Terorisme dan Manajemen Konflik
Pasca tertembaknya Teroris DR Azahari di Batu Malang Jawa Timur, opini tentang Terorisme dan Islam kian deras mengalir. Bahkan kemarin (17/11), sejumlah ulama dari NU dan Muhammadiyah serta MUI diajak nonton bareng VCD para teroris sejumlah BOM di Indonesia di kediaman Wapres Jusuf Kalla.
Setelah menyimak dengan seksama tayangan VCD tersebut, beberapa tokoh Islam berkomentar sekaligus mengecam keras tindakan kekerasan oleh para Teroris yang dikomandani Noordin M Top - Azahari. Mereka menganggap tindakan teroris ini salah kaprah dalam menterjemahkan ajaran Islam tentang Jihad. Sehingga apa yang dikatakan Syafiii Maarif, "mereka itu berani mati, tapi tak berani hidup" ada benarnya juga.
Dalam pandangan Azyumardi Azra, ada persoalan internal Umat Islam dibalik kesalahan pemahaman tentang Jihad. Menurutnya, kesulitan ekonomi dan beban hidup yang menghimpit umat ini adalah salah satunya.
Bagi saya pribadi, persoalan terorisme ini menjadi bumerang bagi umat Islam dalam kancah perpolitikan di negeri ini. Belum selesai kasus teroris Azahari, masih diikuti pula sejumlah konflik lain di berbagai daerah. Misalnya saja kasus pemenggalan 3 siswi di Poso beberapa hari menjelang lebaran kemarin. Lalu berbagai kasus 'perang' antar warga diberbagai daerah, baik di Jawa maupun luar Jawa.
Ada banyak pertanyaan yang tersimpan di kepala dan hati kita melihat fenomena ini. Sebenarnya sejumlah konflik ini diciptakan oleh siapa? lalu untuk apa mereka lakukan ini semua?
Di masa Orde Baru dulu, konflik yang ada di berbagai daerah selalu mengarah kepada permainan politik di lingkaran orang-orang Jakarta. Mereka menciptakan konflik untuk meneguhkan kekuasaan mereka. Setuju atau tidak setuju dengan pendapat ini, boleh-boleh saja. Yang jelas masyarakat mengakui dan merasakan itu semua sebuah bentuk rekayasa dari Jakarta.
Lalu bagaimana dengan sekarang? Di era reformasi ini malah lebih jahat lagi orang melakukan permainan permainan politik untuk keuntungan kekuasaannya. Bahkan boleh dikata lebih canggih. Saya menduga, orang sekarang lebih canggih melakukan tindakannya dengan memanfaatkan jaringan global dunia. Dengan dukungan sarana teknologi, orang mau bikin rusuh dirumah orang lain tak perlu harus datang sendiri ke rumah orang yang dituju. Cukup tekan tombol sana-sini, orang pun bisa menggerakkan massa dari kejauhan.
Degan melihat perkembangan ini, operasi intelijen yang dikembangkan sekarang bisa mengarah pada dua hal. Pertama, inteljen kita beramai-ramai menjalin konspirasi internasional untuk kian memojokkan umat Islam. Opini kian digencarkan untuk membentuk citra muslim Indonesia menjadi kian jelek. Lalu opini dunia pun kian menyudutkan Indonesia sebagai sarang teroris. Ini tentu saja tidak akan menguntungkan bagi Indonesia, baik dari segi ekonomi, sosial, politik maupun budaya.
Kedua, intelijen kita kalau mau ramah harus berupaya menyelesaikan masalah ini secara independent. Sehingga campur tangan asing seminimal mungkin dieliminir. Dengan begitu, Indonesia lebih berwibawa di mata internasional. Selain itu, informasi yang dimiliki intelijen tidak seenaknya dijual kepada agen intelijen internasional.
Namun kenyataannya sekarang, kita tidak bisa menutup mata, bahwa bangsa Indonesia ini sudah menjadi makanan empuk bagi neo-kolonial. Lihat saja, sedikit ada masalah keamanan di Indonesia, negara asing serta merta ikut campur melakukan operasi intelijen di Indonesia. Demikian pula dibidang yang lain, terutama ekonomi dan politik.
Bagaimana menurut anda ?
Surabaya, 18 November 2005

0 Comments:
Post a Comment
<< Home