Sunday, October 18, 2026

Makna Hidup Bahagia Dunia dan Akhirat


TUBAN – Pengajian Ahad pagi di Masjid Darussalam, Tuban, pada Minggu (18/10/2026), menghadirkan Ustadz H. Sudarji, M.Pd.I., yang menyampaikan kajian bertema Hidup Bahagia di Dunia dan Akhirat. Dalam ceramahnya, ia menguraikan makna doa sapujagat serta berbagai bentuk kebaikan dunia yang patut disyukuri oleh setiap muslim.

Doa yang menjadi pokok pembahasan adalah:

Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah, wa fil-aakhirati hasanah, wa qinaa 'adzaaban-naar.

Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.”

Ustadz Sudarji menjelaskan bahwa doa tersebut tidak hanya berisi permohonan untuk memperoleh kebahagiaan di dunia, tetapi juga keselamatan dan kebaikan di akhirat. Doa ini, menurutnya, juga dibaca ketika melakukan tawaf, khususnya saat berada di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad.

Dalam kajiannya, ia merujuk sejumlah kitab, di antaranya Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al-Munir karya Wahbah az-Zuhaili, Tafsir Al-Baghawi, Tafsir Al-Qurthubi, serta kitab-kitab syarah hadis. Berdasarkan rujukan tersebut, ia menguraikan sejumlah bentuk hasanah fid-dunya, yakni kebaikan yang dapat dirasakan dalam kehidupan dunia.

Sehat, Rezeki, dan Keluarga yang Saleh

Salah satu kebaikan dunia yang pertama dibahas adalah kesehatan. Menurut Ustadz Sudarji, kesehatan merupakan nikmat besar karena memungkinkan seseorang menjalankan ibadah, menghadiri majelis ilmu, bekerja, serta melakukan berbagai aktivitas yang bermanfaat.

“Kalau panjenengan hidup hari ini dalam keadaan sehat, berarti panjenengan telah mendapatkan kebaikan dunia,” jelasnya di hadapan jamaah.

Ia menambahkan, kesehatan memungkinkan seseorang menjalankan ibadah dengan lebih leluasa. Sebaliknya, ketika sakit, berbagai aktivitas dapat terhambat. Karena itu, kesehatan perlu disyukuri dan dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas ibadah serta amal kebaikan.

Selain kesehatan, ia menjelaskan bahwa rumah yang layak dan luas, kendaraan yang nyaman, serta rezeki yang mencukupi kebutuhan juga termasuk bentuk kebaikan dunia. Namun, ukuran kecukupan tidak harus disamakan dengan kemewahan atau banyaknya harta.

Menurutnya, rumah yang nyaman adalah rumah yang dapat memenuhi kebutuhan keluarga, sedangkan rezeki yang luas dapat dimaknai sebagai penghasilan yang mencukupi kebutuhan sehari-hari dan masih menyisakan kelebihan.

Ia mengingatkan jamaah agar tidak menjadikan kepemilikan rumah besar, mobil mewah, atau kekayaan berlimpah sebagai satu-satunya ukuran kebahagiaan. Hal yang lebih penting adalah kemampuan mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah SWT.

Istri Salehah dan Anak-Anak yang Menyejukkan Hati

Ustadz Sudarji juga menekankan pentingnya keluarga yang saleh sebagai bagian dari kebahagiaan dunia. Ia menjelaskan bahwa istri salehah bukan hanya pasangan yang taat beribadah, tetapi juga mampu menjaga kehormatan diri, keluarga, dan harta ketika suami tidak berada di rumah.

Selain itu, anak-anak yang saleh dan salehah merupakan anugerah besar bagi orang tua. Mendidik anak agar memiliki akhlak baik, rajin beribadah, menghormati orang lain, dan bertanggung jawab membutuhkan perhatian serta keteladanan yang berkelanjutan.

Ia mengingatkan bahwa anak dapat menjadi sumber kebahagiaan, tetapi juga bisa menjadi ujian bagi orang tua apabila tidak mendapatkan pendidikan dan pengawasan yang memadai.

Karena itu, orang tua perlu memperhatikan pendidikan agama dan pembentukan karakter anak sejak dini. Kesalehan anak, menurutnya, tidak hanya berkaitan dengan keberhasilan di dunia, tetapi juga memiliki nilai penting bagi kehidupan akhirat.

Dalam ceramah tersebut, ia mengaitkan pembahasan itu dengan doa yang terdapat dalam Al-Qur'an, yakni permohonan agar pasangan dan keturunan menjadi penyejuk mata atau qurrata a'yun.

Anak Saleh sebagai Investasi Akhirat

Lebih lanjut, Ustadz Sudarji menjelaskan bahwa anak saleh memiliki kedudukan istimewa dalam kehidupan seorang muslim. Ia mengutip kandungan Surah At-Tur ayat 21 tentang orang-orang beriman yang keturunannya mengikuti mereka dalam keimanan.

Ia menerangkan bahwa ayat tersebut memberikan gambaran tentang karunia Allah SWT yang mempertemukan orang tua dan keturunannya di surga. Dengan demikian, pendidikan dan pembinaan anak tidak semestinya hanya diarahkan pada keberhasilan akademik, pekerjaan, atau kedudukan sosial, tetapi juga pada keimanan dan akhlak.

Dalam konteks ini, ia mengingatkan jamaah agar tidak mengukur keberhasilan anak semata-mata dari latar belakang ekonomi keluarga. Anak dari keluarga sederhana pun dapat meraih prestasi dan memberikan manfaat besar apabila memperoleh pendidikan, bimbingan, serta kesempatan yang baik.

Ia juga menyampaikan bahwa harta bukan satu-satunya ukuran rezeki. Kesehatan, anak yang saleh, dan keridaan Allah SWT memiliki nilai yang lebih tinggi daripada sekadar kekayaan materi.

Ilmu yang Bermanfaat dan Hati yang Lapang

Selain kesehatan, keluarga, dan kecukupan rezeki, Ustadz Sudarji turut membahas pentingnya ilmu yang bermanfaat, rasa aman, ketenteraman, terhindar dari berbagai masalah, serta sikap menerima pemberian Allah SWT.

Menurutnya, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mendorong seseorang untuk melakukan amal kebaikan. Mengikuti pengajian tidak cukup hanya dengan mendengarkan ceramah, tetapi perlu dilanjutkan dengan memahami dan mengamalkan pesan yang disampaikan.

Ia mengingatkan bahwa ilmu tanpa amal ibarat pohon yang tidak menghasilkan buah. Oleh sebab itu, jamaah diharapkan menjadikan majelis ilmu sebagai sarana memperbaiki perilaku, meningkatkan kualitas ibadah, dan membangun hubungan yang baik dengan sesama.

Ia juga menekankan pentingnya rasa aman dan nyaman di rumah maupun di lingkungan tempat tinggal. Kehidupan yang jauh dari konflik, keluarga yang rukun, kesehatan yang terjaga, serta rezeki yang mencukupi merupakan bagian dari nikmat yang patut disyukuri.

Sikap menerima pemberian Allah SWT atau qanaah juga menjadi salah satu pokok bahasan. Menurutnya, seseorang tidak harus memiliki kekayaan berlimpah untuk merasakan kebahagiaan. Selama kebutuhan tercukupi, tidak bergantung pada utang secara berlebihan, dan mampu mensyukuri apa yang dimiliki, seseorang dapat menjalani kehidupan dengan lebih tenang.

Keridaan Allah sebagai Puncak Kebahagiaan

Pada bagian akhir kajian, Ustadz Sudarji menegaskan bahwa berbagai bentuk kebaikan dunia hendaknya mengantarkan seorang muslim menuju tujuan yang lebih tinggi, yaitu memperoleh keridaan Allah SWT.

Harta, kesehatan, rumah, kendaraan, keluarga, dan ilmu merupakan nikmat yang perlu digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan sekadar untuk memenuhi kepentingan pribadi.

Ia mengajak jamaah untuk terus bersyukur, memperbaiki amal, mendidik keluarga, dan mengamalkan ilmu yang diperoleh dari majelis pengajian.

Melalui kajian tersebut, jamaah diajak memahami bahwa hidup bahagia tidak selalu berarti memiliki segala sesuatu yang mewah. Kebahagiaan juga terletak pada kesehatan, kecukupan, keluarga yang saleh, ketenteraman hati, ilmu yang bermanfaat, serta kemampuan menerima ketetapan Allah SWT dengan penuh rasa syukur.

Pengajian ditutup dengan doa bersama, memohon agar Allah SWT memberikan kebaikan di dunia dan akhirat, membimbing umat Islam untuk senantiasa beribadah dengan baik, serta melimpahkan keridaan dan perlindungan-Nya kepada seluruh jamaah.

Firnas Muttaqin

No comments: