Friday, April 17, 2026

Diplomasi Fiskal di Tengah Ketidakpastian: Saat Dunia Bingung dengan Ketahanan Indonesia

Berikut adalah esai yang disusun berdasarkan informasi dari akun X @LambeSahamjja mengenai diplomasi fiskal Menteri Keuangan Dr. Purbaya Yudhi Sadewa, M.Sc. di kancah internasional. Kamis, 16 April 2026.

Diplomasi Fiskal di Tengah Ketidakpastian: Saat Dunia Bingung dengan Ketahanan Indonesia

Pertemuan tahunan dengan deretan lembaga keuangan raksasa dunia—mulai dari Goldman Sachs, Fidelity, hingga International Monetary Fund (IMF) dan World Bank—biasanya menjadi ajang bagi banyak negara untuk mencari dukungan atau bantuan finansial. Namun, kunjungan Menteri Keuangan Purbaya kali ini justru membawa narasi yang berbeda. Alih-alih datang sebagai pemohon, Indonesia hadir sebagai pemberi penjelasan atas fenomena ekonomi yang membuat para investor dan lembaga global merasa heran: ketahanan di tengah guncangan.

Salah satu poin yang paling mencolok adalah sesi pertemuan dengan 18 investor besar dunia. Pertanyaan yang mereka ajukan seragam, yaitu rasa penasaran mengenai bagaimana Indonesia mampu mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat namun tetap menjaga anggaran tetap terkendali. Strategi fiskal yang dijelaskan Menkeu tampaknya memberikan angin segar, terbukti dengan adanya sinyal kuat masuknya modal asing ke pasar modal Indonesia dalam waktu dekat.

Interaksi yang cukup tajam terjadi saat Menkeu Purbaya berhadapan langsung dengan Direktur IMF, Kristalina Georgieva. Dalam sebuah pernyataan diplomasi yang tergolong berani, Indonesia menegaskan posisinya yang tidak membutuhkan dana talangan. Dengan bantalan fiskal sebesar Rp420 triliun, pemerintah merasa memiliki pengaman (buffer) yang cukup kuat untuk menyerap guncangan eksternal, seperti kenaikan harga minyak dunia. Penolakan halus terhadap tawaran bantuan ini menandai pergeseran posisi tawar Indonesia di mata internasional; dari negara yang membutuhkan bantuan menjadi negara yang dijadikan contoh performa positif.

Senada dengan IMF, World Bank dan lembaga pemeringkat S&P juga menyatakan kepuasannya terhadap strategi fiskal Indonesia. Keraguan global mengenai kemampuan pemerintah dalam menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi dan disiplin anggaran tampaknya mulai terkikis. World Bank bahkan mulai menjajaki kemungkinan kerja sama yang lebih mendalam, melihat posisi Indonesia sebagai salah satu negara paling stabil di tengah ketidakpastian global saat ini.

Namun, di balik keberhasilan narasi internasional tersebut, terdapat catatan kritis yang perlu menjadi perhatian. Meskipun angka-angka makro dan cadangan fiskal sebesar Rp420 triliun terlihat meyakinkan bagi investor global, tantangan utamanya adalah memastikan dampak pertumbuhan tersebut benar-benar meresap hingga ke akar rumput. Kepuasan lembaga internasional dan sinyal positif pasar modal harus berbanding lurus dengan kesejahteraan yang dirasakan oleh para pekerja harian, petani, dan sektor UMKM.

Secara keseluruhan, perjalanan diplomasi Menkeu Purbaya menunjukkan bahwa Indonesia saat ini berdiri di posisi yang cukup solid. Pengakuan dari IMF dan minat kerja sama dari World Bank adalah sinyal stabilitas, namun tugas rumah terbesar selanjutnya adalah menjaga agar stabilitas tersebut tidak hanya menjadi angka di atas kertas, tetapi juga menjadi kekuatan nyata bagi ekonomi domestik. (*)

Thursday, April 16, 2026

Menyingkap Tabir "Beyond the Law": Anatomi Intelijen dalam Ruang Demokrasi


Dunia intelijen selama ini identik dengan lorong-lorong gelap dan bisikan rahasia. Namun, pengakuan blak-blakan mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, Soleman Ponto, dalam siniar On The Record, baru-baru ini merobek tirai tersebut. Pernyataannya bukan sekadar anekdot pensiunan, melainkan sebuah refleksi fundamental tentang pertanyaan yang menghantui setiap negara demokrasi: Siapa yang mengawasi mereka yang bekerja di wilayah yang tidak bisa diawasi?

Bekerja di Wilayah "Beyond the Law"

Esensi dari pekerjaan intelijen, menurut Ponto, adalah tindakan yang berada di luar jangkauan hukum biasa (beyond the law). Ia memberikan analogi yang tajam: jika warga biasa mencetak uang di rumah, itu adalah kriminal; namun jika negara melakukannya, itu adalah kebijakan moneter. Begitu pula dengan intelijen. Memasuki rumah tanpa izin adalah pelanggaran hukum bagi warga sipil, namun menjadi sebuah "operasi" ketika negara yang memerintahkannya.
Namun, ada kontrak sunyi yang mengerikan di sini. Tidak ada impunitas otomatis. Jika seorang operatif tertangkap, negara—melalui atasan—seringkali akan memutus rantai (deniability). Operatif tersebut akan dianggap bertindak atas inisiatif pribadi, menanggung beban hukum sendirian, sementara sistem tetap berjalan tanpa cacat di permukaan.

Bahasa Isyarat dan Perintah Implisit

Sisi paling krusial dari mekanisme ini adalah bagaimana perintah diturunkan. Dalam dunia intelijen profesional, hampir mustahil menemukan perintah tertulis yang eksplisit untuk melakukan tindakan represif. Perintah dikemas dalam ambiguitas yang disengaja.
Frasa seperti "cabut rumput teki" atau "saya tidak ingin mendengar kabar orang itu lagi" adalah sinyal. Para intelijen yang terlatih akan menafsirkan isyarat tersebut menjadi tindakan nyata, mulai dari persuasi lunak hingga tindakan paling ekstrem. Desain perintah yang implisit ini memastikan para pemegang kekuasaan di puncak piramida selalu memiliki ruang untuk mengelak dari tanggung jawab hukum (deniability).

*Kasus Andri Yunus dan Cacat Operasi*

Diskusi mengenai kapabilitas intelijen ini tak pelak bersinggungan dengan kasus kekerasan yang menimpa aktivis, seperti penyiraman air keras terhadap Andri Yunus. Analisis Ponto menarik: jika sebuah operasi dirancang secara profesional oleh negara untuk melenyapkan target, maka target tersebut seharusnya tidak akan pernah "kembali pulang."
Keberadaan korban yang masih hidup bisa diinterpretasikan dalam dua kemungkinan: ini adalah pesan teror yang sengaja dibiarkan bersisa, atau justru dilakukan oleh unsur-unsur intelijen yang tidak profesional—mereka yang memiliki akses pada kapabilitas operasional namun minim penilaian (judgment) dan pendidikan formal. Fenomena "intelijen tanpa seleksi" inilah yang disebut Ponto sebagai ancaman nyata karena ketidakterukurannya.

Stigmatisasi Kritik dan Bahaya Bagi Demokrasi

Salah satu poin paling mengkhawatirkan adalah cara pandang intelijen terhadap kelompok kritis dan LSM. Ponto mengonfirmasi bahwa pengawasan (surveillance) terhadap mereka dianggap wajar. Bahkan, muncul narasi bahwa mereka yang mempertanyakan urgensi badan intelijen dianggap telah terpapar pengaruh asing atau menjadi korban penggalangan negara lain.
Istilah "rumput teki" yang perlu dicabut adalah metafora yang berbahaya bagi demokrasi. Dalam sistem yang sehat, mengkritik kebijakan atau mempertanyakan lembaga negara adalah hak konstitusional. Menggeser kritik menjadi ancaman negara yang sah untuk "ditertibkan" adalah garis tipis yang memisahkan alat pertahanan negara dengan alat pembungkaman.

Antara Informasi dan Pengaruh

Prinsip tertinggi yang diungkapkan adalah: "Don't lie, but don't tell the truth" (Jangan berbohong, tapi jangan katakan kebenaran yang sesungguhnya). Pengakuan Ponto tentang upayanya mempengaruhi audiens dan pembawa acara dalam podcast tersebut menunjukkan bahwa setiap informasi yang keluar dari mulut seorang intelijen adalah bagian dari "operasi" itu sendiri.
Intelijen profesional adalah kebutuhan absolut negara untuk mendeteksi ancaman luar. Namun, tanpa mekanisme akuntabilitas dan pengawasan yang berfungsi, institusi ini sangat rentan berubah menjadi instrumen kekuasaan untuk mematikan nalar kritis warganya. Di titik itulah, kita harus mulai bertanya: sejauh mana garis beyond the law boleh ditarik sebelum ia akhirnya melumat demokrasi itu sendiri? (*)

Wednesday, April 15, 2026

Menagih Janji Reformasi: "Sebodoh Apakah Kita?"


Sebuah tamparan keras mendarat di ruang sidang Mahkamah Konstitusi (MK) hari ini, Selasa, 14 April 2026. Di tengah keriuhan prosedur hukum yang biasanya kaku dan penuh eufemisme, Guru Besar Hukum Tata Negara UGM, Profesor Zainal Arifin, melontarkan sebuah pertanyaan yang bukan hanya menggugat nalar hukum, tapi juga nurani kebangsaan kita:
 
*"Sebodoh apakah kita membiarkan tidak menyelesaikan pekerjaan rumah itu?"*

Kalimat ini bukan sekadar retorika akademis. Ini adalah kulminasi dari rasa frustrasi yang telah membusuk selama hampir tiga dekade. Zainal tidak datang untuk berbasa-basi diplomatik. Ia datang untuk menelanjangi sebuah anomali hukum yang telah dibiarkan hidup subur sejak runtuhnya rezim Orde Baru.

*Warisan yang Tak Tersentuh*

Inti persoalannya adalah **Undang-Undang Peradilan Militer**. Produk hukum tahun 1997 ini adalah artefak politik dari zaman ketika militer memiliki hak istimewa yang hampir tak tertembus hukum sipil. Saat itu, sistem memang didesain untuk memagari akuntabilitas publik.
Namun, reformasi 1998 seharusnya sudah mengubah segalanya. Tap MPR Tahun 2000 dan Pasal 65 UU TNI Tahun 2004 sudah memberikan mandat yang sangat terang benderang: anggota TNI yang melakukan tindak pidana umum harus diadili di pengadilan umum.

Landasan hukum kita telah berputar 180 derajat, namun UU Peradilan Militer tetap berdiri kokoh sebagai benteng terakhir impunitas.
Selama hampir 20 tahun, alasan yang direproduksi oleh pemerintah dan parlemen selalu sama, berlindung di balik Pasal 74 yang menyatakan undang-undang lama tetap berlaku hingga ada undang-undang baru. Sebuah pasal transisi yang ironisnya dijadikan alasan untuk "diam di tempat" secara permanen.

*Antara "Inability" dan "Unwillingness"*

Zainal Arifin menegaskan bahwa kebuntuan ini bukan soal *inability* atau ketidakmampuan. Indonesia memiliki barisan akademisi hukum terbaik, memiliki DPR, dan memiliki pemerintah dengan sumber daya yang melimpah. Masalah sesungguhnya adalah *unwillingness*—ketidakmauan politik.

Absennya kemauan ini membawa implikasi yang nyata dan pedih bagi warga sipil. Ketika kekerasan atau pembunuhan dilakukan oleh oknum militer terhadap rakyat biasa, mereka diseret ke pengadilan militer. Di sana, hakimnya adalah militer, prosesnya sering tertutup, dan hasilnya kerap kali melukai rasa keadilan keluarga korban. Ini bukan lagi soal teori hukum di atas kertas; ini adalah praktik ketidakadilan yang direproduksi secara berulang terhadap mereka yang tak berdaya.

*Bola Panas di Meja Mahkamah*

Pernyataan keras Zainal hari ini adalah sebuah tantangan terbuka bagi Mahkamah Konstitusi. Apakah MK akan terus membiarkan "pekerjaan rumah" ini mengambang dalam ketidakpastian, atau akankah mereka mengambil peran sebagai katalisator perubahan?
Sidang hari ini menyadarkan kita bahwa ada sesuatu yang salah dalam cara kita bernegara. Ada undang-undang yang sudah jelas kedaluwarsa dan bertentangan dengan konstitusi, namun tetap dibiarkan eksis karena ada pihak yang diuntungkan oleh situasi tersebut.

Profesor Zainal Arifin telah memberikan nama yang tepat untuk kebungkaman kita selama ini. Kini, bola panas itu ada di tangan para hakim konstitusi. Akankah kita terus memelihara "kebodohan" kolektif ini, atau akhirnya berani menuntaskan janji reformasi yang sudah lama dikhianati? (*)

Tuesday, April 14, 2026

Ironi Anggaran Makan Gratis: Antara Gizi Anak dan Belanja Perangkat Elektronik


JAKARTA – Klarifikasi yang disampaikan oleh Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dr. Ir. Dadan Hindayana, terkait rincian anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) justru memicu gelombang skeptisisme publik. Alih-alih meredakan kekhawatiran, rincian pagu anggaran yang dipaparkan dinilai mencerminkan prioritas yang janggal: program yang seharusnya berfokus pada isi piring siswa, kini tampak lebih menyerupai proyek pengadaan barang dan jasa skala besar.

1. Laptop dan "Digitalisasi" Perut Lapar

Poin pertama yang menjadi sorotan tajam adalah pengadaan laptop. Meski Dadan Hindayana mengklarifikasi bahwa jumlah unit yang dibeli pada tahun 2025 "hanya" 5.000 unit—bukan 32.000 unit seperti isu yang beredar—angka ini tetap menyisakan tanda tanya besar.
Jika diasumsikan harga satu unit laptop standar perkantoran mencapai Rp10 juta, maka negara merogoh kocek hingga Rp50 miliar. Publik mempertanyakan urgensi birokrasi digital yang begitu masif di saat urgensi utama adalah distribusi pangan di daerah pelosok. Apakah efektivitas gizi anak sekolah diukur dari kecanggihan perangkat keras di meja kantor pusat?

2. Dapur Umum atau Restoran Mewah?

Klarifikasi mengenai anggaran alat masak juga tak kalah kontroversial. Dadan memaparkan bahwa dengan realisasi sebesar Rp245 miliar untuk 315 titik, artinya satu unit dapur satuan pelayanan mendapatkan alokasi sekitar Rp780 juta.
Angka fantastis ini dinilai terlalu tinggi jika tujuannya hanya untuk menyediakan fasilitas masak standar. Dengan modal hampir satu miliar per lokasi, ekspektasi publik tentu bukan sekadar dapur umum biasa, melainkan fasilitas kelas atas. Namun, kekhawatiran muncul: apakah anggaran sebesar itu benar-benar akan berdampak pada kualitas makanan, atau hanya menjadi ajang pengadaan alat-alat bermerek yang tidak menyentuh kesejahteraan petani dan peternak lokal sebagai pemasok bahan baku?

3. Ketergantungan pada Event Organizer (EO)

Mungkin poin yang paling mengusik rasa keadilan adalah alokasi Rp113 miliar untuk membayar jasa Event Organizer (EO). Alasan BGN bahwa internal mereka "belum siap" dianggap sebagai pengakuan atas ketidaksiapan manajerial sebuah badan yang sudah memegang mandat triliunan rupiah.
Kritik pedas mengalir: mengapa anggaran sebesar itu tidak dialokasikan untuk memberdayakan kelompok masyarakat bawah, seperti Ibu-ibu PKK di desa-desa, untuk mengelola konsumsi secara swakelola? Penggunaan EO korporasi dianggap sebagai pemborosan yang hanya memperkaya segelintir pengusaha di Jakarta, ketimbang mendistribusikan ekonomi ke akar rumput.

4. Polemik Kaos Kaki dan Akuntabilitas

Terkait isu pengadaan kaos kaki yang dikaitkan dengan Universitas Pertahanan (Unhan) dalam skema program ini, Dadan Hindayana memberikan jawaban yang bersifat teknis "swakelola", yang oleh sebagian pihak dianggap sebagai upaya lempar tanggung jawab. Bagi publik, baik itu BGN maupun Unhan, keduanya menggunakan dana APBN yang berasal dari pajak rakyat. Penjelasan teknis mengenai perpindahan anggaran antarlembaga tidak menghapus pertanyaan mendasar: Mengapa dana program makanan harus bersinggungan dengan belanja perlengkapan pakaian di institusi militer?

Kesimpulan: Strategi Pemadam Kebakaran?

Rentetan klarifikasi dari Dr. Ir. Dadan Hindayana selaku pimpinan BGN ini lebih terlihat sebagai strategi "pemadam kebakaran" untuk meredam opini negatif ketimbang memberikan transparansi yang substansial.
Program Makan Bergizi Gratis berada dalam ancaman serius jika anggaran "lumer" di tengah jalan untuk urusan administratif, laptop, dan jasa pihak ketiga. Tanpa pengawasan ketat, dikhawatirkan ambisi besar untuk mencerdaskan bangsa melalui gizi justru berakhir menjadi pesta pora pengadaan barang yang menjauh dari perut anak-anak sekolah yang membutuhkan.

Rakyat kini menunggu: kapan anggaran triliunan ini benar-benar mewujud menjadi daging, telur, dan susu di atas meja makan anak-anak pelosok, bukan sekadar angka di layar laptop baru pejabat? (*)

Menghadang "El Nino Godzilla": Menakar Kesiapan Ketahanan Pangan Nasional


SURABAYA – Bayang-bayang fenomena iklim ekstrem "El Nino Godzilla" mulai menghantui sektor pertanian Indonesia pada pertengahan tahun 2026. Dalam sebuah dialog interaktif di RRI Pro 1 Surabaya pada Selasa (14/4), para pakar memperingatkan bahwa meski saat ini sebagian wilayah masih mengalami hujan, ancaman kekeringan hebat berada tepat di depan mata.

Peringatan Dini: Bukan Sekadar Prediksi

Ketua Pokja Prediksi Bulanan dan Musiman BMKG Pusat, **Dr. Supari**, menegaskan bahwa indikator suhu permukaan laut di Samudera Pasifik menunjukkan tren pemanasan yang signifikan. Walaupun kondisi saat ini masih berada pada fase netral menuju peralihan, El Nino diprediksi akan mulai menguat pada Mei hingga Juni 2026.
"Kami khawatir kondisinya akan sangat kering. Jangan sampai masyarakat lengah karena melihat sekarang masih sering hujan lebat. Ini justru waktu yang krusial untuk memanen air hujan sebelum kemarau tiba," ujar Dr. Supari. Ia juga menambahkan bahwa krisis iklim global berpotensi membuat intensitas El Nino di masa depan menjadi lebih sering dan lebih kuat.
Mitigasi: Melampaui Infrastruktur Fisik

Menanggapi ancaman tersebut, **Gunawan** dari *Steering Committee* Komite Nasional Keluarga, menyoroti pentingnya langkah mitigasi yang konkret di sektor hulu. Menurutnya, pemerintah tidak boleh hanya mengandalkan pembangunan fisik seperti bendungan atau embung, tetapi juga harus memperhatikan aspek perlindungan petani melalui asuransi pertanian dan pemilihan benih yang adaptif.
> "Strategi kita harus integratif—menghubungkan sektor pertanian, perikanan, dan peternakan. Kita adalah bangsa maritim yang seharusnya memiliki memori kolektif dan kearifan lokal dalam mengelola air, seperti sejarah Selokan Mataram di Yogyakarta," papar Gunawan.
> 
Ia menekankan tiga pilar utama ketahanan pangan yang harus dijaga selama El Nino:
 1. *Ketersediaan:* Adaptasi pola tanam dan infrastruktur air.
 2. *Distribusi:* Menjamin kelancaran transportasi pangan meski terjadi hambatan cuaca.
 3. *Konsumsi:* Mendorong penganekaragaman konsumsi agar tidak bergantung pada satu jenis komoditas.

Tantangan Tata Kelola Air

Dialog ini juga menangkap keresahan masyarakat. Seorang pendengar menekankan bahwa Indonesia sebenarnya dikaruniai sumber daya air yang melimpah dengan ribuan sungai dan curah hujan tinggi. Masalah utamanya seringkali bukan pada ketersediaan alam, melainkan pada tata kelola dan alih fungsi lahan yang merusak ekosistem penyimpanan air alami.
Sektor hortikultura, seperti cabai dan bawang, dipetakan sebagai komoditas yang paling rentan terdampak. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah daerah, akademisi, dan kelembagaan tani mandiri menjadi kunci agar peringatan dini dari BMKG tidak berakhir sebagai data yang sia-sia di atas meja.

Menuju Pertanian Berkelanjutan

Menghadapi "Godzilla" iklim ini, Gunawan mengajak pemerintah untuk lebih menghargai kemampuan petani dalam menciptakan benih lokal yang tahan kering. "Pemberdayaan tidak boleh bersifat tunggal dari atas ke bawah. Pengalaman petani dalam bertahan secara mandiri harus didukung oleh kebijakan negara," pungkasnya.
Jawa Timur, sebagai lumbung pangan nasional, kini memikul beban berat untuk membuktikan bahwa pemetaan risiko dan strategi mitigasi yang disusun mampu menjaga stabilitas stok pangan nasional di tengah cekaman panas yang ekstrem. (*)

Penulis: Firnas Muttaqin
Editor: Redaksi MON

Monday, April 13, 2026

Kedaulatan di Ujung Tanduk? Kontroversi Kesepakatan "Blanket Overflight" RI-AS

Sebuah laporan investigasi dari The Sunday Guardian baru-baru ini memicu gelombang kekhawatiran di tanah air. Amerika Serikat dikabarkan tengah mengincar akses lintas udara menyeluruh atau Blanket Overflight Access di wilayah udara kedaulatan Indonesia. Kesepakatan ini disebut-sebut akan segera diresmikan oleh Menteri Pertahanan RI, Sjafrie Sjamsoeddin, dalam kunjungannya ke Washington.

Apa Itu Blanket Overflight Access?

Berbeda dengan prosedur standar diplomasi udara, akses ini memungkinkan pesawat militer asing—dalam hal ini Amerika Serikat—untuk melintasi wilayah udara Indonesia tanpa perlu mengajukan izin per kasus (case-by-case approval).
Dalam mekanisme ini, pihak militer AS cukup memberikan notifikasi tanpa harus menunggu izin terbit dari pemerintah Indonesia. Hal ini dianggap sebagai "cek kosong" bagi pergerakan militer asing di langit Nusantara.

Kronologi dan Detail Kesepakatan

Berdasarkan informasi yang beredar, langkah ini bukanlah keputusan mendadak, melainkan hasil dari rangkaian diplomasi tingkat tinggi:
 * 18–20 Februari 2026: Presiden Prabowo Subianto dilaporkan telah menyetujui proposal ini saat bertemu dengan Donald Trump dalam agenda *"Board of Peace Summit"* di Washington.
 * 26 Februari 2026: Dokumen rahasia AS berjudul “Operationalizing U.S. Overflight” dikirimkan secara resmi ke Kementerian Pertahanan Indonesia.
 * 13–15 April 2026: Menhan Sjafrie Sjamsoeddin dijadwalkan menandatangani kesepakatan tersebut bersama Menteri Pertahanan AS (US Secretary of Defense), Pete Hegseth.
Tujuan resmi dari akses ini adalah untuk memfasilitasi operasi kontingensi, respons krisis, serta latihan militer bersama. Namun, begitu diaktifkan, wilayah udara Indonesia praktis menjadi jalur transit bebas bagi manuver militer Paman Sam.

Antara Kerja Sama dan Hilangnya Kedaulatan

Kebijakan ini memicu reaksi keras dari berbagai elemen yang menamakan diri sebagai "Kelompok Perlawanan". Mereka menilai bahwa membuka langit Indonesia secara bebas kepada militer asing adalah langkah yang mencederai kedaulatan bangsa.

> "Ini adalah sebuah ide gila. Langit Indonesia akan menjadi ajang bebas bagi Amerika untuk melakukan manuver apapun yang tidak kita ketahui secara pasti. Di mana peran DPR RI dalam mengawasi ini?" tulis salah satu aktivis dalam unggahan yang viral.
> 
Kritik utama yang muncul mencakup:
 1. Kehilangan Kontrol: Indonesia tidak lagi memiliki otoritas penuh untuk menolak pesawat militer asing yang melintas.
 2. Risiko Geopolitik: Menjadikan wilayah Indonesia sebagai jalur logistik militer AS dapat menyeret Indonesia ke dalam konflik kawasan yang lebih luas.
 3. Transparansi: Dokumen yang semula bersifat rahasia ini kini menjadi konsumsi publik, menimbulkan pertanyaan mengapa kebijakan sebesar ini nyaris luput dari radar pengawasan publik.

Penutup: Menanti Jawaban Senayan
Hingga berita ini diturunkan, publik masih menunggu pernyataan resmi dari pihak Kementerian Pertahanan maupun Komisi I DPR RI. Apakah kesepakatan ini merupakan langkah strategis demi keamanan nasional, ataukah sebuah konsesi yang terlalu mahal harganya bagi kedaulatan dirgantara Indonesia?
Dunia internasional kini menatap Washington, sementara rakyat Indonesia menanti kepastian: Siapakah yang sebenarnya diuntungkan dari terbukanya langit khatulistiwa?

Kisah Menteri "Paling Miskin": Diplomat Sembilan Bahasa yang Hidup dari Gang ke Gang


Dunia mengenalnya sebagai "The Grand Old Man", seorang diplomat jenius yang menguasai sembilan bahasa asing dan disegani di Liga Bangsa-Bangsa (sekarang PBB). Namun, di balik setelan jas perlente dan aroma rokok kreteknya, H. Agus Salim menjalani kehidupan yang jauh dari kemewahan—bahkan tergolong sangat sederhana bagi ukuran seorang pejabat tinggi negara.

Kesetiaan Zainatun Nahar dalam Hidup Nomaden

Keteguhan prinsip Agus Salim tak lepas dari peran sang istri, Zainatun Nahar. Jauh dari citra istri pejabat yang gemar kemewahan, Zainatun adalah sosok yang rela hidup nomaden. Selama mendampingi suaminya, keluarga ini tidak pernah memiliki rumah pribadi. Mereka kerap berpindah dari satu kontrakan sempit ke kontrakan lain di gang-gang becek Jakarta, mulai dari Tanah Abang, Jatinegara, hingga Karet.
Gaji Agus Salim sebagai pejabat sering kali ludes untuk membiayai perjuangan bangsa dan sedekah. Dalam himpitan ekonomi, Zainatun tetap menjadi tiang yang kokoh. Pernah suatu hari, ketika tidak ada uang belanja, ia tetap tersenyum menyambut suaminya pulang meski di meja makan hanya tersaji nasi dan kecap.

Humor di Tengah Keprihatinan

Salah satu kisah legendaris terjadi saat mereka mengontrak di sebuah gang sempit di Tanah Abang. Kala itu hujan deras mengguyur, hingga rumah mereka bocor parah dan air menggenangi ruang tamu. Di saat yang sama, seorang tokoh pergerakan datang berkunjung.
Bukannya merasa malu, Agus Salim justru mengajak istrinya bernyanyi sambil menata ember-ember untuk menampung bocoran air. Dengan nada jenaka, ia berkata kepada tamunya:

"Maaf, Nyonya (Zainatun) sedang sibuk mengatur bendungan. Sebentar lagi kita akan punya kolam renang di dalam rumah."

Candaan itu disambut tawa bersama. Bagi Zainatun, kemiskinan harta tidak pernah mampu merampas kebahagiaan maupun harga diri keluarga mereka.

Leiden is Lijden: Memimpin Adalah Menderita

Bagi Agus Salim, sangat mudah untuk menerima "hadiah" berupa rumah atau uang dari rekan-rekannya. Namun, ia dan istrinya bersepakat menolak segala bentuk pemberian tersebut. Mereka memegang teguh prinsip: "Leiden is Lijden"—bahwa memimpin adalah menderita. Mereka menolak hidup nyaman dari fasilitas negara di saat rakyat masih dalam kesengsaraan.
Hingga akhir hayatnya pada 4 November 1954, Agus Salim tetap tidak memiliki rumah sendiri. Ia mewariskan nama besar, namun tidak meninggalkan harta benda. Zainatun melepas kepergian suaminya dengan tegar, sadar betul bahwa sang suami adalah mutiara yang tak butuh kotak emas untuk bersinar.
Semoga integritas dan kesederhanaan "The Grand Old Man" ini menjadi pengingat bagi para pejabat masa kini—terutama mereka yang berada di instansi strategis seperti Badan Gizi Nasional—bahwa amanah rakyat jauh lebih berharga daripada fasilitas duniawi. (*)

Saturday, April 11, 2026

BPS Kota Pasuruan Siapkan Sensus Ekonomi 2026: Sasar Seluruh Usaha Termasuk Bisnis Online

PASURUAN – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Pasuruan mulai melakukan sosialisasi intensif menjelang pelaksanaan Sensus Ekonomi (SE) 2026. Pendataan berskala nasional ini direncanakan berlangsung mulai pertengahan Juni hingga Agustus 2026 dengan menyasar seluruh pelaku usaha di wilayah Kota Pasuruan tanpa terkecuali.

Kepala BPS Kota Pasuruan, Ir. Imam Sudarmaji, menegaskan bahwa sensus ini merupakan langkah strategis untuk memotret kekuatan ekonomi daerah sekaligus menjadi basis data menuju Indonesia Emas 2045.

Menyasar Semua Skala Usaha

Berbeda dengan pendataan rutin, SE 2026 akan dilakukan secara door-to-door. Imam menjelaskan bahwa seluruh kategori usaha akan didata, mulai dari perusahaan besar, usaha makro, kecil, menengah, hingga sektor "super mikro" dan bisnis berbasis online.

"Tidak ada yang ketinggalan. Baik itu usaha menetap, usaha rumahan seperti pembuatan layangan, toko kelontong, hingga pelaku usaha keliling dan online yang dijalankan dari rumah, semuanya akan didata oleh petugas," ujar Imam dalam bincang bareng di Podcast Ramapati Pasuruan, Sabtu (11/4).

Data Akurat, Kebijakan Tepat

Sensus yang digelar setiap 10 tahun sekali ini bertujuan untuk menghasilkan satu data ekonomi yang terintegrasi. Data ini nantinya akan digunakan pemerintah sebagai dasar pengambilan kebijakan, seperti:

  • Penyusunan rencana APBN dan kebijakan ekonomi nasional.

  • Pemetaan potensi dan kendala usaha di daerah.

  • Program pembinaan, pemberian modal, dan perlindungan UMKM agar lebih tepat sasaran.

Imam menjamin bahwa seluruh data individu dan perusahaan yang dikumpulkan bersifat rahasia dan dilindungi undang-undang. "Data ini hanya untuk kepentingan statistik, bukan untuk kepentingan pajak, investigasi, atau audit," tegasnya.

Kenali Petugas di Lapangan

Masyarakat diimbau untuk waspada terhadap potensi penipuan. Petugas resmi BPS saat bertugas akan dibekali dengan atribut lengkap, di antaranya:

  1. Menggunakan rompi khusus.

  2. Membawa identitas resmi (ID Card/Name Tag).

  3. Membawa surat tugas.

  4. Tanpa dipungut biaya apa pun (Gratis).

Proses wawancara diperkirakan hanya memakan waktu sekitar 10 hingga 20 menit. Jika pelaku usaha sedang tidak berada di tempat, petugas berkomitmen untuk melakukan kunjungan ulang guna memastikan validitas data.

"Kami berharap masyarakat menyongsong petugas kami dengan kejujuran. Karena jika data tidak akurat, kebijakan yang diambil pemerintah pun bisa tidak tepat, dan itu merugikan masyarakat sendiri," tutup Imam.



Tuesday, April 07, 2026

AHLUL AFIYAH DAN AHLUL MUSIBAH

Dalam tradisi Islam, istilah Ahlul Afiyah dan Ahlul Musibah sering dibahas untuk menggambarkan perbedaan kondisi manusia saat di dunia dan balasan yang mereka terima di akhirat. Fenomena ini memberikan sudut pandang yang mendalam mengenai hikmah di balik ujian hidup.

Berikut adalah penjelasan beserta dalil yang mendasarinya:
1. Definisi Ahlul Afiyah dan Ahlul Musibah
 * Ahlul Musibah: Orang-orang yang selama hidupnya di dunia terus-menerus diuji dengan berbagai kesulitan, baik berupa penyakit, kemiskinan, kehilangan orang dicintai, maupun penderitaan fisik dan batin lainnya.
 * Ahlul Afiyah: Orang-orang yang selama hidupnya di dunia diberikan relatif banyak kemudahan, kesehatan, kecukupan harta, dan jarang tertimpa bencana yang berat (hidup dalam kondisi "afiyah" atau sejahtera).
⁹
2. Kondisi di Hari Kiamat (Dalil Utama)
Perbedaan mencolok antara keduanya akan terlihat saat pembagian pahala di akhirat. Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi menjelaskan betapa besarnya kemuliaan yang diberikan kepada orang-orang yang bersabar atas musibah.
Dalil Hadis:
Rasulullah SAW bersabda:
> "Manusia yang hidup dalam kesejahteraan (Ahlul Afiyah) di dunia, nanti di hari kiamat akan berharap kulit-kulit mereka digunting dengan gunting ketika mereka melihat besarnya pahala yang diberikan kepada orang-orang yang tertimpa musibah (Ahlul Musibah)."
> (HR. At-Tirmidzi no. 2402, disahihkan oleh Al-Albani)
> 
3. Hikmah di Balik Musibah
Islam mengajarkan bahwa setiap duri yang menusuk seorang mukmin adalah penggugur dosa. Bagi Ahlul Musibah, penderitaan mereka adalah cara Allah membersihkan mereka sehingga mereka menghadap Allah dalam keadaan suci.
Dalil Al-Qur'an:
Allah SWT berfirman mengenai balasan bagi orang yang sabar:
> "Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas."
> (QS. Az-Zumar: 10)
> 
Dalil Hadis Lainnya:
> "Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka."
> (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
> 
Kesimpulan
Konsep ini bukan berarti seorang Muslim harus meminta musibah. Kita tetap diperintahkan memohon Afiyah (keselamatan/kesejahteraan) kepada Allah. Namun, jika musibah tetap datang, hadis di atas berfungsi sebagai penghibur hati bahwa:
 * Pahala Tanpa Hisab: Ahlul Musibah mendapatkan timbangan pahala yang begitu berat hingga membuat Ahlul Afiyah iri.
 * Keadilan Allah: Allah tidak menyia-nyiakan setetes air mata atau rasa sakit yang dirasakan hamba-Nya di dunia.
 * Perspektif Akhirat: Kehidupan dunia yang singkat tidak sebanding dengan kemuliaan abadi yang disiapkan bagi mereka yang ridha atas ketetapan-Nya.

Saturday, April 04, 2026

Dr. KH Sa'ad Ibrahim Ajak Warga Muhammadiyah Pasuruan Berislam dengan Semangat Kemajuan


PASURUAN – Keluarga Besar Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Pasuruan menggelar acara Silaturahmi Syawal 1447 H dengan tajuk "Merajut Kebersamaan Mewujudkan Gerakan Islam Berkemajuan". Acara yang berlangsung khidmat pada Sabtu (4/4/2026) ini dipusatkan di gedung SMK Muhammadiyah 1 (Mutu) Kota Pasuruan.

Hadir sebagai pembicara utama, Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dr. KH Sa'ad Ibrahim, M.A., serta dihadiri oleh jajaran Forkopimcam, tokoh agama, pimpinan ormas, serta ratusan kader dari tingkat Cabang hingga Ranting se-Kota Pasuruan.

Inspirasi dari "Gereja Madrid" hingga Internasionalisasi Dakwah

Dalam sambutannya, Ketua PDM Kota Pasuruan, Abu Nasir, memberikan apresiasi tinggi atas kehadiran Kiai Sa'ad Ibrahim. Ia mengenang sosok Kiai Sa'ad sebagai pemimpin visioner yang tidak hanya membawa kemajuan bagi Jawa Timur saat menjabat Ketua PWM, tetapi juga menginspirasi dunia.

"Beliau adalah sosok yang moderat dan diterima semua kalangan. Salah satu warisan monumental beliau adalah keberanian Muhammadiyah membeli sebuah gereja di Alcala, Madrid, Spanyol untuk dijadikan pusat dakwah. Ini membuktikan bahwa keterbatasan tidak boleh menghentikan kita untuk meraih hal-hal besar," ujar Abu Nasir di hadapan jamaah.

Abu Nasir juga menegaskan pentingnya menjaga *Manhaj Muhammadiyah* di tengah dinamika sosial yang ada. Ia mengajak warga persyarikatan untuk tetap bangga dengan identitas Muhammadiyah. "Saat ini viral istilah 'Login Muhammadiyah'. Apapun suara di luar sana, kita harus teguh pada pendirian, menjaga akidah yang selamat, dan konsisten beramal saleh melalui amal usaha kita," tambahnya.
Islam adalah Agama Kemajuan

Dalam tausiyahnya, Dr. KH Sa'ad Ibrahim, M.A., menekankan bahwa secara genetik, Islam adalah agama yang sangat maju. Ia mengambil perumpamaan dari kisah Al-Qur'an tentang pemindahan singgasana Ratu Balqis dalam sekejap mata serta peristiwa Isra Mikraj.

"Jarak antara Yaman ke Palestina itu 1.200 kilometer. Al-Qur'an menceritakan singgasana Ratu Balqis dipindah dalam sekejap sebelum mata berkedip. Hingga saat ini, sains dan teknologi tercanggih pun belum mampu mewujudkan hal itu. Ini membuktikan bahwa Islam sejak awal sudah bicara soal kemajuan yang melampaui zaman," urai Kiai Sa'ad.

Lebih lanjut, mantan Ketua PWM Jawa Timur ini mengajak warga Muhammadiyah untuk tidak menjadi "kampungan" dalam berpikir. Menurutnya, puasa Ramadhan yang baru saja dilalui seharusnya membentuk mentalitas yang kuat dan orientasi hidup yang jauh ke depan.

"Allah memberikan pilihan: siapa di antara kalian yang mau maju, silakan. Karena Islam adalah agama kemajuan, maka cara kita berislam pun harus berkemajuan. Jangan sampai berhenti bergerak hanya karena merasa sudah cukup," pesannya.

Apresiasi untuk Cabang Panggungrejo

Acara silaturahmi tahun ini terasa istimewa karena diselenggarakan secara mandiri oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Panggungrejo yang bertindak sebagai tuan rumah. Keberhasilan SMK Mutu dalam menyediakan fasilitas gedung yang representatif juga mendapat pujian, menandakan kesiapan amal usaha Muhammadiyah di Kota Pasuruan dalam menyokong agenda-agenda besar persyarikatan.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah, memperkuat tali persaudaraan antarwarga Muhammadiyah demi mewujudkan visi Islam berkemajuan di Kota Pasuruan. (*)

---

Friday, April 03, 2026

Halalbihalal Masjid Al Ukhuwah: Ustadz Abu Nasir Ingatkan Pentingnya Menuntaskan Urusan Kemanusiaan


PASURUAN – Masjid Al Ukhuwah menggelar peringatan Halalbihalal 1447 H dengan tema "Merajut Silaturrahim, Menguatkan Kebersamaan" pada Jumat (03/04/2026). Acara yang berlangsung khidmat ini menghadirkan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Pasuruan, Ustadz Abu Nasir, sebagai penceramah utama.

Dalam tausiyahnya, Ustadz Abu Nasir menekankan tiga pilar utama untuk menjadi hamba yang selamat di hadapan Allah SWT, yaitu menjaga kemurnian iman, kebersihan Islam dari campuran yang merusak, dan penyelesaian urusan antar sesama manusia (*Ihsan*).

Menjaga Iman dan Amal Kebanggaan

Ustadz Abu Nasir mengingatkan jamaah untuk memastikan akidah mereka tuntas dan selamat dari segala bentuk kesyirikan. Menurutnya, hubungan pribadi dengan Allah akan "kelar" atau selesai dengan baik jika tidak ada noktah syirik dalam hati.

Beliau juga memotivasi jamaah untuk memiliki "amal kebanggaan" yang konsisten. Ia mencontohkan kisah sahabat Nabi yang mantap menghadap Allah dengan pahala syahid, serta kisah seorang dermawan yang selalu membawa uang receh untuk bersedekah di mana pun ia berada sebagai pegangan amalnya.

> "Apa amal kebanggaan Bapak dan Ibu di hadapan Allah nanti? Jika ketaatan istri kepada suami atau sedekah subuh dijadikan andalan, maka lakukanlah itu dengan sepenuhnya karena Allah," ujar Ustadz Abu Nasir di hadapan para jamaah.
Membersihkan Islam dari "Polusi" Akhir Zaman

Menyinggung kondisi akhir zaman, Ustadz Abu Nasir mengutip pesan Rasulullah SAW mengenai datangnya masa yang penuh dengan *duhon* (asap atau polusi). Dalam konteks syariat, *duhon* dimaknai sebagai munculnya kaum yang seolah-olah menjalankan sunnah, namun sebenarnya bukan berasal dari petunjuk Nabi.

"Bersihkan Islam kita dari segala campuran. Ikuti apa yang dicontohkan Rasulullah dan tinggalkan apa yang tidak beliau lakukan. Jika iman dan Islam kita sudah murni, maka urusan kita dengan Sang Khaliq akan menjadi ringan," tegasnya.

Menghalalkan Urusan Sesama di Dunia

Pesan paling krusial dalam momen Halalbihalal ini adalah mengenai hubungan antarmanusia (*muamalah*). Ustadz Abu Nasir mewanti-wanti agar tidak ada satu pun jamaah yang membawa urusan sengketa atau sakit hati hingga ke liang lahat.

Beliau menjelaskan bahwa di akhirat nanti, orang yang dizalimi akan menuntut haknya. Jika urusan tidak selesai di dunia, pahala amal saleh orang yang menyakiti akan diambil dan diberikan kepada korbannya. Jika pahalanya habis, maka dosa orang yang dizalimi justru akan ditimpakan kepada si penzalim.

> "Jangan menunggu mati untuk meminta maaf. Jika ada salah dengan suami, istri, tetangga, atau sesama jamaah, segera halalkan hari ini juga. Salaman, pandang matanya, ucapkan selawat, dan sebutkan kesalahannya agar benar-benar tuntas," pesannya. (*)

---

Perkuat Sinergi dan Inklusivitas, PDA serta PD IGABA Kota Pasuruan Gelar Halalbihalal 1447 H


PASURUAN – Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kota Pasuruan bersama Pimpinan Daerah Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal (PD IGABA) menggelar silaturahmi dan Halalbihalal 1447 H pada Jumat, 15 Syawal 1447 H (3 April 2026). Bertempat di aula pertemuan TK Aisyiyah Bustanul Athfal  6  Pasuruan, acara ini menjadi momentum refleksi organisasi untuk lebih menyentuh kebutuhan masyarakat luas.

Tantangan Organisasi dan Isu Strategis Kota Pasuruan

Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kota Pasuruan, drh. Hj. Emilis Setyawati, dalam sambutannya menekankan pentingnya transformasi gerakan ‘Aisyiyah agar tidak hanya berputar di internal keanggotaan. Ia menyoroti beberapa tantangan besar yang dihadapi Kota Pasuruan, mulai dari angka kemiskinan hingga isu kesehatan anak.

> "PR terbesar kita adalah bagaimana cabang dan ranting bisa memberikan kegiatan yang menyentuh dan dibutuhkan betul-betul oleh masyarakat. Kita sebagai organisasi perempuan tertua harus lebih peka terhadap kebutuhan perempuan dan anak," ujar drh. Emilis.
Beberapa poin krusial yang disampaikan dalam pidatonya antara lain:
* Kesehatan & Stunting: Angka stunting di Kota Pasuruan masih berada di level *18,7%*, di atas target nasional 14%. Guru-guru TK ABA diharapkan menjadi ujung tombak dalam edukasi pola asuh yang benar kepada orang tua.
* Ekonomi & Kemiskinan: Tingkat kemiskinan yang masih di angka *7%* dan pengangguran terbuka sebesar *4,9%* menuntut peran aktif Majelis Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial.
* Pendidikan: Rendahnya rata-rata lama sekolah (9 tahun) di Kota Pasuruan berkorelasi dengan tingginya kasus narkoba dan perceraian. PDA berencana memperkuat kerja sama dengan LAPAS terkait konseling keluarga dan pendidikan paket bagi warga binaan.

Efisiensi dan Kemandirian Finansial

Menghadapi agenda besar seperti Musyawarah Pimpinan Daerah (Musypimda) dan persiapan Muktamar di tahun 2027, drh. Emilis mengingatkan pentingnya efisiensi keuangan. Ia mendorong setiap majelis untuk mulai berinovasi menciptakan kegiatan yang mampu menghasilkan anggaran secara mandiri (self-funding).

"Kita harus berhati-hati dalam pengelolaan keuangan. Saya berharap tiap majelis bisa mengadakan kegiatan yang menghasilkan, tidak selalu menggantungkan pada bendahara daerah," tambahnya.

---

Hikmah Halalbihalal: Sejarah dan Sikap Inklusif

Acara inti diisi dengan tausiyah hikmah halalbihalal oleh Dr.  Abu Nasir. Beliau memaparkan sejarah panjang tradisi halalbihalal di Indonesia yang sudah tercatat sejak abad ke-18 dalam berbagai manuskrip, hingga diformalkan oleh KH Wahab Chasbullah dan Presiden Soekarno pada tahun 1948.

Dalam ceramahnya, Dr. Abu Nasir  mengajak kader 'Aisyiyah untuk memiliki sikap inklusif.

> "Inklusif berarti menerima kehadiran semua orang dengan tangan terbuka. Jangan merasa paling benar atau paling besar. Libatkan tokoh masyarakat dan warga sekitar tanpa memandang latar belakang agama agar sekolah dan organisasi kita semakin dicintai," pesannya.

Ia juga mengapresiasi kedekatan antara pimpinan 'Aisyiyah dengan Pemerintah Kota Pasuruan yang selama ini terjalin harmonis, layaknya saudara, sehingga kontribusi di bidang pendidikan dan kesehatan anak dapat berjalan maksimal.
Membangun Lingkungan Inklusif dan Bertakwa

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Pasuruan, Abu Nasir, menekankan bahwa esensi dari seluruh instrumen pendidikan—mulai dari PAUD, TK, hingga Perguruan Tinggi—adalah menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi semua peserta didik. Hal ini, menurutnya, hanya bisa dicapai jika para pimpinan dan guru memiliki sikap inklusif.

"Ayo kita hadirkan sikap inklusif sebagai wujud gerakan persyarikatan. Sikap ini adalah ciri orang bertakwa yang memandang semua manusia setara, tanpa membedakan suku, bangsa, maupun latar belakang sosial," ujar Abu Nasir.

Beliau merujuk pada Al-Qur'an Surat Al-Hujurat ayat 13 yang menggunakan sapaan 'Yaa ayyuhannas' (Wahai manusia), sebagai simbol keterbukaan Islam terhadap keragaman. Abu Nasir mengingatkan bahwa perbedaan diciptakan agar manusia saling mengenal (lita’arofu) dan memahami, bukan untuk saling merendahkan.

Meneladani Kesederhanaan Pimpinan

Dalam kesempatan tersebut, Abu Nasir memberikan testimoni mengenai profil Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir, sebagai teladan nyata sikap inklusif dan rendah hati. 

> "Pak Haedar seringkali bepergian hanya naik kereta api, duduk di stasiun menunggu jadwal, bahkan membawa oleh-oleh dalam kardus layaknya warga biasa. Beliau tidak menjaga jarak dengan protokol yang kaku. Inilah mentalitas pimpinan Muhammadiyah: merasa hanya 'sedikit ditinggikan' namun tetap setara dengan anggota lainnya," tuturnya.
Refleksi Pasca-Ramadan: Dari *Shiyam* menuju *Shaum* 

Menutup tausiyahnya, Abu Nasir mengajak para hadirin, khususnya para guru TK ABA, untuk meningkatkan kualitas ibadah pasca-Ramadan. Ia membedakan dua level puasa:
1.  *Level Shiyam:* Sekadar menahan lapar dan dahaga (fisik).
2.  *Level Shaum:* Menahan diri dari perkataan yang buruk, ghibah, dan hal-hal yang menyakiti hati orang lain (psikis/ruhani).

"Ciri orang bertakwa adalah mereka yang memproduksi *qaulan karima* (perkataan yang mulia) dan *qaulan layyina* (perkataan yang lembut). Terutama bagi ibu-ibu dan guru, lisan dan tulisan di media sosial harus dijaga agar selalu menyejukkan dan tidak memicu perpecahan," pesan Abu Nasir.

Menyongsong Masa Depan Organisasi

Acara Halalbihalal ini ditutup dengan penguatan komitmen bersama. Di tengah fenomena sosial yang dinamis, warga 'Aisyiyah dan Muhammadiyah Kota Pasuruan diharapkan tetap menjadi rumah yang terbuka (inklusif) bagi siapapun yang ingin belajar dan berkontribusi, serta menjadi motor penggerak solusi atas masalah kemanusiaan di Kota Pasuruan.*)

Wednesday, April 01, 2026

Silaturahmi Idul Fitri, Ketua PDM Kota Pasuruan Ajak Guru dan Karyawan AUM Jaga Harmoni dan Hindari Konflik

PASURUAN – Suasana hangat dan penuh kekeluargaan menyelimuti kediaman Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Pasuruan, Abu Nashir, di Jalan Kenari, Tembokrejo, pada Rabu (1/4/2026). Acara silaturahmi Idulfitri 1447 H ini dihadiri oleh jajaran pimpinan harian PDM, pimpinan Organisasi Otonom (Ortom), serta para Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) dari berbagai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) se-Kota Pasuruan.

Dalam sambutannya, Abu Nashir menekankan pentingnya menjaga kondusivitas internal organisasi sebagai kunci utama kemajuan. Mengutip pesan tokoh Muhammadiyah almarhum Prof. Malik Fadjar, ia mengingatkan bahwa sebuah institusi akan kehilangan energi jika terjebak dalam konflik dan perpecahan.

"Pesan beliau hanya satu: jangan ada konflik. Jika sudah ada permusuhan dan perpecahan, energi kita habis hanya untuk menyelesaikan pikiran-pikiran buruk. Mari kita eliminasi sikap, karakter, maupun nafsu kepentingan pribadi yang berpotensi menimbulkan konflik," tegas Abu Nashir di hadapan para hadirin.

Ia juga mengapresiasi kerja keras para guru dan karyawan yang telah menjaga eksistensi AUM di Kota Pasuruan. Menurutnya, meski tantangan pendidikan saat ini sangat berat, banyak sekolah Muhammadiyah yang mampu bertahan bahkan berkembang secara dinamis.

"Kami sebagai pimpinan merasa bangga. Di saat banyak lembaga lain mengalami penurunan, sekolah-sekolah kita tetap stabil dan hidup dengan dinamika yang luar biasa. Jangan sampai amal usaha kita masuk 'ICU'. Kita harus terus bergerak maju agar memberikan manfaat luas bagi umat," lanjutnya.
Pentingnya Kesabaran dan Amal Saleh

Lebih lanjut, Abu Nashir mengajak seluruh kader Muhammadiyah untuk memperbanyak amal jariah melalui pengabdian di persyarikatan. Ia meyakini bahwa keberlangsungan Muhammadiyah hingga saat ini bukan sekadar faktor manusiawi, melainkan adanya pertolongan Allah SWT (معونة الله) bagi orang-orang yang sabar dan ikhlas.

"Orang yang sabar dalam mengurus umat, sabar menghadapi tantangan di sekolah, insyaallah akan mendapatkan balasan surga tanpa hisab (*bi ghairi hisab*). Inilah keberkahan atau *ziyadatul khair*, bertambahnya kebaikan dalam hidup kita," tuturnya dengan nada emosional.

Acara yang berlangsung mulai pukul 13.30 WIB ini juga menjadi momen permohonan maaf dari jajaran pimpinan PDM kepada para praktisi di lapangan. Abu Nashir menyadari bahwa kebijakan pimpinan terkadang belum sepenuhnya memenuhi harapan para guru dan karyawan, namun ia berkomitmen untuk terus memperbaiki komunikasi dan fasilitas bagi AUM ke depan.

Di sela-sela acara, Abu Nashir juga menceritakan pengalamannya yang hampir mengalami kecelakaan akibat kelelahan setelah menjalankan tugas visitasi dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur di luar kota. Cerita tersebut menjadi pengingat bagi seluruh hadirin akan pentingnya dedikasi sekaligus menjaga keselamatan dalam menjalankan amanah organisasi.

Kegiatan silaturahmi ini ditutup dengan ramah tamah dan doa bersama, memperkuat komitmen seluruh elemen Muhammadiyah Kota Pasuruan untuk tetap satu barisan dalam memajukan dakwah melalui jalur pendidikan dan sosial. (*)

---

AL Qur'an Surah Al Anbiya


Surah Al-Anbiya' adalah surah ke-21 dalam Al-Qur'an yang terdiri dari 112 ayat dan tergolong surah Makkiyah. Nama "Al-Anbiya'" berarti "Para Nabi", karena surah ini secara khusus mengulas kisah dan perjuangan banyak nabi dalam menyampaikan risalah tauhid.
Berikut adalah pokok-pokok isi kandungan Surah Al-Anbiya':
1. Penegasan Tauhid dan Ke-Esaan Allah
Surah ini menekankan bahwa alam semesta diatur oleh satu Tuhan. Logika yang diberikan adalah jika ada lebih dari satu Tuhan, maka keteraturan alam semesta ini akan hancur berantakan.
2. Peringatan tentang Hari Kiamat
Bagian awal surah ini memperingatkan manusia bahwa hari perhitungan (hisab) sudah semakin dekat, namun banyak manusia yang masih lalai dan berpaling dalam kelalaian.
3. Kisah Perjuangan Para Nabi
Ini adalah bagian inti yang menjadi dasar penamaan surah ini. Beberapa kisah yang diangkat antara lain:
 * Nabi Ibrahim a.s.: Kisah keberanian beliau menghancurkan berhala-berhala kaumnya dan mukjizat saat beliau tidak terbakar oleh api.
 * Nabi Luth a.s.: Penyelamatan beliau dari azab yang menimpa kaumnya.
 * Nabi Nuh a.s.: Doa beliau yang dikabulkan saat menghadapi kaum yang membangkang.
 * Nabi Daud a.s. & Nabi Sulaiman a.s.: Mengenai kebijaksanaan mereka dalam memutuskan perkara dan kekuasaan yang diberikan Allah (seperti menundukkan gunung dan angin).
 * Nabi Ayub a.s.: Kesabaran luar biasa saat ditimpa penyakit dan ujian berat hingga akhirnya disembuhkan.
 * Nabi Yunus a.s. (Dzun Nun): Kisah beliau di dalam perut ikan dan doa pengakuan dosa yang sangat masyhur (Laa ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzolimin).
 * Nabi Zakaria a.s. & Nabi Yahya a.s.: Tentang permohonan keturunan yang dikabulkan Allah meski secara medis sudah tidak memungkinkan.
4. Kesatuan Risalah Para Nabi
Surah ini menegaskan bahwa meskipun para nabi datang di zaman yang berbeda, ajaran inti mereka tetap sama, yaitu Islam (berserah diri kepada Allah) dan mengajak manusia untuk menyembah hanya kepada Allah SWT.
5. Penciptaan Alam Semesta
Terdapat ayat-ayat yang menyinggung fenomena alam, seperti pemisahan langit dan bumi yang dulunya menyatu, serta penegasan bahwa setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati sebagai bentuk ujian.
6. Nabi Muhammad sebagai Rahmatan Lil 'Alamin
Di bagian akhir, Allah menegaskan peran Nabi Muhammad SAW melalui ayat yang sangat populer:
> "Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam." (QS. Al-Anbiya': 107)
> 
Secara keseluruhan, Surah Al-Anbiya' memberikan motivasi kepada orang beriman melalui kisah-kisah nabi terdahulu bahwa setiap kesulitan pasti ada jalan keluar jika kita tetap teguh pada tauhid dan sabar dalam berdoa.

Monday, March 30, 2026

Islam Berkemajuan: Mewujudkan Rahmat bagi Alam Melalui Kelestarian Lingkungan


Oleh Firnas Muttaqin 

Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah kembali menyelenggarakan Pengajian Malam Selasa yang disiarkan secara daring melalui kanal Instagram dan YouTube resmi pada Senin (30/3/2026). Pengajian kali ini menghadirkan Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, *Ustadz Drs. Gita Danupranata, M.M.*, sebagai narasumber utama.

Dalam ceramahnya yang bertepatan dengan 11 Syawal 1447 Hijriyah, Ustadz Gita menekankan pentingnya memahami *Risalah Islam Berkemajuan (RIB)* secara utuh, khususnya dalam konteks mewujudkan rahmat bagi alam semesta. Beliau menggarisbawahi bahwa kesalehan seorang Muslim tidak boleh hanya berhenti di atas sajadah, tetapi harus bertransformasi menjadi aksi nyata dalam menjaga ekosistem.
*Lima Karakter Islam Berkemajuan*

Ustadz Gita mengawali pemaparannya dengan mengingatkan kembali lima ciri utama Islam Berkemajuan yang diusung oleh Muhammadiyah:
1. Berlandaskan pada *Tauhid*.
2. Bersumber pada *Al-Qur'an dan As-Sunnah*.
3. Menghidupkan *Ijtihad dan Tajdid*.
4. Mengembangkan *Wasathiyah* (moderasi).
5. Mewujudkan *Rahmat bagi Alam Semesta*.

"Berislam secara kaffah atau totalitas berarti menjalankan kelima ciri ini secara simultan. Kita tidak bisa hanya fokus pada tauhid dan ibadah mahdhah, namun mengabaikan tanggung jawab kita terhadap lingkungan," tegasnya.

*Tauhid Sosial dan Filantropi Lingkungan*

Mengutip Surah Al-Baqarah ayat 177, Ustadz Gita menjelaskan bahwa kebaikan sejati bukan sekadar menghadapkan wajah ke arah timur atau barat dalam ritual, melainkan bagaimana keimanan tersebut membuahkan amal saleh. Beliau merujuk pada konsep *"Tauhid Sosial"* yang dipopulerkan oleh Prof. Amien Rais, di mana pengakuan atas keesaan Allah harus diwujudkan melalui perbuatan baik kepada sesama manusia dan makhluk hidup lainnya.

Salah satu poin penting yang disoroti adalah mengenai pengelolaan lingkungan dan limbah. Beliau menyatakan bahwa membantu menyelesaikan persoalan sampah adalah bagian dari religiusitas. 
> "Menanam pohon yang kemudian hasilnya dimakan oleh burung atau bermanfaat bagi manusia adalah sedekah. Jangan dianggap menanam pohon itu bukan bagian dari cara kita berislam," tambahnya.
*Pesan Ekologi dalam Surah Ar-Rahman*

Lebih lanjut, Ustadz Gita membedah makna mendalam dari Surah Ar-Rahman ayat 7-9. Beliau menjelaskan bahwa Allah telah menciptakan alam semesta dalam kondisi seimbang (*mizan*). 
* *Ayat 8* mengandung larangan tegas agar manusia tidak merusak keseimbangan tersebut.
* *Ayat 9* merupakan perintah untuk menegakkan keseimbangan dengan adil.

"Merusak keseimbangan alam sama saja dengan melakukan kemaksiatan. Sebaliknya, menjaga kelestarian lingkungan adalah kewajiban yang setara nilainya dengan menjalankan perintah ibadah lainnya," jelas Ustadz Gita.

Sebagai penutup, beliau mengajak warga persyarikatan dan umat Islam secara luas untuk menjadikan isu ekologi sebagai misi aktif. Islam yang *Rahmatan lil 'Alamin* harus menjadi solusi atas krisis lingkungan global, bukan justru menjadi beban bagi bumi. (*)

---

Friday, March 27, 2026

IKAN PUTRI DUYUNG ?

Penjelasan Gemini AI :

Foto yang Anda miliki adalah sebuah objek yang sangat menarik dari sudut pandang sejarah urban legend atau mitos di Indonesia. Berdasarkan pemeriksaan visual dan konteks teks yang tertera ("IKAN DUYUNG JANG TERTANGKAP TGL-7-4 1973 DI PANTAI LAUT MERAH ARABIA"), berikut adalah poin-poin sejarah dan faktanya:

1. Konteks Sejarah: Urban Legend Tahun 70-an

Foto atau kartu pos semacam ini sangat populer di Indonesia pada era 1970-an hingga 1980-an. Saat itu, informasi belum tersebar secepat sekarang melalui internet, sehingga foto-foto fisik seperti ini sering dijual di pasar malam, toko kelontong, atau dibawa oleh pedagang keliling sebagai "bukti nyata" keberadaan makhluk mitos.

2. Identifikasi Makhluk dalam Foto

Secara ilmiah, makhluk yang ada di foto tersebut bukanlah "putri duyung" (manusia setengah ikan) seperti dalam dongeng, melainkan seekor Dugong atau Sapi Laut.
 * Dugong (Dugong dugon) memang sering disebut sebagai "Ikan Duyung" oleh masyarakat lokal di Indonesia dan semenanjung Arab.
 * Legenda pelaut zaman dahulu (termasuk Christopher Columbus) sering salah mengira Dugong atau Manatee sebagai putri duyung dari kejauhan karena cara mereka menyusui anaknya yang mirip manusia.

3. Analisis Teks pada Foto

 * Tanggal 7-4-1973: Tanggal ini sering muncul dalam berbagai versi kartu serupa. Ini memberikan kesan "otentik" pada laporan tersebut.
 * Laut Merah, Arabia: Laut Merah memang merupakan habitat asli populasi Dugong yang cukup besar. Hingga saat ini, pesisir Mesir dan Arab Saudi di Laut Merah masih menjadi area konservasi bagi hewan mamalia laut ini.
 * Ejaan: Penggunaan kata "Jang" (ejaan lama untuk "Yang") menunjukkan bahwa kartu ini diproduksi atau beredar di Indonesia saat masa transisi ejaan (setelah 1972), namun masih menggunakan gaya bahasa yang akrab di telinga masyarakat saat itu.

4. Fakta vs Mitos

 * Faktanya: Foto tersebut kemungkinan besar adalah dokumentasi asli seekor Dugong yang terdampar atau tertangkap jaring nelayan di Laut Merah pada tahun 1973.
 * Mitosnya: Narasi yang dibangun di sekitarnya sering kali dilebih-lebihkan untuk menciptakan sensasi seolah-olah yang tertangkap adalah sosok mistis "Putri Duyung".

Kesimpulan:

Foto Anda adalah artefak budaya yang berharga yang menunjukkan bagaimana masyarakat kita di masa lalu memahami fenomena alam melalui lensa mitos. Secara fisik, itu adalah foto seekor mamalia laut (Dugong), namun secara sejarah, itu adalah bagian dari koleksi "ajaib" yang populer di masanya. (*)

Pasuruan, Jum'at 27 Maret 2026

Monday, March 16, 2026

Labirin Teror Salemba: Membaca Operasi Senyap di Balik Penyiraman Air Keras Andrie Yunus -- Sebuah Catatan dari akun FB Balqis Humaira.

Ahad, 15 Maret 2026

Dunia aktivisme hak asasi manusia kembali dihantam awan gelap. Tragedi yang menimpa Wakil Koordinator Eksternal KontraS, Andrie Yunus, pada Kamis malam (12/3), bukan sekadar aksi kriminalitas jalanan biasa. Berdasarkan rangkaian fakta lapangan dan analisis pola pergerakan yang terhimpun, peristiwa di Jalan Salemba I tersebut menyerupai sebuah "operasi intelijen berdarah dingin" yang dirancang dengan presisi tinggi.

Anatomi Target: Mengapa Andrie Yunus?

Andrie Yunus bukanlah sosok sembarang. Sebagai alumnus STH Jentera dan mantan pengacara publik LBH Jakarta, ia memiliki kapasitas intelektual untuk membongkar celah hukum negara. Belakangan, langkah-langkah Andrie dinilai sangat mengancam kenyamanan elit kekuasaan.
Ia adalah motor di balik perlawanan terhadap Revisi UU TNI yang dianggap menghidupkan kembali "Dwifungsi ABRI", serta Revisi UU Polri yang memberikan wewenang intelijen berlebih pada kepolisian. Melalui Judicial Review di Mahkamah Konstitusi, Andrie secara terbuka menelanjangi potensi intimidasi aparat terhadap kebebasan sipil. 
Bagi para arsitek kebijakan yang haus kekuasaan, Andrie bukan lagi sekadar kritikus, melainkan penghalang sosiopolitik yang harus dilumpuhkan.

Kronologi Teror: Dari Cyber-Stalking hingga Eksekusi

Serangan air keras ini hanyalah puncak dari gunung es intimidasi yang telah berlangsung selama setahun terakhir. Sejak Maret 2025, Andrie telah masuk dalam radar pengawasan ketat.
 * Teror Psikologis: Serangkaian panggilan telepon dari nomor yang teridentifikasi melalui teknik OSINT berafiliasi dengan entitas keamanan, mulai menghujani ponselnya.
 * Surveillance Fisik: Kehadiran pria-pria berambut cepak di depan kantor KontraS dan manuver slow roll kendaraan dinas pelat militer menjadi pesan intimidatif yang konsisten.
 * Pelacakan Digital: Tiga hari sebelum eksekusi, ponsel Andrie dibombardir panggilan spam. Analisis kontra-intelijen menduga kuat ini adalah kedok untuk melakukan SS7 Pinging, sebuah teknik pelacakan lokasi real-time melalui jaringan BTS yang hanya bisa diakses oleh entitas dengan fasilitas sadap canggih.

Malam Jahanam di Salemba I

Pada malam eksekusi, Kamis (12/3), pergerakan Andrie telah "dikunci". Setelah mengisi podcast mengenai bahaya remiliterisasi di YLBHI, Andrie dibuntuti. Di Jalan Salemba I yang remang, dua pelaku bermotor melakukan manuver contraflow—melawan arus—untuk memutus ruang gerak korban.

Penggunaan gelas stainless steel sebagai wadah cairan kimia pekat (diduga asam sulfat atau nitrat) menunjukkan persiapan teknis yang matang agar wadah tidak meleleh saat dibawa. Hasilnya fatal: Andrie menderita luka bakar 24 persen yang menghancurkan wajah, dada, dan mengancam penglihatan mata kanannya.

Validasi Sasaran: Bukti Operasi Terstruktur

Satu detail yang paling mengguncang adalah kehadiran pria asing di lokasi segera setelah kejadian. Bukannya menolong, pria tersebut justru melontarkan pertanyaan validasi: "Ini dari KontraS ya? Ini dari LBH yah?"

Dalam terminologi operasi kekerasaan terkontrak, ini dikenal sebagai Battle Damage Assessment (BDA)—sebuah proses untuk memastikan bahwa target yang diserang sudah tepat sasaran sebelum melaporkannya kepada penyandang dana. Hal ini sekaligus menggugurkan premis begal atau dendam pribadi; tas dan motor korban tetap utuh, yang diserang adalah "simbol" perlawanan sipil.

Kesimpulan: Pesan Teror bagi Demokrasi

Polanya terlihat jelas: penggunaan eksekutor "proksi" (preman jalanan) memberikan ruang bagi aktor intelektual untuk melakukan plausible deniability—pengingkaran yang masuk akal di mata hukum. Air keras dipilih bukan untuk membunuh dengan cepat, melainkan untuk menciptakan "monumen berjalan" sebagai peringatan fisik bagi siapapun yang berani bersuara.

Jika negara gagal menyeret dalang di balik "faksi radikal" dan elit politik ini ke pengadilan, maka kasus Andrie Yunus akan menjadi lonceng kematian bagi keamanan warga di ruang publik. Keadilan tidak boleh berhenti pada pelaku lapangan; ia harus sampai ke meja-meja ber-AC tempat perintah keji ini bermula. (*)

Thursday, March 12, 2026

Ancaman Mikroplastik Mengintai Meja Makan: Dari Capung Hingga Urin Manusia Diungkap dalam Seminar FST UINSA

SURABAYA – Berbagai penelitian terbaru mengungkap fakta mengejutkan mengenai sebaran mikroplastik yang kini telah menyusup ke dalam rantai makanan manusia melalui jalur yang tak terduga, mulai dari tanaman kangkung, garam, hingga kotoran kelelawar (guano). Fenomena ini dibedah tuntas dalam *Seminar Pencemaran Mikroplastik* yang diselenggarakan di Gedung Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Sunan Ampel Surabaya, Gunung Anyar, Kamis (12/3).

Acara yang berlangsung pukul 08.00 - 12.00 WIB ini menghadirkan lima peneliti muda dari kalangan mahasiswa sebagai pemateri utama dan Prigi Arisandi, M.Si., pendiri ECOTON, sebagai penanggap (*discussant*). Seminar yang terbuka untuk umum secara gratis ini menarik perhatian peserta melalui fasilitas uji produk kecantikan langsung untuk mendeteksi kandungan mikroplastik pada kosmetik.
*Jalur Masuk Mikroplastik ke Tubuh Manusia*

Dalam paparannya, Intan Fatimah Az-Zahra dan tim mengungkap bahwa mikroplastik tidak hanya mencemari lautan, tetapi telah masuk ke sistem vaskular tanaman dan tubuh hewan darat. Penelitian pada capung (*Brachythemis contaminata*) di wilayah Surabaya menemukan 47 partikel mikroplastik, didominasi bentuk *fiber* yang diduga berasal dari limbah pencucian pakaian.

"Mikroplastik ini bersifat seperti spons yang menyerap polutan lain. Ketika capung dimakan ikan, dan ikan dimakan manusia, polutan tersebut terakumulasi dalam tubuh kita," jelas Intan dalam presentasinya.

Temuan lain yang cukup mengkhawatirkan adalah keberadaan mikroplastik pada pupuk organik guano (kotoran kelelawar) di Gua Puncakwangi. Polimer seperti *Polyisobutylene* (dari debu ban) dan *Fiberglass* ditemukan pada kotoran tersebut, yang jika digunakan sebagai pupuk, akan diserap oleh tanaman pangan dan berakhir di meja makan.

*Dampak Kesehatan dan Pekerja Perempuan*

Tak hanya pada lingkungan, seminar ini juga menyoroti dampak kesehatan langsung pada manusia. Laporan mengenai hubungan paparan *Polycyclic Aromatic Hydrocarbons* (PAH) pada urin pekerja perempuan di TPA Ngipik, Gresik, menunjukkan adanya hubungan signifikan dengan peningkatan sel darah putih yang memicu inflamasi kronis.

"Paparan ini sangat berisiko bagi perempuan usia produktif dan ibu hamil, karena dapat memicu penyakit degeneratif hingga kanker," tulis laporan penelitian tersebut.

*Daftar Pemateri dan Topik Bahasan:*

* *M. Zacky Ammardyas H:* Mikroplastik pada Daun Padi.
* *Syafa'at Aliffudin A:* Mikroplastik pada Katak dan Kodok.
* *Intan Fatimah Az-Zahra:* Mikroplastik pada Capung.
* *Kallista Maharani:* Mikroplastik pada Kosmetik Bibir.
* *Eka Febriana Puji Lestari:* Mikroplastik pada Guano.

*Rekomendasi dan Solusi*

Prigi Arisandi sebagai penanggap menekankan pentingnya perubahan gaya hidup dan kebijakan ketat terkait penggunaan plastik sekali pakai. Peserta seminar juga disarankan untuk mulai beralih ke produk kecantikan bebas mikroplastik serta menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap bagi pekerja yang bersentuhan langsung dengan limbah.

Refleksi Kematian dan Zakat: Pesan Ustadz Slamet Suharto di Masjid At-Taqwa Jagalan


Oleh Firnas Muttaqin 

PASURUAN – 
Dalam ceramah singkat (kultum) ba'da Tarawih dan witir di masjid at Taqwa Jagalan, Rabu (11/3/2026) Ustadz Slamet Suharto mengajak jamaah untuk bersyukur atas kesempatan beribadah yang diberikan Allah SWT. Beliau juga memberikan penghormatan khusus bagi para tokoh masyarakat dan pengurus masjid yang telah berpulang, seperti almarhum Pak Haji Sulaiman dan Pak Haji Saiful Hadi. 

"Beliau (Pak Haji Saiful) dipanggil Allah di hari yang mulia, hari Jumat di bulan Ramadhan. Kita semua tentu menginginkan akhir hidup yang baik seperti itu," ujar Ustadz Slamet di hadapan jamaah. Beliau mengingatkan bahwa regenerasi perjuangan di masjid harus terus berlanjut seiring berpulangnya para tokoh sepuh.

*Misteri Ajal dan Pesan Jibril*

Menyentil soal usia, Ustadz Slamet menekankan bahwa ajal tidak memandang umur. Baik yang berusia 60 tahun maupun yang masih muda, maut bisa datang kapan saja tanpa menunggu kesiapan urusan duniawi. Beliau mengutip pesan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW sebagai pengingat bagi seluruh manusia:

> *"Hiduplah sesukamu, tapi ingat engkau akan mati. Cintailah siapa pun yang kau mau, tapi ingat engkau akan berpisah dengannya. Dan berbuatlah sesukamu, tapi ingat engkau akan mendapat balasan atas perbuatan itu."*

Pesan ini ditekankan agar jamaah tidak terlalu terikat pada kecintaan duniawi (hubbud dunya) yang berlebihan, karena segala bentuk keterikatan pada anak, harta, maupun jabatan akan terputus saat maut menjemput.

*Zakat sebagai Pembersih Sifat "Destruktif"*

Memasuki pertengahan Ramadhan, Ustadz Slamet juga mengingatkan kewajiban Zakat Fitrah. Menurutnya, zakat bukan sekadar ritual administratif, melainkan alat pembersih dari sifat-sifat destruktif dalam jiwa manusia.

Beliau menyoroti tiga penyakit hati yang dapat menghancurkan manusia:

1. *Sifat Egois:* Hanya mementingkan diri sendiri dan abai terhadap lingkungan.
2. *Keserakahan:* Ketidakpuasan akan harta dunia yang membuat manusia lupa akan akhirat.
3. *Sifat Kebinatangan:* Perilaku yang hanya mengandalkan hawa nafsu tanpa kendali iman.

"Tujuan zakat adalah membersihkan diri. Kita buang sifat egois dan keserakahan itu agar kita layak menyandang gelar orang yang bertakwa, yaitu mereka yang memiliki kepekaan sosial dan kecintaan pada agama Allah," pungkasnya.

---

Wednesday, March 11, 2026

Kisah Sukses CV Syabina Berkah: Strategi Produk Kelautan Tembus Pasar Ritel Modern dan Ekspor

Oleh Firnas Muttaqin

TANGERANG SELATAN – ASPPENDO (Asosiasi Profesi Pendamping Entrepreneur Indonesia) berkolaborasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggelar webinar berbagi inspirasi bertajuk “Kisah Sukses UMKM Menembus Pasar Retail Modern” pada Rabu (11/3/2026). Acara yang dikemas dalam konsep "Ngabuburit Bareng UMKM" ini menghadirkan Selamet Ibrohim, pemilik CV Syabina Berkah Sejahtera, yang membagikan perjalanannya membawa produk sambal olahan ikan lokal ke jejaring ritel nasional hingga pasar internasional.

Dalam sambutannya, perwakilan Direktorat Pemberdayaan Usaha KKP, Dewi Erduti, menekankan bahwa menembus pasar ritel modern bukan sekadar soal keberuntungan, melainkan buah dari ketekunan dan profesionalisme.

“Dibutuhkan konsistensi kualitas produk, manajemen usaha yang baik, kemasan yang menarik, serta kemampuan membangun jejaring dan kepercayaan dengan berbagai pihak,” ujar Dewi saat membuka acara via Zoom.

Selamet Ibrohim, atau yang akrab disapa Pak Memet, mengungkapkan bahwa usahanya yang dirintis sejak akhir 2019 sempat terbentur pandemi COVID-19. Namun, ia justru melihat peluang dengan menghadirkan produk bergizi tinggi berupa Sambal Obong (sambal dengan dua tahap pengolahan) yang memiliki tujuh varian, seperti cumi, cakalang, dan jambal roti.

Berkat konsistensi dan pendampingan dari KKP serta program ekspor dari Kementerian Perdagangan, produk CV Syabina Berkah kini telah mengantongi Sertifikat Kelayakan Pengolahan (SKP) dengan predikat A. Prestasi ini memuluskan langkah produknya masuk ke ritel besar seperti Krisna Oleh-Oleh, Aeon, Sarinah, hingga menjangkau 21 negara melalui mitra agregator.

“Dulu kami sempat kesulitan menembus ritel modern. Namun, kami jadikan itu stimulus untuk memperbaiki diri. Kuncinya adalah kolaborasi dan inovasi produk yang menjawab kebutuhan pasar, seperti produk terbaru kami Fish and Cheese yang lebih sehat,” ungkap Memet dalam sesi diskusi langsung dari ruang produksinya di Pamulang.

Acara yang dipandu oleh moderator Agustina Ari dan host Mei Yanti Nainggolan ini diikuti oleh ratusan pelaku UMKM sektor kelautan dan perikanan. Selain berbagi strategi, sesi ini juga menjadi ajang motivasi bagi UMKM untuk tetap produktif di bulan Ramadan dan berani melakukan inovasi produk agar bisa "naik kelas." (*)

Sunday, March 08, 2026

PCA Purworejo Salurkan 68 Paket Sembako dalam Ta’awun Sosial Ramadhan


PASURUAN – Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Purworejo, Kota Pasuruan, menggelar aksi kemanusiaan bertajuk "Ta’awun Sosial Ramadhan" di Masjid Al Ukhuwah, Jalan Sekarsono, Ahad (8/3/2026). Dalam kegiatan yang bertepatan dengan 19 Ramadhan 1447 H ini, sebanyak 68 paket sembako dibagikan kepada kaum duafa, asisten rumah tangga (ART), hingga petugas keamanan setempat.

*Wujud Kesalehan Ekologis Berkeadilan*

Mengusung tema *"Gerakan ‘Aisyiyah Membangun Kesalehan Ekologis Berkeadilan"*, kegiatan ini merupakan agenda rutin tahunan di bawah naungan Majelis Kesejahteraan Sosial Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kota Pasuruan.

Royce Diana Sari, perwakilan pimpinan 'Aisyiyah, menjelaskan bahwa program Ta’awun ini didelegasikan ke masing-masing cabang, mulai dari Purworejo, Bugul Kidul, Gadingrejo, hingga Panggungrejo. "Ini adalah bentuk pengabdian nyata 'Aisyiyah terhadap masyarakat Kota Pasuruan dengan membagi sebagian rezeki berupa sembako kepada masyarakat sekitar," ujarnya.
*Sasar 68 Penerima Manfaat*

Fokus utama penyaluran bantuan kali ini adalah warga di wilayah Kecamatan Purworejo dan sekitar Masjid Al Ukhuwah yang membutuhkan. Total terdapat 68 paket yang telah disiapkan untuk para penerima manfaat.

Royce menambahkan bahwa makna konsep Ta’awun lebih kepada semangat saling tolong-menolong. "Kita berbagi rezeki agar sama-sama bisa merasakan berkah Ramadhan. Sumber dananya berasal dari himpunan warga 'Aisyiyah dan simpatisan, baik di tingkat daerah maupun cabang, yang kemudian diwujudkan dalam bentuk sembako," tambahnya.

*Respons Positif Warga*

Kegiatan ini disambut hangat oleh warga sekitar. **Ibu Aminah**, warga dari Lemah Arab, mengaku ini adalah kali pertama dirinya mengikuti kegiatan Ta’awun tersebut. Meskipun dalam kondisi kesehatan yang kurang fit, ia tetap menyempatkan hadir untuk menerima manfaat program ini.

Senada dengan Aminah, Ibu Salama yang juga hadir di Masjid Al Ukhuwah mengungkapkan rasa syukurnya atas kepedulian yang diberikan oleh organisasi wanita Muhammadiyah ini. "Alhamdulillah," ungkapnya singkat saat ditemui di lokasi acara.

*Syiar Organisasi Melalui Pengabdian*

Selain pembagian sembako, PCA Purworejo juga aktif menyemarakkan bulan suci melalui rangkaian ibadah dan sosial, di antaranya:

* Pelaksanaan salat Tarawih berjamaah.
* Tadarus Al-Qur'an rutin di masjid-masjid lingkungan cabang.
* Aksi sebar takjil di berbagai titik wilayah kecamatan.

Melalui konsistensi program ini, Royce berharap masyarakat semakin mengenal keberadaan 'Aisyiyah sebagai organisasi wanita Muhammadiyah yang hadir hingga tingkat kelurahan. "Kami ingin wujud pengabdian 'Aisyiyah terasa lebih dekat. Ke depannya, kami juga berencana mengembangkan program serupa di luar Ramadhan, baik dalam bentuk kajian ilmu maupun doa bersama," pungkasnya. (*)

---

Manajemen Waktu dan Ladang Pahala Istri di Bulan Ramadhan


SURABAYA – Peran istri dalam rumah tangga menjadi sangat krusial selama bulan Ramadhan, terutama dalam menjaga spiritualitas keluarga dan mengelola manajemen domestik. Meski memiliki kesibukan luar biasa, istri diharapkan mampu menyeimbangkan peran sebagai hamba Allah sekaligus kepala rumah tangga.

Hal tersebut disampaikan oleh Dra. Rukmini Amar, M.AP., dalam Dialog Sahur di Radio Suara Surabaya, Ahad (8/3/2026). Ia menekankan bahwa keikhlasan dalam menyiapkan kebutuhan sahur dan berbuka memiliki nilai ibadah yang sangat tinggi di mata Allah.

Manajemen Waktu: Tidur Belakangan, Bangun Duluan

Rukmini menjelaskan bahwa tantangan utama perempuan di bulan Ramadhan adalah manajemen waktu. Sebagai sosok yang seringkali "tidur paling akhir dan bangun paling awal," istri harus cerdas mengatur jadwal agar ibadah pribadi seperti tadarus Al-Qur'an tidak terabaikan oleh urusan dapur.

"Perempuan harus bisa membagi waktu. Strateginya, selesaikan kegiatan-kegiatan besar sebelum masuk Ramadhan agar saat bulan puasa bisa lebih fokus. Selain itu, di zaman teknologi ini, manajemen penggunaan HP juga penting agar masakan tidak 'gosong' karena terlalu asyik di grup WhatsApp," ujar Rukmini.

Pahala bagi Perempuan yang Sedang Haid

Menjawab pertanyaan pendengar mengenai amalan saat berhalangan (haid), Rukmini menegaskan bahwa pintu pahala tetap terbuka lebar. Meski tidak melakukan ibadah ritual seperti salat dan puasa, perempuan tetap bisa meraih pahala melalui jalur sosial dan pelayanan.

Berdasarkan hadits Bukhari, seorang istri yang mengelola makanan di rumahnya untuk orang yang berpuasa akan mendapatkan pahala sedekah yang sama tanpa mengurangi pahala suaminya. "Bagi yang sedang haid, bisa mengambil peran menyiapkan iftar (buka puasa), menggerakkan kegiatan sosial, atau mengelola dapur umum. Tenaga dan pikiran yang dikeluarkan untuk melayani orang berpuasa adalah tabungan pahala yang luar biasa," imbuhnya.

Ibu Karier vs Ibu Rumah Tangga

Terkait perdebatan nilai pahala antara ibu karier dan ibu rumah tangga, Rukmini yang menjabat sebagai Ketua Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Jawa Timur ini, berpendapat bahwa Allah tidak membedakan posisi formal mereka, melainkan pada keikhlasan dan kualitas perannya. Ibu karier tetap bisa meraih kemuliaan asalkan tetap menjaga koneksi hati dengan keluarga dan tidak mengabaikan tugas utamanya.

"Masuk surga itu jangan hanya menumpang pada suami. Perempuan harus mandiri secara spiritual dan produktif, namun tetap hadir secara utuh untuk anak-anak, meskipun hanya melalui komunikasi telepon atau memastikan kebutuhan mereka terpenuhi," jelasnya.

Ibadah Sederhana Berpahala Besar

Sebagai penutup, Rukmini mengingatkan adanya ibadah "sepele" yang seringkali sulit dilakukan namun bernilai tinggi, yaitu membangunkan anggota keluarga untuk sahur. Proses membujuk anak-anak dengan kesabaran dan komunikasi yang baik merupakan ujian sekaligus ladang pahala bagi seorang ibu yang tidak bisa digantikan oleh peran laki-laki.

Ia berpesan agar para istri tetap menjaga kesehatan fisik selama Ramadan. Dengan kondisi tubuh yang bugar, istri dapat menjalankan peran produktifnya dalam menciptakan suasana keluarga yang religius dan penuh keberkahan. (*)

---