PASURUAN– Ustadz Suharsono dalam ceramah singkatnya ba'da tarawih dan witir di masjid at taqwa jagalan Pasuruan (Kamis, 26/2/2026) menekankan bahwa waktu merupakan aset paling berharga yang dimiliki manusia, melampaui harta benda apa pun. Beliau mengingatkan bahwa saking pentingnya waktu, Allah SWT berkali-kali bersumpah menggunakan dimensi waktu di dalam Al-Qur'an, seperti Wal-Ashr (Demi Waktu) dan Wal-Layl (Demi Malam).
Lima Dimensi Waktu Manusia
Ustadz Suharsono menjabarkan bahwa setiap manusia melewati lima fase waktu yang harus disikapi dengan bijak:
1. Masa Lalu yang Telah Berlalu: Waktu yang tidak mungkin terulang. Beliau mengajak jamaah untuk mengevaluasi amal baik agar diterima Allah dan bertaubat atas kesalahan masa lalu. "Ramadan adalah momentum pengampunan bagi siapa saja yang berpuasa dengan penuh keimanan dan harap," ujarnya mengutip hadis Nabi.
2. Hari Ini (Masa Kini): Kesempatan nyata yang sedang dijalani. Beliau mendorong jamaah memaksimalkan setiap detik di bulan Ramadan karena pahala amal kebaikan dilipatgandakan.
3. Hari Esok: Sebuah misteri yang hanya diketahui oleh Allah. Beliau menekankan pentingnya lisan yang selalu mengucapkan "InsyaAllah" dalam setiap rencana, sebagai bentuk tawakal.
4. Hari Kematian: Penentu akhir perjalanan manusia. Ustadz Suharsono mengingatkan agar jamaah konsisten dalam kebaikan (istiqomah) demi meraih akhir yang baik (*Husnul Khotimah*). "Kualitas manusia ditentukan di akhir hayatnya," tegas beliau.
5. Hari Pertanggungjawaban: Fase di mana manusia akan dihadapkan pada hasil "prestasi" dunianya, apakah berujung pada surga atau neraka.
Menjadi Pemenang di Akhirat
Menutup kultumnya, beliau mengutip ayat Al-Qur'an mengenai perbedaan antara penghuni surga dan neraka. Beliau menegaskan bahwa orang-orang yang beruntung adalah mereka yang mampu menjaga kualitas imannya hingga maut menjemput.
"Mari kita maksimalkan Ramadan ini untuk mencari ridha Allah SWT. Teruslah berjuang dalam kebaikan agar kita termasuk golongan orang-orang yang menang," pungkasnya sebelum menutup dengan salam.
Firnas Muttaqin
---
No comments:
Post a Comment