Sunday, June 01, 2025

“Umrah ke Borobudur”: Gimik Wisata yang Bikin Netizen Ngamuk, Netralitas Agama Jadi Korban Marketing?

Oleh: FIRNAS – GarengPetruk.com | Satire Jalan Tengah, Humor Jalan Terang

Pasuruan – GarengPetruk.com

Di tengah harga beras yang naik-turun kayak sinyal WiFi gratisan, rakyat Indonesia kembali dihibur—eh, maksud kami dihebohkan—dengan sebuah konten yang bikin dahi berkerut dan jempol netizen berdzikir marah.
Sebuah video dari akun TikTok @NgobrolSantaiIndonesia viral, bukan karena isinya menenangkan hati, tapi karena berani mengibaratkan kunjungan ke Borobudur sebagai “umrah versi lokal”.
Ya, Anda tidak salah baca. Umrah ke Borobudur.

Netizen pun langsung pingsan virtual.

Antara Umrah dan Umrah-Umbrah

Dalam video itu, naratornya entah terlalu santai atau terlalu nekat, menyamakan wisata spiritual ke candi-candi leluhur seperti Ceto, Sukuh, Gunung Lawu, hingga Borobudur, sebagai alternatif dari umrah ke Tanah Suci. “Cuma modal sejuta bisa bolak-balik,” katanya, seolah-olah tanah leluhur ini kayak Alfamart yang buka 24 jam dan bisa pakai QRIS.

Ia juga sempat nyentil masyarakat yang “takut sama budaya sendiri” seperti keris, dupa, blangkon, dan kembang tujuh rupa. Yang bikin netizen mak-jleb, adalah saat ia bilang, “Ngapain mahal-mahal ke Arab, lha wong tanah sucimu di sini kok!”

Plot twist: Netizen ngamuk, tapi bukan karena harga tiket pesawat.

Netizen: “Wisata Boleh, Ngomongnya Jangan Kayak Nyenggol Syariat!”

Berbagai komentar panas pun muncul, seperti tahu bulat digoreng dadakan.

Maria.A.Alkaff menegaskan, “Ini udah bukan toleransi, ini udah islamofobia sambil nyenggol-nyenggol agama lain. Mbok ya kalau promosi, jangan pakai istilah suci orang lain.”

Rohta Anjulian lebih santai, tapi tetap nyindir: “Wisata itu penting, tapi jangan sampai istilah ‘umrah’ dipakai buat marketing clickbait. Wisata budaya ya wisata budaya, jangan jadi wisata nyinyir.”

Han menambahkan, “Giliran dikritik nanti playing victim: ‘Kami minoritas, kami didiskriminasi.’ Padahal yang nyenggol duluan ya mereka juga. Main agama kok kayak main ular tangga.”

Gareng Bertanya: “Mas, Umrah ke Borobudur Naiknya Travel Atau Becak Onthel?”

Gareng, pengamat budaya kelas emperan, nyeletuk bijak penuh jenaka:

> “Umrah itu ibadah, bukan istilah receh buat gimik promosi. Masa nanti ada paket haji ke Prambanan, atau Aqiqah ke Lembang? Lha terus kurbannya kambing garut pakai batik?”

Petruk Menimpali:

> “Ini bukan soal wisata atau budaya. Ini soal mulut dan narasi yang kudu tahu tempat. Pancasila ngajarin kita menghormati semua agama, bukan ngajarin kita ngambil istilah suci buat lucu-lucuan.”

 

Perlu Edukasi, Bukan Sensasi

Konten ini kembali membuka luka lama soal batas antara ekspresi dan ejekan, antara budaya dan agama, antara promosi dan provokasi.

Borobudur itu agung, megah, dan layak jadi destinasi spiritual. Tapi ya bukan berarti harus dibandingkan dengan ibadah umat lain. Ngerti konteks itu juga bagian dari toleransi. Bukan cuma “ngaku toleran” tapi kerjaannya malah nyenggol keyakinan orang lain buat viewer.

Redaksi GarengPetruk.com Menyerukan:

👉 Wisata budaya? Gaskeun.
👉 Promosi sejarah? Top!
👉 Tapi kalau mau viral, jangan sampai nyeret istilah suci demi view TikTok.
Soalnya, kalo salah omong bisa-bisa nanti malah disemprit KPI, diceramahi MUI, dan ditinggal follower juga.

Akhir kata dari Gareng dan Petruk:

> “Kalau umrah itu ke Tanah Suci, jangan diplesetin seenak lidah. Tapi kalau niatmu muhrim sama edukasi, yuk mari kita keliling Indonesia dengan akal sehat dan hati yang damai.”

 

Salam damai, salam toleransi.
Yang penting bukan viral, tapi bernilai.

🖊️ FIRNAS – Dari Pasuruan sampai ke hati netizen, GarengPetruk.com – Ngguyoni Bangsa, Nggagas Masa Depan.

https://garengpetruk.com/umrah-ke-borobudur-gimik-wisata-yang-bikin-netizen-ngamuk-netralitas-agama-jadi-korban-marketing/

(*)

Opini Gareng Petruk: “Ketika Wartawan Bicara 24 Jam, Dunia Mulai Dengar… Tapi Masih Banyak yang Tidur”

Oleh: FIRNAS, Pasuruan untuk Harian Nasional Gareng Petruk

Dari Istanbul hingga Imogiri, Suara Jurnalis Menggema, Tapi Hati Siapa yang Tergetar?

Waktu Turki menunjuk ke angka dua dini hari. Burung-burung malam Istanbul masih sibuk bergosip soal sejarah, tapi di Lapangan Sultan Ahmed, manusia justru sedang jadi saksi sejarah baru: jurnalis dari seluruh dunia siaran 24 jam penuh—bukan buat ngebahas artis cerai, tapi buat ngangkat suara Palestina.

LATIHAN JURNALISTIK GARENGPETRUK.COM 2

TUGAS LATIHAN KE-2

Tugas Latihan Mandiri
Judul Latihan:
Demo Mahasiswa Warnai Kantor DPRD, Tuntut RUU Pendidikan Gratis
Tugas:
• Buat berita pendek (4–5 paragraf) dengan format piramida terbalik
• Masukkan 5W+1H
• Sertakan minimal 1 kutipan
_______

*Demo Mahasiswa Warnai Kantor DPRD Jatim, Tuntut RUU Pendidikan Gratis*

Surabaya – Ratusan mahasiswa dari berbagai kampus di Jawa Timur menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor DPRD Jawa Timur, Jumat pagi (30/5). Massa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli Pendidikan (AMPP) menuntut percepatan pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pendidikan Gratis yang hingga kini belum dibahas.  

Aksi dimulai pukul 09.00 WIB dengan long march dari Tugu  Pahlawan menuju kantor DPRD Jatim. Para demonstran membawa spanduk bertuliskan *"Pendidikan Bukan Privilege, Segera Sahkan RUU Pendidikan Gratis!"* serta meneriakkan yel-yel menolak komersialisasi pendidikan. Sejumlah pengendara terpaksa dialihkan karena aksi sempat memadati jalan utama.  

"Kami kecewa karena RUU ini mandek di DPRD. Setiap hari, ribuan anak putus sekolah karena mahalnya biaya pendidikan. Pemerintah harus berani ambil langkah konkret," tegas Andika Pratama, Koordinator Aksi, saat menyampaikan orasi di depan massa. Menurutnya, draf RUU sudah diserahkan sejak 3 bulan lalu tetapi belum masuk prolegnas prioritas.  

Ketua DPRD Jatim, Drs M Musyafak, membenarkan bahwa RUU tersebut masih dalam tahap kajian internal. "Kami memahami aspirasi mahasiswa. RUU ini kompleks karena menyangkut anggaran negara, tapi akan kami percepat pembahasannya," janjinya saat menerima delegasi mahasiswa.  

Aksi berakhir damai pukul 11.00 WIB setelah perwakilan mahasiswa menandatangani nota kesepahaman dengan DPRD untuk melakukan audiensi lanjutan pekan depan. Polisi melaporkan tidak ada kerusuhan selama demonstrasi, meskipun sempat terjadi insiden kecil saat massa mencoba menerobos pagar kantor.  

*Penulis: FIRNAS*  

*5W+1H dalam Berita:*
- *What*: Demo mahasiswa menuntut RUU Pendidikan Gratis.  
- *Who*: Aliansi Mahasiswa Peduli Pendidikan (AMPP).  
- *When*: Jum'at, 30 Mei 2025 (09.00–11.00 WIB).  
- *Where*: Kantor DPRD Jawa Timur, Surabaya.  
- *Why*: RUU dianggap mandek dan mahalnya biaya pendidikan.  
- *How*: Long march, orasi, dan audiensi dengan DPRD.

LATIHAN JURNALISTIK GARENGPETRUK.COM 1

Latihan Hari Pertama:

"Deteksi Berita Berkualitas atau Tidak"

Baca dua contoh berita berikut (fiktif):

Berita A:
"Vaksin Terbaru Bikin Pusing! Warga Kaget Usai Disuntik"

Berita B:
"Vaksin Baru Resmi Diluncurkan, Dinas Kesehatan Pastikan Aman Setelah Uji Klinis"

Tugas kamu:

1. Tentukan mana berita yang lebih layak dimuat

2. Sebutkan alasannya (dari sisi judul, isi, dan sumber informasi)

Jawaban :

*Berita B adalah berita yang lebih layak dimuat.*

Analisis Berita

Berikut adalah alasannya:

Judul:

Berita A menggunakan judul yang provokatif dan sensasional, "Vaksin Terbaru Bikin Pusing! Warga Kaget Usai Disuntik". Judul semacam ini cenderung menarik perhatian dengan cara menakut-nakuti dan tidak menyajikan informasi yang objektif. Penggunaan kata "pusing" dan "kaget" tanpa konteks ilmiah yang jelas dapat menimbulkan kepanikan dan misinformasi di masyarakat.

Berita B menggunakan judul yang informatif, faktual, dan kredibel, "Vaksin Baru Resmi Diluncurkan, Dinas Kesehatan Pastikan Aman Setelah Uji Klinis". Judul ini langsung menyampaikan informasi penting (peluncuran vaksin baru), sumber informasi yang terpercaya (Dinas Kesehatan), dan jaminan keamanan berdasarkan proses ilmiah (uji klinis). Ini menunjukkan objektivitas dan tanggung jawab jurnalistik.

Isi:

Karena Berita A hanya menyajikan judul, sulit untuk menganalisis isinya secara mendalam. Namun, dari judulnya, dapat diasumsikan bahwa isinya akan fokus pada pengalaman negatif individu tanpa dukungan data atau penjelasan medis, yang berpotensi menjadi berita bohong atau hoax. Berita yang hanya mengandalkan testimoni subjektif tanpa verifikasi seringkali menyesatkan.

Berita B mengindikasikan bahwa isinya akan memberikan informasi resmi tentang peluncuran vaksin dan hasil uji klinis. Hal ini menunjukkan bahwa berita ini akan menyajikan fakta yang telah terverifikasi, memberikan konteks ilmiah, dan berpotensi mencakup detail tentang proses persetujuan dan manfaat vaksin. Isi yang didukung data dan pernyataan dari otoritas yang relevan jauh lebih dapat dipercaya.

Sumber Informasi:

Berita A tidak menyebutkan sumber informasi yang jelas, hanya mengandalkan "warga kaget". Keterangan ini sangat tidak kredibel karena tidak ada verifikasi atau identifikasi sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Berita yang baik selalu mencantumkan sumber yang jelas dan terpercaya.

Berita B secara eksplisit menyebutkan "Dinas Kesehatan" sebagai sumber informasi. Dinas Kesehatan adalah otoritas resmi dan tepercaya dalam hal kesehatan publik. Penyebutan sumber yang kredibel seperti ini meningkatkan validitas dan keandalan berita.

Singkatnya, Berita B menunjukkan karakteristik jurnalisme yang bertanggung jawab, memberikan informasi yang akurat dan berbasis fakta dari sumber terpercaya, sementara Berita A menggunakan taktik sensasional yang cenderung menyesatkan dan tidak didukung oleh informasi yang kredibel.

FIRNAS, Pasuruan

KISAH MENGHARUKAN PERTEMUAN NABI IBRAHIM DENGAN AZAR (AYAHNYA) DI AKHIRAT

Oleh FIRNAS

Kisah Nabi Ibrahim dan Azar: Batasan Syafaat dan Keteguhan Hukum Ilahi di Akhirat

Sebuah kisah yang menggetarkan hati dari hadits shahih riwayat Imam al-Bukhari kembali menjadi sorotan dalam sebuah ceramah yang disampaikan oleh Ustadz Ammi Nur Baits. Kisah ini menggambarkan momen pertemuan Nabi Ibrahim 'alaihis salam dengan ayahnya, Azar, di hari kiamat, sebuah pertemuan yang penuh haru namun berakhir dengan penegasan hukum Allah SWT yang tak bisa ditawar.

Nabi Ibrahim, salah satu nabi besar yang dikenal dengan keteguhan tauhidnya, diceritakan bertemu kembali dengan Azar, ayahnya, yang semasa hidupnya adalah penyembah berhala dan menolak ajaran tauhid. Dalam kondisi yang sangat memilukan, dengan wajah gelap dan dipenuhi kotoran, Azar berkata kepada putranya, "Wahai Ibrahim, pada hari ini aku tidak akan menentangmu."

---

Doa Nabi yang Ditolak: Tak Ada Kompromi untuk Kekafiran

Melihat kondisi ayahnya, Nabi Ibrahim memohon kepada Allah dengan penuh harap agar Azar diampuni. Ia berseru, "Wahai Rabbku, bukankah Engkau telah berjanji tidak akan menghinakanku pada hari kiamat? Maka apakah ada kehinaan yang lebih besar daripada ayahku yang jauh dariku?" Permohonan ini menunjukkan betapa besar cinta Nabi Ibrahim kepada ayahnya, sekalipun sang ayah memilih jalan kekafiran.

Namun, Allah SWT kemudian berfirman dengan tegas, "Aku haramkan surga untuk dimasuki orang kafir." 

Firman ini menjadi penegasan bahwa hukum Allah adalah mutlak dan tidak ada kompromi, bahkan untuk permohonan seorang nabi yang sangat dekat dengan-Nya. Azar pun kemudian diubah wujudnya menjadi binatang yang sangat menjijikkan – seperti hyena – lalu dilemparkan ke dalam neraka.

---

Hidayah Milik Allah, Syafaat Tak Berlaku bagi Musyrik

Ustadz Ammi Nur Baits menjelaskan, kisah ini menjadi pelajaran penting tentang batasan syafaat dan keteguhan hukum Allah. Meskipun seorang nabi sekalipun memohonkan keselamatan bagi kerabat dekat yang meninggal dalam kemusyrikan, permohonan itu ditolak karena telah menjadi "aturan baku" dari Allah SWT.

"Aturan Allah walaupun yang menawar itu seorang nabi yang dekat dengan Allah, tidak diterima oleh Allah ketika itu sudah menjadi aturan baku dari Allah Subhanahu wa taala," jelas Ustadz Ammi. Ini menegaskan bahwa hidayah adalah mutlak milik Allah, dan tidak ada kompromi untuk praktik kesyirikan. Pelaku kesyirikan akan divonis kekal di neraka karena Allah telah mengharamkan surga bagi mereka.

Kisah Nabi Ibrahim dan Azar ini menjadi pengingat bagi seluruh umat Muslim tentang pentingnya keimanan dan tauhid sebagai penentu nasib di akhirat, serta bahwa cinta dan hubungan duniawi tak dapat melampaui keadilan dan ketetapan Ilahi.

Sumber:
https://youtu.be/fXxguN3gMxY?si=_zEQbY7-cG9Khfta
---

JURNALIS SEDUNIA BERSUARA

Jurnalis sedunia Bersuara

Dari Istanbul, Suara Palestina Menggema 24 Jam Nonstop di Tengah Seruan Keadilan Global

Oleh FIRNAS

ISTANBUL – Di jantung kota bersejarah Istanbul, sebuah siaran istimewa yang belum pernah terjadi sebelumnya sedang berlangsung. Selama 24 jam penuh, sebuah panggung di Lapangan Sultan Ahmed menjadi pusat penyiaran langsung, menyuarakan kisah-kisah penderitaan Palestina. Acara ini, yang dipimpin oleh Federasi Pers Turki dengan tema "Jangan Diam untuk Palestina", menyatukan para profesional media dari Turki, Eropa, dan seluruh dunia.

"Tujuan kami adalah menjadi suara bagi Palestina," demikian pernyataan yang disampaikan dalam siaran tersebut. Lebih dari 200 jurnalis telah gugur di Palestina, dan mereka melakukan tugasnya di bawah ancaman bom. 

"Kami berusaha memperkuat suara mereka demi kemanusiaan," lanjut pernyataan itu, menegaskan bahwa seruan ini bersifat universal, melampaui batas-batas agama. "Tidak peduli apakah orang yang tertindas itu Yahudi, Kristen, atau Muslim. Kami melihatnya dari sudut pandang kemanusiaan," tambah mereka, mengingat bagaimana Turki juga pernah mendukung pengungsi Yahudi 500 tahun lalu.

Kepala Komunikasi Turki: "Genosida Sedang Terjadi"

Kepala Komunikasi Turki, Fahrettin Altun, adalah salah satu partisipan yang menyampaikan pandangan tajamnya dalam wawancara. Ia dengan lantang menyatakan bahwa sejak 7 Oktober 2023, genosida telah terjadi di Palestina, merupakan kejahatan besar terhadap kemanusiaan.

"Israel melakukan yang terbaik untuk membuat kekejamannya tidak terlihat. Ia ingin menghapus Palestina dari sejarah. Ia ingin menghapus geografi Palestina dari sejarah," tegas Altun. 

Ia menyebut bahwa penganiayaan ini semakin cepat sejak Oktober 2023, mengakibatkan pembantaian dengan dimensi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah. "Dalam kata-kata Mahkamah Pidana Internasional, Israel melakukan genosida, pembantaian perkotaan, dan ekosida," tandasnya.

Altun juga menyerukan agar semua pihak yang terlibat dalam kekejaman pemerintah Israel diadili dan dihukum di pengadilan internasional. "Cepat atau lambat, kebenaran akan menang dan para penindas akan dikalahkan," pungkasnya optimis.

Pernyataan 24 Jam untuk Keadilan

Program siaran 24 jam ini disiarkan secara langsung oleh lebih dari 20 saluran TV dari berbagai negara melalui satelit. Dimulai pada Sabtu siang, acara ini akan terus berlangsung hingga Minggu tengah hari. Sepanjang siang dan malam, laporan video akan diputar, jurnalis dan komentator akan berbicara, dan pesan-pesan mereka akan disebarkan.

Inisiatif ini bukan sekadar siaran biasa. Ini adalah pernyataan 24 jam, sebuah unjuk persatuan, dan seruan lantang untuk keadilan global bagi Palestina.

https://youtu.be/v_OBmfeciiM?si=_gL99oBO4Ava2JIu

SELAMAT MENONTON

KONTEN UMROH KE BOROBUDUR

Konten "Umrah ke Borobudur" Viral, Picu Kecaman Netizen dan Isu SARA

Oleh FIRNAS,  Pasuruan

Sebuah konten video di platform TikTok yang diunggah oleh akun @/Ngobrolsantaiindonesia tengah menjadi sorotan tajam dan perbincangan hangat di kalangan netizen Indonesia. Video promosi wisata religi tersebut memicu kontroversi karena menggunakan frasa "umrah ke Borobudur" yang dianggap menyenggol syariat agama lain dan menyinggung sentimen keagamaan.

Dalam video tersebut, narator mengkritik kecenderungan masyarakat yang "takut" dengan budaya lokal seperti keris, kembang, dupa, kemenyan, atau blangkon. Ia kemudian membandingkan biaya ibadah umrah ke Tanah Suci yang mahal dan antrean panjang, dengan "tanah suci leluhur" di Indonesia seperti Gunung Lawu (Pringgondani), Candi Ceto, Candi Sukuh, hingga Candi Borobudur, yang diklaim jauh lebih terjangkau, bahkan dengan modal satu juta rupiah bisa "bolak-balik".

*Reaksi Keras dari Netizen dan Seruan Penertiban*

Unggahan tersebut langsung disambut dengan berbagai reaksi negatif dari warganet, terutama di platform media sosial X (sebelumnya Twitter), setelah diunggah ulang oleh akun @neVerAl0nely.

Maria.A.Alkaff, salah satu netizen, dengan tegas menyebut fenomena ini sebagai bentuk "Islamophobia yang makin menggila dan gak malu-malu lagi main kasar ke agama orang." Ia juga menyoroti ironi di mana pihak-pihak yang kerap menyuarakan toleransi, kini justru terkesan melakukan tindakan SARA. Maria mendesak pihak berwenang, dengan me-mention akun resmi @Kemenag_RI dan @DivHumas_Polri, untuk menertibkan konten semacam ini.

Senada dengan itu, Rohta Anjulian menggarisbawahi pentingnya promosi pariwisata yang etis. "Promosi pariwisata itu penting, tapi jangan sampai bawa-bawa istilah sakral agama lain untuk gimmick marketing," tulisnya. Frasa "Umrah ke Borobudur" dianggapnya bukan hanya tidak sensitif, tetapi juga berpotensi menyinggung keyakinan umat yang menjalankan ibadah umrah dengan serius. Rohta Anjulian menekankan bahwa keagungan Borobudur dapat diangkat tanpa harus meniru atau menyenggol ajaran agama lain.

Komentar lain dari akun bernama Han juga menyuarakan kekesalan, "Mereka suka bikin masalah. Nanti saat dimasalahkan, mereka playing victim alasan minoritaslah, intoleransilah, HAM lah, dsb." Ia menegaskan bahwa promosi agama dan budaya seharusnya dilakukan tanpa perlu "nyenggol syariat dan urusan agama lain." 

Sementara itu, Auoquamel Delacroix menengarai adanya kesengajaan dalam penggunaan kata "umroh" untuk tujuan ejekan, dan menuntut agar kalimat tersebut dihapus karena dinilai "jelek sekali."

Kontroversi ini kembali memicu diskusi publik tentang batas-batas kebebasan berekspresi dalam konteks keberagaman agama di Indonesia, serta pentingnya menjaga toleransi dan saling menghormati keyakinan. Pihak berwenang diharapkan dapat segera merespons aduan masyarakat terkait konten yang berpotensi memecah belah ini. (*)

Saturday, May 31, 2025

Dari Viral "Gadis Chat GPT" Menjadi Mualaf: Kisah Lily J dan Reaksi Publik

Oleh FIRNAS, Pasuruan

Lily J, seorang musisi asal Australia yang kini dikenal luas sebagai "gadis Chat GPT" setelah video viralnya meledak, baru-baru ini mengumumkan dirinya telah memeluk Islam. Perjalanan spiritualnya menarik perhatian global, memicu perdebatan sengit, dan berbagai reaksi dari netizen serta tokoh agama.

Lily J menjadi sorotan publik setelah mengunggah video di mana ia mengajukan pertanyaan berani kepada kecerdasan buatan Chat GPT: "Apakah Alkitab mengatakan Yesus adalah Tuhan atau seorang nabi?" AI tersebut, dengan perspektif non-bias, menjawab bahwa Alkitab lebih mungkin menggambarkan Yesus sebagai seorang nabi, utusan Tuhan, dengan mengutip ayat-ayat relevan.

Video tersebut, bersama dengan konten-konten Lily J lainnya yang mengulas perbandingan antara Islam dan Kristen, sontak menjadi viral. Momen ini bukan hanya sekadar fenomena internet bagi Lily, melainkan bagian integral dari perjalanan pribadinya menuju Islam.

Pro dan Kontra di Media Sosial
Gaya promosi Islam Lily J yang cepat dan lugas mendapat sambutan beragam. Banyak yang mengapresiasi pendekatannya, namun tak sedikit pula yang melayangkan kritik pedas. Salah satu kritikus terkemuka, "Apostate Prophet", mengejeknya dan menuduhnya sebagai "penipu". Ia menuduh Lily J melakukan manipulasi dan akting buruk dalam videonya. Ironisnya, tuduhan "penipu" dari seorang kritikus berprofil tinggi justru memicu gelombang perdebatan dan memunculkan dugaan kemunafikan.

Menariknya, sebagian besar respons negatif datang dari kalangan yang mengklaim sebagai "umat Kristen yang damai", yang membanjiri kotak masuk pesan langsung (DM) Lily dengan ancaman dan ujaran kebencian. Namun, Lily J menghadapi semua itu dengan tenang. Ia bahkan mencuit sarkasme, "Hobi favorit saya adalah membaca ancaman harian yang saya dapatkan di DM saya dari orang-orang Kristen yang marah yang tidak bisa menerima kebenaran," yang menunjukkan ketidakgoyahannya dan keberaniannya dalam menyoroti kemunafikan tersebut.

Di sisi lain, tidak semua Muslim menyambutnya dengan tangan terbuka. Beberapa menyatakan kecurigaan, bahkan ada yang menyamakannya dengan "Andrew Tate bagian dua", menganggap perilakunya sebagai bagian dari "stunt" viral atau rebranding citra semata.

Kesaksian Iman dan Seruan untuk Toleransi
Terlepas dari segala kontroversi, Lily J terus berkarya dengan gayanya yang khas. Ia dilaporkan telah menjadi inspirasi bagi beberapa orang untuk memeluk Islam melalui konten-kontennya.

Melalui salah satu cuitannya, Lily J menegaskan keislamannya: "Saya salat lima kali sehari. Saya menyembah satu Tuhan. Saya berpuasa. Saya bersedekah. Saya membaca Al-Quran. Saya mencintai Nabi SAW." Cuitan ini menjadi penegas bahwa keislamannya adalah urusan pribadi antara dirinya dan Allah SWT.

Kisah Lily J menjadi pengingat bagi umat Muslim untuk memberikan ruang dan dukungan kepada para mualaf. Dalam menghadapi perbedaan pendapat dan reaksi publik, penceramah menyerukan agar seluruh umat memahami kebenaran Islam dan mengikutinya dengan tulus, serta mendoakan agar setiap anggota umat Nabi Muhammad SAW senantiasa dibimbing di jalan yang benar.(*)

Pasuruan, 31 Mei 2025

KERANGKA SEJARAH ORDE BARU DITUDING MANIPULATIF

*Kerangka Sejarah Orde Baru Dituding Manipulatif, Sejarawan Menolak*

Oleh FIRNAS, Pasuruan

Kerangka penulisan ulang sejarah Indonesia, khususnya jilid sembilan yang membahas periode Orde Baru (1998-1998), memicu kontroversi dan penolakan dari kalangan sejarawan. Di dalam draf penyusunan ulang Sejarah itu , diduga menghilangkan berbagai peristiwa penting yang mengarah pada reformasi.

Penghilangan Peristiwa Krusial

Dalam draf jilid sembilan, Lena (Hellena Souisa, Jurnalis ABC Australia) menemukan banyak kejanggalan, di antaranya:
Tidak adanya catatan mengenai tuntutan reformasi dan kerusuhan sosial yang melatarbelakangi jatuhnya Orde Baru.
Jilid ini disebut berakhir pada tahun 1999, padahal peristiwa penting seperti Kongres Komunis pertama tahun 1998 dan Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 – yang menjadi cikal bakal Gerakan Non-Blok – tidak disebutkan.
Draf juga tidak memuat peristiwa penting seperti Asian Games 1962 di Jakarta dan Ganefo 1963, yang disebut diinisiasi Soekarno.

Manipulasi Sejarah dan Intervensi Kekuasaan

Para sejarawan dan aktivis sejarah menuduh konsep penulisan ulang ini sebagai manipulasi sejarah. Manipulasi ini diartikan sebagai upaya menulis sejarah dengan hanya mengambil hal-hal yang menguntungkan dan menghilangkan, menutupi, atau mengaburkan aspek-aspek negatif.
Kekhawatiran muncul bahwa revisi sejarah ini tidak didasarkan pada kebenaran dan kejujuran ilmiah, melainkan karena "pesanan" atau menjadi alat untuk melanggengkan kekuasaan.

Sejarah Orde Baru: Sebuah Tinjauan Awal

Pemerintahan Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto berlangsung selama 32 tahun (1966-1998). Periode ini ditandai dengan stabilitas politik dan pembangunan ekonomi yang pesat, namun juga dikritik karena praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), serta pelanggaran hak asasi manusia. Reformasi 1998 mengakhiri era Orde Baru dan membuka babak baru demokrasi di Indonesia.  (*)

KONTROVERSI DAN DAMPAK PENULISAN SEJARAH INDONESIA VERSI KEMENTERIAN KEBUDAYAAN

*Kontroversi & Dampak Penulisan Ulang Sejarah Indonesia versi Kementerian Kebudayaan Fadli Zon*

Oleh FIRNAS, Pasuruan

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kebudayaan berencana merombak penulisan ulang sejarah nasional dengan proyek ambisius senilai 9 miliar rupiah. Proyek ini bertujuan untuk menciptakan "sejarah versi Indonesia" atau Indonesia sentris, yang diklaim sebagai upaya menghilangkan bias kolonialisme. Salah satu perubahan paling kontroversial adalah penggantian istilah "prasejarah" menjadi "sejarah awal" (early history), dengan titik tolak 1,8 juta tahun lalu berdasarkan penemuan Pithecanthropus erectus (Homo erectus).

*Polemik dan Kekhawatiran Sejarawan*

Perubahan ini menuai polemik di kalangan sejarawan dan arkeolog. Salah satu arkeolog senior yang awalnya terlibat dalam tim penyusunan, Pak Truman Simanjuntak, bahkan mengundurkan diri karena tidak setuju dengan penghapusan istilah prasejarah. Menurutnya, prasejarah dan sejarah adalah dua disiplin ilmu yang berbeda dengan metodologi penelitian yang berbeda pula: prasejarah fokus pada fosil dan peninggalan budaya tanpa tulisan, sementara sejarah membutuhkan sumber tertulis. Kesepakatan internasional pun mendefinisikan sejarah dimulai setelah adanya tulisan.

Kekhawatiran utama yang muncul adalah potensi kebingungan di masyarakat akibat pencampuran konsep prasejarah dan sejarah. Ada pula kekhawatiran bahwa proyek ini akan menjadi alat untuk menyuburkan klaim-klaim bombastis tentang Indonesia sebagai pusat peradaban tertua di dunia, tanpa didukung bukti ilmiah yang kuat.

*Bahaya Inferioritas dan Delusi Sejarah*

Perubahan ini juga dikaitkan dengan perasaan inferioritas bangsa yang ingin membuktikan diri sebagai yang tertua. Menurut pengamat sejarah (sejarahwan) Asisi Suhariyanto di channel youtubenya (Jum’at, 20 Mei 2025), perasaan inferioritas ini dapat termanifestasi dalam bentuk penolakan (denial) terhadap kehebatan leluhur di masa lalu, atau delusi yang meninggi-ninggikan hal tanpa bukti.

Alih-alih memaksakan diri menjadi yang tertua, disarankan agar penulisan ulang sejarah lebih banyak mengangkat nilai-nilai klasik bangsa Indonesia yang sudah terbukti hebat, seperti toleransi, penegakan hukum, dan kemampuan mengatasi korupsi di masa lalu. Hal ini dinilai lebih efektif dalam membangun kebanggaan nasional yang berdasarkan data, bukan halu.

*Proyek Indonesia Sentris atau Data Sentris?*

Meskipun tujuan proyek ini adalah menghilangkan bias Belanda sentris, banyak sejarawan berpendapat bahwa sejarah Indonesia sudah Indonesia sentris sejak lama, berkat kerja keras para sejarawan dan arkeolog Indonesia dalam menerjemahkan dan mengkaji ulang sumber-sumber kuno. Seharusnya, penulisan sejarah tidak berlandaskan pada sentrisme negara tertentu, melainkan data sentris, di mana data dan bukti ilmiah menjadi landasan utama.

DPR RI sendiri telah mendesak Kementerian Kebudayaan untuk melakukan uji publik terhadap rencana penulisan ulang sejarah ini. Harapannya, proyek yang didanai oleh uang rakyat ini dapat berjalan dengan baik, menghasilkan sejarah yang benar-benar merdeka, berdasarkan data, dan tidak membingungkan masyarakat.  

Sumber : @ASISI Channel

KEUTAMAAN 10 HARI DIAWAL DZULHIJJAH

Sepuluh Hari Pertama Zulhijah: Memupuk Iman dan Melatih Diri Menuju Kesempurnaan
(Ceramah Ustadz Adi Hidayat)

Oleh FIRNAS.

Umat Islam kini memasuki hari-hari istimewa di awal bulan Zulhijah 1446 Hijriah, sebuah periode yang disebut oleh Rasulullah ï·º sebagai waktu di mana amal saleh sangat dicintai oleh Allah SWT. Sebuah pengajian Ust Adi Hidayat terbaru menyoroti keutamaan sepuluh hari pertama bulan suci ini, serta relevansinya dalam perjalanan spiritual seorang Muslim.

---

Amal Saleh di Awal Zulhijah Mengungguli Jihad Fisabilillah

Ustadz Adi Hidayat menjelaskan hadis riwayat Abdullah bin Abbas yang menyatakan bahwa tidak ada hari-hari dalam setahun yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah dibandingkan sepuluh hari pertama bulan Zulhijah. Bahkan, keutamaan beramal di hari-hari ini mengungguli jihad di jalan Allah, kecuali bagi mereka yang berjuang dengan jiwa dan harta hingga gugur syahid tanpa kembali.

Keistimewaan ini, menurut para ulama, adalah motivasi bagi setiap Muslim untuk meningkatkan ibadah dan perbuatan mulia. Baik melalui ibadah fisik seperti salat dan membaca Al-Quran, berinfak dengan harta, atau beramal saleh dengan ilmu dan pikiran, semuanya memiliki nilai yang berlipat ganda di periode ini.

---

Dzulhijah: Penyempurna Latihan Ramadan dan Transformasi Diri

Salah satu manfaat utama dari sepuluh hari Dzulhijah adalah sebagai penyempurna pelatihan spiritual selama Ramadan. Periode ini membantu melengkapi kekurangan dan melahirkan pribadi yang lebih paripurna kebaikannya.

Ustadz Adi Hidayat (UAH) menekankan bahwa ibadah di bulan ini, termasuk puasa Arafah (tanggal 9 Dzulhijah) dan kurban, memiliki tujuan transformatif. Puasa Arafah, misalnya, dapat menggugurkan dosa setahun yang telah berlalu, mirip dengan puncak haji di Arafah. Bagi mereka yang belum berkesempatan haji, puasa Arafah adalah cara untuk merefleksikan diri, mengenali kekurangan, dan membangun kesalehan (*birr*) dalam diri, yang kemudian akan melekat sebagai karakter *mabrur*.

Demikian pula dengan ibadah kurban. Melalui kurban, seorang Muslim didorong untuk membuang "sifat hewani" yang buruk dan memunculkan "sifat insani" yang mulia. Proses ini pada akhirnya melahirkan manusia yang lebih dekat kepada Allah dan lebih banyak berbuat kebaikan, yang merupakan intisari dari takwa.

---

*Takwa di Segala Lini Kehidupan*

UAH berharap bahwa transformasi ini akan melahirkan individu-individu yang terbaik dalam setiap peran mereka: pejabat yang jujur dan antikorupsi, ustaz dan kiai yang berilmu dan berakhlak, pengusaha yang adil, serta orang tua dan anak yang saleh. Harapannya, semangat Dzulhijah ini dapat menjadikan seluruh Muslim di Indonesia menjadi pribadi yang lebih baik untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.

Video 

https://youtu.be/MwIWf0ZW76k?si=lXjtD9ZkE55Mlgf9

Selamat menonton

MENDALAMI MAKNA ILMU DAN REALITAS KETUHANAN

Refleksi Spiritual: Mendalami Makna Ilmu dan Realitas Ketuhanan dalam Pengajian Al Hikam

Oleh FIRNAS.

Pengajian Al Hikam yang dipimpin oleh KH Muhammad Faiz Syukron Ma'mun  (Gus Faiz)  mengupas tuntas hikmah ke-35 dan ke-36 dari Kitab Al-Hikam karya Syekh Ibnu Atha'illah. Fokus pembahasan kali ini adalah tentang pentingnya kerendahan hati dalam beragama, tingkatan keyakinan seseorang terhadap Allah, dan bagaimana ilmu yang bersifat teoritis seringkali goyah di hadapan realitas kehidupan.

---

Bahaya Rasa Sempurna dan Pentingnya Kesadaran Kekurangan

Gus Faiz mengawali dengan mengulas Hikmah ke-35 yang menekankan bahwa akar dari setiap maksiat, kelalaian, dan syahwat adalah sifat ar-ridha'in nafsi, yaitu merasa suci, merasa baik, dan merasa telah menyelesaikan semua tuntutan agama. Sifat ini, menurut Ibnu Atha'illah, adalah bencana terbesar bagi manusia.

"Orang yang merasa sempurna di hadapan Allah, akan memunculkan kesombongan, kelalaian, dan syahwat," jelas Gus Faiz. 

Ia menekankan bahwa meskipun seseorang telah rajin salat, puasa, dan beribadah, harus selalu ada kesadaran bahwa itu semua "tidak berarti apapun kalau dibandingkan dengan karunia Allah." Kesadaran akan kekurangan diri inilah yang akan mendorong seseorang untuk terus menumbuhkembangkan ibadah dan kedekatan dengan Allah.

---

Tiga Tingkatan Keyakinan: Dari Ilmiah hingga Hakiki

Melanjutkan ke Hikmah ke-36, Gus Faiz memaparkan ketidaksempurnaan manusia dalam mencapai derajat keyakinan yang hakiki terhadap Allah. Ia membagi tingkatan keyakinan ke dalam tiga fase, mirip dengan konsep Islam, Iman, dan Ihsan  dalam hadis, atau Syariat, Hakikat, dan Tarekat dalam disiplin ilmu lain. Ibnu Atha'illah sendiri membaginya menjadi:

1.  *Syua'ul Basyirah* (Cahaya Mata Hati): Ini adalah *ilmul yaqin*, keyakinan yang dibangun berdasarkan ilmu atau pengetahuan teoritis. Gus Faiz mengilustrasikannya dengan pengetahuan geografi atau informasi tentang kecantikan seseorang dari cerita. Pengetahuan ini benar, namun belum bersentuhan langsung dengan pengalaman.

2.  *Ainul Basyirah* (Pandangan Mata Hati): Ini adalah *ainul yaqin*, keyakinan yang diperoleh melalui penglihatan atau pengalaman langsung. Contohnya adalah melihat langsung Gunung Salak dari Bukit Hambalang setelah sebelumnya hanya tahu dari buku, atau melihat langsung Ka'bah di Makkah.

3.  *Haqqul Basyirah* (Kebenaran Mata Hati): Ini adalah *haqqul yaqin*, keyakinan tertinggi yang lahir dari pengalaman dan penghayatan secara langsung. Gus Faiz mengibaratkan dengan masuk dan merasakan langsung Kota Bogor, atau bisa merangkul dan mencium Hajar Aswad di Ka'bah. Pada tingkatan ini, ilmu menyatu dengan rasa dan pengalaman.

---

*Mengapa Ilmu Saja Tidak Cukup: Tantangan dalam Kehidupan Nyata*

Gus Faiz menegaskan bahwa keyakinan pada tingkatan *ilmul yaqin* saja seringkali tidak cukup untuk menghadapi gejolak kehidupan. Ia mencontohkan bagaimana seseorang yang sangat berilmu sekalipun bisa goyah imannya saat menghadapi tekanan, seperti godaan duniawi atau ujian rumah tangga.

"Banyak kok orang pintar dibentak bininya itu goblok mendadak," seloroh Gus Faiz, menekankan bahwa meskipun secara teori tahu keutamaan sedekah atau *birrul walidain*, praktik di lapangan bisa berbeda karena desakan batin atau godaan.

Gus Faiz juga menyinggung tentang *konsep "otomatis" dalam kehidupan dan alam semesta*, seperti pintu otomatis atau hujan. Ia menjelaskan bahwa di balik "otomatisasi" tersebut selalu ada perancang atau sistem yang bekerja. "Sejatinya otomatis itu enggak ada. Yang ada diotomatiskan," tegasnya, merujuk pada *sunnatullah* (hukum alam) yang bekerja di alam semesta. Ini adalah dalil aqli (logika) tentang keberadaan Allah.

Gus Faiz kemudian mengingatkan bahwa tingkatan *syua'ul basyirah* atau *nurul ilmi* (cahaya ilmu) hanya mengantarkan pada perilaku baik yang bersifat standar. Ilmu yang dipelajari seringkali berguncang saat menghadapi kondisi nyata yang menyakitkan mata atau hati.

---

*Fokus pada Kualitas Diri dan Hikmah Perjuangan Palestina*

Di akhir pengajian, Gus Faiz menghubungkan pembahasan ini dengan realitas umat Islam saat ini, khususnya terkait perjuangan Palestina. Ia menyebutkan bahwa meskipun umat Islam mungkin sedang "kalah" dalam pertarungan sistem global yang didominasi Barat, keyakinan sejati pada takdir dan janji Allah adalah kunci ketegaran.

Contoh masalah Palestina. "Masalah Palestina ini bukan masalah politik semata. Bagi kita sebagai seorang Muslim, ini masalah akidah, tertulis dalam Al-Quran. Solusinya pun ada dalam Al-Quran," ujarnya.

Ia mengajak umat Islam untuk tidak panik dan tidak terlalu berharap pada solusi dari PBB atau negara-negara lain. Sebaliknya, fokus harus diarahkan pada mempersiapkan diri dan meningkatkan kualitas iman, ketakwaan, serta skill. "Karena Allah Subhanahu wa taala itu hanya akan membebaskan Baitul Maqdis di pundak hamba-hamba-Nya yang memang sudah siap," pungkasnya.

Gus Faiz juga berpesan agar tidak menghabiskan energi untuk mencaci maki atau menyerang dalam isu-isu sensitif, melainkan menjadikannya sebagai ajang edukasi dan persatuan demi terwujudnya kemerdekaan Palestina.

Sumber:
https://youtu.be/dP-cDnMqmFA?si=aQIXatBT-bA8haXk

Selamat menonton

---

KEAJAIBAN BAHASA AL QUR'AN

Keajaiban Bahasa Al-Quran: Makna Tersembunyi di Balik Bentuk Jamak yang Berbeda 

Presisi Linguistik Al-Quran Mengungkap Kedalaman Makna

Kajian Nouman Ali Khan. 
By FIRNAS. 

Al-Quran, kitab suci umat Islam, dikenal bukan hanya karena pesan-pesan ilahinya, tetapi juga karena keindahan dan ketepatan bahasanya yang luar biasa. Sebuah studi mendalam mengungkap bagaimana Al-Quran menggunakan nuansa linguistik terkecil, seperti bentuk jamak yang berbeda, untuk melukiskan gambaran yang kaya dan menyampaikan pesan yang mendalam.

Dalam sebuah pembahasan, dijelaskan bagaimana dua ayat yang diturunkan pada waktu yang berbeda—satu di Madinah (Madaniyah) dan satu di Mekah (Makkiyah) bertahun-tahun sebelumnya—menggunakan frasa yang sama, "tujuh bulir gandum," namun dengan bentuk jamak yang berbeda dalam bahasa Arab. Perbedaan ini, yang mungkin terlewat dalam terjemahan bahasa Inggris, ternyata memiliki makna yang sangat signifikan.

Kisah Tujuh Bulir: Kekuatan dan Keterbatasan dalam Kata

Ayat Madaniyah yang membahas tentang anjuran bersedekah, menggambarkan perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, dan setiap bulir memiliki seratus butir. Ini adalah gambaran tentang kelimpahan, pertumbuhan, dan perkembangbiakan yang tak terhingga, melebihi imajinasi manusia. Dalam menggambarkan keberkahan sedekah ini, Al-Quran menggunakan bentuk jamak yang kuat atau "super jamak" (jama' al-katsrah). Pilihan kata ini secara linguistik memperkuat pesan tentang balasan Allah yang berlipat ganda bagi orang-orang yang berderma.

Sebaliknya, dalam Surah Yusuf, yang menceritakan mimpi raja tentang tujuh bulir gandum hijau dan yang kering, Al-Quran menggunakan bentuk jamak yang lebih lemah (jama' al-qillah). Mimpi ini, yang kemudian ditafsirkan sebagai tujuh tahun kemakmuran yang cukup untuk bertahan hidup, diikuti oleh tujuh tahun kelaparan yang mengharuskan penjatahan makanan. Konteks ini menggambarkan situasi yang suram, keterbatasan, dan pertumbuhan yang lemah. Penggunaan bentuk jamak yang lebih lemah di sini secara halus menggambarkan kondisi yang tidak berkelimpahan, memerlukan kehati-hatian, dan jauh dari kemakmuran yang tak terbatas.

Kehalusan Bahasa Al-Quran yang Terabaikan dalam Terjemahan

Perbedaan subtil (terjemahan) dalam penggunaan bentuk jamak ini menunjukkan ketepatan dan kehalusan bahasa Al-Quran yang luar biasa. Dalam bahasa Arab, konsep jamak tidak hanya sebatas "lebih dari satu," tetapi juga dapat menunjukkan tingkat kekuatan atau kelemahan, kelimpahan atau keterbatasan.

Sayangnya, keindahan dan kedalaman makna ini seringkali terabaikan dalam terjemahan ke bahasa lain, di mana kedua bentuk jamak tersebut sering kali diterjemahkan sama, seperti "tujuh bulir" atau "seven ears." Ini menekankan pentingnya mendalami Al-Quran dalam bahasa aslinya untuk memahami kekayaan dan presisi pesan-pesan Ilahi.

"Kehalusan serta ketepatan bahasa Al-Quran yang luar biasa ini akan terabaikan [jika hanya membaca terjemahan]," pungkas pembicara (Nouman Ali Khan), menggarisbawahi betapa setiap pilihan kata dalam Al-Quran memiliki tujuan dan makna yang mendalam. Penemuan semacam ini terus membuat para ahli dan pembaca Al-Quran "terkejut" akan keajaiban linguistiknya.

Sumber:
https://youtu.be/eNFu1tz4VrA?si=ghPabCu04tuuZ4AQ

Selamat menonton.