Tahukah Anda? Ada satu hal yang bisa membuat bule (orang asing) bengong, melongo, bahkan sampai mau menangis haru saat tinggal di Indonesia. Bukan karena keramahan orangnya atau keindahan alamnya, melainkan sesuatu yang lebih sederhana: makanan.
Ya, makanan Indonesia memang tidak ada duanya. Harganya yang murah, variasinya yang banyak, serta rasanya yang lezat menjadikannya primadona bagi bule mancanegara. Mereka takjub dan kagum karena bisa menikmati makanan enak dengan harga sangat terjangkau.
Seorang bule merekam pengalamannya saat membeli makanan:
"So I'm going for this one and it's 38k and Joe's getting a nasi goreng which is the same price. And then some drinks are like 30 and some of these are like 1 which is so affordable and there's all the pieces on here like as well. Okay, so we have our fish. I got the chicken noodles and Jo got fried rice."
Dia melanjutkan, "This meal cost us 1.70 each. Less than 2 pounds for lunch."
Hal-hal seperti ini memang begitu menakjubkan bagi bule. Bagi kita orang Indonesia, makan sayur asem, lalapan, tempe goreng, atau ikan bakar di warung adalah hal biasa. Tapi bagi mereka, pemandangan ini bisa membuat kaget. Semua makanan Indonesia terbuat dari bahan makanan asli (real food) dan harganya sangat murah. Inilah yang membuat mereka sumringah.
Bahkan, minuman tradisional seperti es buah pun menjadi favorit. Seorang bule mencoba dan berkomentar:
"This reminds me so much of Huawachi (makanan penutup Jepang). There's even mango in it. This is literally the Indonesian version of Huawachi. This is so good. I love it."
Kontras dengan Makanan di Barat: "Terasa seperti Plastik"
Kagumnya bule terhadap makanan Indonesia tak lepas dari kondisi di negara mereka, seperti di Amerika. Di sana, makanan real food dan makanan sehat harganya sangat mahal. Supermarket dipenuhi makanan kemasan, makanan instan yang penuh pengawet, gula tambahan, dan bahan sintetis yang tidak sehat jika dikonsumsi dalam jangka panjang.
Seorang warga Amerika mengeluh dengan frustrasi:
"I don't want to eat anything anymore and it's not in an eating disorder way. It's in everything is made out of chemicals and tastes like plastic now. I don't know what's been going on the last few months, but every next meal just tastes more and more synthetic than the last. It's disgusting."
Dia melanjutkan dengan pilu, "All were my favorite foods few months ago... Do I want the cancer-causing chemicals or do I want the chemicals that are going to cause my blood not to clot in 5 years? All the food is nasty. All the food is poison. That is my problem. The food is trying to kill me."
Kalimat "segalanya terbuat dari bahan kimia dan rasanya seperti plastik" sering diungkapkan oleh banyak warga Amerika. Mereka terbiasa membayar mahal hanya untuk makan sehat, sehingga ketika berada di Indonesia, perbedaan ini terasa seperti langit dan bumi.
Keberuntungan Memiliki Makanan Sehat yang Mudah Diakses
Di Indonesia, variasi makanan sehat berbasis real food ada di mana-mana. Contohnya pecel. Bagi kita, ini makanan biasa. Tapi bagi bule, ini luar biasa karena piring mereka penuh dengan sayuran rebus, kacang-kacangan, dan protein hewani. Semua sehat, semua real food, dan bisa didapatkan di pinggir jalan dengan harga murah. Di Amerika, mereka harus mengeluarkan belasan dolar untuk hidangan serupa.
Maka, wajar jika mereka iri dengan Indonesia. Seorang bule bahkan pernah berkata,
"Kalian orang Indonesia benar-benar beruntung. Makanan sehat di sini seperti udara. Ada di mana-mana, tinggal hirup. Tinggal nikmati." (*)
No comments:
Post a Comment