Alhamdulillah. Hari ini terasa seperti sebuah perjalanan panjang yang dipenuhi potongan-potongan kecil kebaikan. Sejak pagi hingga malam, selalu ada kemudahan dan peristiwa yang membuat hati ini berkali-kali mengucapkan syukur.
Pagi hari, langkah membawaku ke Hotel Lynn Tuban untuk meliput acara Pembukaan Coaching Clinic ISWMP. Sebenarnya, sempat ada rasa ragu. Sebelumnya, Pak Bos, Anis Sutrijono, sempat melarangku datang. Namun entah mengapa, hati kecil ini tetap ingin hadir. Bukan untuk membangkang, melainkan karena merasa ada sesuatu yang perlu dilakukan.
Alhamdulillah, akhirnya aku bisa mengikuti sekaligus meliput jalannya acara tersebut.
Hari pun terus bergerak.
Dalam perjalanan menuju Desa Sawir, sebuah pertemuan sederhana terjadi di sebuah pom bensin di Jenu. Aku bertemu dengan seseorang yang sama sekali belum kukenal. Rupanya, ia hendak melakukan perjalanan menuju Tangerang. Ia meminta menumpang bersamaku hingga Tambakboyo, sejauh arah perjalananku. Setelah itu, ia berencana melanjutkan perjalanan dengan cara estafet, menumpang kendaraan lain.
Tanpa banyak berpikir, aku pun mempersilahkannya naik.
Motor melaju membelah jalanan Tuban menuju arah Tambakboyo.
Sepanjang perjalanan, aku sempat berpikir, mungkin Allah memang tidak pernah mempertemukan kita dengan seseorang tanpa alasan. Kita mungkin tidak mengetahui siapa mereka, dari mana mereka datang, dan apakah kelak kami akan bertemu kembali. Namun selama kita masih memiliki kemampuan untuk membantu, mengapa harus menunggu mengenal seseorang terlebih dahulu?
Sesampainya di Desa Sobontoro, Kecamatan Tambakboyo, Tuban, kami berhenti di sebuah warung sederhana di tepi jalan. Waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB. Aku pun mengajaknya makan siang.
Tidak ada hidangan mewah. Hanya sepiring makanan sederhana di warung pinggir jalan.
Namun entah mengapa, hati terasa begitu lapang.
Mungkin memang benar, kebahagiaan tidak selalu datang ketika kita menerima sesuatu. Kadang, kebahagiaan justru hadir ketika kita mampu berbagi, meski hanya dalam bentuk yang sederhana.
Ternyata, perjalanan hari ini belum berhenti memberikan kejutan.
Urusan revisi laporan bulanan yang sebelumnya cukup mengganggu pikiran perlahan mulai dimudahkan. Koordinasi dengan Pak Carik Asrorudin dari Desa Sawir berjalan lancar. Mas Ali Hasan, selaku Petugas Pemberdayaan Masyarakat (PPM), juga membantu proses printing laporan.
Satu per satu persoalan yang semula terasa rumit, ternyata menemukan jalan keluarnya.
Aku kembali teringat bahwa manusia memang wajib berusaha. Namun tidak semua urusan dapat diselesaikan hanya dengan kekuatan sendiri. Ada saatnya kita membutuhkan bantuan orang lain. Dan mungkin, Allah mengirimkan pertolongan-Nya melalui tangan-tangan orang baik yang ada di sekitar kita.
Kemudian datang kabar yang sudah cukup lama kutunggu.
Siang tadi, honor sebagai Enumerator PIP akhirnya cair. Sebuah penantian sejak Juli 2026 yang akhirnya terjawab hari ini.
Alhamdulillah.
Rasa syukur itu semakin lengkap ketika sebagian rezeki tersebut bisa kukirimkan kepada Flora, anakku yang sedang menempuh pendidikan di Polinema Malang. Sebesar Rpxxxx mungkin bukan angka yang besar bagi sebagian orang. Namun, bagi seorang ayah, dapat mengirimkan uang kepada anak yang sedang berjuang menuntut ilmu adalah sebuah kebahagiaan tersendiri.
Ada rasa haru yang sulit dijelaskan.
Pagi hari meliput sebuah acara. Siang hari bertemu dengan orang asing dan diberi kesempatan untuk berbagi perjalanan serta makan. Urusan pekerjaan dimudahkan oleh orang-orang baik. Rezeki yang lama ditunggu akhirnya datang. Lalu, dari rezeki itu, sebagian kembali mengalir kepada anak yang sedang berjuang mengejar cita-citanya.
Seolah semuanya menjadi rangkaian kecil yang saling terhubung.
Menjelang malam, tepat setelah menunaikan salat Maghrib, aku kembali diberi kesempatan untuk mengikuti pengajian di Masjid Lathifah An Nashr, yang berada tidak jauh dari kantorku di Sidorejo, Tuban. Pengajian tersebut disampaikan oleh Ustadz Abdus Salam AR.
Ceramah beliau kemudian aku dokumentasikan dan kutulis di firnas.blogspot.com. Setelah itu, dokumentasi tersebut kukirimkan kepada beliau dan kubagikan pula ke grup Majelis Tabligh Muhammadiyah PDM Tuban.
Alhamdulillah, apa yang kulakukan mendapat respons positif.
“Suwun Pak Firnas atas usahanya untuk mempermudah tampilan Ustadz-ustadz MTB Tuban di medsos,” tulis PakNo.
Sebuah kalimat sederhana, tetapi cukup membuat hati kembali bersyukur. Barangkali apa yang kita lakukan memang tidak selalu harus besar. Selama ada manfaat yang bisa dirasakan orang lain, sekecil apa pun usaha itu, insyaallah tetap bernilai sebagai sebuah kebaikan.
Hari ini benar-benar mengajarkanku bahwa kebaikan tidak pernah benar-benar hilang.
Mungkin ia tidak langsung kembali dalam bentuk yang sama.
Ketika kita memberi tumpangan kepada seseorang, Allah bisa saja membuka jalan rezeki dari arah lain. Ketika kita memberi makan orang lain, Allah mungkin memudahkan urusan yang sebelumnya terasa berat. Ketika kita berbagi dengan ikhlas, Allah mampu menggantinya dengan cara-cara yang tidak pernah kita duga sebelumnya.
Entahlah.
Mungkin inilah yang dinamakan buah dari keikhlasan. Buah dari tawakal. Dan mungkin pula, inilah salah satu keajaiban sedekah dan berbagi.
Manusia hanya mampu berusaha untuk berbuat baik dan berharap kepada Allah. Selebihnya, Allah-lah yang mengatur setiap langkah, setiap pertemuan, setiap kemudahan, dan setiap rezeki yang datang pada waktu yang tepat.
Hari ini, aku hanya ingin menutup semuanya dengan satu kalimat:
Alhamdulillahi rabbil 'alamin.
Terima kasih, ya Allah, untuk hari yang penuh dengan kejutan, pertolongan, pertemuan, kemudahan, dan rezeki.
Semoga hati ini senantiasa belajar untuk ikhlas ketika memberi, sabar ketika menunggu, tawakal ketika berusaha, serta tidak lupa bersyukur ketika nikmat-Mu datang.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Firnas Muttaqin
No comments:
Post a Comment