diangkat menjadi anggota DPA hingga 1988. Bersamaan dengan keanggotaannya di DPA, ia mendirikan Yayasan Pendidikan Ruhama, lembaga pendidikan sejak TK hingga SMA yang berlokasi di Legoso, Cirendeu, Ciputat.

Rajin menulis dan berdakwah, penggemar olahraga renang di masa mudanya ini, kini sudah menghasilkan puluhan buku mengenai psikologi dan agama. Di antara bukunya Kesehatan Mental (Gunung Agung, 1969), Ilmu Jiwa Agama (Bulan Bintang, 1970), dan Problem Remaja Indonesia (Bulan Bintang, 1974). Akhir-akhir ini, ia menerbitkan sendiri bukunya lewat yayasan yang didirikannya, Yayasan Kesehatan Mental YPI Ruhama.

Dalam soal dakwah, sepertinya ia tak pernah lelah. Pada tahun 60-an ia bisa berceramah lima sampai enam kali sehari. Sering pula ia tampil di RRI, TVRI, dan kini di beberapa stasiun televisi swasta. Pernah ia berceramah secara berantai di 10 tempat tanpa henti. Anehnya, dalam setiap ceramah ia menemui orang-orang yang sama. Ternyata, mereka --rata-rata kaum ibu-- adalah penggemar setianya.

Pendapatnya tentang wanita, ''Saya senang mereka bekerja, tapi jangan sampai lupa kepada kedudukannya sebagai ibu. Kasihan anak-anak mereka,'' katanya. Ia pun bercerita banyak mengenai peran kaum wanita masa kini, terutama dalam pendidikan dan keluarga. Mengenakan kebaya bermotif kembang dan berkerudung merah jambu, tokoh wanita yang masih terlihat energik ini melayani wawancara Republika di ruang kerjanya. Berikut petikan wawancara itu:

Sekarang ini banyak wanita yang bekerja di luar rumah. Lalu, anak-anak lebih banyak diasuh oleh pembantu daripada ibunya sendiri. Menurut Anda, apakah kondisi yang demikian ini yang menyebabkan anak-anak sekarang lebih nakal?

Kalau sikap keibuannya hilang ya membawa akibat, anak-anak menjadi terlantar, suasana rumah tangga pun terganggu. Ia terlalu sibuk sehingga melupakan peran keibuannya di rumah. Tapi, secara umum saya masih belum melihat itu meluas di Indonesia, lebih banyak hanya terjadi di kota-kota besar.

Bagaimana dengan kecenderungan wanita sekarang yang lebih mengutamakan sekolah atau karirnya sehingga menunda perkawinan atau enggan memiliki anak?

Ada memang yang demikian, tapi saya kira tidak banyak. Masih banyak yang ingin berkeluarga, ingin punya anak. Hanya saja, karena wanita-wanita itu masih sibuk belajar dan biasanya pilihan setelah sekolah nantinya bekerja, maka ia lebih mendahulukan bekerja. Tentunya, kalau ia akan berkeluarga, maka ia akan memilih-milih. Tidak seperti dulu yang hanya mengikuti perintah orangtuanya.
Tapi, saya sering menemukan di kalangan mahasiswi punya kecenderungan untuk segera menikah. Ini banyak. Tapi, bila ia sudah sarjana dan bekerja, memang akan punya pikiran lain. Kalau sudah bekerja, ia ingin menjadi wanita karir yang baik. Akibatnya, mereka lupa untuk berkeluarga. Nah, lupa inilah hal yang tidak baik. Dia boleh jadi pekerja yang baik, tapi kalau ia berkeluarga, maka ia harus menjadi isteri dan ibu yang baik.

Kira-kira, apa yang menjadikan mereka lupa?
Ya, mengejar prestasi. Misalnya, ketika dia masih sekolah pintar. Ketika bekerja, kalau tidak pintar rasanya tambah pusing. Sederhana saja, ia harus lebih berprestasi dari rekan-rekan kerjanya. Ia mengejar prestasi dan kalau bisa naik pangkat, dapat posisi baru. Ini manusiawi karena setiap orang punya keinginan seperti itu.

Bagaimana pendapat Anda tentang kaum wanita yang ingin berkarier?
Boleh saja, asal ia tidak meninggalkan kewanitaannya. Wanita itu dalam pandangan Islam harus pandai menjaga diri, tidak mudah tergoda, berpakaian sopan, tetap mencintai rumah tangganya, bertanggungjawab, hak dan kewajiban sebagai istri dan ibu itu harus ia tunjukkan. Jadi tidak terlarang dia berkarir. Tapi, kalau di rumah tangga, sebagai istri ia menganggap suaminya teman kantor, ya ceritanya jadi lain. Ah saya juga capek, ini nggak boleh. Sebagai istri, di rumah ia harus pandai menempatkan diri di hadapan suaminya.

Kenyataannya, banyak wanita karier yang menuntut dirinya sejajar dengan suaminya?
Bisa saja, tapi dengan kesepakatan. Artinya, ia mendapat gaji sama dengan suaminya atau bahkan lebih. Ia tidak boleh menyombongkan hal ini. Saya juga kerja, saya juga capek. Gaji saya lebih besar dari kamu. Itu tidak boleh disebut.

Kalau begitu, beban wanita lebih besar karena harus berperan ganda?

Bila dia sadar dan melaksanakan tugasnya sebagai wanita, dalam bekerja ia bisa membagi waktu. Ia akan mengatur, porsi untuk bekerja sekian, untuk anak sekian, dan untuk keluarga sekian. Jadi, ketika ia bekerja, ia ingat, saya ini ibu lho, saya ini seorang istri. Intinya, jangan lupa akan semua hal yang mengikat dirinya sebagai wanita dan ibu rumah tangga.

Tapi, godaan untuk memerankan kedua hal itu cukup besar. Di kantor ia dituntut untuk mampu mengaktualisasikan diri. Akibatnya, urusan rumah tangga dia serahkan kepada pembantu rumah tangga, urusan anak diserahkan kepada pembantu?

Ia boleh saja menyerahkan kepada pembantu rumahtangga hal-hal tertentu, seperti mencuci, menyetrika, dan memasak. Tapi, soal menu makanan tetap ia yang tentukan, bukan pembantu. Mengurus anak, baby sitter boleh saja, tapi sebaiknya yang mengurus anaknya dia sendiri. Cuci pakaian anak boleh saja pembantu, tapi yang memberi makan, menyusui anak harus dia. Anaknya yang merengek, dia harus tangani. Kalau semua ini dia jalankan secara ikhlas, seninya akan ia temukan dan tidak akan merusak rumah tangga.

Kalau dia jadi pegawai, dia nggak usah lembur, cukup laki-laki saja. Sekarang, dengan adanya kebijakan bekerja hingga pukul 4 sore, saya rasa akan lebih merepotkan kaum ibu. Saya lebih setuju, untuk kebaikan kaum ibu bila kerja kantor sampai pukul 2 saja.

Alasannya?

Bagi anak kecil, ia tidak akan sanggup membiarkan ibunya terlalu lama di luar rumah. Paling lama, dalam toleransi terbaik sekitar 5 jam. Kalau sudah pulang pukul 16.00, sampai rumah pukul 17.00, kepalanya pusing, anaknya merengek dan ia marah-marah, bisa rusak semua. Itu berat buat kaum ibu.

Secara psikologis, apa dampaknya?
Bagi anak kecil, usia 2-5 tahun pernah dilakukan penelitian di Inggris. Yang paling menyenangkan buat anak, ibunya bekerja di luar rumah antara 3-5 jam sehari. Itu yang ideal. Yang sangat penting, kualitas hubungan ibu dan anak itu bagus. Jadi, bukan kuantitasnya. Kalau ibu seharian di rumah dan si anak selalu dimarahi, ya tidak baik untuk anak. Sebenarnya, wanita itu paling baik bekerja untuk kepentingan anaknya. Kalau dia di rumah, anaknya justru direpotkan ibunya.
Ia bermain, si ibu melarangnya, jangan nanti jatuh. Dia mau melakukan sesuatu sang ibu banyak membatasi. Jadi, terlalu banyak larangan membuat sang anak tertekan. Wanita itu, juga ada kebosanan secara tersembunyi bila ia terus menerus di rumah. Tapi, kalau dikatakan bosan di rumah itu juga tidak mau, dianggap ibu yang tidak baik. Tapi, yang pasti ada kebosanan tersembunyi. Ia butuh udara lain, aktivitas lain. Saya rasa, kalau pekerjaannya tidak sampai larut sore tidak ada masalah.

Lalu, apa kiat untuk membuat anak tidak merasa kehilangan ibunya?
Buatlah sang anak itu rindu kepada ibunya, demikian pula sebaliknya. Kalau dirindukan anak itu menyenangkan. Kalau anak itu lebih dekat kepada pembantunya, maka ia akan sulit rindu kepada ibunya. Akibatnya, anak akan kehilangan figur orang yang paling dekat dengannya.

Ketika anak makin besar, interaksi dari ibu semakin dibutuhkan. Padahal, kegiatan ibu juga besar. Apakah hal ini juga menjadi sebab anak berperilaku menyimpang?
Harusnya perhatian semakin besar. Tapi, meski waktunya sedikit, sebaiknya ia dalam situasi terbaik ketika berhadapan dengan anaknya. Bisakah usai kerja di kantor, ia memberi perhatian yang menyenangkan buat anaknya sehingga anak merasa diikuti dan diperhatikan terus menerus. Libur kerja itu, paling baik diperuntuk bagi keluarga. Tidak mesti ke luar rumah atau pergi ke restoran mahal. Cukup masak makanan kesukaan bersama dan makan di rumah. Yang penting ada perhatian.

Bagaimana pun sibuknya orangtua, mereka harus terbuka hati untuk mendengarkan semua keluhan anaknya. Jadi fungsinya untuk menampung uneg-uneg anaknya. Anak yang memiliki orangtua demikian tidak akan melakukan hal yang buruk. Kenapa? Karena ia merasa orangtuanya begitu memperhatikannya, sehingga ia tidak tega orangtuanya bersedih. Maka, jadilah pendengar yang baik dalam semua persoalan yang dihadapi anak. Jangan jadi penceramah di hadapan anak, itu akan membosankan diri mereka.
Diskusikan semua persoalan, jangan tekan mereka dengan kemarahan kita. Berbeda dengan orangtua yang tidak memberi perhatian kepada anak-anaknya, mereka akan mencari tempat menyampaikan semua keluhan di luar rumah. Padahal, kawannya atau orang di luar rumah tidak berbeda dengan dirinya pula yang mendapat tekanan. Akibatnya, ia akan melampiaskan semua persoalan kepada hal-hal yang buruk, berkelahi atau yang lainnya.

Kalau begitu, kunci persoalan ada pada komunikasi?

Betul sekali. Kalau komunikasi lancar dengan kedua orangtua, sang anak tidak akan menumpuk persoalan dalam dirinya.

Bagaimana dengan faktor luar yang mempengaruhi?

Pengaruh faktor luar bisa saja, tapi kalau pada dasarnya di dalam sudah menumpuk, maka faktor luar hanya akan menambah beban berat saja. Tapi, kalau di dalam lancar, maka faktor luar tidak akan mempengaruhi. Kita sering menyebut banyak anak nakal, tapi sudahkah kita menciptakan lingkungan yang memberi perasaan tidak nakal kepada anak-anak.

Bagaimana dengan pengaruh berbagai tayangan di televisi?

Kalau orangtua tidak sempat mendidik, apa yang di TV pasti akan ditirunya. Itu berbahaya sekali. Untuk mengurangi bahaya itu, ia harus akrab dengan orangtuanya. Kalau orangtua kuat dalam menjalani ajaran agama, maka sang anak akan meniru, menyerap tanpa sepengetahuan orangtua. Kalau di rumah ibu dan bapak membiasakan salat berjamaah, maka anak akan ikut dan pengaruhnya besar sekali buat perkembangan jiwa anak. Itu pendidikan agama, demikian pula perilaku orangtua. Kalau mereka suka membentak pembantu, maka anak juga akan menirunya. Ini bahaya. Karena di televisi, tidak semua nilai yang diharapkan muncul selamanya, maka proses identifikasi dari anak lewat telivisi, terutama bila pemainnya orang Indonesia. Memang berat tugas orangtua sekarang dibanding orangtua di masa lalu.

Apa yang dilihat oleh anak-anak, jauh lebih berbahaya daripada apa yang didengar. Kalau yang dilihat baik, tidak persoalan. Tapi, kalau yang dilihat buruk, maka akan mudah ditiru. Di sini saya usulkan agar semua produk televisi itu tidak menampilkan hal-hal yang berbau kekerasan, perkelahian, pembunuhan. Kita kan tidak ingin anak-anak kita meniru hal-hal yang demikian. Kenapa kita cekoki anak-anak dengan berbagai adegan kekerasan. Film Indonesia lebih bahaya dibandingkan film asing, karena anak-anak lebih mudah mengidentifikasikan diri dengan orang sebangsa.

Tapi, bukankah hal itu tidak mungkin dihilangkan dalam kondisi sekarang?
Kita bisa mengurangi dan melakukan pilih-pilihan. Seleksi ketat harus dilakukan untuk film-film anak-anak dan remaja. Kita sering menyalahkan anak-anak, tapi contoh yang ia tonton demikian buruknya. Memang sebaiknya, orangtua mendampingi ketika sang anak menonton dan mengomentari, tapi apa ada waktu.

Sulitnya, nasehat orangtua sekarang sering tidak didengar anak-anaknya, sepertinya orangtua sekarang ini kurang berwibawa?

Wibawa itu dibangun karena kasih sayang, bukan karena ketakutan. Ia bisa saja patuh karena takut, namun hal itu akan ia ulang kembali dan bersikap masa bodoh. Tapi, kalau dasarnya kasih sayang, maka anak akan tidak tega menyakiti atau membuat sedih orang yang menyayanginya. Persoalannya, masih adakah kasih sayang sehingga anak akan hormat kepada orangtuanya.

Anda pernah menyatakan bahwa agama pegang peranan penting dalam solusi problem keluarga. Bisa dijelaskan lebih jauh?

Itu betul sekali. Kalau agama bisa terpegang penuh oleh sang anak, maka ia akan terlatih untuk dekat dan senang dengan agama. Jadi, bukan terpaksa. Dia rasakan Allah itu dekat, dia berdoa ketika ibu-bapaknya terlambat pulang. Ini penting dalam mengantisipasi ketika sang anak memasuki masa-masa berbahaya di usia remajanya, usia antara 13-15 tahun. Boleh dibilang negeri kita ini mundur dalam masalah moral. Dalam hal ini film Indonesia punya peran besar untuk melanggar semua nilai agama. Sejak kapan agama mentolerir laki-laki dan perempuan itu peluk-pelukan. Hal seperti ini akan mudah ditiru anak-anak remaja.

Punya pengalaman dalam menangani anak-anak bermasalah?

Pernah. Ketika saya berada di Mesir sekitar 1958. Sambil melakukan studi untuk S3, saya nyambi latihan di klinik jiwa. Kebetulan penelitian saya tertuju kepada anak umur 6-12 tahun dengan tema alat-alat permainan untuk menghilangkan emosi. Jadi, permainan sebagai pengobatan kejiwaan. Ini yang jadi disertasi saya. Banyak persoalan yang saya amati ternyata permainan bisa menangani masalah kejiwaan anak-anak. Mereka mengungkapkan emosinya lewat merusak alat-alat permainannya.

Apa itu juga dilakukan di Indonesia?

Tidak lagi, karena permainan yang banyak beredar di sini lebih banyak menggunakan listrik. Jadi, tidak mendidik dan tidak mampu menjadi alat pengungkapan emosi. Anak-anak sekarang perlu alat-alat permainan yang murah, namun bisa menjadi saluran pengungkap emosi.

Apa aktivitas Anda saat ini?

Kalau tidak mengajar di IAIN, ya menerima pasien. Hanya di hari Sabtu dan Ahad saya tidak mau terima pasien. Untuk istirahat saja. Selain itu saya juga menulis. Hampir semua contoh-contoh yang ada dalam buku saya tentang masalah remaja, psikologi, dan kesehatan mental berasal dari pengalaman saya memberi nasehat kepada pasien. Selain itu, saya juga menjadi Ketua Yayasan Pendidikan Ruhama yang membuka pendidikan sejak TK, SD, SMP, dan SMA. Kalau berdakwah, ya kadang di radio dan televisi.

Ada pengalaman menarik dalam mengobati pasien?

Pernah ada seorang anak kecil dibawa ibunya menghadap saya. Anak itu ternyata sudah seminggu tidak mau bicara dan makan. Kedua orangtuanya bingung menghadapi sikap anaknya itu. Saya berusaha membujuk anak itu. Tapi sia-sia. Anak berusia lima tahun itu tetap saja tidak mau bicara dan makan. Saya lalu memanggil ibunya. Saya tanyakan, apakah anak itu melihat suatu kejadian yang tidak mengenakkan di rumahnya. Dengan jujur sang ibu mengatakan bahwa ia dan suaminya seminggu lalu bertengkar di hadapan anak tersebut, bahkan menyebabkan sang anak menangis. Saya lalu mengerti, anak itu mengalami trauma akibat pertengkaran kedua orangtuanya.

Untuk penyembuhan sikap kelainan anak itu, saya memutuskan untuk meminta kedua orangtuanya berkonsultasi selama tujuh pertemuan. Satu tahun kemudian, saya bertemu dengan keluarga tersebut di jalan raya, mereka tampak bahagia. Saya katakan pada anak itu yang sudah bertumbuh besar, apa kamu masih tidak makan. Dengan tersipu-sipu anak itu menjawab, Nggak Bu. Sekarang saya sudah makan. Orangtuanya tertawa ketika itu.

Pasang tarif setiap kali praktek?

Tidak. Hanya saja, banyak yang tidak enak sendiri dan memberi uang. Saya katakan kalau merasa sungkan terserah saja, pokoknya saya tidak meminta uang atau memasang tarif. Uniknya, kadang mereka tidak memberi uang, tapi memberi oleh-oleh. Kalau musim buah, wah saya selalu dapat buah-buahan segar. Pernah orang bawa durian besar, dia bilang ini baru jatuh semalam di kebun, untuk Ibu. Saya sih senang saja. He..he..he.


Redaktur: Heri Ruslan
Sumber: harian republika, edisi Jumat, 23 Desember 1994

Pribadi Prof Zakiah Dikagumi Keluarga & Kerabat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wafatnya pakar psikologi Islam, Prof Zakiah Daradjat, Selasa (15/1) pagi WIB, menyisakan cerita. Dimata keluarga dan kerabat dekatnya, almarhumah Zakiyah adalah sosok guru teladan.

Sepupu Zakiah, Icu Zukafil mengatakan almarhumah adalah sosok yang dikagumi dan menjadi panutan bagi keluarga dan kerabatnya.

"Semasa hidup beliau sama sekali tidak pernah marah. Jika beliau menegur, beliau bicara dengan senyum. Jadi kadang kita tidak tahu kapan beliau marah," kata Icu di Jakarta.

Selain itu, kata Icu, Zakiah dikenal keluarga sangat gigih menuangkan wawasan keilmuannya lewat tulisan atau mengajar. Meski usianya sudah senja dan kesehatannya terus menurut, Zakiah tak pernah berhenti menulis untuk menuangkan pemikirannya untuk menambah khazanah ilmu pengetahuan Islam.

Menurut Icu, sebagai seorang cendekiawan Zakiyah terhindar dari kepikunan, meski usianya sudah tergolong sepuh. Guru besar UIN Jakarta itu tutup usia saat dirawat di RS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada usia 83 tahun.

Redaktur: Karta Raharja Ucu
Reporter: Hannan Putra

Mengenang Zakiah Daradjat: Berjuang tanpa Pamrih

REPUBLIKA.CO.ID,

Bila Prof Dr Zakiah Daradjat tahu benar tentang watak dan berbagai permasalahan yang dihadapi remaja sekarang ini, sebenarnya bukanlah hal yang aneh. Ini, karena selama 30 tahun, guru besar IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta ini hampir setiap hari menggeluti berbagai persoalan yang berkaitan dengan remaja.

Di ruang praktiknya di Jalan Fatmawati, Cilandak, Jakarta Selatan, psikolog kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat, 6 November 1928, setiap petang rata-rata menghabiskan waktu dua jam menerima pasiennya yang kebanyakan anak remaja, atau orangtua yang mempunyai masalah dengan anak-anaknya.

''Setiap hari, selama lima hari dalam sepekan, rata-rata saya menerima tiga hingga lima pasien,'' jelas doktor psikologi lulusan Universitas Ein Shams, Kairo, Mesir tahun 1964 kepada Republika. Masing-masing pasien, ia beri waktu sekitar 45 menit, untuk berkonsultasi mengenai pasalah psikologi.

Dalam praktek psikologinya itu, Zakiah mengaku tak memasang tarif. Ia dengan tekun mendengarkan keluhan para pasiennya itu, tanpa memandang apakah mereka dari golongan masyarakat mampu atau bukan. ''Seringkali saya tidak menerima bayaran apa-apa, karena memang tujuan saya untuk menolong sesama manusia,'' ucap guru besar bidang tarbiyah IAIN Jakarta ini.

''Bahkan kadang-kadang saya hanya menerima bayaran buah-buahan.'' Sarat dengan pengalaman praktik itu, yang menurutnya banyak yang tidak diperolehnya dalam teori selama 8 1/2 tahun mengikuti pendidikan di Kairo, Zakiah Daradjat sangat prihatin terhadap kenakalan remaja akhir-akhir ini. ''Tapi yang lebih memprihatinkan saya, adalah banyaknya orangtua yang kurang memperhatikan mereka. Bahkan secara tidak sadar banyak orang tua yang ikut memberikan andil dalam menjerumuskan anaknya itu,'' kata wanita yang memulai karirnya di Indonesia sebagai pegawai Biro Perguruan Tinggi Agama, Departemen Agama (1964-1967).

Menurutnya, kebanyakan anak nakal karena di rumah kurang mendapat kasih sayang orangtuanya. Karena itu, Zakiah yang juga pernah menjadi guru besar bidang pendidikan kesehatan Universitas Islam Jakarta itu, mengaku selalu mengelus dada bila mendengarkan orangtua yang selalu menyalahkan anak-anaknya yang nakal.

''Kita hanya tahunya mereka nakal. Tapi kita tidak mau tahu apa penyebabnya. Padahal para remaja yang kita anggap nakal dan tidak baik itu, mereka sebenarnya adalah orang-orang yang menderita,'' ujar Zakiah, yang selama di Mesir belajar ilmu pendidikan dengan spesialisasi psikoterapi, sampai meraih gelar doktor.

Zakiah, yang telah menulis 32 buku tentang remaja, pendidikan dan kesehatan mental itu, menilai bahwa terjadinya tawuran antarremaja, dan sejumlah kasus kejahatan yang mereka lakukan akhir-akhir ini, adalah akibat dari tidak mampunya mereka mengendalikan diri.

Dari segi psikologi, ini akibat pertumbuhan mereka yang cepat, sehingga ia terdorong mengikuti hal-hal yang dia lihat, sekalipun hal ini bertentangan dengan nilai-nilai agama dan moral. Dan kesalahan orangtua, karena mereka kurang memahami pertumbuhan dan proses kejiwaan para remaja. Bukan hanya itu, mereka bahkan kurang akrab. Padahal para remaja itu, sesungguhnya sangat membutuhkan orang yang mau dan mampu memahami keadaan dirinya.

Bagi Zakiah, kesibukan orangtua bukan menjadi alasan untuk tidak memperhatikan anak-anaknya. ''Boleh saja orang tua sibuk, tapi masa sampai tidak ada waktu sama sekali untuk memberikan perhatian kepada anak-anak. Kalau untuk pekerjaan kantor kita mempunyai waktu, masa untuk keluarga tidak ada,'' kata psikolog yang juga dikenal sebagai mubalighah itu. Ia menambahkan, dampak yang sangat fatal bagi para remaja yang kurang mendapatkan perhatian orang tuanya, mereka akan mudah terpancing pada perbuatan yang negatif, seperti melakukan hal-hal yang tercela, minum-minuman keras, bahkan sampai obat-obat terlarang.

Zakiah yang sampai kini aktif mengisi kuliah subuh di RRI, dan sejumlah radio swasta, menyayangkan sejumlah tayangan di TV maupun film, yang menurutnya telah ikut menjerumuskan para remaja. Apalagi iklan-iklan yang disodorkan TV swasta, yang bukan saja dari segi agama, tapi dari segi moral Pancasila pun bertentangan.

Sebelum membuka praktek di Indonesia, selama tiga setengah tahun Zakiah telah berpengalaman menangani para remana bermasalah di Mesir. Menurutnya, pengalamannya di Arab itu sangat berharga. ''Alhamdulillah, banyak anak yang semula bandel, setelah datang ke saya, kembali menjadi anak-anak yang baik. Dan demikian juga yang terjadi selama hampir 30 tahun saya membuka praktek di tanah air,'' kata Zakiah yang telah menterjemahkan 13 buku dari bahasa Arab.

Dengar Keluhan Anak

Orangtua, kata Zakiah yang juga sering ceramah di majelis-majelis taklim, hendaknya mau mendengarkan keluhan anaknya. Karena hal itulah yang sangat didambakan para remaja. Para orangtua sekarang ini, menurutnya, sangat jarang berdialog dengan anak-anaknya. ''Banyak orang tua belum apa-apa sudah menyemprot anaknya, tanpa mau mendengarkan keluhan mereka,'' jelas Zakiah.

Akibat dari banyaknya orangtua yang kurang perduli dengan anak-anaknya, anak-anak menjadi sumpek di rumah. Dan kesumpekan itu lalu merela lampiaskan dengan tawuran di jalan-jalan. ''Saya yakin bila para remaja itu mendapatkan 'saluran' di rumahnya, mereka tidak akan liar di jalan-jalan,'' jelasnya.

Menurut Zakiah, para remaja putra biasanya sangat mengidolakan ayahnya. ''Ia sangat mendambakan perhatian ayahnya. Tapi karena ayahnya sibuk, ia menjadi kecewa karena tidak mampu bercerita pada ayahnya,'' ujarnya. Kondisi yang lemah inilah yang mengakibatkan mereka mudah terpengaruh apa pun yang datang dari luar. Demikian pula para remaja puteri. Karena ibunya yang seharusnya menjadi idolanya sangat sibuk, maka perhatiannya beralih kepada orang lain, termasuk para pembantu rumah tangga.

Karena itu, ia menghimbau kepada para orangtua, agar minimal satu hari dalam seminggu ada waktu untuk santai bersama keluarga di rumah. ''Untuk menuju keluarga sakinah, di mana rumahku merupakan surgaku, hal ini harus ada dalam setiap keluarga,'' katanya.
Dia mencohkan Nabi Muhammad SAW, sekali pun mendapat tugas berat dari Allah SWT masih mempunyai waktu untuk bersantai-santai dengan keluarganya. ''Bahkan Nabi sering membelai-belai dan menggendong kedua cucunya, Hasan dan Husein,'' kata wanita yang ketika di SD, selalu mendapatkan nilai 9 untuk mata pelajaran berhitung.

Praktek psikologi yang dilakukan Zakiah memang lebih diutamakan pada pendekatan agama. ''Dengan memasukkan faktor agama, maka konsultasi tidak memakan banyak waktu. Sebab si pasien bisa melanjutkan sendiri,'' alasannya. Dan dia sendiri sangat menyesalkan bahwa sebagian besar remaja sekarang kurang mendapatkan pendidikan agama dan moral yang tepat.
''Padahal kalau ajaran agama bisa menyatu kepada pribadi para remaja, mereka condong mencari penyelesaian permasalahan yang mereka hadapi sesuai dengan ajaran agama,'' kata Zakiah.

Redaktur: Heri Ruslan
Reporter: Alwi Sahab
Sumber: harian republika, edisi Jumat, 22 April 1994

Zakiah Daradjat, Simbol Muslimah Asia Tenggara


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sosok Zakiah Daradjat terkenang baik di kalangan yang mengenalnya. Pribadinya yang sangat percaya diri membuat Zakiah dikagumi banyak pihak.

Bagi Wakil Menteri Agama, Nasaruddin Umar, Zakiah Daradjat adalah simbol muslimah di Asia Tenggara. Dia mampu menjadi perempuan pertama yang dapat mengangkat dirinya sebagai tokoh elite umat. Bukan hanya di Indonesia, namun juga di Asia Tenggara. "Beliau adalah simbol muslimah Asia Tenggara waktu itu," kata Nasaruddin, Selasa (15/1).

Menurutnya, Zakiah menjadi sosok sentral muslimah Asia Tenggara. Dalam ajang internasional, Zakiah sering didaulat untuk mewakili muslimah Asia Tenggara. Menurut Nasaruddin, hal itu karena percaya dirinya yang besar, kemampuannya yang mumpuni, ditambah penguasaan bahasa Arabnya yang fasih. Padahal, pada masa itu, belum ada sosok muslimah yang mampu menembus level itu.

Nasaruddin menambahkan, Zakiah juga menjadi sosok yang bisa diterima semua kalangan. Bukan hanya di lingkungan Muhammadiyah, di Nahdatul Ulama dan gerakan Islam lain juga menerima dengan baik. Zakiah juga menjadi perempuan pertama yang setelah menyelesaikan program Doktornya di Mesir, langsung menjabat sebagai Direktur Perguruan Tinggi di Kementerian Agama.

Selain sebagai penceramah ulung, kepiawaian Zakiah adalah menulis buku. Sampai saat ini, kata Nasaruddin, sudah banyak buku Zakiah yang diterbitkan. Prestasi itu sulit disamai oleh perempuan lain sampai saat ini. Bisa jadi, tambah Nasaruddin, Zakiah menjadi sosok muslimah yang sulit ditemui lagi. "Pikirannya moderat dan tidak membeda-bedakan orang," tegas Nasaruddin.

Bahkan, tambah mantan Dirjen Pendidikan Islam Kemenag itu, sosok Zakiah seperti sosok Hamka dalam versi muslimah. Meskipun orang Padang, Zakiah tidak pernah memandang etnik maupun golongan. Indonesia kehilangan muslimah yang mungkin tidak ada lagi yang menyamai, tegas Nasarruddin.

Redaktur: Dewi Mardiani
Reporter: Agus Raharjo

Hamidah Quthb, Informan Pemberani

 REPUBLIKA.CO.ID, Belia yang tengah tumbuh dan sangat sensitif sering terkejut dengan hantu yang misterius.

Demikian Cendekiawan Muslim Sayyid Quthb menyebut saudari bungsunya, Hamidah Quthb.

Memori itu diabadikan di sebuah buku bercorak sastrawi dan terbit pada 1945. Judulnya, Empat Spektrum (al-Athyaf al-Arba'ah), sebuah buku catatan hasil karya empat saudara, Sayyid, Muhammad, Aminah, dan Hamidah.

Keempat bersaudara terkenal kekompakannya. Mereka bersama-sama mengkaji ilmu dan berdakwah. Bahkan, tak gentar menghadapi ujian.

Hamidah terkenal sebagai sosok daiyah (sebutan untuk dai perempuan—Red) yang gigih memperjuangkan kebenaran. Tokoh kelahiran Kairo, 1937 ini, memulai karier dakwahnya sejak bergabung dengan Ikhwanul Muslimin (IM).

Ketertarikannya terhadap kelompok yang dibentuk oleh Syahid Hasan al-Banna itu berawal ketika sang kakak, Sayyid Quthb, bergabung dengan jamaah tersebut pascakembali dari Amerika Serikat.

Hamidah getol mensyiarkan Islam, memberdayakan masyarakat, dan melawan kezaliman. Bersama sejumlah daiyah, ia mengemban misi mulia itu. Salah satunya ialah Zainab al-Ghazali.

Pada 1954, rezim Gamal Abd El-Nasir menangkap sebagian besar anggota IM. Sang kakak, Sayyid Quthb, turut diciduk oleh penguasa zalim tersebut. Mereka divonis dengan sanksi yang beragam. Ada yang dihukum seumur hidup. Tak sedikit yang dijatuhi hukuman mati.

Hamidah tidak tinggal diam. Semangatnya tak luntur. Ia terpanggil untuk berbuat sesuatu. Bersama beberapa tokoh, seperti Aminah Ali, Naimah Khathab, Zainab al-Ghazali, dan Khalidah al-Hudhaibi, Hamidah mendampingi dan mengurus keluarga para anggota IM yang ditahan.

Hamidah memiliki andil yang besar dalam proses Gerakan (tandhim) IM 1965.   Embrio gerakan itu telah muncul pada 1957.

Sayyid Quthb terpilih sebagai penanggung jawab dan koordinator gerakan tersebut. Padahal, penulis “Tafsir Fi Dhilal Alquran” itu berada di balik jeruji besi.

Untuk kelancaran informasi dengan para anggota di luar sel, Hamidah ditunjuk sebagai informan. Usianya kali itu masih 21 tahun. Tak mudah berposisi sebagai utusan kala itu. Prosedur penjara sangat ketat, bahkan nyaris berubah setiap waktu.

Tak jarang, terpaksa menunggu selama lima jam di luar penjara. Tak ada tempat berteduh, di bawah sinar matahari yang menyengat. Hanya untuk satu tujuan, bertemu dengan sang kakak yang divonis 15 tahun penjara.

Kondisi itu berlangsung hingga 1965. Gerakan revolusi untuk menggulingkan tiran yang zalim gagal. Pada tahun yang sama, seluruh anggota keluarga Quthb ditangkap. Mereka mendapat siksaan pedih.

Pada tahun itu juga, Pengadilan Mesir yang dipimpin oleh Muhammad Fuad ad-Dajawi menjatuhkan vonis mati terhadap Sayyid Quthb. Keputusan dari tiran zalim. Sebuah catatan merah, sejarah kelam Mesir modern.

Demikian pula Hamidah. Ia mendekam di penjara selama enam tahun empat bulan. Ini ditambah dengan hukuman kerja rodi selama sepuluh tahun.

Saat itu, ia masih gadis dan berumur 29 tahun. Keimanannya tak luntur sedikit pun. Justru, keyakinannya bertambah. Ia mampu menghafal Alquran 30 juz selama di penjara.

Cobaan itu berakhir ketika ia dinyatakan keluar penjara pada 1972. Selang beberapa saat, ia menikah dengan seorang dokter spesialis jantung, Prof Hamdi Mas'ud.

Hamidah dan suaminya hijrah ke Paris, Prancis. Di “Negeri Menara Eiffel” ini Hamidah tetap berdakwah.

Ia mempersilakan Muslimah belajar di tempat tinggalnya. Ia tetap kuat memegang prinsip. Ia menolak melepaskan jilbab untuk mendapatkan perpanjangan visa.

Pemerintah setempat akhirnya berkompromi, dan memberikan keleluasaan baginya untuk tetap berhijab. Demikian pula Muslimah yang lain.

Di mata sang suami, yaitu  Prof Hamdi Mas'ud, ada dua peristiwa yang menunjukkan spiritualitas dan keimanan Hamidah yang tinggi. Deraan cobaan yang menimpa dirinya dan anggota keluarganya tak membuatnya mundur untuk melawan kezaliman.

Yang pertama, ia tabah saat saudara sepersusuannya, Rifat Bakar Syafi', meninggal akibat siksaan di penjara oleh rezim Gamal Abd El-Nasir. Mayoritas keluarganya mendapat intimidasi.

Tak sedikit yang menemui ajal mereka. Termasuk, kakaknya sendiri, Sayyid Quthb. Beberapa saat menjelang hukum gantung dilaksanakan atas saudaranya itu, ia menemui kakak tercintanya itu.

Detik-detik terakhir ia berbicara dan bertatap muka. “Betapa saya rasakan keteguhan imannya,” kata sang suami. Pada Selasa, 17 Juli 2012, daiyah yang terkenal sastrawan ini menghadap Sang Khalik. Kematiannya tersebut akibat penyakit usus buntu akut yang ia derita.




Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Nashih Nashrullah

Sunday, January 13, 2013

Jejak Langkah Fazlur Rahman

REPUBLIKA.CO.ID, Pandangan-pandangannya tentang Alquran, hadis, dan hukum-hukum tentang berbagai masalah kerap menimbulkan kontroversi.

Dunia Islam tak bisa melewatkan tokoh yang satu ini, Fazlur Rahman.

Dia adalah pemikir Islam di abad ke-19 yang pemikirannya kerap mengundang kontroversi, namun sebenarnya mengusung semangat perubahan yang positif dalam Islam.

Fazlur lahir di Pakistan pada 21 September 1919. Ia dilahirkan di tengah keluarga Muslim yang sangat taat dan menjalankan tradisi mazhab Hanafi.

Berkat latar belakang keluarga seperti itu pula, Fazlur tumbuh menjadi sosok Muslim yang juga sangat serius dalam beribadah.

Ayahnya adalah seorang alim yang terdidik dalam pola pemikiran Islam tradisional. Namun, sang ayah tidak menutup dirinya dengan modernitas.

Sang ayah mengajarkannya bahwa modernitas bukanlah racun, melainkan sebagai sebuah tantangan ataupun kesempatan yang baik untuk membangun keimanan dan moralitas. Ini pula yang diyakini Fazlur sejak kecil.

Setelah menamatkan pendidikan menengah, dia melanjutkan studi ke Universitas Punjab dan memperoleh gelar MA dalam sastra Arab pada 1942. Lalu, pada 1946, Fazlur melanjutkan pendidikannya ke Inggris. Keputusan untuk belajar ke Inggris dianggap sebagai hal yang aneh oleh orang-orang di sekitarnya.

Saat itu, tidak umum bila seorang Muslim pergi ke Barat untuk belajar Islam di sana. Bila ada yang berani mengambil langkah seperti ini, risikonya adalah ia tidak akan diterima kembali di negeri asalnya.

Namun, Fazlur tidak ambil pusing. Dia masuk sebagai mahasiswa program doktoral di Oxford University, Inggris. Pada 1951, dia berhasil meraih gelar doktor filsafat.

Setelah menamatkan pendidikan di Oxford, ia mengajar selama beberapa tahun di Durham University, Inggris. Selanjutnya, menjabat sebagai Associate Professor of Philosophy di Institute of Islamic Studies, Mc Gill University, Kanada.

Fazlur Rahman kembali ke Pakistan sekitar 1960 dan menjabat selama beberapa waktu sebagai salah seorang staf senior pada Lembaga Riset Islam.

Dua tahun kemudian, ia ditunjuk sebagai direktur lembaga tersebut. Dia juga diangkat sebagai anggota Dewan Penasihat Ideologi Islam oleh Pemerintah Pakistan.

Di dua lembaga itulah, Fazlur berusaha menyebarkan pemikirannya tentang Islam.  Dia menggagas adanya penafsiran kembali Islam untuk menjawab tantangan dan kebutuhan masa itu.

Kritik-kritiknya semakin tajam ketika mengemukakan pandangan tentang definisi “Islam” bagi Pakistan, terutama terhadap pandangan kaum tradisionalis dan fundamentalis.

Pandangan-pandangannya tentang alquran, hadis, dan hukum-hukum tentang berbagai masalah menimbulkan kontroversi yang berkepanjangan dan berskala nasional. Situasi semakin tidak terkendali dan Fazlur terus-menerus mendapatkan hujatan.

Tidak ada yang mau mendukung pemikirannya. Akhirnya, Fazlur pun mengajukan pengunduran diri dari jabatan Direktur Lembaga Riset Islam. Tak lama kemudian, ia melepas jabatan sebagai anggota Dewan Penasihat Ideologi Islam Pakistan.

Hijrah ke Chicago

Merasa tak nyaman di Pakistan, dia memutuskan hijrah ke Chicago, Amerika Serikat (AS). Sejak 1970, ia menjabat sebagai guru besar kajian Islam dalam berbagai aspeknya pada Department of Near Eastern Languages and Civilization, University of Chicago.

Menetap di AS, Fazlur Rahman merasa memperoleh kebebasan intelektualnya. Ia  menyusun pemikiran-pemikirannya tentang pembaruan dalam Islam dan kepadanyalah para mahasiswa dari berbagai negeri Muslim belajar Islam.

Selain memberi kuliah dan kajian keislaman, dia aktif dalam berbagai kegiatan intelektual, seperti memimpin proyek penelitian, mengikuti berbagai seminar internasional, serta memberikan ceramah di berbagai pusat studi terkemuka.

Ia pun aktif menulis buku-buku keislaman dan menyumbangkan artikel ke berbagai jurnal internasional. Karya-karyanya mencakup hampir seluruh studi Islam normatif maupun historis.

Dan, dia mulai mengidentifikasi diri sebagai neomodernis sehubungan dengan usaha pembaruan yang sedang dilancarkan. Fazlur meninggal dunia pada 26 Juli 1988 di Chicago.

Sejumlah pengamat menilai Fazlur adalah seorang tokoh Islam liberal.

Namun, pengamat politik dan dosen pascasarjana Universitas Indonesia, Bachtiar Effendi, menyatakan pemikiran Fazlur tak bisa serta-merta dikaitkan dengan gerakan Islam liberal.

Dia adalah pengusung neomodernisme yang tidak bisa serta-merta dikaitkan dengan liberalisme. Hal ini tampak dari sikap Fazlur yang tidak menentang adanya negara Islam, seperti Pakistan.

Ini bukanlah sikap seorang pendukung Islam liberal yang cenderung memisahkan agama dan nasionalitas.

“Dengan senang hati Fazlur menerima kenyataan bahwa Pakistan adalah negara Islam. Dengan senang hati pula Fazlur memberikan nasihat-nasihat dan masukan bagi Jenderal Ayyub Khan, pemimpin Pakistan kala itu,” ujarnya dalam peringatan mengenang 20 tahun wafatnya Fazlur Rahman, beberapa waktu lalu.

Meski demikian, penerimaan Fazlur terhadap gagasan negara Islam Pakistan bukannya tanpa sikap kritis. Ia berusaha memberi muatan dan isi yang berbeda kaitannya dengan negara Islam Pakistan.

Fazlur, menurut Bachtiar, adalah sosok pemikir yang kompleks, sehingga sebutan-sebutan, seperti tradisionalis, modernis, neotradisonalis, neomodernis, tidak cukup tepat untuk menjelaskan dirinya.

Yang pasti, Fazlur adalah tokoh Islam yang berusaha mengembalikan sifat Islam sebagai agama yang dinamis dan tidak kalah dengan modernitas yang bisa diterima kapan saja meskipun telah melintasi waktu ribuan tahun lamanya.

Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Fitria Andayani

Saturday, January 12, 2013

Belajar Lagi dari Nol

Belajar lagi dari nol di dunia baru dengan pengalaman NOL. Sulit, tapi harus dilakoni jika tak mau mati di tengah jalan. Bismillah...

Tuesday, March 20, 2012


Analisis seorang kawan soal salah hitung Pemerintah dalam hal bisnis BBM di Indonesia (CoPas dari sumber online) :

1. Pertamina memperoleh hasil penjualan BBM premium sebanyak 63 Milyar liter dengan harga Rp.4500,- yang hasilnya Rp. 283,5 Trilyun

2. Pertamina harus impor dari Pasar Internasional Rp. 149,887 Trilyun

3. Pertamina membeli dari Pemerintah Indonesia Rp. 224,546 Trilyun

4. Pertamina mengeluarkan uang untuk LRT 63 Milyar Liter @Rp.566,- = Rp. 35,658 Trilyun

5. Jumlah pengeluaran Pertamina Rp. 410,091 Trilyun

6. Pertamina kekurangan uang, maka Pemerintah yang membayar kekurangan ini yang di Indonesia pembayaran kekurangan ini disebut “SUBSIDI”

7. Kekurangan yang dibayar pemerintah (SUBSIDI) = Jumlah pengeluaran Pertamina dikurangi dengan hasil penjualan Pertamina BBM kebutuhan di Indonesia :
= Rp. 410,091 Trilyun – Rp. 283,5 Trilyun
= Rp. 126,591 Trilyun

8. Tapi ingat, Pemerintah juga memperoleh hasil penjualan juga kepada Pertamina (karena Pertamina juga membeli dari pemerintah) sebesar Rp. 224,546 Trilyun.

*Catatan Penting: hal inilah yang tidak pernah disampaikan oleh Pemerintah kepada masyarakat

9. Maka kesimpulannya adalah pemerintah malah kelebihan uang, yaitu sebesar perolehan hasil penjualan ke pertamina – kekurangan yang dibayar Pemerintah (subsidi)
= Rp. 224,546 Trilyun – Rp. 126,591 Trilyun
= Rp. 97,955 Trilyun

"Artinya, APBN tidak jebol justru saya jadi bertanya, dimana sisa uang keuntungan SBY menjual BBM sebesar Rp. 97,955 Trilyun".(analisa Kwik Kian Gie & Anggito Abimanyu)

Komentar saya:
UTANG INDONESIA = 1.800 Trilyun. Kalau memang hitungan Kwik Kian Gie & Anggito ini benar, maka bisa dipakai untuk bayar hutang. Rp 97,995 Trilyun - 1.800 Trilyun = Rp 96,195 Trilyun. (kalau tidak salah Kwik Kian Gie pernah ngomong ini di TVOne acara apa kabar indonesia bersama Anggito Abimanyu).
Hujan gerimis di Pagi Hari


Alhamdulillah, pagi ini hujan gerimis. Semoga memberi berkah bagi alam semesta, khususnya kota Tulungagung.

Hujan memang bikin kita kadang terhambat dalam beraktifitas. Mau berangkat sekolah atau bekerja jadi malas. Namun dibalik itu semua kita menikmati keberuntungan. Udara jadi sejuk. Hingar bingar kendaraan jadi berkurang.

Tetap semangat dalam beraktifitas !