Saturday, October 17, 2026
Makna Keimanan dan Sikap terhadap Agama
Sunday, October 11, 2026
Menjaga Persaudaraan dan Kedewasaan dalam Beragama
Saturday, October 10, 2026
Tafsir Al-Ma’idah Ayat 51–53, Ustadz Saiun Ngalim Bahas Loyalitas dan Keteguhan Iman
TUBAN — Pengajian Sabtu Ba'da Maghrib dan (10/1/2026) Tafsir Jalalain di Masjid Al Fajri, Tuban, membahas kandungan Surah Al-Ma’idah ayat 51–53. Dalam kajian tersebut, Ustadz Saiun Ngalim menguraikan persoalan loyalitas, keberpihakan, dan keteguhan iman dalam menyikapi berbagai kepentingan.
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَا لنَّصٰرٰۤى اَوْلِيَآءَ ۘ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۗ وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ مِّنْكُمْ فَاِ نَّهٗ مِنْهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin(mu); mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim."
(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 51)
Pembahasan ayat 51 menyoroti peringatan Allah SWT kepada orang-orang beriman agar tidak memberikan loyalitas kepada pihak yang bertentangan dengan prinsip keimanan sebagaimana dijelaskan dalam ayat tersebut.
Dalam penjelasannya, Ustadz Saiun Ngalim menekankan pentingnya memahami makna awliya sesuai konteks ayat dan penafsiran ulama.
Inti penjelasan tersebut mengingatkan bahwa keberpihakan tidak semestinya ditentukan semata-mata oleh kepentingan pribadi, melainkan harus mempertimbangkan prinsip agama dan sikap terhadap kebenaran.
فَتَـرَى الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ يُّسَا رِعُوْنَ فِيْهِمْ يَقُوْلُوْنَ نَخْشٰۤى اَنْ تُصِيْبَـنَا دَآئِرَةٌ ۗ فَعَسَى اللّٰهُ اَنْ يَّأْتِيَ بِا لْفَتْحِ اَوْ اَمْرٍ مِّنْ عِنْدِهٖ فَيُصْبِحُوْا عَلٰى مَاۤ اَسَرُّوْا فِيْۤ اَنْفُسِهِمْ نٰدِمِيْنَ
"Maka, kamu akan melihat orang-orang yang hatinya berpenyakit segera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata, "Kami takut akan mendapat bencana." Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya, sehingga mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka."
(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 52)
Pembahasan kemudian berlanjut pada Surah Al-Ma’idah ayat 52, yang menggambarkan sikap orang-orang yang diliputi keraguan dan menjalin hubungan dengan pihak lain karena khawatir tertimpa kesulitan.
Ayat tersebut menjelaskan alasan berupa kekhawatiran terhadap kemungkinan datangnya musibah atau perubahan keadaan. Dalam tafsir yang dibahas, sikap itu dikaitkan dengan lemahnya keyakinan dan ketidakmantapan dalam menentukan keberpihakan.
Ustadz Saiun Ngalim juga menguraikan bahwa Allah SWT berkuasa mendatangkan kemenangan maupun keputusan-Nya sehingga perkara yang tersembunyi dapat menjadi jelas.
Pesan yang dapat dipetik dari penjelasan ayat ini adalah bahwa ketakutan terhadap keadaan dan kepentingan sesaat tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan keteguhan dalam memegang prinsip yang diyakininya.
وَيَقُوْلُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَهٰۤؤُلَآ ءِ الَّذِيْنَ اَقْسَمُوْا بِا للّٰهِ جَهْدَ اَيْمَا نِهِمْ ۙ اِنَّهُمْ لَمَعَكُمْ ۗ حَبِطَتْ اَعْمَا لُهُمْ فَاَ صْبَحُوْا خٰسِرِيْنَ
"Dan orang-orang yang beriman akan berkata, "Inikah orang yang bersumpah secara sungguh-sungguh dengan (nama) Allah bahwa mereka benar-benar beserta kamu?" Segala amal mereka menjadi sia-sia sehingga mereka menjadi orang yang rugi."
(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 53)
Selanjutnya, Surah Al-Ma’idah ayat 53 menggambarkan keadaan ketika orang-orang beriman mempertanyakan sikap pihak-pihak yang sebelumnya bersumpah akan bersama mereka. Ketika kenyataan menunjukkan hal yang berbeda, terbukalah keadaan sebenarnya dan tampak kerugian yang mereka alami.
Dalam pembahasan ini, jamaah diajak memperhatikan pentingnya kesesuaian antara perkataan dan perbuatan. Pernyataan keberpihakan harus dibuktikan melalui sikap yang konsisten, bukan sekadar ucapan atau sumpah.
Rangkaian ayat 51–53 tersebut memberikan pelajaran tentang keteguhan iman, kejujuran, dan kehati-hatian dalam menentukan loyalitas. Pemahaman terhadap ayat-ayat ini juga perlu memperhatikan konteks turunnya ayat serta penjelasan para ulama agar penerapannya tidak terlepas dari maksud Al-Qur’an.
Melalui pengajian Tafsir Jalalain ini, jamaah Masjid Al Fajri Tuban diharapkan dapat memperdalam pemahaman terhadap kandungan Al-Qur’an dan mengambil pelajaran yang relevan untuk kehidupan sehari-hari.
Firnas Muttaqin
Tuesday, October 06, 2026
Kajian surah Yaa Siin : Hari Kebangkitan dan Pentingnya Berpegang pada Al-Qur’an
Sunday, October 04, 2026
Menjernihkan Hati, Menguatkan Iman
Saturday, September 26, 2026
LAPORAN PUSAT PENGENDALIAN OPERASI PENANGGULANGAN BENCANA (PUSDALOPS PB) BPBD KOTA PASURUAN
Friday, September 25, 2026
DI TENGAH SEMANGAT DAN TANTANGAN TPST SAWIR D’JOYO LESTARI
TPST Sawir Jaya Lestari Kembali Produksi Paving, Dorong Pengolahan Sampah Berbasis Usaha
Thursday, September 24, 2026
Qishas: Hukum Islam Bertujuan Melindungi Jiwa dan Memutus Rantai Dendam
Sunday, September 20, 2026
Menjaga Semangat Ibadah dan Istiqomah
Saturday, September 19, 2026
Pengajian Sabtu Ba’da Maghrib, Ustadz Saiun Ngalim Bahas Tobat, Keadilan, dan Larangan Memutarbalikkan Kebenaran
Friday, September 18, 2026
Khutbah Jumat di Masjid Lathifah An Nashr: Menyiapkan Bekal Akhirat dengan Sebaik-baik Amal
Saturday, September 12, 2026
Tafsir Al-Maidah Ayat 35-39: Takwa, Wasilah, dan Jalan Mendekat kepada Allah
TUBAN — Pengajian Sabtu malam di Masjid Al Fajri Tuban, Sabtu (12/9/2026), diisi dengan kajian Tafsir Jalalain Surah Al-Ma’idah ayat 35-39 oleh Ustadz Saiun Ngalim.
Dalam kajiannya, Ustadz Saiun menekankan pentingnya ketakwaan kepada Allah, mencari jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya melalui ketaatan dan ibadah, serta memahami konsekuensi perbuatan manusia di dunia dan akhirat.
Mengawali penjelasan pada Surah Al-Ma’idah ayat 35, Ustadz Saiun mengutip firman Allah SWT:
يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْۤا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya, agar kamu beruntung.”
(QS. Al-Ma’idah: 35)
Menurut Ustadz Saiun, takwa bukan sekadar rasa takut, tetapi takut kepada Allah yang diwujudkan dengan ketaatan.
“Takut kepada Allah itu berbeda dengan takut kepada masyarakat. Kalau kita takut kepada Allah, kita harus mencari cara untuk menaati-Nya,” jelasnya.
Ia kemudian menjelaskan istilah wasilah dalam ayat tersebut. Wasilah merupakan jalan yang digunakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah. Jalan itu ditempuh melalui ketaatan dan ibadah.
“Wasilah yaitu jalan yang akan mendekatkan diri kita kepada-Nya dengan jalan taat dan beribadah,” kata Ustadz Saiun.
Dalam penjelasannya, ia juga mengingatkan agar pemahaman tentang wasilah tidak dilepaskan dari tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah. Menurutnya, seorang Muslim hendaknya mendekatkan diri kepada Allah melalui amal ketaatan, ibadah, dan amal saleh.
Kehidupan dunia hanya sementara
Memasuki pembahasan Surah Al-Ma’idah ayat 36-37, Ustadz Saiun mengajak jamaah melihat kehidupan dunia sebagai sesuatu yang sementara. Harta dan kekayaan yang dimiliki manusia di dunia tidak dapat digunakan untuk menebus azab Allah di akhirat.
Allah SWT berfirman:
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْ اَنَّ لَهُمْ مَّا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا وَّمِثْلَهٗ مَعَهٗ لِيَفْتَدُوْا بِهٖ مِنْ عَذَابِ يَوْمِ الْقِيٰمَةِ مَا تُقُبِّلَ مِنْهُمْ
“Sesungguhnya orang-orang kafir, sekiranya mereka mempunyai segala yang ada di bumi dan ditambah sebanyak itu lagi untuk menebus diri mereka dari azab pada hari Kiamat, niscaya semua itu tidak akan diterima dari mereka.”
(QS. Al-Ma’idah: 36)
Ayat tersebut, kata Ustadz Saiun, menjadi peringatan bahwa kesempatan memperbaiki diri berada ketika manusia masih hidup di dunia.
Kehidupan dunia tidak boleh membuat manusia lupa terhadap kehidupan akhirat. Sebab, ketika seseorang telah menghadapi kehidupan akhirat, harta yang dahulu dikejar tidak lagi memiliki kemampuan untuk menyelamatkannya dari azab Allah.
Larangan mencuri dan pentingnya menjaga hak manusia
Pada Surah Al-Ma’idah ayat 38, kajian berlanjut pada ketentuan mengenai pencurian.
Allah SWT berfirman:
وَا لسَّا رِقُ وَا لسَّا رِقَةُ فَا قْطَعُوْۤا اَيْدِيَهُمَا جَزَآءًۢ بِمَا كَسَبَا نَـكَالًا مِّنَ اللّٰهِ ۗ وَا للّٰهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
“Adapun laki-laki maupun perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya sebagai balasan atas perbuatan yang mereka lakukan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.”
(QS. Al-Ma’idah: 38)
Ustadz Saiun menjelaskan bahwa ayat tersebut merupakan ketentuan syariat yang memiliki aturan dan persyaratan tertentu. Ia juga mengingatkan bahwa persoalan hukum tidak boleh dipahami secara serampangan hanya berdasarkan potongan ayat.
Dalam Tafsir Jalalain yang dikaji, disebutkan adanya ketentuan nisab pencurian serta penjelasan mengenai penerapan hukuman berdasarkan Sunnah.
Karena itu, menurutnya, persoalan hukum tersebut harus ditempatkan dalam kerangka syariat dan kewenangan hukum yang benar, bukan dijadikan alasan bagi seseorang untuk melakukan tindakan sendiri terhadap orang lain.
Taubat tidak berhenti pada penyesalan
Pembahasan kemudian ditutup dengan Surah Al-Ma’idah ayat 39 yang memberikan ruang bagi manusia untuk bertaubat dan memperbaiki diri.
Allah SWT berfirman:
فَمَنْ تَابَ مِنْۢ بَعْدِ ظُلْمِهٖ وَاَصْلَحَ فَاِنَّ اللّٰهَ يَتُوْبُ عَلَيْهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
“Tetapi barang siapa bertobat setelah melakukan kezaliman dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima tobatnya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Al-Ma’idah: 39)
Ustadz Saiun menekankan bahwa taubat bukan sekadar mengucapkan penyesalan, tetapi harus diikuti dengan perbaikan diri.
“Kalau kita melakukan kesalahan, kemudian bertaubat dan memperbaiki diri, maka Allah menerima taubatnya,” tuturnya.
Ia juga menjelaskan bahwa dalam perkara yang menyangkut hak manusia, taubat kepada Allah tidak serta-merta menghapus hak orang lain. Karena itu, selain bertaubat, seseorang harus memperbaiki kerusakan yang telah ditimbulkan dan mengembalikan hak yang menjadi tanggungannya.
Kajian Surah Al-Ma’idah ayat 35-39 tersebut mengingatkan jamaah bahwa jalan keselamatan dimulai dari ketakwaan, dilanjutkan dengan usaha mendekatkan diri kepada Allah melalui ketaatan dan ibadah, serta diwujudkan dalam perilaku yang menjaga hak sesama manusia.
Pesan utama kajian tersebut adalah bahwa kesempatan memperbaiki diri berada selama manusia masih hidup. Dunia merupakan tempat beramal, sedangkan pertanggungjawaban atas amal tersebut akan dihadapi di akhirat. (*)