KAJIAN AHAD PAGI, 19/4/2026
Tema: Marhalah Kedzaliman (Tahapan Kezaliman)
Pemateri: Dr. KH. Abu Nasir, M.Ag.
Lokasi: Masjid Darul Arqom, Kota Pasuruan
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selama bertahun-tahun, saya sering diingatkan dengan berbagai hal yang bisa menolong manusia untuk menghindari kezaliman. Jika tidak diingatkan, orang akan beramai-ramai melakukannya. Meskipun di tengah kehidupan yang sangat absurd dan terpapar oleh kepentingan politik, kita melihat banyak pejabat di berbagai negara berbuat semaunya sendiri; memanfaatkan kepercayaan publik tanpa memberikan imbal balik berupa amanah dan tanggung jawab.
Orang-orang yang berdiam diri dan tidak berbicara tentang nahi munkar (mencegah kemungkaran) adalah mereka yang akhirnya menormalisasi segala hal yang keliru. Jika masyarakat mendiamkan, kezaliman akan berlangsung masif dan meluas menjadi fenomena, sebagaimana perilaku koruptif yang mewabah di negara kita. Sampai-sampai, orang yang tidak korupsi justru dianggap aneh. Ini terjadi karena kezaliman dibiarkan, sehingga orang tidak lagi memandang perbuatan zalim sebagai hal yang memalukan.
Ayat-ayat amru bil ma'ruf (mengajak kebaikan) selalu diikuti dengan nahyu 'anil munkar. Mengajak kebaikan itu relatif mudah dan bisa dilakukan siapa saja. Namun, melakukan kebaikan itu sendiri jauh lebih sulit. Mengapa? Karena butuh tiga hal: Kesehatan, Kesempatan, dan Kesadaran (Kemahaman).
Banyak orang sehat dan punya waktu sempat, tapi tidak punya kesadaran, maka ia tidak akan datang ke masjid atau majelis ilmu. Apalagi di zaman media sosial, orang merasa cukup menonton *streaming* di rumah. Padahal nilainya berbeda. Datang langsung ke majelis ilmu memiliki pahala langkah kaki, pahala memakmurkan masjid, dan menciptakan syiar Islam.
Rasulullah SAW bersabda bahwa menuntut ilmu adalah jalan yang memudahkan seseorang menuju surga. Bagi ahli ilmu, insya Allah proses hisabnya akan dimudahkan.
Ciri Orang Saleh
Dalam Surah Ali Imran ayat 114, Allah menyebutkan ciri orang saleh: Beriman kepada Allah dan hari akhir, mengajak pada yang ma'ruf, mencegah kemungkaran, dan bersegera dalam kebaikan.
Mengajak kebaikan risikonya kecil, paling hanya dianggap sok pintar. Namun, melakukan nahi munkar atau melawan kezaliman memiliki risiko besar, bahkan intimidasi. Seperti kata Machiavelli, bicara kebenaran di tengah mereka yang mengagungkan kekuasaan sering dianggap seperti menghancurkan diri sendiri.
Definisi Kezaliman
Secara bahasa, dalam kitab *Mufradat li Alfadzil Quran*, zalim berarti *menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya secara tepat (presisi)*, baik dari segi waktu maupun porsinya. Contohnya, jika kajian dijadwalkan jam 06.00 tapi kita datang jam 06.05, itu secara bahasa sudah zalim karena tidak menempatkan waktu pada tempatnya.
Lebih zalim lagi dalam hal amanah jabatan: menempatkan orang yang tidak ahli di bidangnya. Tidak mengerti ekonomi dijadikan menteri ekonomi, tidak mengerti pariwisata bicara pariwisata. Jika kita membentuk kepanitiaan atau kepemimpinan, lihatlah kecakapan dan keahliannya agar tidak jatuh pada kezaliman.
Tiga Macam Kezaliman
Para ulama membagi kezaliman menjadi tiga:
1. *Kezaliman yang Tidak Diampuni (*Az-Zulmu ladzi laa yughfaru*):* Yaitu perbuatan *Syirik*. Syirik adalah kezaliman yang sangat besar. Kita harus bersyukur berada di komunitas yang mengajarkan tauhid agar iman kita tidak tercampur kesyirikan sekecil apa pun. Di Muhammadiyah, pemimpin dan anggota itu sejajar di hadapan Allah; jabatan ketua hanyalah urusan administratif dan manajerial, bukan sesuatu yang supernatural untuk disembah-sembah.
2. *Kezaliman yang Diampuni (*Az-Zulmu ladzi yughfaru*):* Yaitu dosa seorang hamba langsung kepada Allah (*bainahu wa bainallah*), seperti maksiat atau kekhilafan manusiawi. Shalat lima waktu berfungsi sebagai pembersih dosa-dosa ini. Rasulullah mengibaratkan shalat lima waktu seperti mandi di sungai sebanyak lima kali sehari; maka bersihlah kotoran kita. Begitu pula dari Jumat ke Jumat, atau Ramadhan ke Ramadhan.
3. *Kezaliman yang Tidak Dibiarkan (*Az-Zulmu ladzi laa yutraku*):* (Bagian ini akan dibahas lebih lanjut pada inti kesulitan nantinya).
Menghilangkan Ego dalam Berorganisasi
Dalam berorganisasi, kita tidak bisa lagi sebebas individu. Kita mewakili persyarikatan. Para guru dan kepala sekolah adalah prototipe dari organisasi ini. Untuk menyatukan umat, kita harus menurunkan ego pribadi dan menaikkan "Ego Persyarikatan". Dahulukan kepentingan bersama (maslahat) di atas kepentingan sendiri.
Jika dalam rapat masih banyak yang menggerutu atau tidak puas, itu tandanya hati kita belum menyatu. Hati yang tidak enak itu sebenarnya bentuk kezaliman, namun termasuk yang bisa diampuni jika kita terus memperbaiki diri. Kita semua berproses menjadi hamba yang bersih dari dosa. Malaikat tidak akan bosan mencatat amal kita; yang sering bosan itu justru kita sendiri—bosan shalat atau bosan mengaji.
Demikian sebagai pengantar kajian kita pagi ini. Saya beri kesempatan jika ada yang ingin berdiskusi.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
No comments:
Post a Comment