<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-18942826</id><updated>2011-11-11T15:51:01.104+08:00</updated><category term='e-bisnis'/><title type='text'>Firnas</title><subtitle type='html'>Firnas adalah orang biasa yang dilahirkan dari kota pesisir Pasuruan Jawa Timur. Semasa kecil dikenal agak pendiam, baik di sekolah maupun tetangga. 
Menginjak usianya di masa remaja, si kecil yang agak pendiam ini lambat laun mulai mencoba membuka diri sebagai pribadi yang lebih terbuka dan belajar hidup yang lebih arif melalui aktifitas keorganisasian Islam. Kala itu, saya berkecimpung di organisasi PELAJAR ISLAM INDONESIA (PII).</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://firnas.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18942826/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://firnas.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Firnas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15444084345524317639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_rO4zuivUGjg/SWGn9zb8BPI/AAAAAAAAAUI/Xk8OPxHSOcs/S220/firnas.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>12</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18942826.post-7989758645418983068</id><published>2008-10-20T11:48:00.000+08:00</published><updated>2008-10-20T12:18:33.328+08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BUDIDAYA MALU DIKIKIS HABIS&lt;br /&gt;GERAKAN SYAHWAT MERDEKA&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pidato Kebudayaan Taufiq Ismail&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sederetan gelombang besar menggebu-gebu menyerbu pantai Indonesia,&lt;br /&gt;naik ke daratan, masuk ke pedalaman. Gelombang demi gelombang ini&lt;br /&gt;datang susun-bersusun dengan suatu keteraturan, mulai 1998 ketika&lt;br /&gt;reformasi meruntuhkan represi 39 tahun gabungan zaman Demokrasi&lt;br /&gt;Terpimpin dan Demokrasi Pembangunan, dan membuka lebar pintu dan&lt;br /&gt;jendela Indonesia. Hawa ruangan yang sumpek dalam dua zaman itu&lt;br /&gt;berganti dengan kesegaran baru. Tapi tidak terlalu lama, kini&lt;br /&gt;digantikan angin yang semakin kencang dan arus menderu-deru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebebasan berbicara, berpendapat, dan mengeritik, berdiri-menjamurnya&lt;br /&gt;partai-partai politik baru, keleluasaan berdemonstrasi, ditiadakannya&lt;br /&gt;SIUPP (izin penerbitan pers), dilepaskannya tahanan politik,&lt;br /&gt;diselenggarakannya pemilihan umum bebas dan langsung, dan seterusnya,&lt;br /&gt;dinikmati belum sampai sewindu, tapi sementara itu silih berganti&lt;br /&gt;beruntun-runtun belum terpecahkan krisis yang tak habis-habis. Tagihan&lt;br /&gt;rekening reformasi ternyata mahal sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahana yang datang terlambat dari benua-benua lain itu menumbuh dan&lt;br /&gt;menyuburkan kelompok permissif dan addiktif negeri kita, yang sejak&lt;br /&gt;1998 naik daun. Arus besar yang menderu-deru menyerbu kepulauan kita&lt;br /&gt;adalah gelombang sebuah gerakan syahwat merdeka. Gerakan tak bersosok&lt;br /&gt;organisasi resmi ini tidak berdiri sendiri, tapi bekerjasama&lt;br /&gt;bahu-membahu melalui jaringan mendunia, dengan kapital raksasa&lt;br /&gt;mendanainya, ideologi gabungan yang melandasinya, dan banyak media&lt;br /&gt;massa cetak dan elektronik jadi pengeras suaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah komponen gerakan syahwat merdeka ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERTAMA adalah praktisi sehari-hari kehidupan pribadi dan kelompok&lt;br /&gt;dalam perilaku seks bebas hetero dan homo, terang-terangan dan&lt;br /&gt;sembunyi-sembunyi. Sebagian berjelas-jelas anti kehidupan berkeluarga&lt;br /&gt;normal, sebagian lebih besar, tak mau menampakkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEDUA, penerbit majalah dan tabloid mesum, yang telah menikmati tiada&lt;br /&gt;perlunya SIUPP. Mereka menjual wajah dan kulit perempuan muda, lalu&lt;br /&gt;menawarkan jasa hubungan kelamin pada pembaca pria dan wanita lewat&lt;br /&gt;nomor telepon genggam, serta mengiklankan berbagai alat kelamin tiruan&lt;br /&gt;(kue pancong berkumis dan lemper berbaterai) dan boneka karet&lt;br /&gt;perempuan yang bisa dibawa bobok bekerjasama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETIGA, produser, penulis skrip dan pengiklan acara televisi syahwat.&lt;br /&gt;Seks siswa dengan guru, ayah dengan anak, siswa dengan siswa, siswa&lt;br /&gt;dengan pria paruh baya, siswa dengan pekerja seks komersial ----&lt;br /&gt;ditayangkan pada jam prime time, kalau pemainnya terkenal. Remaja&lt;br /&gt;berseragam OSIS memang menjadi sasaran segmen pasar penting&lt;br /&gt;tahun-tahun ini. Beberapa guru SMA menyampaikan keluhan pada saya.&lt;br /&gt;"Citra kami guru-guru SMA di sinetron adalah citra guru tidak cerdas,&lt;br /&gt;kurang pergaulan dan memalukan." Mari kita ingat ekstensifnya pengaruh&lt;br /&gt;tayangan layar kaca ini. Setiap tayangan televisi, rata-rata&lt;br /&gt;170.000.000 yang memirsa. Seratus tujuh puluh juta pemirsanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEEMPAT, 4,200,000 (empat koma dua juta) situs porno dunia, 100,000&lt;br /&gt;(seratus ribu) situs porno Indonesia di internet. Dengan empat kali&lt;br /&gt;klik di komputer, anatomi tubuh perempuan dan laki-laki, sekaligus&lt;br /&gt;fisiologinya, dapat diakses tanpa biaya, sama mudahnya dilakukan baik&lt;br /&gt;dari San Francisco, Timbuktu, Rotterdam mau pun Klaten. Pornografi&lt;br /&gt;gratis di internet luarbiasa besar jumlahnya. Seorang sosiolog Amerika&lt;br /&gt;Serikat mengumpamakan serbuan kecabulan itu di negaranya bagaikan&lt;br /&gt;"gelombang tsunami setinggi 30 meter, dan kami melawannya dengan dua&lt;br /&gt;telapak tangan." Di Singapura, Malaysia, Korea Selatan situs porno&lt;br /&gt;diblokir pemerintah untuk terutama melindungi anak-anak dan remaja.&lt;br /&gt;Pemerintah kita tidak melakukan hal yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KELIMA, penulis, penerbit dan propagandis buku syahwat ¼ sastra dan ½&lt;br /&gt;sastra. Di Malaysia, penulis yang mencabul-cabulkan karyanya penulis&lt;br /&gt;pria. Di Indonesia, penulis yang asyik dengan wilayah selangkang dan&lt;br /&gt;sekitarnya mayoritas penulis perempuan. Ada kritikus sastra Malaysia&lt;br /&gt;berkata: "Wah, pak Taufiq, pengarang wanita Indonesia berani-berani.&lt;br /&gt;Kok mereka tidak malu, ya?" Memang begitulah, RASA MALU ITU YANG SUDAH&lt;br /&gt;TERKIKIS, bukan saja pada penulis-penulis perempuan aliran s.m.s.&lt;br /&gt;(sastra mazhab selangkang) itu, bahkan lebih-lebih lagi pada banyak&lt;br /&gt;bagian dari bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEENAM, penerbit dan pengedar komik cabul. Komik yang kebanyakan&lt;br /&gt;terbitan Jepang dengan teks dialog diterjemahkan ke bahasa kita itu&lt;br /&gt;tampak dari kulit luar biasa-biasa saja, tapi di dalamnya banyak&lt;br /&gt;gambar hubungan badannya, misalnya (bukan main) antara siswa dengan Bu&lt;br /&gt;Guru. Harganya Rp 2.000. Sebagian komik-komik itu tidak semata lucah&lt;br /&gt;saja, tapi ada pula kadar ideologinya. Ideologinya adalah anjuran&lt;br /&gt;perlawanan pada otoritas orangtua dan guru, yang banyak aturan&lt;br /&gt;ini-itu, termasuk terhadap seks bebas. Dalam salah satu komik itu saya&lt;br /&gt;baca kecaman yang paling sengit adalah pada Menteri Pendidikan Jepang.&lt;br /&gt;Tentu saja dalam teks terjemahan berubah, yang dikecam jadinya Menteri&lt;br /&gt;Pendidikan Nasional kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETUJUH, produsen, pengganda, pembajak, pengecer dan penonton VCD/DVD&lt;br /&gt;biru. Indonesia kini jadi sorga besar pornografi paling murah di&lt;br /&gt;dunia, diukur dari kwantitas dan harganya. Angka resmi produksi dan&lt;br /&gt;bajakan tidak saya ketahui, tapi literatur menyebut antara 2 juta - 20&lt;br /&gt;juta keping setahun. Harga yang dulu Rp30.000 sekeping, kini turun&lt;br /&gt;menjadi Rp3.000, bahkan lebih murah lagi. Dengan biaya 3 batang rokok&lt;br /&gt;kretek yang diisap 15 menit, orang bisa menonton sekeping VCD/DVD biru&lt;br /&gt;dengan pelaku kulit putih dalam 6 posisi selama 60 menit. Luarbiasa&lt;br /&gt;murah. Anak SD kita bisa membelinya tanpa risi tanpa larangan&lt;br /&gt;peraturan pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang peneliti mengabarkan bahwa di Jakarta Pusat ada murid-murid&lt;br /&gt;laki-laki yang kumpul jam dua sore seminggu di rumah salah seorang&lt;br /&gt;dari mereka, lalu menayangkan VCD-DVD porno. Sesudah selesai mereka&lt;br /&gt;onani bersama-sama. Siswa sekolah apa, dan kelas berapa? Siswa SD,&lt;br /&gt;kelas lima. Tak diceritakan apa ekses selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEDELAPAN, fabrikan dan konsumen alkohol. Minuman keras dari berbagai&lt;br /&gt;merek dengan mudah bisa diperoleh di pasaran. Kemasan botol kecil&lt;br /&gt;diproduksi, mudah masuk kantong celana, harga murah, dijual di kios&lt;br /&gt;tukang rokok di depan sekolah, remaja dengan bebas bisa membelinya. Di&lt;br /&gt;Amerika dan Eropa batas umur larangan di bawah 18 tahun. Negeri kita&lt;br /&gt;pasar besar minuman keras, jualannya sampai ke desa-desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KESEMBILAN, produsen, pengedar dan pengguna narkoba. Tingkat&lt;br /&gt;keterlibatan Indonesia bukan pada pengedar dan pengguna saja, bahkan&lt;br /&gt;kini sampai pada derajat produsen dunia. Enam juta anak muda Indonesia&lt;br /&gt;terperangkap sebagai pengguna, ratusan ribu menjadi korbannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KESEPULUH, fabrikan, pengiklan dan pengisap nikotin. Korban racun&lt;br /&gt;nikotin 57.000 orang / tahun, maknanya setiap hari 156 orang mati,&lt;br /&gt;atau setiap 9 menit seorang pecandu rokok meninggal dunia. Pemasukan&lt;br /&gt;pajak Rp15 triliun (1996), tapi ongkos pengobatan berbagai penyakit&lt;br /&gt;akibatnya Rp30 triliun rupiah. Mengapa alkohol, narkoba dan nikotin&lt;br /&gt;termasuk dalam kategori kontributor arus syahwat merdeka ini? Karena&lt;br /&gt;sifat addiktifnya, kecanduannya, yang sangat mirip, begitu pula proses&lt;br /&gt;pembentukan ketiga addiksi tersebut dalam susunan syaraf pusat&lt;br /&gt;manusia. Dalam masyarakat permissif, interaksi antara seks dengan&lt;br /&gt;alkohol, narkoba dan nikotin, akrab sekali, sukar dipisahkan.&lt;br /&gt;Interaksi ini kemudian dilengkapi dengan tindak kriminalitas&lt;br /&gt;berikutnya, seperti pemerasan, perampokan sampai pembunuhan. Setiap&lt;br /&gt;hari berita semacam ini dapat dibaca di koran-koran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KESEBELAS, pengiklan perempuan dan laki-laki panggilan. Dalam&lt;br /&gt;masyarakat permissif, iklan semacam ini menjadi jembatan komunikasi&lt;br /&gt;yang diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEDUABELAS, germo dan pelanggan prostitusi. Apabila hubungan syahwat&lt;br /&gt;suka-sama-suka yang gratis tidak tersedia, hubungan dalam bentuk&lt;br /&gt;perjanjian bayaran merupakan jalan keluarnya. Dalam hal ini prostitusi&lt;br /&gt;berfungsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETIGABELAS, dokter dan dukun praktisi aborsi. Akibat tujuh unsur&lt;br /&gt;pertama di atas, kasus perkosaan dan kehamilan di luar pernikahan&lt;br /&gt;meningkat drastis. Setiap hari dapat kita baca kasus siswa SMP/SMA&lt;br /&gt;memperkosa anak SD, satu-satu atau rame-rame, ketika papi-mami tak ada&lt;br /&gt;di rumah dan pembantu pergi ke pasar berbelanja. Setiap ditanyakan apa&lt;br /&gt;sebab dia/mereka memperkosa, selalu dijawab 'karena terangsang sesudah&lt;br /&gt;menonton VCD/DVD biru dan ingin mencobakannya. ' Praktisi aborsi gelap&lt;br /&gt;menjadi tempat pelarian, bila kehamilan terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang peneliti dari sebuah universitas di Jakarta menyebutkan bahwa&lt;br /&gt;angka aborsi di Indonesia 2,2 juta setahunnya. Maknanya setiap 15&lt;br /&gt;detik seorang calon bayi di suatu tempat di negeri kita meninggal&lt;br /&gt;akibat dari salah satu atau gabungan ketujuh faktor di atas. Inilah&lt;br /&gt;produk akhirnya. Luar biasa destruksi sosial yang diakibatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam gemuruh gelombang gerakan syahwat merdeka ini, pornografi dan&lt;br /&gt;pornoaksi menjadi bintang panggungnya, melalui gemuruh kontroversi&lt;br /&gt;pro-kontra RUU APP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena satu-dua-atau beberapa kekurangan dalam RUU itu, yang total&lt;br /&gt;kontra menolaknya, tanpa sadar terbawa dalam gelombang gerakan syahwat&lt;br /&gt;merdeka ini. Tetapi bisa juga dengan sadar memang mau terbawa di&lt;br /&gt;dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kekurangan RUU itu, yang perlu ditambah-sempurnaka n adalah&lt;br /&gt;perlindungan bagi anak-cucu kita, jumlahnya 60 juta, terhadap&lt;br /&gt;kekerasan pornografi. Dalam hiruk pikuk di sekitar RUU ini, terlupakan&lt;br /&gt;betapa dalam usia sekecil itu 80% anak-anak 9-12 tahun terpapar&lt;br /&gt;pornografi, situs porno di internet naik lebih sepuluh kali lipat,&lt;br /&gt;lalu 40% anak-anak kita yang lebih dewasa sudah melakukan hubungan&lt;br /&gt;seks pra-nikah. Sementara anak-anak di Amerika Serikat dilindungi oleh&lt;br /&gt;6 Undang-undang, anak-anak kita belum, karena undang-undangnya belum&lt;br /&gt;ada. KUHP yang ada tidak melindungi mereka karena kunonya. Gelombang&lt;br /&gt;Syahwat Merdeka yang menolak total RUU ini berarti menolak melindungi&lt;br /&gt;anak-cucu kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan tak bernama tak bersosok organisasi ini terkoordinasi&lt;br /&gt;bahu-membahu menumpang gelombang masa reformasi mendestruksi moralitas&lt;br /&gt;dan tatanan sosial. Ideologinya neo-liberalisme, pandangannya&lt;br /&gt;materialistik, disokong kapitalisme jagat raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Menguji Rasa Malu Diri Sendiri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pengarang muda meminta pendapat saya tentang cerita pendeknya&lt;br /&gt;yang dimuat di sebuah media. Dia berkata, "Kalau cerpen saya itu&lt;br /&gt;dianggap pornografis, wah, sedihlah saya." Saya waktu itu belum sempat&lt;br /&gt;membacanya. Tapi saya kirimkan padanya pendapat saya mengenai&lt;br /&gt;pornografi. Begini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalkan saya menulis sebuah cerpen. Saya akan mentes, menguji karya&lt;br /&gt;saya itu lewat dua tahap. Pertama, bila tokoh-tokoh di dalam karya&lt;br /&gt;saya itu saya ganti dengan ayah, ibu, mertua, isteri, anak, kakak atau&lt;br /&gt;adik saya; lalu kedua, karya itu saya bacakan di depan ayah, ibu,&lt;br /&gt;mertua, isteri, anak, kakak, adik, siswa di kelas sekolah, anggota&lt;br /&gt;pengajian masjid, jamaah gereja; kemudian saya tidak merasa malu,&lt;br /&gt;tiada dipermalukan, tak canggung, tak risi, tak muak dan tidak jijik&lt;br /&gt;karenanya, maka karya saya itu bukan karya pornografi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalau ketika saya membacakannya di depan orang-orang itu saya&lt;br /&gt;merasa malu, dipermalukan, tak patut, tak pantas, canggung, risi, muak&lt;br /&gt;dan jijik, maka karya saya itu pornografis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berlaku pula bila karya itu bukan karya saya, ketika saya&lt;br /&gt;menilai karya orang lain. Sebaliknya dipakai tolok ukur yang sama&lt;br /&gt;juga, yaitu bila orang lain menilai karya saya. Setiap pembaca bisa&lt;br /&gt;melakukan tes tersebut dengan cara yang serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan saya adalah pengujian rasa malu itu. Rasa malu itu yang&lt;br /&gt;kini luntur dalam warna tekstil kehidupan bangsa kita, dalam terlalu&lt;br /&gt;banyak hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah majalah mesum dunia dengan selaput artistik, Playboy, menumpang&lt;br /&gt;taufan reformasi dan gelombang liberalisme akhirnya terbit juga di&lt;br /&gt;Indonesia. Majalah ini diam-diam jadi tempat pelatihan awal onani&lt;br /&gt;pembaca Amerika, dan kini, beberapa puluh tahun kemudian, dikalahkan&lt;br /&gt;internet, sehingga jadilah publik pembaca Playboy dan publik langganan&lt;br /&gt;situs porno internet Amerika masturbator terbesar di dunia. Majalah&lt;br /&gt;pabrik pengeruk keuntungan dari kulit tubuh perempuan ini, mencoba&lt;br /&gt;menjajakan bentuk eksploitasi kaum Hawa di negeri kita yang pangsa&lt;br /&gt;pasarnya luarbiasa besar ini. Bila mereka berhasil, maka bakal&lt;br /&gt;berderet antri masuk lagi majalah anti-tekstil di tubuh perempuan dan&lt;br /&gt;fundamentalis- syahwat-merdeka seperti Penthouse, Hustler, Celebrity&lt;br /&gt;Skin, Cheri, Swank, Velvet, Cherry Pop, XXX Teens dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengukur sendiri rasa malu penerbit dan redaktur Playboy&lt;br /&gt;Indonesia, saya sarankan kepada mereka melakukan sebuah percobaan,&lt;br /&gt;yaitu mengganti model 4/5 telanjang majalah itu dengan ibu kandung,&lt;br /&gt;ibu mertua, kakak, adik, isteri dan anak perempuan mereka sendiri.&lt;br /&gt;Saran ini belum berlaku sekarang, tapi kelak suatu hari ketika Playboy&lt;br /&gt;Indonesia keluar perilaku aslinya dalam masalah ketelanjangan model&lt;br /&gt;yang dipotret. Sekarang mereka masih malu-malu kucing. Sesudah dibuat&lt;br /&gt;dalam edisi dummy, promosikan foto-foto itu itu di 10 saluran televisi&lt;br /&gt;dan 25 suratkabar. Bagaimana? Berani? Malu atau tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan lain yang dapat dipakai juga adalah menduga-memperkirak&lt;br /&gt;an-mengingat akibat yang mungkin terjadi sesudah orang membaca karya&lt;br /&gt;pornografis itu. Sesudah seseorang membaca, katakan cerpen yang&lt;br /&gt;memberi sugesti secara samar-samar terjadinya hubungan kelamin,&lt;br /&gt;apalagi kalau dengan jelas mendeskripsikan adegannya, apakah dengan&lt;br /&gt;kata-kata indah yang dianggap sastrawi atau kalimat-kalimat brutal,&lt;br /&gt;maka pembaca akan terangsang. Sesudah terangsang yang paling penakut&lt;br /&gt;akan onani dan yang paling nekat akan memperkosa. Memperkosa perempuan&lt;br /&gt;dewasa tidak mudah, karena itu anak kecil jadi sasaran. Perkosaan&lt;br /&gt;banyak terjadi terhadap anak-anak kecil masih bau susu bubuk belum&lt;br /&gt;haid yang di rumah sendirian karena papi-mami pergi kerja, pembantu&lt;br /&gt;pergi ke pasar, jam 9-10 pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak tanggung pemerkosa itu, ketika diinterogasi dan ditanya&lt;br /&gt;kenapa, umumnya bilang karena sesudah menonton VCD porno mereka&lt;br /&gt;terangsang ingin mencoba sendiri. Merayu orang dewasa takut, mendekati&lt;br /&gt;perempuan-bayaran tidak ada uang. Kalau diteliti lebih jauh kasus yang&lt;br /&gt;sangat banyak ini (peneliti yang rajin akan bisa mendapat S-3 lewat&lt;br /&gt;tumpukan guntingan koran), mungkin saja anak itu juga pernah membaca&lt;br /&gt;cerita pendek, puisi, novel atau komik cabul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat selanjutnya, merebak-meluaslah aborsi, prostitusi, penularan&lt;br /&gt;penyakit kelamin gonorrhoea, syphilis, HIV-AIDS, yang meruyak di&lt;br /&gt;kota-kota besar Indonesia berbarengan dengan akibat penggunaan alkohol&lt;br /&gt;dan narkoba yang tak kalah destruktifnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Akibat Sosial Ini Tak Pernah Difikirkan Penulis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua rangkaian musibah sosial ini tidak pernah difikirkan oleh&lt;br /&gt;penulis cerpen-puisi- novelis erotis yang umumnya asyik berdandan&lt;br /&gt;dengan dirinya sendiri, mabuk posisi selebriti, ke sana disanjung ke&lt;br /&gt;sini dipuji, tidak pernah bersedia merenungkan akibat yang mungkin&lt;br /&gt;ditimbulkan oleh tulisannya. Sejumlah cerpen dan novel pasca reformasi&lt;br /&gt;sudah dikatakan orang mendekati VCD/DVD porno tertulis. Maukah mereka&lt;br /&gt;membayangkan, bahwa sesudah sebuah cerpen atau novel dengan rangsangan&lt;br /&gt;syahwat terbit, maka beberapa ratus atau ribu pembaca yang terangsang&lt;br /&gt;itu akan mencontoh melakukan apa yang disebutkan dalam alinea-alinea&lt;br /&gt;di atas tadi, dengan segala rentetan kemungkinan yang bisa terjadi&lt;br /&gt;selanjutnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Destruksi sosial yang dilakukan penulis cerpen-novel syahwat itu,&lt;br /&gt;beradik-kakak dengan destruksi yang dilakukan produsen-pengedar-&lt;br /&gt;pembajak- pengecer VCD/DVD porno, beredar (diperkirakan) sebanyak 20&lt;br /&gt;juta keping, yang telah meruyak di masyarakat kita, masyarakat&lt;br /&gt;konsumen pornografi terbesar dan termurah di dunia. Dulu harganya&lt;br /&gt;Rp30.000 sekeping, kini Rp3.000, sama murahnya dengan 3 batang rokok&lt;br /&gt;kretek. Mengisap rokok kretek 15 menit sama biayanya dengan memiliki&lt;br /&gt;dan menonton sekeping VCD/DVD syahwat sepanjang 6o menit itu. Bersama&lt;br /&gt;dengan produsen alkohol, narkoba dan nikotin, mereka tidak sadar telah&lt;br /&gt;menjadi unsur penting pengukuhan masyarakat permissif-addiktif&lt;br /&gt;serba-boleh- apa-saja-genjot, yang dengan bersemangat melabrak apa&lt;br /&gt;yang mereka anggap tabu selama ini, berpartisipasi meluluh-lantakkan&lt;br /&gt;moralitas anak bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Perzinaan yang Hakekatnya Pencurian adalah Ciri Sastra Selangkang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya sesudah mendapatkan korannya, saya membaca cerpen karya&lt;br /&gt;penulis yang disebut di atas. Dalam segi teknik penulisan, cerpen itu&lt;br /&gt;lancar dibaca. Dalam segi isi sederhana saja, dan secara klise sering&lt;br /&gt;ditulis pengarang Indonesia yang pertama kali pergi ke luar negeri,&lt;br /&gt;yaitu pertemuan seorang laki-laki di negeri asing dengan perempuan&lt;br /&gt;asing negeri itu. Kedua-duanya kesepian. Si laki-laki Indonesia lupa&lt;br /&gt;isteri di kampung. Di akhir cerita mereka berpelukan dan berciuman.&lt;br /&gt;Begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam interaksi yang kelihatan iseng itu, cerpenis tidak menyatakan&lt;br /&gt;sikap yang jelas terhadap hubungan kedua orang itu. Akan ke mana&lt;br /&gt;hubungan itu berlanjut, juga tak eksplisit. Apakah akan sampai pada&lt;br /&gt;hubungan pernikahan atau perzinaan, kabur adanya. Perzinaan adalah&lt;br /&gt;sebuah pencurian. Yang melakukan zina, mencuri hak orang lain, yaitu&lt;br /&gt;hak penggunaan alat kelamin orang lain itu secara tidak sah. Pezina&lt;br /&gt;melakukan intervensi terhadap ruang privat alat kelamin yang dizinai.&lt;br /&gt;Dia tak punya hak untuk itu. Yang dizinai bersekongkol dengan yang&lt;br /&gt;melakukan penetrasi, dia juga tak punya hak mengizinkannya. Pemerkosa&lt;br /&gt;adalah perampok penggunaan alat kelamin orang yang diperkosa.&lt;br /&gt;Penggunaan alat kelamin seseorang diatur dalam lembaga pernikahan yang&lt;br /&gt;suci adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pengarang yang terang-terangan tidak setuju pada lembaga&lt;br /&gt;pernikahan, dan/atau melakukan hubungan kelamin semaunya, yang&lt;br /&gt;tokoh-tokoh dalam karyanya diberi peran syahwat merdeka, adalah&lt;br /&gt;rombongan pencuri bersuluh sinar rembulan dan matahari. Mereka maling&lt;br /&gt;tersamar. Mereka celakanya, tidak merasa jadi maling, karena&lt;br /&gt;(herannya) ada propagandis sastra menghadiahi mereka glorifikasi, dan&lt;br /&gt;penerbit menyediakan gratifikasi. Propagandis dan penerbit sastra&lt;br /&gt;semacam ini, dalam istilah kriminologi, berkomplot dengan maling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berlaku bukan saja untuk karya (yang dianggap) sastra, tapi&lt;br /&gt;juga untuk bacaan turisme, rujukan tempat hiburan malam, dan direktori&lt;br /&gt;semacam itu. Buku petunjuk yang begitu langsung tak langsung&lt;br /&gt;menunjukkan cara berzina, lengkap dengan nama dan alamat tempat&lt;br /&gt;berkumpulnya alat-alat kelamin yang dapat dicuri haknya dengan cara&lt;br /&gt;membayar tunai atau dengan kartu kredit gesekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra selangkang adalah sastra yang asyik dengan berbagai masalah&lt;br /&gt;wilayah selangkang dan sekitarnya. Kalau di Malaysia&lt;br /&gt;pengarang-pengarang yang mencabul-cabulkan karya kebanyakan pria, maka&lt;br /&gt;di Indonesia pengarang sastra selangkang mayoritas perempuan. Beberapa&lt;br /&gt;di antaranya mungkin memang nymphomania atau gila syahwat, hingga ada&lt;br /&gt;kritikus sastra sampai hati menyebutnya "vagina yang haus sperma".&lt;br /&gt;Mestinya ini sudah menjadi kasus psikiatri yang baik disigi, tentang&lt;br /&gt;kemungkinannya jadi epidemi, dan harus dikasihani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dua abad yang lalu sejumlah perempuan Aceh, Jawa dan Sulawesi&lt;br /&gt;Selatan naik takhta sebagai penguasa tertinggi kerajaan, Sultanah atau&lt;br /&gt;Ratu dengan kenegarawanan dan reputasi terpuji, maka di abad 21 ini&lt;br /&gt;sejumlah perempuan Indonesia mencari dan memburu tepuk tangan kelompok&lt;br /&gt;permissif dan addiktif sebagai penulis sastra selangkang, yang&lt;br /&gt;aromanya jauh dari wangi, menyiarkan bau amis-bacin kelamin&lt;br /&gt;tersendiri, yang bagi mereka parfum sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Dengan Ringan Nama Tuhan Dipermainkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun 1971-1972, ketika saya jadi penyair tamu di Iowa Writing&lt;br /&gt;Program, Universitas Iowa, di benua itu sedang heboh-hebohnya&lt;br /&gt;gelombang gerakan perempuan. Kini, 34-an tahun kemudian, arus riaknya&lt;br /&gt;sampai ke Indonesia. Kaum feminis Amerika waktu itu sedang&lt;br /&gt;gencar-gencarnya mengumumkan pembebasan kaum perempuan, terutama&lt;br /&gt;liberasi kopulasi, kebebasan berkelamin, di koran, majalah, buku dan&lt;br /&gt;televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyaksikan penampilan para maling hak penggunaan alat kelamin orang&lt;br /&gt;lain itu di layar kaca, yang cengengesan dan mringas-mringis seperti&lt;br /&gt;Gloria Steinem dan semacamnya, banyak orang mual dan jijik karenanya.&lt;br /&gt;Mereka tidak peduli terhadap epidemi penyakit kelamin HIV-AIDS yang&lt;br /&gt;meruyak menyebar seantero Amerika Serikat waktu itu, menimpa baik&lt;br /&gt;orang laki-laki maupun perempuan, hetero dan homoseksual, akibat&lt;br /&gt;kebebasan yang bablas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di setasiun kereta api bawah tanah New York, seorang laki-laki korban&lt;br /&gt;HIV-AIDS menadahkan topi mengemis. Belum pernah saya melihat kerangka&lt;br /&gt;manusia berbalut kulit tanpa daging dan lemak sekurus dia itu. Sinar&lt;br /&gt;matanya kosong, suaranya parau. Kematian banyak anggota kelompok ini,&lt;br /&gt;terutama di kalangan seniman di tahun 1970-an, tulis seorang esais,&lt;br /&gt;bagaikan kematian di medan perang Vietnam. Sebuah orkestra simfoni di&lt;br /&gt;New York, anggota-anggotanya bergiliran mati saban minggu karena&lt;br /&gt;kejangkitan HIV-AIDS dan narkoba, akibat kebebasan bablas itu. Para&lt;br /&gt;pembebas kaum perempuan itu tak acuh pada bencana menimpa bangsa&lt;br /&gt;karena asyik mendandani penampilan selebriti diri sendiri. Saya sangat&lt;br /&gt;heran. Sungguh memuakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat bersayap mereka adalah, "This is my body. I'll do whatever I&lt;br /&gt;like with my body." "Ini tubuhku. Aku akan lakukan apa saja yang aku&lt;br /&gt;suka dengan tubuhku ini." Congkaknya luar biasa, seolah-olah tubuh&lt;br /&gt;mereka itu ciptaan mereka sendiri, padahal tubuh itu pinjaman kredit&lt;br /&gt;mencicil dari Tuhan, Cuma satu tingkat di atas sepeda motor Jepang dan&lt;br /&gt;Cina yang diobral di iklan koran-koran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tak ada urusan dengan Maha Produser Tubuh itu. Penganjur&lt;br /&gt;masyarakat permissif di mana pun juga, tidak suka Tuhan dilibatkan&lt;br /&gt;dalam urusan. Percuma bicara tentang moral dengan mereka. Dengan&lt;br /&gt;ringan nama Tuhan dipermainkan dalam karya. Situasi kita kini&lt;br /&gt;merupakan riak-riak gelombang dari jauh itu, dari abad 20 ke awal abad&lt;br /&gt;21 ini, advokatornya dengan semangat dan stamina mirip anak-anak&lt;br /&gt;remaja bertopi beisbol yang selalu meniru membeo apa saja yang berasal&lt;br /&gt;dari Amerika Utara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri kolektif seluruh komponen Gerakan Syahwat Merdeka ini adalah&lt;br /&gt;budaya malu yang telah kikis nyaris habis dari susunan syaraf pusat&lt;br /&gt;dan rohani mereka, dan tak adanya lagi penghormatan terhadap hak&lt;br /&gt;penggunaan kelamin orang lain yang disabet-dicopet- dikorupsi dengan&lt;br /&gt;entengnya. Tanpa memiliki hak penggunaan kelamin orang lain, maka&lt;br /&gt;sesungguhnya Gerakan Syahwat Merdeka adalah maling dan garong&lt;br /&gt;genitalia, berserikat dengan alkohol, nikotin dan narkoba, menjadi&lt;br /&gt;perantara kejahatan, mencecerkan HIV-AIDS, prostitusi dan aborsi,&lt;br /&gt;bersuluh bulan dan matahari. (*)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Terima kasih telah mengunjungi weblog saya yang sederhana ini. &lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18942826-7989758645418983068?l=firnas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://firnas.blogspot.com/feeds/7989758645418983068/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18942826&amp;postID=7989758645418983068' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18942826/posts/default/7989758645418983068'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18942826/posts/default/7989758645418983068'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://firnas.blogspot.com/2008/10/budidaya-malu-dikikis-habis-gerakan.html' title=''/><author><name>Firnas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15444084345524317639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_rO4zuivUGjg/SWGn9zb8BPI/AAAAAAAAAUI/Xk8OPxHSOcs/S220/firnas.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18942826.post-2772975572819410436</id><published>2008-10-17T10:43:00.001+08:00</published><updated>2008-10-19T11:22:56.779+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='e-bisnis'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;E-Bisnis yang menyesatkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda penggemar internet tentu tahulah akan e-bussines. Bisnis yang satu ini memang sekilas menggiurkan. Bayangkan aja, sehari bisa menghasilkan puluhan juta secara sekejap. Seolah-olah bisnis ini bisa dilakukan dengan mata terpejam aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba aja anda kunjungi di bikinduit.com, formula bisnis.com, rahasiabonus.com dan sebangsanya. Jika anda orang yang jeli dengan permainan kata-kata di web tersebut, anda pasti bisa menebak bisnis ini pastilah cuma bisnis jual omongan belaka alias 'bullshit' atau "nggedabrus" kata orang Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga bisnis yang serupa ini, yaitu globail mail alias bisnis lewat surat yang konon menjanjikan hasil puluhan juta dalam sebulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya mencoba untuk mengetahui isi dokumen surat penawarannya ternyata dugaan saya benar. Ini bisnis nggedabrus yang mengelabui banyak orang. Nggak percaya?? silahkan anda buktikan omongan saya. Saya punya bukti copy CD yang mereka tawarkan.  Bila anda berminat ingin tahu isinya, kirimkan Nama dan alamat lengkap anda ke nomor HP saya 0813 5915 3738.  Setelah itu kirimkan uang sebagai pengganti copy CD dan ongkos kirimnya hanya Rp 35.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No rekening saya :&lt;br /&gt;FIRNAS MUTTAQIN&lt;br /&gt;BRI Cabang Tulungagung&lt;br /&gt;0110-01-001477-53-2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secepatnya akan saya kirimkan ke alamat anda.&lt;br /&gt;Terima kasih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Terima kasih telah mengunjungi weblog saya yang sederhana ini. &lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18942826-2772975572819410436?l=firnas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://firnas.blogspot.com/feeds/2772975572819410436/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18942826&amp;postID=2772975572819410436' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18942826/posts/default/2772975572819410436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18942826/posts/default/2772975572819410436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://firnas.blogspot.com/2008/10/e-bisnis-yang-menyesatkan.html' title=''/><author><name>Firnas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15444084345524317639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_rO4zuivUGjg/SWGn9zb8BPI/AAAAAAAAAUI/Xk8OPxHSOcs/S220/firnas.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18942826.post-115578221925363406</id><published>2006-08-17T10:28:00.000+08:00</published><updated>2006-08-17T10:36:59.633+08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/1448/1865/1600/ahmadinejad1.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/1448/1865/320/ahmadinejad1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Menertawakan Hollocaust di Iran&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Siapa bilang kisah pembantaian kaum Yahudi saat Perang Dunia II melulu bercerita soal air mata. Datanglah ke Teheran, Iran, bulan-bulan ini. Di Museum Seni Kontemporer Palestina di kota itu, boleh jadi gambaran hollocaust itu justru membuat kita tersenyum, bahkan terpingkal.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sejak Selasa (15/8) kemarin, di gedung itu memang digelar pameran internasional kartun hollocaust. Direncanakan berlangsung sebulan penuh, setidaknya 204 karya kartun dari berbagai penjuru dunia dipamerkan di sana. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;''Kami menggelar pameran ini untuk mengetahui sejauh mana batas kebebasan ala Barat itu mereka yakini,'' kata Masoud Shojai, ketua Asosiasi Kartunis Iran, sekaligus ketua penyelenggara pameran tersebut, kepada kantor berita AFP. 'Mereka' yang dimaksud Masoud tentu saja dunia Barat, yang selama ini selalu mengusung dalih kebebasan untuk melanggar apa pun. Tak kecuali perasaan religius umat beragama lain.&lt;br /&gt;Mau contoh? Satu saja, kasus kartun Nabi Muhammad, yang marak awal tahun ini. Alih-alih mawas diri, dengan dalih kebebasan itu pula, sebagian kalangan di dunia Barat justru mempertanyakan reaksi umat Islam atas munculnya kartun tersebut. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tak perlu menunggu respons Barat, sebenarnya, karena Masoud sendiri sudah beroleh jawaban. ''Mereka bisa seenaknya menulis apa pun tentang Nabi kita. Tetapi, saat ada seorang saja mempertanyakan soal pembantaian Yahudi, dia malah didenda, bahkan dipenjara,'' Kata Masoud, menyindir. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ucapan itu merujuk perlakuan hipokrit Barat terhadap David Irving, sejarahwan Inggris yang tidak hanya kena denda atas sikapnya yang skeptis soal hollocaust, tetapi bahkan harus meringkuk di penjara.&lt;br /&gt;Tentang pameran sekaligus kompetisi kartun itu, Masoud sendiri menyatakan tidak bermaksud membantah cerita pembantaian orang-orang Yahudi di PD II tersebut. ''Kami hanya mempertanyakan, mengapa justru rakyat Palestina yang harus membayarnya?'' kata dia.&lt;br /&gt;Kompetisi kartun itu sendiri berlangsung di tengah hebohnya pemuatan kartun Nabi oleh harian Denmark, Jyland-Posten, awal tahun ini. Saat itu, Asosiasi Kartunis Iran menantang para kartunis dunia untuk menuangkan ide mereka seputar hollocaust. Hasilnya, tidak kurang dari 1.100 kartun dari 60 negara masuk ke dalam daftar panitia lomba. Dari jumlah itu, 204 kartun memenuhi syarat untuk ikut dipamerkan dan berpeluang memenangkan hadiah uang. Lumayan besar, yakni masing-masing 12 ribu, delapan ribu, dan lima dolar AS untuk juara satu, dua, dan tiga.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Satu di antara nominator kartun tersebut datang dari peserta asal Indonesia, &lt;span style="color:#ff6666;"&gt;Tony Thomdean&lt;/span&gt;. Dengan jenaka Tony menggambarkan Patung Liberty, Dewi Kemerdekaan, tengah menggenggam daftar korban hollocaust di tangan kiri, sementara tangan kanannya memberikan salut ala Hitler. ''Heil ...!''&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;''Kami datang kemari untuk belajar banyak tentang pembantaian yang menjadi dasar pendirian negara Israel itu,'' kata Zahra Amoli, seorang mahasiswi yang datang berombongan ke pameran tersebut. Hari pertama pameran tersebut, kemarin, dihadiri seratusan orang pengunjung. Dengan antusias mereka berkeliling, mengamati, dan tak jarang tersenyum simpul menyaksikan kartun-kartun tersebut.&lt;br /&gt;Sikap yang ditunjukkan masyarakat Iran akan hollocaust itu, tidak lepas dari sikap presiden mereka, Mahmud Ahmadinejad. Desember 2005 lalu, saat berpidato di Provinsi Sistan Baluchestan, &lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Ahmadinejad menyatakan, Barat telah memosisikan mitos hollocaust itu melebihi keyakinan akan ketuhanan dan kenabian. ''Mereka menindak keras siapa saja yang meragukan mitos tersebut, namun membiarkan orang-orang yang mengingkari ketuhanan dan agama,'' kata Ahmadinejad, sebagaimana dikutip BBC, saat itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;Tidak hanya itu, dalam kesempatan tersebut Ahmadinejad juga menyatakan, jika memang Barat sebagai pelaku pembantaian tersebut peduli dengan nasib bangas Yahudi, mengapa bukan sebagian wilayah Eropa, AS, Kanada, atau Alaska, yang diberikan kepada Israel sebagai tebusannya. &lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;''Mengapa justru rakyat palestina yang harus membayar?'' kata Ahmadinejad. Ucapan itulah yang kemudian dikutip Masoud, ketua panitia pameran itu. Dalam banyak hal, hollocaust memang telah menjadi barang dagangan Barat dan tentu saja, Israel. Klaim mereka bahwa selama PD II telah terjadi pembantaian atas sedikitnya enam juta Yahudi, membuat peristiwa itu selalu dihidup-hidupkan. Tidak hanya kamp-kamp penahanan Yahudi, khususnya Kamp Auschwitz, dijadikan museum. Lebih dari 250 museum didirikan di banyak negara untuk menyokong klaim tersebut. Untuk anak-anak sekolah, di AS dan Eropa sejak lama hollocaust menjadi salah satu bahan pelajaran. Untuk masyarakat awam, kurang apa dengan munculnya film-film yang terus memamah biak persoalan itu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sedemikian gencarnya propaganda rezim Zionis soal hollocaust, sehingga kalangan Yahudi sendiri tak kurang yang merasa rikuh. Sejarawan Yahudi, Alfred M Lilienthal, bahkan dalam situsnya, www.alfredlilienthal.com, menyebut propaganda itu dengan hollocaust mania. Yang paling mutakhir, Tel Aviv bahkan kembali melakukan upaya mereka sejak lama, untuk menekan Majelis Umum PBB menetapkan tanggal 27 Januari sebagai ''Hari Hollocaust''. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya itu, seorang anggota Komite Pendataan Hollocaust AS-Polandia, Rana I. Aloy, menyatakan, dalam PD II, tidak hanya orang-orang Yahudi yang mengalami penderitaan. ''Korban paling banyak pada PD II justru adalah orang Rusia,'' kata Aloy. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Klaim hollocaust juga tidak pernah menemukan dokumen pendukung. Bahkan, laporan Palang Merah Internasional dan perundingan sejumlah pejabat negara penentang Nazi, tak pernah disebutkan keterangan soal pembakaran orang-orang Yahudi oleh Nazi tersebut. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, tidak heran bila sejarawan Australia, Frederick Toben, pernah mengatakan bahwa Israel sepenuhnya dibentuk atas dasar kisah hollocaust. ''Karena hollocaust adalah kisah bohong, berarti Israel dibangun di atas kebohongan besar,'' kata Toben. Untuk itu, sebagaimana kemudian dialami David Irving, Toben juga mengalami pemenjaraan akibat kata-katanya itu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Itulah kebebasan ala Barat. Di Teheran, orang-orang Iran mencoba menertawakan hal itu. (dsy)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sumber : REPUBLIKA, Rabu 16 Agustus 2006&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=260990&amp;kat_id=3"&gt;http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=260990&amp;amp;kat_id=3&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Terima kasih telah mengunjungi weblog saya yang sederhana ini. &lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18942826-115578221925363406?l=firnas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://firnas.blogspot.com/feeds/115578221925363406/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18942826&amp;postID=115578221925363406' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18942826/posts/default/115578221925363406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18942826/posts/default/115578221925363406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://firnas.blogspot.com/2006/08/menertawakan-hollocaust-di-iran-siapa.html' title=''/><author><name>Firnas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15444084345524317639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_rO4zuivUGjg/SWGn9zb8BPI/AAAAAAAAAUI/Xk8OPxHSOcs/S220/firnas.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18942826.post-114117745787112756</id><published>2006-03-01T09:35:00.000+08:00</published><updated>2006-03-01T09:44:17.890+08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/1448/1865/1600/Demo%20BBM.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/1448/1865/320/Demo%20BBM.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Dana Kompensasi BBM dan Jaminan Sosial&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Oleh Wiwik Suhartiningsih&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bagi pemerintah, mencabut atau meneruskan subsidi harga BBM, adalah pilihan simalakama. Dengan tingkat harga sekarang, setahun nilai subsidi mencapai Rp 73 triliun lebih. Konsekuensinya alokasi dana untuk sektor lain harus dipotomg. Apabila itu menimpa sektor-sektor pembangunan sosial (pendidikan, kesehatan, pangan, dan yang lain), maka ongkos sosial-politiknya jadi besar.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Menurut pemerintah, subsidi selama ini tidak dinikmati keluarga miskin, tapi kelompok kaya. Sebanyak 50 persen subsidi untuk tujuh komoditas BBM yang berbeda, ternyata dinikmati oleh 20 persen kelompok berpendapatan tertinggi. Sementara warga paling miskin hanya menikmati 6 persen dari subsidi itu. Untuk minyak tanah, ternyata 20% dari penduduk miskin hanya menikmati 10 persen dari subsidi. Sebaliknya, 20 persen warga terkaya menikmati 31 persen dari subsidi itu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Meneruskan subsidi yang melenceng hanya akan memperlebar disparitas pendapatan. Mencabut subsidi tak kalah peliknya. Menurut Bank Dunia, di Indonesia saat ini lebih dari 110 juta penduduk tergolong miskin, hidup dengan penghasilan di bawah US$ 2 atau sekitar Rp 18.310 per hari. Jumlah penduduk miskin ini setara dengan gabungan dari seluruh jumlah penduduk Malaysia, Vietnam dan Kamboja (Kompas, 24/1/5). Apa jadinya jika pencabutan subsidi BBM itu tidak diantisipasi dampaknya pada penduduk miskin? Pemerintah akan dihujat dan demonstrasi meledak di mana-mana. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mempertahankan subsidi tanpa koreksi dan sebaliknya mencabut subsidi tanpa antisipasi, dampaknya adalah sama buruknya. Mengurangi subsidi BBM dengan berbagai koreksi adalah pilihan rasional. Itulah yang akan dilakukan. Agar warga miskin tidak menderita akibat pengurangan subsidi itu, minyak tanah tidak dinaikkan. Pemerintah juga menyiapkan program kompensasi kenaikan harga BBM: pengobatan kelas tiga di RS dan sekolah gratis untuk anak-anak miskin, pembangunan infrastruktur pedesaan (pembangunan irigrasi dan jalan desa), dan menambah alokasi dana untuk program beras murah untuk rakyat miskin (raskin). Nilai dana kompensasi itu Rp 20 triliun.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Tulang Punggung Keluarga&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pemerintah yakin, kompensasi ini bisa mengurangi dampak kerugian kelompok miskin. Dari semua kelompok masyarakat, kelompok miskin adalah yang paling menderita apabila subsidi BBM dikurangi. Keluarga miskin sangat mudah terkena risiko akibat alam atau faktor buatan manusia (ekonomi, keamanan dan ketertiban). Mereka tidak memiliki instrumen untuk mengatasi risiko, sehingga mereka menjadi sangat rentan terhadap berbagai gejolak, seperti gejolak harga, yang serta-merta membuat kesejahteraan hidup mereka melorot. Itulah sebabnya, kelompok miskin dan rentan akan cenderung menghindari kegiatan yang berisiko. Benarkah program dana kompensasi BBM tersebut efektif dan mampu mereduksi dampak negatifnya pada keluarga miskin? Bagi warga miskin, pelayanan kesehatan dan pendidikan gratis jelas sangat diperlukan. Di tengah komersialisasi jasa kesehatan dan pendidikan di Tanah Air, dua program itu akan menjamin kemudahan warga miskin dalam mengakses pelayanan publik dasar di bidang kesehatan dan pendidikan. Pembangunan infrastruktur di pedesaan selain akan membuka isolasi juga akan menstimulasi ekonomi. Sementara raskin dengan harga Rp 20.000/10 kg beras, akan menjamin warga miskin bisa memenuhi 40-60 persen dari total kebutuhan beras bulanan. Dengan hal itu memungkinkan warga miskin untuk mempertahankan tingkat konsumsi energi dan protein mereka.Masalahnya, bagi keluarga miskin, ketika anggota keluarga yang jadi tulang punggung pendapatan keluarga jatuh sakit, seberapa pun besar subsidi kesehatan diberikan, hasilnya tetap tidak akan menolong. Sebagian besar warga miskin bekerja di sektor informal. Mereka mendapatkan upah setelah memeras keringat. Ketika tulang punggung keluarga jatuh sakit, dari mana mereka makan? Hal yang sama juga terjadi pada subsidi pendidikan. Seringkali anak-anak keluarga miskin harus ikut bekerja. Kalau pun anak usia 6-15 tahun biaya sekolahnya gratis, mereka belum tentu bisa menikmatinya.Meskipun tulang punggung keluarga miskin diperiksa dokter tanpa bayar dan memperoleh obat gratis, dampak yang mereka rasakan tetap sama: hilangnya sumber penghasilan yang cepat atau lambat akan menyebabkan mereka rawan kehilangan aset produksinya yang lain. Jika pegadaian bisa menerima, instansi itu menjadi labuhan terakhir. Jika tidak, mereka akan jadi makanan empuk para pengijon dan tengkulak, karena mereka umumnya mudah terperangkap utang yang menjerat ketika kondisi ekonomi mereka labil (Suyanto, 2005). Sistem Jaminan Sosial Yang lebih penting lagi, program kompensasi BBM tidak lebih sebagai program yang sifatnya karitatif (amal) dan temporer. Program kompensasi BBM mulai dibuka tahun 2001 ketika subsidi BBM secara gradual dikurangi. Pertanyaannya, apakah program ini akan tetap ada ketika subsidi BBM benar-benar dihapuskan? Jika pun tetap dipertahankan, sampai tahun berapa pemerintah mampu mengongkosinya? Bukankah dengan alasan APBN yang bleeding pemerintah dengan mudah menghapuskannya? Di titik inilah betapa pentingnya sistem jaminan sosial.Sistem jaminan sosial merupakan bagian tak terpisahkan dari pembangunan sosial, juga menjadi komponen penting dalam rangka mengatasi masalah kemiskinan melalui bantuan terhadap kelompok miskin dan kelompok rawan. Jaminan sosial menjadi penting terutama agar kelompok miskin dan rawan mampu mengatasi risiko terhadap berbagai kerawanan sosial dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Itulah sebabnya, jaminan sosial kini telah berkembang dari belas kasihan (charity) menjadi sebagai salah satu hak asasi warga.Sejak Orde Baru, sistem jaminan sosial itu masih belum ada, kecuali asuransi kesehatan. Itu pun di lapangan selalu muncul masalah: alokasinya melenceng dan keluarga miskin yang kebetulan bisa mengaksesnya hanya mendapat layanan kesehatan minimal. Bagaimana dengan pendidikan, pangan, perumahan dan air bersih? Meskipun konstitusi menjamin itu, sampai sekarang sektor pembangunan sosial itu belum tersentuh. Wajah pembangunan sosial makin mengerikan ketika tahun 1998 kita menyerahkan nasib dibawa pengaruh IMF. Sejak itu pembangunan berwajah neoliberal.Tak bisa dibantah, untuk menyelenggarakan sistem jaminan sosial yang komplet –yang mencakup semua sektor pembangunan sosial—memerlukan dana tidak sedikit. Alasan pemerintah, kita tidak punya dana banyak. Padahal sesungguhnya dana pemerintah itu banyak. Buktinya, kita setiap tahun bisa mencicil utang yang jumlahnya mencapai sepertiga APBN, mensubsidi bank-bank rekap sampai Rp 70 triliun, dll. Mengapa dibilang miskin! Inti soalnya adalah tidak adanya poltical will untuk itu. Lagi pula, untuk membuat sistem jaminan sosial yang memadai tidak harus menunggu kaya atau kelebihan dana.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah peminat masalah sosial-ekonomi pertanian, alumnus Pascasarjana IPB.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Terima kasih telah mengunjungi weblog saya yang sederhana ini. &lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18942826-114117745787112756?l=firnas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://firnas.blogspot.com/feeds/114117745787112756/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18942826&amp;postID=114117745787112756' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18942826/posts/default/114117745787112756'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18942826/posts/default/114117745787112756'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://firnas.blogspot.com/2006/03/dana-kompensasi-bbm-dan-jaminan-sosial.html' title=''/><author><name>Firnas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15444084345524317639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_rO4zuivUGjg/SWGn9zb8BPI/AAAAAAAAAUI/Xk8OPxHSOcs/S220/firnas.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18942826.post-114113527725877020</id><published>2006-02-28T21:44:00.000+08:00</published><updated>2006-02-28T22:06:56.836+08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Ketika Barat 'Tersengat' Holocaust&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : M Hilaly BasyaDosen Uhamka,&lt;br /&gt;Direktur Eksekutif CMM, dan Ketua LemKIS Yayasan Assa'adah Ulujami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;David Irving, sejarawan Inggris, dijatuhi hukuman mati tiga tahun penjara oleh pengadilan Wina, Austria, 21 Februari. Irving dinyatakan bersalah karena mengingkari adanya pembantaian jutaan Yahudi (holocaust) di masa Perang Dunia II. Kenyataan ini berseberangan dengan kasus kartun Nabi Muhammad SAW. Pemerintah Barat justru memberikan ruang kebebasan bagi dunia pers untuk mempublikasikannya di beberapa media lain.&lt;br /&gt;Validitas informasi sejarah yang diutarakan oleh Irving belum tentu mengandung kebenaran. Namun kita menyayangkan jika temuan tersebut dilarang menjadi bahan diskursus publik dan ilmuwan. Sebelumnya Presiden Iran, Ahmadinajed, juga menyatakan hal serupa, dan selama beberapa minggu ini holocaust menjadi diskursus publik di Iran.&lt;br /&gt;OksidentalismeJika dicermati lebih jauh, diskursus holocaust pada dasarnya adalah sebuah produk dari oksidentalisme, yaitu kajian yang dilakukan oleh masyarakat Timur (Islam) tentang kebudayaan dan sejarah Barat. Kajian tersebut menggunakan perspektif dan ukuran-ukuran Timur. Oksidentalisme sebagai sebuah istilah dan disiplin keilmuan diperkenalkan oleh seorang cendekiawan Muslim asal Mesir, Hassan Hanafi, dalam bukunya, Muqaddimah fi 'Ilmi al-Istighrab (1999), atau Pengantar Oksidentalisme. Buku ini diterjemahkan oleh penerbit Paramadina dengan judul Oksidentalisme: Sikap Kita Terhadap Tradisi Barat, 2000. Hanafi mengatakan bahwa oksidentalisme muncul untuk mengurai kesadaran yang terbelah, antara ego (Barat) dan the other (Islam). Sejauh ini Barat telah banyak melakukan kajian terhadap the other (Islam), yang dikenal luas sebagai orientalisme.&lt;br /&gt;Menurut Hanafi, Barat mengidap superiority complex, sehingga kajian para orientalis tersebut mengandung muatan ideologis. Latar belakang tumbuhnya orientalisme sendiri didorong oleh kebutuhan negara-negara Barat untuk memahami Islam dan masyarakatnya. Kebutuhan tersebut juga seiring dengan upaya penundukkan the other (negara terjajah). Karena itu, oksidentalisme dimaksudkan untuk mengembalikan Barat pada posisinya. Selama ini Barat menilai dirinya sebagai peradaban yang matang, humanis, dan modern. Sedangkan peradaban Islam, di samping kelebihannya yang juga diakui Barat, memerlukan pertolongan Barat agar dapat maju seperti peradaban Barat. Oksidentalisme ingin mengurai superioritas semacam itu dengan cara menjadikan peradaban Barat sebagai objek kajian (the other).&lt;br /&gt;Diskursus peristiwa holocaust sejatinya tidak perlu membuat pemerintah Barat tersinggung. Diskursus tersebut sebetulnya hanya berupaya menganalisis sejauhmana dinamika dan ideologi yang menjadi kesadaran masyarakat Barat ketika membantai bangsa Yahudi.&lt;br /&gt;Perspektif dan parameter yang digunakan dalam kajian tersebut adalah kebudayaan Islam. Maka aneksasi Yahudi atas sokongan negara-negara Barat menjadi altar yang menghiasi diskursus tersebut. Tentu kita prihatin dan menyayangkan jika diskursus tersebut berubah menjadi semacam ejekan dan olokan semata kepada masyarakat Barat.&lt;br /&gt;Kajian terhadap Barat (the other) yang dilakukan oleh sarjana Muslim memberikan perspektif baru bagi Barat. Sejarah memang mencatat Barat sebagai peradaban yang maju selama beberapa abad terakhir, namun di samping itu juga memiliki kelemahan. Pespektif seperti ini barangkali tidak mudah ditemukan oleh sarjana Barat, sebab tidak ada 'jarak' antara peneliti dengan objek yang ditelitinya.&lt;br /&gt;Karena itu, oksidentalisme akan memberikan temuan-temuan baru yang berguna bagi Barat untuk memperbaiki dan menyempurnakan peradabannya. Ada kemungkinan di mana oksidentalisme menyimpan potensi proyektif, di mana sarjana Muslim terjebak dengan upaya pembalasan terhadap orientalisme klasik.&lt;br /&gt;Jika hal itu terjadi, maka produk oksidentalisme hanya akan menjadi ''pengolok-olokan'' dan perendahan terhadap the other (Barat). Hal inilah yang disayangkan ketika diskursus holocaust di Iran berubah menjadi karikatur yang ''mengolok-olok''. Kecenderungan itu bisa jadi disebabkan oleh inferiority complex akibat menjadi objek imperialisme dan orientalisme selama beberapa dekade.&lt;br /&gt;Tapi, jika hal itu terus terjadi, maka oksidentalisme tidak lagi menjadi suatu kajian yang netral dan objektif, melainkan menjadi senjata yang digunakan untuk merendahkan the other semata.&lt;br /&gt;Tentu terlalu dini untuk menilai sejauhmana objektivitas proyek kajian oksidentalisme. Waktu akan mengujinya. Diskursus tentang peristiwa holocaust bisa menjadi pintu masuk yang menguji sejauhmana kualitas occsidental studies ini. Maka sejatinya, pemerintah Barat tidak perlu tergesa-gesa menuduh oksidentalisme sebagai anti-semit. Sikap tersebut justru menunjukkan reaksioner. Suatu sikap yang tidak kondusif bagi upaya membangun mutual understanding antara Islam dan Barat.&lt;br /&gt;DialogHarapan kita, oksidentalisme akan mencapai kematangannya, sehingga dialog antarperadaban yang sesungguhnya dapat terjadi. Barat melakukan dialog dengan berpijak pada orientalisme sedangkan Islam dengan oksidentalisme. Keduanya dapat menjadi cermin yang membimbing kepada kearifan kedua pihak.&lt;br /&gt;Kajian kritis tersebut diharapkan membuka ruang introspeksi. Betapapun modern dan majunya peradaban Barat, tetap menyisakan krisis kemanusian dan spiritual. Dan betapapun terbelakangnya peradaban Islam, masih memiliki tradisi dan warisan klasik yang kaya. Umat Islam tidak sepenuhnya terbelakang. Keterbelakangan adalah produksi makna yang tidak sepenuhnya mengandung kebenaran.&lt;br /&gt;- Karena mengingkari holocaust, sejarawan Inggris, David Irving dinyatakan bersalah oleh pengadilan di Wina, Austria. Sebelumnya, Presiden Iran, Mahmud Ahmadinejad juga mengingkari holocaust.&lt;br /&gt;- Wacana holocaust adalah produk oksidentalisme, yaitu kajian masyarakat Timur terhadap Barat, dengan menggunakan ukuran-ukuran Timur.&lt;br /&gt;- Istilah dan disiplin keilmuan oksidentalisme mula-mula diperkenalkan oleh seorang cendekiawan Muslim asal Mesir, Hassan Hanafi. Tujuannya untuk mengurai kesadaran yang terbelah antara ego (Barat) dan the others (Islam).&lt;br /&gt;- Selama ini Barat telah banyak melakukan kajian terhadap the others (Islam), yang dikenal luas sebagai orientalisme, di mana Barat mengidap superiority complex.&lt;br /&gt;- Kajian-kajian yang dilakukan sarjana Muslim terhadap Barat, memberikan perspektif baru bagi Barat. Oksidentalisme memberi temuan-temuan baru yang berguna bagi Barat untuk memperbaiki peradabannya.&lt;br /&gt;- Harapan kita, oksidentalisme akan mencapai kematangannya, sehingga dialog antarperadaban yang sesungguhnya dapat terjadi. Barat berdialog dengan berpijak pada orientalisme, sedangkan Islam dengan oksidentalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;REPUBLIKA, Sabtu, 25 Februari 2006&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=236876&amp;kat_id=16"&gt;http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=236876&amp;amp;kat_id=16&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Terima kasih telah mengunjungi weblog saya yang sederhana ini. &lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18942826-114113527725877020?l=firnas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://firnas.blogspot.com/feeds/114113527725877020/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18942826&amp;postID=114113527725877020' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18942826/posts/default/114113527725877020'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18942826/posts/default/114113527725877020'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://firnas.blogspot.com/2006/02/ketika-barat-tersengat-holocaust-oleh.html' title=''/><author><name>Firnas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15444084345524317639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_rO4zuivUGjg/SWGn9zb8BPI/AAAAAAAAAUI/Xk8OPxHSOcs/S220/firnas.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18942826.post-113567540469190150</id><published>2005-12-27T17:20:00.000+08:00</published><updated>2005-12-27T17:23:24.706+08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Wajah Narcistis Pemerintahan Kita&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Sri Palupi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila pemerintah bisa diidentikkan dengan person, respons para pejabat terhadap berbagai tragedi kemanusiaan menunjukkan, pemerintahan negeri ini kian menegaskan identitasnya sebagai pribadi berwajah narcistis. Pribadi narcistis memandang tubuh sendiri sebagai cermin dan sumber identitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaget dan bingung adalah dua kata yang kian akrab di telinga rakyat sejak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Jusuf Kalla berkuasa. Masyarakat kaget dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang keterlaluan. Masyarakat bingung mendengar presiden kaget dengan kenaikan anggaran kepresidenan, padahal kenaikan itu sudah dibahas dalam rapat kabinet. Masyarakat kaget dengan keputusan pemerintah menaikkan tunjangan DPR di saat rakyat dipaksa berkorban. Masyarakat kaget ketika Gubernur DKI Sutiyoso menghias kota dengan patung, sementara rakyatnya bingung bagaimana hidup bisa disambung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di berbagai daerah, masyarakat dibuat tidak mengerti dengan merebaknya busung lapar di tengah kemewahan elite politik yang busung uang. Malah ada belasan wakil rakyat yang pelesir ke Mesir atas nama studi banding. Pendek kata, masyarakat kaget dan bingung dengan beragam kebijakan pemerintah pusat dan daerah yang tak berorientasi kepada mayoritas rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menolak realitas&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya kebijakan pemerintah yang bikin kaget, tapi juga sikap pejabat dalam merespons kritik dan ketersingkapan berbagai skandal yang dinilai tak masuk akal. Kasus busung lapar di berbagai provinsi yang menewaskan puluhan anak-anak pun dinilai hanya sebagai kecelakaan atau kejadian luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, assessment terhadap kasus busung lapar yang dilakukan Jaringan Solidaritas Penanggulangan Busung Lapar di NTT menunjukkan, busung lapar adalah realitas keseharian masyarakat miskin, khususnya masyarakat miskin di NTT. Hingga kini kematian akibat busung lapar di NTT masih terus berlangsung, sementara pemerintah sudah menganggapnya selesai.&lt;br /&gt;Kini, tragedi kelaparan di Yakuhimo yang menewaskan 80-an warga, dinilai Menko Kesra Aburizal Bakrie, hanya sebagai gejala awal kelaparan dan bukan tragedi kelaparan besar-besaran. Menteri Kesehatan Siti Fadilah menilai, kelaparan itu bukan kelaparan hebat karena korban yang tewas kebanyakan orang dewasa dan bukan anak-anak. Kalau kelaparan itu wabah hebat, menurut dia, korbannya kebanyakan adalah anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian, mengapa kasus busung lapar yang menimpa anak-anak di berbagai provinsi hanya disebut kejadian luar biasa dan bukan wabah kelaparan hebat? Mengapa pemerintah cenderung menghindar dari tatapan realitas kemiskinan dan kelaparan, bukannya menatap realitas dengan kedalaman agar masalah bisa dituntaskan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Wajah narcistis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modernitas yang dipicu oleh kapitalisme global tidak hanya menghasilkan budaya massa dan masyarakat konsumeris, tetapi juga melahirkan pribadi-pribadi narcistis. Pribadi narcistis membangun identitasnya dengan berorientasi pada tubuh sendiri. Pada tubuh itulah makna diri ditanamkan, sambil berilusi akan keabadian badan. Keterbatasan tubuh diingkari dan diperangi dengan membangun dan menjaga citra diri, lebih menghargai masa depan dan cenderung memutus ikatan dengan yang lampau. Sosok narcistis pada akhirnya tak pernah mampu membangun relasi sosial dengan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok berwajah narcistis bisa ditemukan bukan hanya pada individu-individu modern, tetapi juga tergores pada wajah pemerintahan kita. Betapa tidak. Pemerintahan negeri ini, di pusat dan daerah, cenderung memandang penting image atau pencitraan diri, alergi terhadap kritik, dan keputusan-keputusannya lebih banyak ditentukan oleh kepentingan parsial orang-orang di tubuh pemerintahan dan partai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memandang waktu, pemerintah lebih berorientasi pada masa depan. Konsekuensinya, berbagai bentuk pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang terjadi, termasuk pembunuhan Munir, dianggap bagian dari masa lampau dan karenanya tidak relevan untuk dituntaskan.&lt;br /&gt;Dalam konteks wajah narcistis pemerintahan, bisa dimengerti jika para pejabat cenderung menolak realitas kemiskinan dan kelaparan. Realitas kemiskinan dan fakta kelaparan mengancam citra diri pemerintah dan tak relevan dengan masa depan. Sebab, masa depan dimaknai hanya sebagai janji untuk memikat suara rakyat tanpa disertai kewajiban untuk memenuhinya. Bisa dipahami, walau sudah merdeka selama 60 tahun, masih banyak wilayah negeri ini yang terisolasi dan warganya mati tanpa diketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa dimengerti juga kalau gaji bersih presiden yang sebesar Rp 62.497.800 per bulan itu dinilai Sekretaris Negara Yusril Ihza Mahendra masih terlalu kecil. Dianggap rasional kalau Mendagri Moh Maruf menetapkan pungutan Rp 50 per liter minyak tanah meski kenaikan harga BBM sudah keterlaluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah berwajah narcistis hanya berjumpa dengan diri sendiri. Dengan hanya menatap diri sendiri, tak ada lagi referensi eksternal (suara rakyat) yang secara nyata memberikan justifikasi atas realitas persoalan dalam konteksnya. Dengan menyandang wajah narcistis, pemerintah akan selalu miskin empati terhadap yang miskin dan kelaparan sebab wajah seperti itu tak akan mampu merasakan apa artinya miskin dan lapar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sri Palupi Ketua Institute for Ecosoc Rights, Peserta Program Pascasarjana STF Driyarkara&lt;br /&gt;Dikutip dari Kompas Selasa 27 Desember 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Terima kasih telah mengunjungi weblog saya yang sederhana ini. &lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18942826-113567540469190150?l=firnas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://firnas.blogspot.com/feeds/113567540469190150/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18942826&amp;postID=113567540469190150' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18942826/posts/default/113567540469190150'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18942826/posts/default/113567540469190150'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://firnas.blogspot.com/2005/12/wajah-narcistis-pemerintahan-kita-sri.html' title=''/><author><name>Firnas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15444084345524317639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_rO4zuivUGjg/SWGn9zb8BPI/AAAAAAAAAUI/Xk8OPxHSOcs/S220/firnas.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18942826.post-113499593515885094</id><published>2005-12-19T20:34:00.000+08:00</published><updated>2005-12-19T20:38:55.186+08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;PERLU PEMETAAN KORUPSI&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;M Amien Rais&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kadang kala terasa masyarakat kita sudah apatis dengan masalah korupsi. Sejak awal 1960-an sampai sekarang korupsi di Indonesia belum pernah dapat ditaklukkan.&lt;br /&gt;Bung Hatta mengatakan, korupsi telah melembaga. Mochtar Lubis berpendapat, korupsi telah membudaya. Begitu melembaga dan membudayanya korupsi, seorang pengamat asing mengatakan korupsi telah menjadi way of life di Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Media massa internasional sekitar empat tahun lalu menyebut Indonesia sebagai the sick man of Asia. Ketika krisis moneter menghantam pada pertengahan 1990-an, sejumlah negara di Asia, termasuk Indonesia, oleng. Kini, ekonomi negara-negara itu sudah sehat, kecuali Indonesia. Indonesia masih terkapar. Gebrakan reformasi yang menghadirkan periode transisi ternyata belum berhasil mengubah kondisi sosial ekonomi seperti diharapkan. Periode transisi yang ditandai carut-marut sosial, politik, ekonomi, dan hukum masih menyertai bangsa Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Periode transisi itu hakikatnya penataan ulang, rekonstruksi sosial dalam arti luas. Diharapkan setelah 5-7 tahun masa transisi, kita memperoleh kehidupan yang mantap. Kira-kira law and order sudah tegak, ekonomi relatif sudah pulih, stabilitas politik mantap, citra internasional bangsa membaik, dan anak-anak bangsa melihat masa depan dengan optimisme.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Namun, keadaan kita masih mengenaskan. Potret bangsa masih suram. Pengangguran meningkat, kemelaratan meluas, dan hampir semua human development index bangsa di bidang kesehatan dan pendidikan belum membaik. Kiranya kita sepakat, korupsi adalah biang keterbelakangan kita. Korupsi telah menyusup ke sel-sel kehidupan kita.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Tetap meradang&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Berbagai lembaga internasional yang mendeteksi korupsi di berbagai negara selalu meletakkan Indonesia sebagai salah satu pemegang peringkat tertinggi korupsi. Awal Desember lalu kita dikejutkan (bagi yang masih bisa terkejut ) temuan PERC (Political and Economic Risk Consultancy) yang membanting Indonesia di panggung regional dan internasional.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sebanyak 96 eksekutif asing meletakkan Indonesia pada urutan tertinggi kejahatan korupsi. Skala penilaian itu bergerak dari angka nol (terbaik) dan 10 (terburuk). Angka Indonesia 9,44; Singapura 0,89; Hongkong 1,22; diikuti Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Thailand, Taiwan, China, India, Filipina, dan Vietnam.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tingginya korupsi, menurut PERC, menyebabkan Indonesia tidak menarik bagi investor asing. Kejuaraan juga menunjukkan, penegakan hukum masih lemah. Kalangan bisnis tetap khawatir tidak mendapat payung hukum jika mereka terjerembab dalam suatu masalah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bahwa di era reformasi korupsi terus meradang sudah menjadi pengetahuan publik. Sudah setahun lebih pemerintahan SBY–JK mencoba memerangi korupsi, tetapi kejuaraan korupsi regional tetap melekat pada kita. Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Perlu pemetaan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Akhir-akhir ini korupsi kian menyeruak ke semua lembaga negara. Hampir dalam setiap lembaga negara ditemukan kelompok mafioso, para mafia hukum, politik, ekonomi, dan bisnis yang memiliki jaringan rapi. Bila Departemen Agama saja juga dihajar skandal korupsi, haqqul yakin, semua departemen pasti mengalami hal sama. Cuma belum dikuak, dan skalanya mungkin lebih dahsyat.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Rimba korupsi di negara kita amat kompleks dan meriah. Ada pohon korupsi yang akar tunggangnya amat dalam dan batangnya menjulang tinggi, ada pohon berukuran menengah, ada pohon-pohon kecil dan banyak pohon korupsi mini yang hanya bermotivasi survival, lain tidak.&lt;br /&gt;Dalam kaitan ini amat logis bila dibutuhkan semacam road map of corruption, peta lika-liku korupsi. Bila peta korupsi tidak dibuat, langkah-langkah pemberantasan korupsi akan selalu bersifat hit and run. Baik yang bertugas memberantas dan yang akan diberantas lalu terjebak permainan petak umpet alias hide and seek.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lebih gawat lagi bila pemberantasan korupsi bernuansa selektif, diskriminatif, dan mungkin ada unsur politisasi serta kosmetikisasi, seperti kesan selama ini. Meski petir dan geludhug pemberantasan korupsi keras membahana, tetapi yang turun baru gerimis. Yang terjaring baru korupsi skala kacang goreng. Andaikata Probosutedjo tidak berulah, mungkin kasusnya akan menjadi dark number yang kemudian hilang diembus angin.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pemetaan korupsi sangat urgen. Seharusnya KPK, Tipikor, Kejaksaan Agung, Kepolisian RI, BPK, BPKP, ditambah lembaga swadaya masyarakat seperti Masyarakat Transparansi Indonesia, Indonesia Corruption Watch, duduk bersama, membuat peta korupsi dimaksud. Hasilnya akan lebih bagus.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ibarat masuk medan perang yang sulit, lewat peta hasil temuan bersama, akan terlihat mana sasaran strategis, mana sasaran taktis, mana sasaran substantif, mana simbolis dan lainnya. Hal ini dapat menghapus keraguan masyarakat yang kian besar pada usaha pemerintah memberantas korupsi. Selain itu dapat dibuat skala prioritas dan time schedule perang terhadap korupsi sekaligus dapat diketahui keberhasilan dan kegagalannya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kepada seorang anggota KPK, saya bertanya, mengapa penyelidikan atau pengusutan KPK belum mengarah kasus BLBI, skandal korupsi terbesar? Jawabannya mengejutkan. Data BLBI sudah lenyap. Namun saya yakin, data itu pasti dapat diperoleh dengan langkah tegas dan berani. Tidak mungkin data korupsi ratusan triliun rupiah hilang tanpa dapat dilacak, seolah lenyap dari file BI, BPK, Kejaksaan Agung, Mabes Polri, dan lain-lain!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Perlu dicatat pesan Nabi Muhammad SAW, dan semua agama, ”Bila penguasa hanya berani menegakkan keadilan pada orang kecil dan lemah dan takut menegakkan keadilan orang kuat dan berkuasa, maka tunggullah kehancurannya.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bila Khairiansyah langsung menjadi tersangka karena memanfaatkan Rp 10 juta Dana Abadi Umat, bagaimana oknum-oknum yang menjarah uang ratusan miliar sampai puluhan triliun rupiah? Mengapa mereka tidak terjangkau hukum?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Comprehensive road map of corruption sungguh amat mendesak. Lembaga-lembaga yang diharapkan dapat memberantas korupsi diharapkan bekerja sama, bukan bekerja berserakan, hit and run, hide and seek. Rakyat menunggu implementasi semboyan ”Bersama kita bisa”. Kalau tidak, tahun depan dikhawatirkan Indonesia tetap di urutan terakhir PERC.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;M Amien Rais Guru Besar Fisipol UGM, Yogyakarta&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dikutip dari KOMPAS, Senin 19 Desember 2005&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Terima kasih telah mengunjungi weblog saya yang sederhana ini. &lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18942826-113499593515885094?l=firnas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://firnas.blogspot.com/feeds/113499593515885094/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18942826&amp;postID=113499593515885094' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18942826/posts/default/113499593515885094'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18942826/posts/default/113499593515885094'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://firnas.blogspot.com/2005/12/perlu-pemetaan-korupsim-amien-rais.html' title=''/><author><name>Firnas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15444084345524317639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_rO4zuivUGjg/SWGn9zb8BPI/AAAAAAAAAUI/Xk8OPxHSOcs/S220/firnas.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18942826.post-113465379540563062</id><published>2005-12-15T21:33:00.000+08:00</published><updated>2005-12-15T21:39:13.896+08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Ahmadinejad: Pembantaian Hanya Mitos&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Teheran, rabu - Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, Rabu (14/12), menyatakan, peristiwa pembantaian kaum Yahudi (holocaust) oleh rezim Nazi Jerman dalam Perang Dunia II hanyalah mitos yang dipakai bangsa Eropa untuk menciptakan negara Yahudi di jantung dunia Islam. Pernyataan ini mengakibatkan Ahmadinejad kembali dihujani kecaman, termasuk dari Israel dan Jerman.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mereka telah menciptakan mitos bernama holocaust dan menganggapnya lebih penting dari Tuhan, agama, dan para rasul, kata Ahmadinejad di hadapan ribuan warga Iran di Zahedan, kota di Iran tenggara.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam kunjungannya ke berbagai tempat di Iran tenggara Ahmadinejad juga menyatakan, jika bangsa Eropa berkeras menyatakan bahwa pembantaian kaum Yahudi itu benar-benar pernah terjadi, merekalah yang seharusnya bertanggung jawab dan membayar harganya. Jika Anda (bangsa Eropa) yang melakukan kejahatan besar itu, lalu kenapa bangsa Palestina yang tertindas yang harus menanggung akibatnya? kata Ahmadinejad.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Setelah akhir pekan lalu mengecam usulan Ahmadinejad agar Israel dipindahkan ke Eropa, kemarin Israel kembali mengecam pernyataan Presiden Iran itu. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel Mark Regev mengatakan, Pernyataan kasar yang berulang kali dilansir presiden menunjukkan dengan jelas pola pikir kelompok yang berkuasa di Iran.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Menteri Luar Negeri Jerman Frank-Walter Steinmeier menyebut pernyataan itu sebagai mengejutkan dan tak bisa diterima. Ia mengingatkan, pernyataan Ahmadinejad akan berpengaruh dalam perundingan tiga besar Eropa soal program nuklir Iran. Steinmeier juga mengungkapkan, pihaknya sudah memanggil kuasa usaha Iran di Berlin untuk menyampaikan kekecewaan Pemerintah Jerman. (AP/Reuters/muk)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dikutip dari KOMPAS, Kamis 15 Desember 2005 &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Terima kasih telah mengunjungi weblog saya yang sederhana ini. &lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18942826-113465379540563062?l=firnas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://firnas.blogspot.com/feeds/113465379540563062/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18942826&amp;postID=113465379540563062' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18942826/posts/default/113465379540563062'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18942826/posts/default/113465379540563062'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://firnas.blogspot.com/2005/12/ahmadinejad-pembantaian-hanya-mitos.html' title=''/><author><name>Firnas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15444084345524317639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_rO4zuivUGjg/SWGn9zb8BPI/AAAAAAAAAUI/Xk8OPxHSOcs/S220/firnas.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18942826.post-113378639296484896</id><published>2005-12-05T20:37:00.000+08:00</published><updated>2005-12-05T20:39:53.196+08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Apakah diri kita senilai dengan uang ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Malam itu, usai rapat di sebuah kampung di Surabaya, Ngagel Rejo, seorang tokoh masyarakat menyampaikan pesan kepada saya, “Pak Firnas, nanti pada pencairan II kita akan bagikan dana operasional proyek buat bapak. Kalau sekarang kan masih tahap I.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya tersenyum saja mendengarnya. Tanpa banyak komentar, saya terus saja berjalan menuju pintu pagar. Saya berjanji kepadanya bahwa besok akan datang lagi untuk melihat persiapan administrasi yang kurang sebelum Pimpinan Pelaksana Proyek Pembangunan Kampung melakukan monitoring proses pencairan dana tahap I, yaitu dana bergulir yang diperuntukkan bagi usaha kecil dan menengah (UKM).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan pulang dari kampung itu pikiranku terus terusik dengan pesan tadi. Sebenarnya tidak sekali ini saja pesan itu disampaikan pada saya, tetapi sudah sejak awal sosialisasi proyek perbaikan kampung dia sudah memberikan sinyal seperti itu kepada saya. Dan sekarang, menjelang detik-detik pencairan dana, dia bersama rekan-rekan tokoh masyarakat di kampung acapkali membicarakan dana itu dengan berbagai bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terus terang sering risih dengan pembicaraan seperti ini. Bahkan saya sangat menyesalkan dan prihatin dengan ‘kebudayaan’ ini. Bagaimana tidak, masyarakat kecil saja sudah cukup fasih dengan bahasa-bahasa yang berbau korupsi dan suap seperti ini, apalagi mereka yang di lingkungan kerjanya tak bisa melepaskan dari budaya korupsi dan suap. Di kantor pemerintahan, tempat dimana saya mesti bernegosiasi masalah pekerjaan proyek, acapkali saya harus berhadapan dengan orang-orang yang sering berpikiran dan bertindak korup dan mentalitas selalu minta disuap!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun yang lalu peristiwa serupa ini sudah saya alami, bahkan terjadi 2 kali. Pertama, dengan warga kampung Wonokusumo. Dan yang kedua warga kampung Rungkut Menanggal. Alhamdulillah, godaan pemberian uang ‘jasa’ pendampingan masyarakat ini bisa saya tolak dengan cara halus. Kenapa pemberian uang ‘jasa’ ini saya tolak ? Pertama, bagi saya, sudah cukup uang gaji atau honorarium – meski pas-pasan -- yang saya peroleh dari perusahaan Konsultan yang telah memberi saya kesempatan bekerja.  Walaupun pas-pasan, uang yang sudah saya peroleh dari hasil keringat bekerja bisa memberi ketentraman batin. Yang kedua, saya memang merasa tidak berhak dengan uang uang ‘jasa’ itu. Karena pada dasarnya uang itu dipergunakan untuk warga masyarakat, bukan untuk kepentingan pribadi. Apalagi, dana itu ada embel-embel dana pengentasan kemiskinan. Jadi, sangat tidak etis kalau saya ikut menikmati uang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya dipaksa menerima uang ‘jasa’ itu, saya punya kiat tersendiri. Biasanya, dalam posisi terpojok, saya menerima uang itu. Tetapi pada saat itu juga saya bilang pada orang yang memberikan uang tersebut,” Kalau bapak memang memaksa, saya terima uang ini. Tapi izinkan juga uang ini saya sumbangkan untuk warga disini melalui bapak.”  Sekali lagi, uang itu saya terima. Tetapi pada saat itu juga saya menyumbang warga dengan uang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cara seperti ini, Alhamdulillah, orang yang tadinya terus memaksa saya untuk menerima uang itu bisa memahami sikap saya. Tak hanya itu, ketika proyek sudah habis, hubungan persaudaraan diantara kami menjadi lebih baik. Dan pada akhirnya, saya pun tak dinilai orang dengan uang beberapa ratus ribu atau jutaan rupiah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat) -Ku.” Al Baqoroh 152&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah senantiasa menuntun saya ke jalan yang lurus yang diridloi-Nya. Amin. (*)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Terima kasih telah mengunjungi weblog saya yang sederhana ini. &lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18942826-113378639296484896?l=firnas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://firnas.blogspot.com/feeds/113378639296484896/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18942826&amp;postID=113378639296484896' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18942826/posts/default/113378639296484896'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18942826/posts/default/113378639296484896'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://firnas.blogspot.com/2005/12/apakah-diri-kita-senilai-dengan-uang.html' title=''/><author><name>Firnas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15444084345524317639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_rO4zuivUGjg/SWGn9zb8BPI/AAAAAAAAAUI/Xk8OPxHSOcs/S220/firnas.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18942826.post-113349323893921777</id><published>2005-12-02T11:07:00.000+08:00</published><updated>2005-12-02T11:13:59.056+08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Kemarin, Rabu 1 Desember, hampir semua famili dari ibuku pada ngumpul di Jombang. Mereka sedang Tasyakuran untuk mendoakan anak-anak dari bu Lik Iah, demikian ia dipanggil, yang akan berangkat menjalankan ibadah Haji tahun ini.&lt;br /&gt;Sayang aku nggak bisa hadir. Tapi aku masih bisa bersyukur karena usai acaranya aku bisa ddatang ke Jombang meski telat banget. Nggak apa-apa khan? Yang penting Silaturrohminya. Mudah-mudahan mereka (Fanny, Nelly, Ririn dan Mbak Nur) bisa menjalankan ibadah Haji sebaik-baiknya dan kembali selamat pulang ke tanah air. Dan yang lebih penting lagi, ada perubahan yang mesti mereka tampilkan sepulang dari sana. Semoga !&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Terima kasih telah mengunjungi weblog saya yang sederhana ini. &lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18942826-113349323893921777?l=firnas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://firnas.blogspot.com/feeds/113349323893921777/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18942826&amp;postID=113349323893921777' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18942826/posts/default/113349323893921777'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18942826/posts/default/113349323893921777'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://firnas.blogspot.com/2005/12/kemarin-rabu-1-desember-hampir-semua.html' title=''/><author><name>Firnas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15444084345524317639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_rO4zuivUGjg/SWGn9zb8BPI/AAAAAAAAAUI/Xk8OPxHSOcs/S220/firnas.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18942826.post-113227787076797137</id><published>2005-11-18T08:51:00.000+08:00</published><updated>2005-11-18T09:37:50.786+08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Terorisme dan Manajemen Konflik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca tertembaknya Teroris DR Azahari di Batu Malang Jawa Timur, opini tentang Terorisme dan Islam kian deras mengalir. Bahkan kemarin (17/11), sejumlah ulama  dari NU dan Muhammadiyah serta MUI diajak nonton bareng VCD para teroris sejumlah BOM di Indonesia di kediaman Wapres Jusuf Kalla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menyimak dengan seksama tayangan VCD tersebut, beberapa tokoh Islam berkomentar sekaligus mengecam keras tindakan kekerasan oleh para Teroris yang dikomandani Noordin M Top - Azahari. Mereka menganggap tindakan teroris ini salah kaprah dalam menterjemahkan ajaran Islam tentang Jihad. Sehingga apa yang dikatakan Syafiii Maarif, "mereka itu berani mati, tapi tak berani hidup" ada benarnya juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan Azyumardi Azra, ada persoalan internal Umat Islam dibalik kesalahan pemahaman tentang Jihad. Menurutnya,  kesulitan ekonomi dan beban hidup yang menghimpit umat ini adalah salah satunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya pribadi, persoalan terorisme ini menjadi bumerang bagi umat Islam dalam kancah perpolitikan di negeri ini. Belum selesai kasus teroris Azahari, masih diikuti pula sejumlah konflik lain di berbagai daerah. Misalnya saja kasus pemenggalan 3 siswi di Poso beberapa hari menjelang  lebaran kemarin. Lalu berbagai kasus 'perang' antar warga diberbagai daerah, baik di Jawa maupun luar Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak pertanyaan yang tersimpan di kepala dan hati kita melihat fenomena ini. Sebenarnya sejumlah konflik ini diciptakan oleh siapa? lalu untuk apa mereka lakukan ini semua?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa Orde Baru dulu, konflik yang ada di berbagai daerah selalu mengarah kepada permainan politik di lingkaran orang-orang Jakarta. Mereka menciptakan konflik untuk meneguhkan kekuasaan mereka. Setuju atau tidak setuju dengan pendapat ini, boleh-boleh saja. Yang jelas masyarakat mengakui dan merasakan itu semua sebuah bentuk rekayasa dari Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan sekarang? Di era reformasi ini malah lebih jahat lagi orang melakukan permainan permainan politik untuk keuntungan kekuasaannya. Bahkan boleh dikata lebih canggih. Saya menduga, orang sekarang lebih canggih melakukan tindakannya dengan memanfaatkan jaringan global dunia. Dengan dukungan sarana teknologi, orang mau bikin rusuh dirumah orang lain tak perlu harus datang sendiri ke rumah orang yang dituju. Cukup tekan tombol sana-sini, orang pun bisa menggerakkan massa dari kejauhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Degan melihat perkembangan ini, operasi intelijen yang dikembangkan sekarang bisa mengarah pada dua hal. Pertama, inteljen kita beramai-ramai menjalin konspirasi internasional untuk kian memojokkan umat Islam. Opini kian digencarkan untuk membentuk citra muslim Indonesia menjadi kian jelek. Lalu opini dunia pun kian menyudutkan Indonesia sebagai sarang teroris. Ini tentu saja tidak akan menguntungkan bagi Indonesia, baik dari segi ekonomi, sosial, politik maupun budaya.&lt;br /&gt;Kedua, intelijen kita kalau mau ramah harus berupaya menyelesaikan masalah ini secara independent. Sehingga campur tangan asing seminimal mungkin dieliminir. Dengan begitu, Indonesia lebih berwibawa  di mata internasional. Selain itu, informasi yang dimiliki intelijen tidak seenaknya dijual kepada agen intelijen internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kenyataannya sekarang, kita tidak bisa menutup mata, bahwa bangsa Indonesia ini sudah menjadi makanan empuk bagi neo-kolonial. Lihat saja, sedikit ada masalah keamanan di Indonesia, negara asing serta merta ikut campur melakukan operasi intelijen di Indonesia. Demikian pula dibidang yang lain, terutama ekonomi dan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana menurut anda ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 18 November 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Terima kasih telah mengunjungi weblog saya yang sederhana ini. &lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18942826-113227787076797137?l=firnas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://firnas.blogspot.com/feeds/113227787076797137/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18942826&amp;postID=113227787076797137' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18942826/posts/default/113227787076797137'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18942826/posts/default/113227787076797137'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://firnas.blogspot.com/2005/11/terorisme-dan-manajemen-konflik-pasca.html' title=''/><author><name>Firnas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15444084345524317639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_rO4zuivUGjg/SWGn9zb8BPI/AAAAAAAAAUI/Xk8OPxHSOcs/S220/firnas.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18942826.post-113207136523553288</id><published>2005-11-16T00:03:00.000+08:00</published><updated>2005-11-18T09:42:02.976+08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Belajar Arif Dengan Segala Keterbatasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap langkah waktu yang berjalan kucoba terus maknai hidup ini. Dengan langkah dan bekal apapun yang ada. Hidup memang perjuangan Karena itu, setiap kejadian atau peristiwa yang ada dihadapanku mesti disikapi dengan bijak nan arif. Mungkin ini sebuah perkataan manis belaka bagi sebagian orang karena tidak setiap orang memang bisa bijak menghadapi tantangan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski bekalku tak seberapa dalam mengarungi hidup ini, saya harus terus mencoba bersikap bijak kepada diri sendiri, lalu kepada keluarga sendiri dan baru kemudian tetangga. Saya katakan bekalku tak seberapa karena memang dari segi materi maupun kekayaan jiwa (soul), dibandingkan dengan orang lain tak ada apa-apanya. Bahkan kepada teman hidupku sendiri. Semakin memahami diri semakin kecil pula nafas hidupku. Semoga kesadaran ini membawa makna yang lebih berarti di kelak kemudian hari ketika saya harus menghadap Ilahi Robbi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 15 November 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Terima kasih telah mengunjungi weblog saya yang sederhana ini. &lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18942826-113207136523553288?l=firnas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://firnas.blogspot.com/feeds/113207136523553288/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18942826&amp;postID=113207136523553288' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18942826/posts/default/113207136523553288'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18942826/posts/default/113207136523553288'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://firnas.blogspot.com/2005/11/belajar-arif-dengan-segala.html' title=''/><author><name>Firnas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15444084345524317639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_rO4zuivUGjg/SWGn9zb8BPI/AAAAAAAAAUI/Xk8OPxHSOcs/S220/firnas.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
