1. Filosofi Hidup Berdasarkan Al-Qur'an
Dr. Drs. H. Atim Subekti, M.Pd.I., M.Phi. membuka kajian Ahad pagi (5/10/2025) di Masjid Darul Arqom Kota Pasuruan dengan menekankan bahwa hidup harus selalu bergerak dan berkelanjutan, selaras dengan sunatullah:
Kehidupan Identik dengan Air: Sebagaimana filosofi Yunani, kehidupan selalu berjalan dan mengalir seperti air. Manusia adalah bagian dari alam dan tidak boleh berhenti berusaha.
Kualitas Lebih Penting daripada Kuantitas: Hidup tidak dinilai dari lamanya, tetapi dari baiknya (ibarat sebuah cerita, yang ditanyakan adalah apakah ceritanya bagus, bukan panjang atau pendek). Sejarah hidup harus tertulis sebagai garis kehidupan yang indah.
2. Prinsip Perubahan dan Sikap (Surah Ar-Ra'd: 11)
Pembahasan inti didasarkan pada Surah Ar-Ra'd ayat 11, mengenai perubahan keadaan:
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
Ayat ini memiliki dua tafsir utama:
Mengubah Potensi (Sikap): Jika ingin maju dan meningkatkan kualitas hidup, manusia harus mengubah potensi, terutama sikap (attitude). Sikap jauh lebih penting daripada kapasitas atau kepintaran.
Contoh: Ada orang yang pintar (kapasitas tinggi), tetapi buruk sikapnya. Kita dibiasakan untuk mementingkan sikap agar sejalan dengan ajaran agama.
Menjaga Fitrah: Manusia lahir dalam keadaan fitrah (bersih, suci, baik). Manusia menjadi buruk atau terpeleset karena ulah manusia itu sendiri. Fitrah ini harus dijaga dan dikembangkan.
Pendidikan Sejak Dalam Kandungan: Perut ibu bukanlah ruang hampa; janin dapat mendengar. Seorang ibu yang rajin salat malam, membaca Al-Qur'an, dan berselawat akan memengaruhi janin.
3. Konsep Rezeki dan Prinsip "Cukup"
Ustadz Atim membahas tiga prinsip penting terkait rezeki dan kekayaan:
Berjalan dan Berusaha (Surah Al-Mulk: 15): Rezeki harus dicari. Allah menjadikan bumi mudah dieksplorasi, maka kita harus berjalan di segala penjurunya dan makan dari rezeki-Nya.
Analogi Burung: Allah tidak melemparkan makanan ke sarang burung, tetapi burung harus terbang dan berusaha mencari makanan.
Fokus pada Keterampilan: Urusan rezeki sudah diatur dan ditetapkan sejak di dalam kandungan. Tugas kita adalah berusaha memiliki ilmu dan keterampilan karena persaingan hidup semakin ketat.
Contoh Tukang Servis TV: Keahlian membetulkan TV dihargai mahal bukan karena waktu yang singkat (10 menit), tetapi karena mahalnya sekolah dan keterampilan yang dimiliki.
Prinsip "Cukup" (Rasa Qana'ah): Orang yang sudah kaya raya, punya mobil mahal, dan rumah indah, tidak akan pernah merasa puas karena nafsu tidak akan kenyang sebelum diisi debu kubur. Kebahagiaan sejati terletak pada cukup (qana'ah).
Definisi Hidup Cukup: Badan sehat, anak istri menurut, kawan baik banyak, dan bisa menabung sedikit-sedikit.
4. Kunci Kebahagiaan dan Kekuatan Hati Nurani
Kunci kebahagiaan sejati terletak pada tiga hal:
Cinta (kepada Rasulullah): Meneladani gaya hidup dan kepribadian Rasulullah.
Ada yang Diharapkan: Memiliki harapan (cita-cita).
Ada yang Dikerjakan: Selalu memiliki pekerjaan atau aktivitas.
Pentingnya Sikap dan Kasih Sayang
Sikap Mengatur Otak: Sikap adalah sesuatu yang kecil, tetapi memberikan dampak besar. Mahasiswa yang menganggap kuliah sebagai kebutuhan akan bersemangat tinggi, bukan sebagai beban.
Menghindari Kebencian: Kebencian terhadap orang lain akan mengeluarkan hormon stres yang menghambat kecerdasan dan daya ingat.
Filosofi Kasih Sayang: "Kalau kamu membenci seseorang, belum tentu kamu termasuk orang jahat. Tapi kalau kamu sudah membenci orang lain, yang pasti kamu sudah termasuk orang jahat," karena membenci akan memberatkan hati.
Kecerdasan Hati (Nurani): Belajar jangan hanya berhenti di otak (menjadi pintar), tetapi harus sampai ke hati nurani (bawah leher). Kecerdasan otak hanya mewakili 5% potensi, sedangkan hati nurani adalah yang menggerakkan kaki dan tangan untuk berbuat baik (amalun).
Ustadz Atim menutup dengan menyatakan bahwa ia tidak bangga melihat anak yang hanya menjadi bintang kelas/bintang kecerdasan saja, melainkan ingin melihat mereka menjadi pribadi yang berakhlak baik. (*)
No comments:
Post a Comment