Saturday, June 06, 2026

Menempa Kedamaian dari Balik Madrasah Pertama: Catatan Milad 'Aisyiyah ke-109 di Kota Pasuruan


Di tengah riuh rendah dunia yang kerap didera konflik, sebuah pesan mendalam tentang perdamaian justru menggema dari sebuah ruang ibadah di sudut Kota Pasuruan. Sabtu pagi (6/6/2026), Masjid Al-Ukhuwah, Jl. Sekarsono, dipenuhi oleh anggota dan pengurus Aisyiyah berkemajuan. Mereka berkumpul bukan sekadar untuk merayakan angka, melainkan merefleksikan 109 tahun perjalanan Pimpinan Cabang 'Aisyiyah (PCA) Purworejo dalam merawat kemanusiaan.

Mengusung tema “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan Untuk Mewujudkan Perdamaian Melalui Pendidikan”, acara ini dikemas dalam bentuk talk show yang menghadirkan sudut pandang tajam dari para praktisi dan pimpinan organisasi.

Benteng Perempuan di Tengah Badai Domestik

Ketua Pimpinan Daerah 'Aisyiyah (PDA) Kota Pasuruan, Hj. Drh. Emilis Setyawati, membuka diskusi dengan sebuah refleksi yang membumi. Baginya, usia 109 tahun adalah bukti ketahanan. Namun, ia enggan terjebak dalam romantisme angka. Emilis justru menarik perhatian hadirin pada realitas sosial yang terjadi di depan mata.

 “Konsep perdamaian dan kemanusiaan itu tidak muluk-muluk. Ia dimulai dari rumah,” ujar Emilis.

Ia menceritakan bagaimana dinamika konflik domestik yang kerap berakhir di Pengadilan Agama menjadi bukti bahwa kedamaian di tingkat keluarga sedang rapuh. Jika rasa kemanusiaan di dalam rumah tangga tidak dirawat, maka keretakan sosial yang lebih besar tinggal menunggu waktu. Dalam konteks inilah, Emilis menegaskan posisi vital kaum hawa.

"Pendidikan adalah senjata sekaligus benteng yang paling kuat bagi seorang perempuan," tegasnya, disambut anggukan takzim para peserta.


Keteladan yang Melintasi Batas Egoisme

Menyambung fondasi yang diletakkan Emilis, Dr. Dies Nurhayati, M.Pd., seorang praktisi pendidikan sekaligus dosen Universitas Wira Negara (UNIWARA), mengupas tuntas bagaimana pendidikan harus diimplementasikan. Mengutip Al-Qur'an Surat Al-Anbiya ayat 107 tentang misi melahirkan rahmat bagi semesta alam (*rahmatan lil 'alamin*), Dies mengingatkan bahwa setiap ibu adalah *madrasatul ula*—sekolah pertama dan utama bagi anak-anaknya.

Dr. Dies Nurhayati: Tiga Pilar Pendidikan Keluarga 

1. Uswah Hasanah (Keteladanan Nyata): Anak adalah peniru ulung. Menasihati anak untuk salat harus dimulai dari kedisiplinan orang tua mengambil air wudu tepat waktu dengan pakaian terbaik. 

2. Pengendalian Emosi: Ucapan seorang ibu adalah doa. Diperlukan kemampuan "mengerem amarah" saat menghadapi dinamika psikologis anak, termasuk kecemburuan antarsaudara. 

3. Kepedulian Sosial Kolektif: Berhenti menggunakan prinsip "anakku urusanku, anakmu urusanmu". Karakter lingkungan sekitar akan menentukan masa depan anak kita sendiri.

Dies menekankan pentingnya mendobrak sifat egois individual dalam mendidik anak. "Kita tidak bisa menutup mata dari anak-anak tetangga. Mengapa? Karena kelak saat anak kita dewasa dan masuk ke dunia kerja, mereka akan hidup berdampingan dengan anak-anak yang tumbuh di sekitar mereka hari ini. Jika kita ingin masa depan yang aman, kita harus peduli pada karakter anak-anak di lingkungan kita secara keseluruhan," jelasnya panjang lebar.

---

Pendidikan Anak Usia Dini sebagai Akar

Hadir pula memberikan warna dalam diskusi tersebut, Khariri Daulah, S.Pd., selaku Kepala TK/KB ABA 6. Sebagai sosok yang berdiri di garda terdepan pendidikan anak usia dini, kehadirannya memperkuat argumen bahwa penanaman nilai-nilai perdamaian, toleransi, dan kemanusiaan harus dimulai sejak tunas paling awal tumbuh.

Melalui momentum Milad ke-109 ini, 'Aisyiyah Purworejo Kota Pasuruan kembali menegaskan khitahnya. Bahwa dakwah kemanusiaan bukanlah narasi politik di panggung-panggung besar dunia. Ia adalah bentangan sajadah tempat ibu mendoakan anaknya, keteladan sikap di meja makan, dan ketulusan mengulurkan tangan memperbaiki moral anak-anak di lingkungan sekitar. Dari sanalah, perdamaian yang sesungguhnya sedang ditenun. (*)

Penulis: Firnas Muttaqin 

---

No comments: